Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Janganlah engkau menoleh ke kanan atau ke kiri dalam salatmu dan seandainya engkau bermaksud bermain dengan menoleh, maka batallah salatmu. Kemudian bertakbirlah untuk rukuk dan angkatlah kedua tanganmu bersama permulaan takbir dan jangan terus mengangkatnya sampai selesai sebagaimana disunahkan mengangkat kedua tangan dalam takbiratul ihram. Panjangkan takbirnya sampai selesai rukuk, kemudian letakkan kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu sementara jarijarimu terbuka sedikit menghadap kiblat sepanjang betis dengan lurus. Tegakkan kedua lututmu secara terpisah dan ulurkan punggung dan leher serta kepalamu dengan lurus seperti papan dan jauhkan kedua sikumu dari kedua lambungmu. Untuk wanita cukup merapatkan yang satu dengan yang lain.

Ucapkanlah “subhana robbiyal adhiim” tiga kali. Jika engkau sendirian, maka boleh ditambah hingga 27 kali.

Mengucapkan tasbih sekali telah menghasilkan sunah, tetapi makruh. Kemudian angkatlah kepalamu hingga engkau berdiri tegak dan angkatlah kedua tanganmu seraya mengucapkan “sami allahu liman hamidah”. Apabila engkau berdiri tegak, lepaskanlah kedua tanganmu dan ucapkanlah:

“Ya Tuhan kami, segala puji bagi-Mu sepenuh langit dan sepenuh bumi dan apa pun yang engkau kehendaki selam itu.”

Jika engkau mengerjakan salat Subuh, maka bacalah qunut dalam rakaat kedua sesudah bangkit dari rukuk. Ounut terwujud dengan setiap kalimat yang mengandung doa dan pujian kepada Allah. Akan tetapi yang paling utama adalah qunut Nabi , yaitu:

“Ya Allah, berilah aku perunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk dan berilah aku kesehatan di antara orang-orang yang Engkau beri kesehatan, pimpinlah aku di antara orang-orang yang Engkau pimpin, berkatilah dalam apa yang Engkau berikan dan lindungilah aku dari keburukan takdir-Mu. Sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tidak menerima keputusan. Sesungguhnya tidaklah hina siapa yang engkau cintai dan tidaklah mulia siapa yang engkau musuhi, Maha Suci Tuhan kami dan Maha Tinggi.”

Dianjurkan membaca sesudah ini:

Demikian disebutkan dalam Al-Adzkar.

Kemudian sujudlah sambil bertakbir, tanpa mengangkat kedua tangan dan letakkan lebih dulu kedua lututmu, kemudian kedua tanganmu, yakni kedua telapak tanganmu dalam keadaan terbuka, kemudian dahimu dalam keadaan terbuka dan letakkan hidungmu sejajar dengan dahi.

Wajib menempelkan dahi pada tempat sujud, sedang membuka anggota sujud yang selain itu adalah mandub dan kedua lutut adalah makruh sedangkan meninggalkan tertib dalam meletakkan anggotaanggota ini adalah makruh.

Jauhkanlah kedua sikumu dari lambungmu dan angkatlah perutmu di atas kedua pahamu, sedangkan wanita jangan melakukan itu. Dan letakkan kedua tanganmu di atas tanah sejajar dengan pundak sambil mengucapkan “subhana robbiyal a’laa” tiga kali atau tujuh kali atau sepuluh kali bilamana engkau berada sendirian.

Demikian pula bila engkau salat berjamaah dan sujud lama, karena di dalam sujud tidak boleh diam.

Adapun bagi seorang imam, maka jangan lebih dari tiga kali. Kemudian angkatlah kepalamu dari sujud seraya bertakbir tanpa mengangkat kedua tanganmu hingga engkau duduk tegak dan duduklah di atas tumit kakimu yang kiri dan tegakkan telapak kakimu yang kanan dan letakkan kedua telapak tanganmu di atas kedua pahamu dengan jarijari terbuka, jangan merapatkan maupun merenggang-kannya. Tidaklah mengapa bila terus meletakkan kedua telapak tangan di atas tanah hingga sujud yang kedua.

Ucapkanlah dalam keadaan duduk itu:

”ya Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk dan perbaikilah aku, berilah aku keselamatan dan maafkanlah aku. ”

Dalam .Al-Adzkar diriwayatkan oleh Baihagi dari Ibnu Abbas bahwa Nabi  apabila mengangkat kepalanya dari sujud, beliau mengucapkan:

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, perbaikilah aku, angkatlah derajarku, berilah aku rezeki dan berilah aku perunjuk. Dalam riwayat Abi dawud: “Dan berilah aku keselamatan.”

Janganlah memanjangkan duduk ini, kecuali dalam salat tasbih. Kemudian sujudlah untuk kali yang kedua seperti itu, kemudian duduklah tegak sejenak untuk istirahat dalam setiap rakaat yang tidak ada tasyahud sesudahnya.

Tidaklah mengapa bila makmum ketinggalan dari imam lantaran duduk ini, karena hanya sebentar. Bahkan melakukannya pada waktu itu adalah sunah. Ini tidak disunahkan sesudah sujud tilawat.

