Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Pertama, carilah teman yang berakal (cerdas), karena tiada kebaikan dalam berteman dengan orang dungu yang hanya menimbulkan keresahan dan berakibat pemutusan hubungan. Sebaik-baik teman dungu adalah ia bisa membahayakanmu di saat ingin memberimu manfaat. Musuh yang berakal lebih dari dari pada teman yang dungu.

Seorang penyair berkata:

Sungguh aku merasa aman dari musuh yang cerdas dan takut teman yang dungu

Oleh sebab itu dikatakan: Pemutusan hubungan dengan orang dungu adalah pendekatan kepada Allah. Yang dimaksud dengan orang berakal adalah orang yang memahami segala urusan menurut apa adanya.

Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib  berkata:

“Janganlah engkau berteman dengan orang bodoh, dan jagalah dirimu darinya. Banyak orang bodoh membinasakan orang berakal ketika berteman dengannya. Manusia diukur dengan manusia bila ia berjalan dengannya, seperti sandal dengan sandal bila sandal itu berdampingan dengan pasangannya. Sesuatu itu berdampingan ukuran dan kemiripan dengan benda lainnya, sedang hati itu menjadi petunjuk hati yang lain bila ,berjumpa dengannya.”

Penyair lain berkata:

Bergaullah dengan orang mulia dan hindarilah pergaulan dengan orang yang rendah Jangan urusi kejelekan temanmu dan lupakanlah Jagalah lisanmu bila berada di tempat berkumpul orang banyak Jangan ikut serta dan jangan menjamin

kedua, akhlak yang baik. Hal itu harus dimiliki. Karena boleh jadi orang yang berakal memahami segala sesuatu menurut apa adanya. Akan tetapi bila dia dikuasai amarah atau syahwat atau kekikiran atau sifat penakut, maka ia pun menuruti hawa nafsunya dan menentang apa yang diketahuinya karena tidak mampu mengatasi sifat-sifatnya dan meluruskan akhlaknya. Itu adalah akhlak yang buruk. Oleh karena itu janganlah engkau berteman dengan orang yang buruk akhlaknya. Ja adalah orang yang tidak bisa mengendalikan nafsunya di waktu marah dan bangkit syahwatnya.

Al-qamah bin Milhan rahimahullah telah mengumpulkan dalam wasiatnya kepada anaknya menjelang wafatnya.

Ia berkata: “Hai anakku, apabila engkau ingin berteman dengan seseorang, maka bertemanlah dengan orang yang apabila engkau melayaninya dengan perkataan dan perbuatan, ia melindungimu dalam kehormatan, jiwa dan hartamu. Jika engkau berteman dengannya, maka ia menghiasimu. Jika engkau tidak mempunyai biaya, maka ia menanggungnya dan mencukupimu.

Bertemanlah dengan orang yang apabila engkau berbuat baik kepadanya, maka ia membalasmu atau bila engkau berbuat sesuatu kebajikan, ia membantu. Jika ia melihat kebaikan darimu, ia menyebutnya. Dan jika melihat perbuatan buruk darimu, ia pun menutupinya.

Bertemanlah dengan orang yang apabila engkau meminta sesuatu darinya, ia memberimu. Jika engkau diam, ia memulaimu. Dan jika bencana menimpamu, ia menolongmu. Bertemanlah dengan orang yang apabila engkau mengatakan sesuatu, ia benarkan perkataanmu. Apabila engkau berusaha mengatasi suatu perkara yang ia suruh melakukannya, maka ia membantu dan menolongmu. Dan jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka ia lebih mengutamakan engkau. Ini adalah kumpulan hak persahabatan.”

Al-Mamun berkata:” Dimana orang macam ini?”

Dikatakan kepadanya: “Tahukah engkau, mengapa ia wasiatkan itu kepadanya?”

Al-Ma’mun menjawab:” Aku tidak tahu.”

Orang itu berkata: “Karena ia tidak ingin berteman dengan seorangpun.”

Salah seorang udaba (ahli adab) berkata: “Janganlah engkau berteman, kecuali dengan orang yang menyimpan rahasiamu dan menutupi kejelekanmu. Maka ia selalu bersamaan dalam keadaan susah dan mengutamakan engkau dalam keadaan senang. Ia siarkan kebaikanmu dan menutupi perbuatanmu yang buruk. Jika engkau tidak menemukannya, maka janganlah berteman kecuali dengan dirimu sendiri.”

Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib  berkata:

“Sesungguhnya saudaramu yang sebenarnya adalah yang bersamamu, dan yang membahayakan dirinya untuk memberimu manfaat dan yang ketika datang musibah, ia menolongmu ia korbankan dirinya untuk menyenangkanmu.”

Keriga, janganlah berteman dengan orang fasik yang terus-menerus melakukan maksiat besar, karena tidak ada faidah dalam berteman dengannya. Karena orang yang takut kepada Allah akan berhenti berbuat dosa sedangkan orang yang tidak takut kepada Allah, akan selalu menimbulkan gangguan pada orang lain.

Keadaannya berubah-ubah mengikuti perabahan situasi dan kondisi. Allah  berfirman kepada nabi Muhammad : “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu melampaui batas.” QS. Al-Kahfi: 28.

Ini menunjukkan bahwa keadaan manusia yang terburuk adalah bila hatinya dalam keadaan kosong dari mengingat Allah dan penuh dengan hawa nafsu yang menyibukkan pikiran dengan urusan manusia. Karena mengingat Allah  adalah cahaya dan mengingat selain Allah adalah kegelapan. Demikian dikatakan oleh Asy-Syarbini.

Al-Ghazali berkata, dalam ayat itu terdapat peringatan bagi orang “ fasik. Hindarilah berteman dengan orang fasik, karena penyaksian kefasikan dan maksiat secara terus menerus menghilangkan dari hatimu kebencian terhadap maksiat dan memudahkan bagimu untuk berbuat maksiat. Oleh sebab itu hati menganggap remeh perbuatan ghibah, karena mereka menyukainya. Andaikata mereka melihat cincin dari emas atau pakaian sutera pada seorang fagih, niscaya mereka sangat menyalahkannya. Sedangkan ghibah lebih besar dosanya daripada memakai emas dan sutera.

Diriwayatkan dari Aisyah  bahwa ia berkata kepada Nabi : “Cukuplah bagimu bahwa Shofiyah begini dan begini, yakni ia seorang yang pendek.”

Kemudian Nabi  berkata: “Engkau telah mengucapkan perkataan yang andaikata dicampur dengan air laut, niscaya akan merusakkannya.” HR. Tirmidzi.

Para ulama berkata: Hadis ini termasuk peringatan yang paling keras terhadap ghibah. Demikian disebutkan dalam Qam’in Nufuus oleh Abu Bakar Al-Hismi.

Keempat, bertemanlah dengan orang yang tidak tamak terhadap dunia. Berteman dengan seorang yang tamak terhadap dunia adalah racun yang mematikan, karena tabiat diciptakan untuk meniru dan mengikuti temannya. Bahkan tabiat yang baik mencari dari tabiat yang fasid dari jalan yang tidak diketahui manusia.

Ungkapan dalam Al-Ihya’ ialah: Dari jalan yang tidak diketahui oleh pemiliknya. Pergaulan dengan orang tamak menambah ketamakanmu dan pergaulan dengan orang zahid menyebabkan kezuhudanmu dan menambah kezuhudanmu. Oleh karena itu tidaklah disukai bertemu dengan pencari dunia dan dianjurkan berteman dengan orang-orang yang menyukai akhirat. Ali berkata: “Hiduplah ketaatan-ketaatan dengan duduk bersama orang yang disegani.”

Ahmad bin Hambal berkata: “Tidaklah menjerumuskan aku dalam bencana, kecuali berteman dengan orang yang tidak aku segani.”

Luqman berkata kepada anaknya: ”Hai anakku, duduklah dengan para ulama dan mendekatlah kepada mereka dengan kedua lututmu, karena hati menjadi hidup dengan mendengarkan hikmah seperti bumi yang tandus dihidupkan dengan hujan yang deras.”

Kelima, berkata benar, maka janganlah berteman dengan pendusta, karena engkau tidak tahu keadaannya yang sebenarnya. Orang macam itu bagaikan fatamorgana yang mendekatkan sesuatu yang jauh darimu dan menjauhkan yang dekat darimu. Janganlah berteman dengan ahli bid’ah, karena berteman dengannya menimbulkan bahaya menjalarnya bid’ah itu kepadamu.

Janganlah berteman dengan orang kikir, karena ia menghalangimu untuk mendapatkan sesuatu yang paling engkau butuhkan.

Janganlah berteman dengan orang penakut, karena ia akan membiarkanmu dan lari di saat menghadapi bahaya. Barangkali engkau tidak menemukan sifat-sifat ini pada penghuni madrasah dan masjid, yakni para ulama, pelajar dan ahli ibadat. Maka asingkanlah dirimu dan hiduplah sendirian, karena dengan uzlah engkau selamat dari dosa. Atau bergaullah dengan teman yang sesuai dengan sifat-sifat mereka, misalnya mengetahui bahwa teman itu ada tiga macam sebagaimana dinukil oleh Al-Ghazali dari Basyar. Yaitu teman untuk akhiratmu. Maka janganlah perhatikan padanya, kecuali agama.

Dan teman untuk duniamu. Maka janganlah perhatikan padanya, kecuali akhlak yang baik dan keadaan yang menyebabkan kebaikan. Dan teman untuk menghibur hatimu, maka janganlah perhatikan padanya, kecuali keselamatan dari kejahatan dan cobaan serta penipuannya. “Abu Dzar  bekata: “Tinggal sendirian lebih baik daripada berteman dengan orang yang buruk kelakuannya. Dan teman yang baik lebih baik daripada menyendiri.

Orang-orang yang engkau jadikan teman ada tiga macam sebagaimana dinukil oleh Al-Ghazali dari Al-Ma’mun. Salah satu dari mereka adalah seperti makanan yang selalu dibutuhkan, yaitu para ulama. Yang satu lagi perumpamaannya adalah seperti obat yang dibutuhkan dalam waktu tertentu.

Perumpamaan lainnya seperti penyakit. Ia tidak dibutuhkan sama sekali, tetapi terkadang seseorang dicoba dengannya. Yakni ia diuji berkumpul bersama orang yang sifatnya seperti penyakit, pendusta dan penakut. Maka haruslah engkau bersikap lunak kepadanya guna menyelamatkan diri darinya dan menolak kejahatannya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker