Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Perkara yang paling disukai Allah  adalah yang di tengah. Barangsiapa mendahului orang lain adalah sombong dan siapa yang mundur darinya adalah merendahkan diri. Orang alim yang didatangi orang biasanya, menjauh dari tempat duduknya dan mendudukkan orang Jain di majelisnya, maka ia telah menghinakan dirinya sedang perbuatan itu tidak terpuji. Yang terpuji di sisi Allah ialah dengan berikan kepada sescorang apa yang menjadi haknya. Maka patutlah ia bersikap tawadhu dengan cara seperti ini terhadap teman-teman sejawatnya dan siapa yang mendekati derajatnya. Adapun tawadhu’nya kepada orang awam, maka ia lakukan dengan berdiri dan menampakkan wajah ceria di waktu berbicara, bersikap lemah lembut di waktu bertanya, menghadiri undangannya dan berusaha memenuhi keperluannya.

Janganlah menganggap dirimu lebih baik dari orang lain, tetapi lebih mengkhawatirkan diri daripadanya sehingga orang lain tidak meremehkan.

Jika melihat seorang anak kecil, maka katakanlah: “Anak ini tidak mendurhakai Allah  sedang aku mendurhakai-Nya, maka tiada keraguan bahwa ia lebih baik dariku.”

Jika melihat orang yang lebih tua, katakan: ” Orang ini telah beribadat kepada Allah  sebelum aku, maka tiada keraguan bahwa ia lebih baik dariku.”

Karena ibadat yang berturut-turut meningkat pahalanya. salat pertama ibarat satu pahala, salat kedua mendapat dua pahala dan salat ketiga mendapat tiga pahala. Demikian dikatakan oleh seorang ulama. Bila bertemu dengan orang alim katakanlah: “Orang ini diberi kelebihan yang tidak diberikan kepadaku, menyampaikan dakwah yang tidak aku sampaikan dan mengetahui hukum-hukum yang tidak aku ketahui. Salah seorang dari mereka berkata: “Bahwa siapa yang mempunyai hubungan nasab dengan Rasulullah $ dan ia termasuk keturunan Sayyidina Hasan atau Husein sedang ia bukan orang alim, maka ia mengungguli orang lain yang setaraf dengannya sebanyak 60 derajat.

Sedangkan orang alim yang tidak mempunyai hubungan nasab dengan Rasulullah  mengungguli keturunan Rasulullah yang bukan alim sebanyak 60 derajat.

Jika bertemu dengan orang yang lebih tua bodoh dan durhaka, katakan dalam hatimu: “Orang ini telah mendurhakai Allah karena kebodohan, sedang aku mendurhakai-Nya dengan ilmu. Maka hujjah Allah terhadapku lebih kuat dan aku tidak tahu bagaimana kesudahanku dan bagaimana kesudahannya.”

Jika bertemu orang kafir, katakan dalam hatimu: ”Aku tidak tahu barangkali besok ia masuk Islam dan berakhir hidupnya dengan sebaikbaik amal serta keluar dari dosa-dosa dengan keislamannya seperti rambut keluar dari tepung. Adapun aku, semoga Allah melindungi. Barangkali Allah  menyesatkan aku hingga aku kafir dan mengakhiri hidupku dengan seburuk-buruk amal hingga orang itu besok di akhirat di sisi Allah menjadi lebih baik daripada aku dan menjadi orang yang dekat dengan Allah sedang aku menjadi orang yang dijauhkan dari rahmat Allah

Maka tidaklah kesombongan itu keluar dari hatimu, kecuali bila engkau mengetahui bahwa orang besar itu adalah orang yang besar di sisi Allah  dan pengetahuan itu tergantung pada penghuvisan yang baik sedangkan hal itu masih diragukan.