Kemudian engkau berdiri dari sujud dan duduk istirahat dan engkau letakkan kedua tangan di atas tanah dengan bertumpu pada bagian bawah kedua telapak tanganmu dan jari-jarinya. Janganlah engkau majukan salah satu dari kedua kakimu di waktu bangkit dan mulailah mengucapkan takbir untuk bangkit ketika mendekati batas duduk istirahat dan panjangkan takbir itu hingga tengah-tengah kebangkitanmu untuk berdiri. Hendaknya duduk ini cepat sekali, maka tidak boleh memanjangkannya seperti duduk di antara dua sujud sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar. Duduk ini tidak disunahkan bagi orang yang duduk, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dan Ar-Ramli.

Kerjakanlah rakaat yang kedua seperti rakaat pertama, yakni dalam meletakkan kedua tangan di bawah dada, membaca Al-fatihah dan surah serta memusatkan pandangan pada tempat sujud. Ulangilah membaca taawud dalam permulaan berdiri, karena ia disunahkan untuk membaca surah dan jangan ulangi membaca doa iftitah.

Kemudian duduklah dalam rakaat kedua untuk membaca tasyahud pertama dan letakkan tangan kanan di waktu duduk tasyahud di atas paha kanan dengan jari-jari tergenggam, kecuali jari telunjuk dan ibu jarimu.

Bentangkan telunjuk kananmu dengan memiringkannya sedikit supaya tidak keluar dari arah kiblat engkau mengucapkan.” “Illallah”, bukan ketika mengucapkan: ”Laa ilaha.”

Dan letakkan tangan kiri dengan jari-jari terbentang di atas paha kiri dan duduklah di atas kakimu yang kiri dalam tasyahud ini seperti di antara dua sujud dan dalam tasyahud akhir duduk tawarruk (di atas paha).

Lengkapilah tasyahud akhir dengan doa yang terkenal di antara orang-orang yang diriwayatkan dari Rasulullah , sesudah membaca salawat untuk Nabi  seperti:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahanam dan siksa kubur, dari irnah di masa hidup dan sesudah mati serta kejahatan Al-Masih ad-Dajjal. Ya Allah, aku telah menganiaya diriku dengan penganiayaan yang banyak dan besar dan tiada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah aku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Duduklah dalam tasyahud akhir di atas pantatmu yang kiri dan letakkan kakimu yang kiri di luar dari bawahmu dan tegakkan telapak kaki kanan. Kemudian setelah selesai membaca tasyahud, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri ucapkanlah:

Tidaklah dianjurkan mengucapkan: wa barokaatuhu, karena bertentangan dengan yang masyhur dari Rasulullah  meskipun telah disebutkan dalam sebuah riwayat oleh Abi Dawud. Demikian disebutkan dalam Al-Adzkar.

Pada kali pertama engkau menoleh hingga terlihat pipimu yang kanan dari belakangmu dan pada kali kedua hingga terlihat dari belakangmu pipimu yang kiri. Niatkanlah keluar dari salat dengan salam yang pertama dan niatkanlah salam bagi para malaikat dan muslimin dari golongan manusia dan jin. Dengan salam yang pertama engkau niatkan bagi siapa saja yang ada di sebelah kananmu dan dengan salam yang kedua bagi siapa saja yang ada di sebelah kirimu dan boleh engkau niatkan pula bagi yang di belakang dan di depanmu. Disunahkan menjawab oleh orang yang tidak salat dan tidak wajib menjawab karena salam itu untuk tahallul.

Ini adalah bentuk salat munfarid dan akan datang sifat salat jamaah yang melebihi sifat ini. Tiang salat adalah khusyuk dan kehadiran hati disertai bacaan dan zikir dengan pemahaman Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Setiap salat yang hati tidak hadir di dalamnya, maka ia lebih cepat mendapat hukuman.” Diceritakan dalam suatu hikayat: “Apabila engkau memasuki salat, maka berilah aku kekhusyukan dari hatimu dan ketundukan dari badanmu serta air mata dari matamu, karena sesungguhnya Aku adalah dekat,”

Rasulullah  bersabda:

“Sesungguhnya hamba mengerjakan salat dan tidak ditulis baginya dari salat itu seperenam maupun sepersebuluhnya, tetapi ditulis bagi hamba itu dari salatnya sebanyak yang ia perhatikan darinya.”

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abi Hurairah bahwa apabila hamba mengerjakan salat di depan orang banyak dengan sebaik-baiknya dan mengerjakan salat tersembunyi dengan sebaikbaiknya, maka Allah  berkata: Ini adalah hamba-Ku yang sejati. Maksudnya ialah apabila seorang hamba mengerjakan salat fardu atau sunah yang terlihat oleh banyak orang, lalu ia kerjakan salat itu dengan sebaik-baiknya dan melakukan apa yang dituntut dalam salat itu serta tidak bersikap riya dengannya atau mengerjakan salat yang tidak terlihat oleh seseorang dan mengerjakannya dengan baik dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya sedang ia memenuhi perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, maka Allah memujinya dan menyiarkan pujian itu di antara para malaikat sehingga mereka mencintainya, kemudian ia dicintai oleh para penghuni bumi. Inilah hamba yang digambarkan sebagai hamba yang melakukan ketaatan. Maka ja adalah hamba sejati.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker