Sejarah

Terjemahan Kitab Nurul Yaqin

TAHUN KEDELAPAN HIJRIAH

SARIYYAH

Pada bulan Safar Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Ghalib ibnu ‘Abdullah al-Laitsiy kepada Banil-Muluh, suatu kaum dari bangsa Arab yang mendiami daerah Qadid?. Berangkatlah Ghalib ibnu ‘Abdullah bersama balatentaranya. Ketika sampai di Gadid mereka bertemu dengan Al-Harits ibnu Malik al-Laitsiy yang dikenal dengan nama julukan Ibnul-Barsha. Dia adalah musuh bebuyutan Rasulullah. Lalu mereka menangkap dan menahannya. Al-Harits berkata kepada mereka, “Aku datang hanya untuk masuk Islam.” Mereka menjawab, “Bila engkau ini benar-benar seorang Muslim, niscaya tidak akan membahayakan dirimu ikut berjaga semalam suntuk. Bila engkau tidak mau, niscaya engkau akan kami ikat.”

Selanjutnya mereka meneruskan perjalanannya hingga sampai di perkampungan orang Banil-Muluh, lalu mereka langsung menggiring ternak berupa unta dan kambing milik mereka. Para penggembalanya meminta tolong kepada kaumnya, lalu orang Banil Muluh datang dengan jumlah yang sangat besar yang tidak diduga sama sekali oleh kaum Muslimin. Allah menganugerahkan karunia-Nya kepada kaum Muslimin pada saat itu, Lalu Allah mengirimkan banjir yang sangat besar. Banjir itu memisahkan kedua pasukan, yaitu antara kaum Muslimin dan musuh mereka sehingga kaum musyrikin tidak mampu mengadakan serangan terhadap kaum Muslimin. Mereka hanya bisa melihat kaum Muslimin menggiring ternak milik mereka di seberang, dan mereka sama sekali tidak mampu merebutnya karena terhalang oleh banjir besar yang memenuhi lembah.

SARIYYAH

Setelah Ghalib kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan, Rasulullah saw. mengirimkannya kembali bersama dua ratus orang tentara guna membalas apa yang telah dilakukan oleh Bani Murrah di Fadak. Bani Murrah adalah orang-orang yang telah mengalahkan sariyyah di bawah pimpinan Basyir ibnu Sa’d. Mereka berangkat untuk menunaikan tugas ini. Ketika mereka telah dekat dari tempat kaum yang dituju, Ghalib ibnu ‘Abdullah berkhotbah kepada para pengikutnya. Terlebih dahulu Ghalib memanjatkan puja dan puji kepada Allah swt., lalu berkata.

Amma ba’du.Sesungguhnya aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, hendaknya kalian taat kepadaku, dan jangan sekali-kali kalian melanggar perintahku karena sesungguhnya pemimpin itu haruslah ditaati.” Selanjutnya Ghalib ibnu ‘Abdullah saling mempersaudarakan balatentaranya dengan mengatakan, “Hai Fulan, engkau bersaudara dengan si Fulan, hai Fulan, engkau harus bersaudara dengan si Fulan yang lain. Jangan sekali-kali seseorang berpisah dari saudaranya. Jangan sekali-kali seseorang dari kalian kembali sendirian, lalu jika aku bertanya kepadanya, ‘Ke manakah saudaramu”? lalu ia menjawab, ‘Tidak tahu.’ Apabila aku bertakbir, bertakbirlah kalian semuanya sebagai pertanda mulai serangan.”

Ketika mereka telah mengepung musuh-musuh mereka, lalu Ghalib bertakbir, maka bertakbirlah seluruh pasukan kaum Muslimin, dan mereka menghunus pedangnya masing-masing. Dalam peperangan ini tidak ada seorang pun dari kalangan musuh yang selamat, semuanya ditumpas sampai habis. Lalu kaum Muslimin menggiring ternak mereka yang jumlahnya cukup banyak sehingga pada saat itu setiap tentara membawa sepuluh ekor unta.

SARIYYAH

Pada bulan Rabiulawal Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Ka’b ibnu “Umair al-Ghifariy ke Dzatu Athlah, bawahan negeri Syam. Ketika itu Ka’b ibnu ‘Umair membawahi lima belas orang kaum Muslimin. Tatkala mereka sampai di tempat tersebut, mereka menjumpai penduduknya banyak sekali. Lalu Ka’b ibnu ‘Umair menyeru mereka untuk masuk Islam, tetapi mereka tidak mau. Akhirnya terjadilah pertempuran di antara kedua belah pihak, sedangkan musuh besar sekali jumlahnya. Dalam pertempuran itu semua kaum Muslimin gugur sebagai syuhada kecuali pemimpin mereka, Sahabat Ka’b ibnu ‘Umair. Ia dapat meloloskan diri, lalu ia menyampaikan beritanya kepada Rasulullah saw. Mendengar berita itu Rasulullah saw. sangat sedih. Dia bermaksud mengirimkan orang-orang guna mengadakan pembalasan terhadap mereka, tetapi ada suatu berita yang mengatakan bahwa mereka telah berpindah tempat dan tidak diketahui ke mana. Akhirnya Rasulullah saw. mengurungkan niatnya.

PERANG MU’TAH

Pada bulan Jumadilawal tahun ketujuh Hijriah Rasulullah saw. mempersiapkan balatentara untuk mengadakan pembalasan terhadap orang-orang yang telah membunuh Al-Harits ibnu ‘Umair al-Azadiy yang di kirimkan untuk menyampaikan suratnya kepada penguasa Basira. Rasulullah saw. mengangkat Sahabat Zaid ibnu Haritsah sebagai pemimpin mereka dan dia berkata kepada mereka, “Bilamana Zaid ibnu Haritsah gugur, sebagai penggantinya adalah Ja’far ibnu Abu Thalib: dan bilamana Ja’far gugur, maka sebagai penggantinya adalah ‘Abdullah ibnu Rawwahah.”

Pada saat itu jumlah tentara kaum Muslimin mencapai tiga ribu orang. Mereka berangkat dilepas oleh Rasulullah saw. sendiri. Di antara pesan yang dikatakan Rasulullah saw. kepada mereka ialah seperti berikut ini:

Berperanglah kalian dengan nama Allah, bunuhlah musuh Allah dan musuh kalian di negeri Syam itu. Dan kelak kalian akan menjumpai di dalamnya kaum laki-laki di dalam tempat-tempat peribadatan mereka mengasingkan diri, maka jangan sekali-kali kalian mengganggu mereka, dan janganlah kalian membunuh wanita, anak-anak kecil, dan orang yang sudah tua sekali, serta janganlah kalian menebang pohon dan jangan pula meruntuhkan bangunan.

Pasukan kaum Muslimin melakukan perjalanan hingga sampai di Mu’. tah,” tempat dibunuhnya Sahabat Al-Harits ibnu ‘Umair. Di tempat itu kaum Muslimin bertemu dengan orang-orang Romawi yang kini telah mempersiapkan pasukannya dengan jumlah yang sangat besar. Di antara mereka terdapat orang-orang Arab yang telah memeluk agama Nasrani. Pasukan kaum Muslimin bermusyawarah di antara sesama mereka tentang apa yang harus mereka perbuat dalam menghadapi pasukan musuh yang demikian besar itu. Apakah mereka harus mengirimkan berita kepada Rasulullah saw. untuk meminta balabantuan? Ataukah mereka tetap maju ke medan peperangan? .

Sahabat ‘Abdullah ibnu Rawwahah berkata, “Hai kaum, demi Allah, sesungguhnya kalian tidak suka kepada tujuan kalian keluar. Kalian keluar untuk mencari syahadah (mati syahid), dan kami tidak sekali-kali berperang hanya karena kekuatan dan tidak pula karena besarnya jumlah. Kami berperang demi membela agama ini (Islam) yang Allah telah memuliakan kami dengannya. Sesungguhnya masalahnya hanyalah salah satu di antara kedua kebaikan, yaitu adakalanya menang dan adakalanya mati syahid.” Pada saat itu orang-orang berkata, “Benarlah, demi Allah, apa yang telah dikatakan oleh Ibnu Rawwahah.”