Dengan begitu ketakutanmu akan penghabisan yang buruk mencegahmu untuk bersikap sombong terhadap para hamba Allah meskipun ada keraguan di dalamnya. Keyakinanmu mengenai kebaikan atau keburukan dirimu dan orang lain serta keimananmu mengenai keadaan itu tidaklah bertentangan dengan kebolehanmu untuk merubah di masa yang akan datang. Karena Allah  bisa mengubah-ubah hati. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Seorang ulama berkata: “Kesempurnaan maqam tawadhu’ tidak bisa tercapai, kecuali bila hamba menyaksikan mengenai dirinya bahwa derajatnya di bawah setiap orang muslim dan tidak ada seorangpun di muka bumi yang lebih banyak durhaka dan tidak ada yang lebih sedikit adab maupun rasa malunya dari pada dia secara pasti, bukan berdasarkan dugaan.”

Karena siapa yang menganggap dirinya lebih baik dari seorang yang durhaka dengan cara yang tidak menunjukkan syukur kepada Allah , maka ia pun telah masuk dalam derajat-derajat kesombongan. Orang-orang arif telah sepakat bahwa siapa yang mempunyai sedikit sifat sombong, ia tidak boleh memasuki hadirat Allah  untuk selamanya, walaupun pada lahirnya ia beribadat kepada Allah  dengan ibadat manusia dan jin. Ketahuilah, bahwa tidaklah manusia menganggap dirinya besar, melainkan ia beranggapan bahwa ia mempunyai salah satu sifat kesempurnaan dalam urusan agama atau duniawi. Sebab-sebab kesombongan ada tujuh. Pertama, ilmu, Nabi  bersabda: “Perusak ilmu adalah kesombongan.” Ilmu hakiki ialah ilmu yang dengan perantaraannya manusia mengenal diri dan Tuhannya, bahaya penghabisan yang buruk, hujjah Allah atas para ulama dan besarnya bahaya ilmu.

Kedua, amal dan ibadat, para ulama dan ahli ibadat dalam menghadapi bencana kesombongan ada tiga macam tingkatan.

  1. Kesombongan itu menetap dalam hatinya. Ia menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain, hanya saja ia berijtihad dan bersikap tawadhu’ serta melakukan perbuatan seperti yang dilakukan orang lain, sehingga menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain. Ini telah mengukuhkan dalam hatinya pohon kesombongan, tetapi ia telah memotong seluruh rantingnya.
  1. Ia tampakkan hal itu pada perbuatan-perbuatannya dengan mengangkat dirinya di majelis-majelis dan mendahului teman-teman sebaya serta menampakkan pengingkaran terhadap siapa yang kurang memenuhi haknya.

Sekurang-kurangnya hal itu terjadi pada orang alim yang memalingkan mukanya dari orang-orang seakan-akan ia menjauhi mereka. Sedangkan pada ahli ibadat selalu bermuka masam seakan-akan ia membersihkan diri dari orang-orang dan menganggap jijik mereka atau marah kepada mereka.

  1. Menampakkan kesombongan pada lisannya hingga menyebabkan dia membanggakan diri dan memuji dirinya seperti perkataan ahli ibadat itu kepada orang lain: “Siapa dia dan apa amalnya dan dari mana zuhudnya.”

Ia berkata: “Aku tidak makan sejak hari anu sampai hari anu, dan aku tidak tidur di waktu malam.”

Orang alim itu berkata: “Aku menguasai berbagai macam ilmu dan mengetahui hakikat-hakikat. Aku pernah berguru kepada si Fulan dan si Fulan. Apa kelebihanmu, siapa gurumu dan apa hadis yang pernah engkau dengar. Sebab ketiga adalah nasab. Orang yang mempunyai nasab mulia meremehkan orang yang tidak mempunyai nasab itu, meskipun lebih tinggi amal dan ilmunya.

Keempat, kecantikan, hal ini kebanyakan terjadi di kalangan kaum wanita dan bisa menyebabkan ghibah dan cerita tentang kejelekan orang lain.

Kelima, harta, ini terjadi di antara raja-raja mengenai perbendaharaan mereka, dan di antara para pedagang pengenai barang-barang mereka, di antara para tuan tanah mengenai tanah mereka, di antara orang-orang kaya mengenai pakaian, kuda dan kendaraan mereka.

Keenam, kekuatan, yaitu yang disombongkan kepada orang yang lemah.

Ketujuh, pengikut dan murid serta kerabat.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker