Mengenai Ketaatan
Perintah-perintah Allah ada dua macam, yaitu fardu dan nawafil.
Fardu merupakan pokoknya, ia ibarat modal dagangan, yang dengannya tercapailah keselamatan dan terhindarlah segala bahaya. Sedang Nawafil (amalan sunah.) adalah keuntungan, yang dengannya tercapailah keberuntungan berupa derajat-derajat. Nabi bersabda:
“Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: “Tidaklah orang-orang mendekatkan diri kepadaku seperti menunaikan apa yang Aku wajibkan atas mereka, hamba yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil hingga Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan lisannya yang digunakannya untuk bicara dan tangannya yang ta gunakan untuk bekerja serta kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.”
Dalam riwayat Bukhari: “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ketaatan yang lebih Aku sukai daripada melakukan apa-apa yang Aku wajibkan atasnya.”
Termasuk dalam lafaz ini adalah semua amal yang fardu ‘ain dan fardu kifayah dan meliputi fardu-fardu yang lahir seperti salat, zakat dan ibadat-ibadat lainnya di samping meninggalkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan seperti zina dan pembunuhan. Dan perbuatan batin seperti mengenal Allah dan cinta karena Allah, bertawakal kepada-Nya serta takut kepada-Nya.
Yang dimaksud dengan wafawil adalah amalan-amalan sunah yang dilakukan setelah mengerjakan amalan fardu, bukan dengan meninggalkan amalan fardu.
Maka Aku menjaga anggota-anggota tubuhnya dan melindungi bagian-bagiannya dari bergerak tanpa rida-Ku dan supaya tidak diam kecuali untuk mentaati Aku.
Ada pula makna yang lebih rendah dari itu, yaitu ia tidak mendengar kecuali sebutan nama-Ku dan tidak merenungkan kecuali keajaibankeajaiban dari kerajaan-Ku, tidak menikmati kecuali pembacaan kitabKu, tidak merasa senang kecuali bila bermunajat dengan-Ku, tidak mengulurkan tangannya kecuali dengan sesuatu yang menimbulkan ridaKu dan tidak berjalan dengan kakinya kecuali dalam mentaati Aku.
Alhasil, siapa yang berijtihad mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan fardu dan dibarengi dengan nawafil, maka Allah akan dekat kepadannya dan mengangkatnya sampai derajat ihsan sehingga ia beribadat kepada Allah disertai kehadiran hati dan kerinduan kepada Allah hingga menyaksikan Allah dengan mata hatinya seakan-akan ia melihat Allah .
Orang yang demikian saat itu, hatinya dipenuhi dengan makrifat dan kecintaan terhadap-Nya. Kemudian kecintaannya kepada Allah akan bertambah sampai tidak tersisa lagi di dalam hatinya selain itu.
Anggota-anggota tubuhnya tidak bekerja kecuali dengan persetujuan hatinya. Apa yang dikatakan tidak menyisakan di dalam hatinya selain Allah, yakni makrifatullah – cinta Allah dan sebutan-Nya.
Wahai pencari derajat yang tinggi, engkau tidak akan sampai ke tingkat ihsan yang wujudnya adalah mengerjakan perintah-perintah Allah , dengan mengawasi hati dan anggota tubuhmu dengan kedipankedipan matamu dan nafas-nafasmu dari pagi hingga sore.
Apabila engkau menginginkan muragabah, maka ketahuilah bahwa Allah mengetahui isi hatimu dan mengawasi lahir dan batinmu serta mengetahui dengan sempurna semua pandangan dan bisikan hatimu, langkah-langkahmu, seluruh diammu dan gerakmu dalam hal maksiat dan ketaatan.
Sesungguhnya di saat bergaul dengan orang banyak maupun menyendiri engkau mondar-mandir di hadapan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang bergerak, melainkan diketahui oleh penguasa langit dan bumi. Allah Y& mengetahui khianat mata sebagai perbuatan yang paling tersembunyi dari perbuatan lahir, yaitu isyarat mata. Demikianlah dikatakan oleh Asy-Syarbini. Dan Allah mengetahui isi hati dan mengetahui rahasia maupun yang lebih tersembunyi dari itu.
Ibnu Abbas berkata: “Rahasia adalah apa yang engkau rahasiakan di dalam hatimu. Sedang rahasia yang paling tersembunyi yang dimasukkan Allah di dalam hatimu dari jauh dan engkau tidak mengetahui bahwa engkau akan mengatakannya di dalam hatimu. Karena engkau tidak mengetahui apa yang engkau rahasiakan hari ini dan tidak tahu apa yang engkau rahasiakan besok sedangkan Allah mengetahui apa yang engkau rahasiakan hari ini dan apa yang engkau rahasiakan besok.”
Seorang ulama berkata: “Apabila ahli ibadat selalu mengucapkan Zikir, Allahu syaahidii (Allah menyaksikan aku), Allahu haadhirii (Allah menghadiri aku), maka Allah Ig membantunya untuk melakukan muragabah tersebut.”
Dengan itu pengarang telah membimbing ahli ibadat hingga melakukan ibadatnya dengan cara yang lebih sempurna berupa keikhlasan dan kekosongan hati dari urusan-urusan dunia.
Barangsiapa sanggup melakukan muraqabah itu dalam ibadatnya dan mengetahui bahwa ia bermunajat dengan Raja’ dari segala raja’, lenyaplah darinya was-was yang timbul dari kebodohan akan jalan-jalan syariat dan keengganan merenungkan makna-makna dari apa yang dikatakannya. Apabila ibadatnya demikian, terbukalah baginya pengetahuan yang sulit digambarkan oleh setiap orang yang arif.
Oleh karena itu, hai miskin, beradablah lahir batin dengan akhlak yang baik pada anggota tubuh dan hati dengan melawan keinginankeinginan nafsu yang terlarang seperti cinta dunia dan kepemimpinan di waktu bergaul dengan orang banyak dan ketika engkau menyendiri di hadapan Allah sebagai hamba yang hina dan berdosa di hadapan Raja Yang Maha Perkasa lagi Maha Penakluk.
Seorang ulama berkata: “Apabila engkau ingin melakukan sesuatu, ketahuilah bahwa Allah lebih dulu hadir dan melihat.”
Bilamana sesuatu itu baik, maka lakukanlah dengan kerendahan diri dan khusyuk, yakni dengan suara pelan demi memperhatikan dan mengagungkan Allah .
Kalau tidak bisa, maka tinggalkanlah itu karena takut kepada Allah dan hukuman-Nya. Berusahalah sekuat tenaga untuk menjauhi maksiat dan melakukan ketaatan supaya engkau bisa mencapai tujuan akhir dari pagi hingga sore. Kerjakanlah perintah-perintah Allah yang sampai kepadamu sejak engkau bangun dari tidurmu hingga saat engkau kembali lagi ke tempat tidurmu.









One Comment