Lalu mereka maju semua ke medan perang, dan terjadilah pertempuran sengit di antara kedua pasukan yang jumlahnya sangat besar. Dalam pertempuran itu Sahabat Zaid ibnu Haritsah r.a. gugur sebagai syuhada, lalu panji peperangan diambil oleh Sahabat Ja’far ibnu Abu Thalib seraya berkata:

Aduhai surga yang kini sudah dekat, ia amat indah dan sejuk minumannya. Orang-orang Romawi kini sudah dekat masa azabnya. Mereka kafir lagi jauh nasabnya. Aku harus memukul mereka dalam perang nanti.

Sahabat Ja’far ibnu Abu Thalib terus berperang hingga gugur sebagai syuhada. Kemudian panji peperangan beralih ke tangan ‘Abdullah ibnu Rawwahah. Ia maju ke dalam barisan musuh, tetapi ia agak terpukul, kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri:

Aku bersumpah, majulah engkau hai diriku, turutlah perintahku atau aku akan memaksa engkau maju. Bila orang-orang maju, engkau pun harus maju pantang mundur. Aku kira engkau tidak akan membenci surga yang selama ini engkau tunggu-tunggu. Bukankah engkau hanya berasal dari air mani?

Kemudian ia maju terus merangsak barisan musuh, dan terus mengamuk di dalam barisan musuh bersama kudanya, tetapi akhirnya gugur juga sebagai syuhada. Ketika itu sebagian tentara kaum Muslimin bermaksud mundur, tetapi Sahabat ‘Ugbah ibnu ‘Amir berkata, “Hai kaum, pasukan yang gugur dalam keadaan maju itu lebih baik daripada gugur dalam keadaan mundur.” Akhirnya balatentara kaum Muslimin bersiap-siap lagi untuk maju, kemudian mereka sepakat untuk mengangkat seseorang yang terkenal berani lagi gagah, yaitu Sahabat Khalid ibnul-Walid, sebagai panglima mereka. Berkat pengalaman dan keahliannya dalam peperangan, akhirnya ia berhasil menyatukan kembali tekad tentara kaum Muslimin sehingga mereka tidak kocar-kacir, sebab apa artinya tiga ribu orang melawan seratus lima puluh ribu orang.

Ketika Sahabat Khalid ibnul-Walid memegang tampuk pimpinan kaum Muslimin, pada hari itu juga ia bertempur dengan gigihnya. Pada keesokan harinya ia mengubah strategi pasukan kaum Muslimin. Ia memindahkan barisan tengah menjadi di depan dan barisan yang tadinya di depan menjadi di belakang, sayap kanan diubah untuk menempati sayap kiri sedangkan sayap kiri ditempatkan pada sayap kanan. Siasat ini ternyata membuat takut musuh karena mereka menduga bahwa kini balabantuan kaum Muslimin telah datang.

Kemudian Sahabat Khalid membawa mundur pasukannya sehingga sampai di Mu’tah. Di tempat tersebut kaum Muslimin berperang melawan musuhnya selama tujuh hari. Setelah itu kedua belah pihak menghentikan serangan karena orang-orang kafir menduga bahwa balabantuan kaum Muslimin kini datang berbondong-bondong. Mereka kini merasa ngeri karena khawatir kaum Muslimin menjebaknya ke padang sahara sehingga mereka tidak dapat melarikan diri lagi bilamana terpukul mundur. Dengan demikian berhentilah peperangan itu.

Rasulullah saw. sebelum kedatangan berita telah berbela sungkawa atas gugurnya Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rawwahah. Dia menceritakan keadaan medan pertempuran, “Panji peperangan mulanya dipegang oleh Zaid, Zaid gugur, lalu panji peperangan beralih ke tangan Ja’far, dan Ja’far pun gugur, lalu panji peperangan dipegang oleh Ibnu Rawwahah, dan ternyata ia pun gugur,” Pada saat itu kedua mata Rasulullah saw. mencucurkan air mata. Selanjutnya dia meneruskan kisahnya, “Akhirnya panji peperangan dipegang oleh salah seorang yang dijuluki Pedang Allah sehingga Allah menganugerahkan kemenangan atas kaum Muslimin.”

Pada saat itu datanglah seorang lelaki dan langsung berkata. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri-istri Ja’far semuanya menangis.” Rasulullah saw. memerintahkan dia agar mencegah mereka menangis. Lalu lelaki itu berangkat. Akan tetapi, tidak lama kemudian ia kembali lagi dan berkata, “Saya telah mencegah mereka, tetapi mereka tidak mau juga berhenti.” Rasulullah saw. memerintahkannya supaya pergi lagi kepada mereka untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi, ia datang lagi seraya berkata, “Demi Allah, kami tidak mampu menghadapi mereka.” Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Kalau demikian, taburkanlah debu ke mulut mereka.”

Ketika balatentara kaum Muslimin datang di Madinah dan kaum Muslimin menyambut kedatangan mereka, kaum Muslimin berkata kepada mereka, “Haji orang-orang yang melarikan diri.” Rasulullah saw. langsung memotong perkataan mereka, “Bahkan mengapa terus maju.” Hal itu karena kaum Muslimin menduga bahwa mundurnya Khalid bersama dengan pasukannya merupakan kekalahan. Akan tetapi kemudian Rasulullah saw. memberikan pengertian kepada mereka bahwa hal tersebut merupakan salah satu tipuan dalam perang. Rasulullah saw. memuji tindakan yang telah diambil oleh Khalid itu.

SARIYYAH

Pada bulan Jumadilakhir Rasulullah saw. mendengar berita bahwa sekelompok orang Qudha’ah telah menghimpun kekuatan di tempat mereka, yaitu di belakang Wadil-Qura, dengan tujuan menyerang Madinah. Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat ‘Amr ibnul ‘Ash bersama tiga ratus orang tentara yang terdiri dari kaum berada Muhajirin untuk menyerang mereka terlebih dahulu. Kemudian Rasulullah saw. mendukung mereka dengan tentara di bawah pimpinan ‘Abu Ubaidah ibnul-Jarrah dengan jumlah mencapai dua ratus orang yang terdiri dari kaum Muhajirin. Di dalamnya terdapat Sahabat Abu Bakar dan Sahabat ‘Umar. Lalu mereka menyusul balatentara yang dipimpin oleh ‘Amr sebelum sampai ke tempat kaum yang ditujunya.

Pada saat itu ada sebagian dari tentara kaum Muslimin yang ingin menyalakan api, tetapi dicegah oleh ‘Amr namun Sahabat ‘Umar tidak mau menerima larangannya itu. Berkatalah Sahabat Abu Bakar, “Sesungguhnya ia telah diangkat oleh Rasulullah untuk menjadi pemimpin kita karena pengetahuannya dalam hal peperangan jauh lebih banyak daripada kita. Oleh sebab itu, janganlah engkau menentangnya”. Barulah sahabat ‘Umar mau menaatinya.

Ketika kaum Muslimin sampai di tempat musuh mereka langsung menyerang, dan hanya dalam beberapa saat musuh telah kocar-kacir dan melarikan diri. Kaum Muslimin mengumpulkan ghanimah. Ketika mereka bermaksud untuk mengejar musuh, dicegah oleh pemimpin mereka. Kemudian pasukan-pasukan kaum Muslimin kembali ke Madinah dengan kemenangan dan memperoleh ghanimah. Akan tetapi, sewaktu mereka sedang beristirahat pada malam yang sangat dingin, Sahabat ‘Amr ibnul’Ash mengalami jinabah.

Pada keesokan harinya ia berkata, “Sesungguhnya jika aku mandi, niscaya aku akan binasa karena kedinginan, sedangkan Allah telah berfirman.

Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (Q.S. 2 AlBagarah: 195)

Kemudian Sahabat ‘Amr ibnul-‘Ash hanya bertayamum, lalu mengerjakan salat. Selanjutnya ‘Amr memerintahkan pasukannya untuk meneruskan perjalanan. Ketika sampai di Madinah, mereka disambut oleh Rasulullah saw. Sebagaimana biasanya Rasulullah saw. menanyakan pengalaman yang diperoleh mereka dalam perjalanannya. Lalu orang-orang menceritakan kepadanya semua yang telah dilakukan oleh ‘Amr . Hal itu membuat mereka kurang senang terhadapnya, yaitu ‘Amr melarang mereka menyalakan api, melarang mereka mengejar musuh, serta melakukan salat dalam keadaan mempunyai jinabah.

Lalu Rasulullah saw. menanyakan hal tersebut langsung kepada ‘Amr. ‘Amr menjawab, “Aku sengaja mencegah mereka menyalakan api (padahal malam dingin sekali) supaya musuh tidak melihat jumlah mereka yang sedikit itu. Jika musuh dapat melihat keadaan mereka, maka musuh akan bertambah berani. Sengaja pula aku mencegah mereka mengejar musuh yang kalah supaya mereka tidak terkena jebakan musuh. Kemudian sengaja pula aku melakukan salat dalam keadaan junub karena Allah swt. telah berfirman:

Dan janganlah kalian menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan. (Q.S. 2 Al-Bagarah: 195)

Sebab, apabila aku mandi, niscaya aku akan binasa karena kedinginan.” Setelah mendengar jawaban ‘Amr, Rasulullah saw. tersenyum, lalu memuji tindakan yang telah diambilnya itu.

SARIYYAH

Pada bulan Rajab Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Abu ‘Ubaidah alias ‘Amir ibnul-Jarrah bersama tiga ratus pasukan berkuda untuk mengadakan serangan terhadap kabilah Juhainah yang mendiami daerah pantai. Rasulullah saw. membekali pasukan ini dengan beberapa karung kurma. Berjalanlah pasukan kaum Muslimin ini hingga sampai di daerah pantai. Mereka tinggal di sana selama setengah bulan menunggu kedatangan musuh sedangkan perbekalan makanan yang mereka bawa semuanya habis. Mereka terpaksa memakan daun-daunan yang ada hingga bibir mereka pecah-pecah. Sebelum dimakan terlebih dahulu membasahi daun-daunan itu dengan air.

Di dalam barisan kaum Muslimin terdapat orang yang dermawan dan anak seorang yang dermawan pula, yaitu Qais ibnu ‘Ubadah. Qais menyembelih untuk mereka tiga ekor unta, setiap hari disembelih seekor. Pada hari yang keempat, ketika Qais bermaksud menyembelih untanya yang keempat, Abu ‘Ubaidah, pemimpinnya, melarang melakukannya karena Abu ‘Ubaidah mengetahui bahwa Qais mengambil unta-unta itu atas dasar utang dari ayahnya sehingga ia khawatir Qais tidak akan mampu membayar utang kepada ayahnya. Akan tetapi Qais berkata, “Tidakkah engkau melihat bahwa Sa’d (ayahnya) mau membayar utang orang-orang, dan ia mau memberi makan dalam musim paceklik, lalu apakah ia tega menagih utang yang aku pinjam daripadanya untuk memberi makan kaum Mujahidin di jalan Allah?”

Setelah pasukan kaum Muslimin putus harapan dapat bertemu dengan musuh, mereka kembali ke Madinah. Sesampai di Madinah Qais berkata kepada ayahnya, Sa’d,”Aku berada di dalam barisan tentara, lalu mereka ke laparan.” Sa’d menjawab,”Kalau demikian, sembelihlah untaku.” Qais ber kata,”Aku telah menyembelihnya, tetapi mereka lapar lagi.” Sa’d menja wab, “Mengapa tidak engkau sembelihkan lagi?” Qais berkata “Aku telah menyembelihnya, tetapi mereka lapar lagi.” Sa’d berkata, “Mengapa tidak engkau sembelihkan lagi?” Qais menjawab, “Aku telah melakukannya, tetapi mereka masih lapar juga, dan ketika akan menyembelih yang keempat, aku dilarang melakukannya lagi.”

PERANG AL-FATH (PENAKLUKAN MAKKAH) YANG TERBESAR

Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia mempersiapkan pe nyebab-penyebabnya dan melenyapkan semua penghalangnya. Rasulullah saw. telah mengetahui bahwa orang Arab itu tidak dapat dikalahkan kecu ali bila orang Quraisy dikalahkan terlebih dahulu. Orang Arab tidak akan mau tunduk kecuali bilamana penduduk Makkah ditundukkan terlebih da hulu. Rasulullah saw. selalu mendambakan untuk menaklukkan kota Makkah, tetapi terhambat oleh perjanjian-perjanjian yang telah dibuat dengan orang Quraisy sewaktu di Hudaibiyah, sedangkan Rasulullah saw. adalah para penghulu orang yang menunaikan janjinya. Akan tetapi, bila mana Allah menghendaki suatu perkara terjadi, maka Dia akan memudah kan penyebab-penyebab yang menimbulkannya.

Sebagaimana telah pembaca ketahui, kabilah Khuza’ah telah mengikat diri ke dalam perjanjian dengan pihak Rasulullah, sedangkan kabilah Ba kar dengan pihak Quraisy. Di antara kabilah Khuza’ah dan kabilah Bakar terdapat utang darah pada Zaman Jahiliah. Hal ini menjadi terpendam karena munculnya agama Islam. Ketika perjanjian dan gencatan senjata telah ditandatangani, ada seorang laki-laki dari kalangan Bakr mendendangkan syair-syair yang menghina Rasulullah di hadapan seorang lelaki dari kalangan Khuza’ah. Lelaki Khuza’ah ini bangkit dan langsung memukulnya sehingga peristiwa tersebut membangkitkan kembali dendam kesumat yang selama ini terpendam di antara kedua kabilah tersebut. Bani Bakr kini teringat kembali akan keinginan mereka untuk membalas dendam kepada orang-orang Khuza’ah. Maka mereka membulatkan tekad untuk memerangi musuhmusuh mereka. Mereka meminta bantuan kepada sekutu mereka dari kalangan Quraisy. Orang Quraisy memberikan bantuan kepada mereka secara rahasia, yaitu berupa alat perang berikut prajurit. Kemudian mereka berangkat menyerang orang Khuza’ah yang hidup dalam kedamaian. Akhirnya mereka berhasil membunuh sekitar dua puluh orang dari kalangan Khuza’ah.

Ketika orang Khuza’ah yang kini menjadi sekutu Rasulullah saw. melihat kejadian tersebut, lalu mereka mengirimkan utusan di bawah pimpinan ‘Amr ibnu Salim al-Khuza’iy untuk memberitahukan kepada Rasulullah saw. tentang apa yang telah dilakukan oleh Bani Bakr dan kabilah Quraisy terhadap mereka. Ketika para utusan tersebut sampai di hadapan Rasulullah saw. dan telah memberitahukan semua kejadian kepadanya. Nabi saw. berkata, “Demi Allah, aku akan mempertahankan kalian sebagaimana aku mempertahankan diriku sendiri.”

Tatkala orang Quraisy menyadari bahwa apa yang telah mereka laku: kan itu sama saja dengan merusak perjanjian yang telah mereka tanda tangani dengan kaum Muslimin, mereka sangat menyesal. Mereka bermaksud mengobati cela ini, lalu mereka mengutus pemimpin mereka, yaitu Abu Sufyan ibnu Harb, ke Madinah guna memperkuat perjanjian dan un tuk menambah masa berlakunya. Abu Sufyan menaiki kendaraannya dan langsung menuju Madinah. Ia menduga bahwa tiada seorang pun yang mendahuluinya.

Ketika ia sampai di Madinah, ia turun di tempat Ummul Mu’minin Ummu Habibah, putrinya sendiri. Ketika ia bermaksud duduk di permadani tempat duduk Rasulullah saw. Ummu Habibah segera melipatnya. Abu Sufyan berkata,”Hai anakku, apakah engkau lebih menyukainya daripada diriku, ataukah engkau lebih menyukai diriku daripadanya?”” Ummu Habibah langsung menjawab,”engkau tidak berhak menduduki permadani Rasulullah sementara engkau musyrik lagi najis.” Abu Sufyan menjawab, “Sungguh engkau ini telah terkena keburukan sesudahku.”

Lalu Abu Sufyan keluar dari rumah Ummu Habibah dan langsung mendatangi Nabi saw. yang pada waktu itu berada di dalam masjid. Ia menyatakan maksud kedatangannya kepada Rasulullah. Rasulullah berkata, “Apakah telah terjadi sesuatu?” Abu Sufyan menjawab,”Tidak.” Maka Rasulullah saw. berkata,”Kami hanya berpegang kepada masa perjanjian yang telah lalu.” artinya dia tidak mau memperpanjang masa berlakunya.

Selanjutnya Abu Sufyan bangkit dan berkeliling di antara sesepuh kaum Muhajirin dari kalangan kabilah Quraisy dengan harapan mereka mau membantu melaksanakan maksudnya. Ternyata ia tidak mendapat pertolongan apapun dari mereka. Semua sahabat mengatakan, “Perlindungan kami berada di bawah perlindungan Rasulullah.”

Lalu Abu Sufyan kembali kepada kaumnya tanpa membawa hasil apa pun. Akhirnya mereka menuduh bahwa ia telah berkhianat kepada mereka dan ia telah masuk agama Islam. Maka Abu Sufyan melakukan penyembahan di hadapan berhala-hala untuk melenyapkan tuduhan ini.

Sementara itu Rasulullah saw. mengadakan persiapan untuk melakukan perjalanan. Dia memerintahkan para sahabat untuk melakukan hal yang sama. Kemudian Rasulullah saw. menjelaskan tujuannya kepada Sahabat Abu Bakar Shiddiq. Sahabat Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah di antara engkau dan orang-orang Quraisy terdapat perjanjian gencatan senjata?” Rasulullah menjawab,”Ya, memang benar, tetapi orangorang Quraisy telah menghianati dan merusaknya.”

Rasulullah saw. berseru kepada orang-orang Arab yang berada di sekitar Madinah,”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah hadir di Madinah pada bulan Ramadan.” Lalu datanglah kepadanya beberapa golongan dari kabilah Aslam, Muzayyanah, Asyje’, dan Juhainah untuk menyatakan kesediaan mereka mengikuti seruan Rasulullah. Rasulullah saw. sengaja menyembunyikan berita ini supaya tidak tersebar sehingga orang Quraisy dapat menyadapnya,kemudian mereka membuat persiapan untuk berperang, sedangkan Rasulullah saw. tidak menginginkan terjadi peperangan di Makkah. Tujuan Nabi saw. hanya menakjubkan penduduk Makkah tanpa menyentuh kesucian kota itu. Untuk itu dia berdoa kepada Allah swt, “Ya Allah, tutuplah mata-mata dan sembunyikanlah berita-berita dari orang-orang Quraisy supaya kami dapat mengejutkan mereka di negerinya.

Akan tetapi, Hathib ibnu Abu Balta’ah, salah seorang sahabat yang ikut dalam Perang Badar, menulis surat kepada orang Quraisy. Isi surat itu memberitahukan kepada mereka tentang sebagian persiapan yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Kemudian ia mengirimkan surat tersebut melalui seorang hamba sahaya perempuan untuk disampaikan kepada orang Quraisy dengan segera. Allah swt. memberitahukan hal tersebut kcpada Rasul-Nya. Maka Rasulullah langsung menyuruh sahabat ‘Ali, Sahabat Zubair, dan Sahabat Migdad untuk menyusulnya. Rasulullah saw. berpesan kepada mereka,”Berangkatlah kalian hingga mencapai perkebunan Khakh. Sesungguhnya di kebun itu terdapat seorang wanita musafir yang membawa surat rahasia, maka kalian harus mengambil surat itu dari tangannya.” Kemudian mereka berangkat hingga sampai di kebun tersebut . Di sana mereka menjumpai seorang wanita, lalu mereka berkata keradanya, “Keluarkanlah surat itu.” Perempuan itu menjawab,”Saya tidak membawa surat apa-apa.” Mereka berkata,”Engkau harus mengeluarkan surat itu dan memberikannya kepada kami, atau kami akan melemparkan pakaian engkau itu.” Akhirnya perempuan itu terpaksa mengeluarkan surat tersebut dari dalam bungkusan bajunya.

Mereka memberikan surat itu kepada Rasulullah, lalu Rasulullah saw. menegur Hathib, “Hai Hathib, apa-apaan ini? “Hathib menjawab, “Wahai Rasulullah, jangan tergesa-gesa menjatuhkan sanksi kepada diriku. Sesungguhnya aku adalah sekutu orang Quraisy, dan aku bukan dari kalangan mereka. Sedangkan di antara orang-orang yang bersama engkau dari kalangan Muhajirin mempunyai kaum kerabat, lalu mereka melindungi kaum kerabat dan harta bendanya. Aku ingin sekali, karena tidak mempunyai hubungan keluarga dengan mereka, untuk memelihara hubungan ini, padahal aku sangat mencintai mereka. Aku melakukan demikian bukan karena murtad dari agamaku dan bukan pula karena rela dengan kekufuran sesudah Islam.” Rasulullah saw. berkata, Ingatlah, sekarang ia benarbenar telah berkata jujur kepada kalian.” Akan tetapi Sahabat ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku memenggal leher si munafik ini. “Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya dia telah ikut serta dalam Perang Badar. Tahukah engkau, barangkali Allah mempunyai pertimbangan lain kepada orang-orang yang menyaksikan Perang Badar. “Selanjutnya Rasulullah saw. berkata “Berbuatlah sesuka kalian karena sesungguhnya kalian telah mendapat ampunan.” Sehubungan dengan peristiwa ini turunlah firman-Nya

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuhKu dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar dari kebenaran yang datang kepada kalian, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kalian karena kalian beriman kepada Allah, Rabb kalian Jika kalian benarbenar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku janganlah kalian berbuat demikian). Kalian memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Dan barang siapa di antara kalian yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Q.S. 60 Al-Mumtahanah: 1)

Rasulullah saw membawa pasukannya yang berjurnlah besar itu pada pertengahan bulan Ramadan sesudah terlebih dahulu mengangkat sahabat Ibnu Ummi Maktum sebagai khalifahnya di Madinah. Jumlah yang ikut serta pada saat itu sepuluh ribu orang Mujahidin. Ketika sampai di Al-Abwa mereka bertemu dengan dua orang lelaki yang termasuk musuh bebuyutan Rasulullah saw, yaitu saudara sepupu Rasulullah sendiri yang bernama Abu Sufyan ibnul-Harits ibnu ‘Abdul-Muththalib. Dia adalah saudara sekandung sahabat ‘Ubaidah ibnul-Harits yang telah gugur dalam Perang Badar sebagai syuhada. Yang seorang lagi adalah saudara ipar Rasulullah saw. sendiri yang bernama ‘Abdullah ibnu Abu Umayyah ibnul-Mughirah, saudara lelaki Ummu Salamah, istri Rasulullah saw. Keduanya datang dengan sengaja untuk masuk Islam. Maka Rasulullah saw. menyambutnya dengan penuh kegembiraan, lalu dia membacakan firman-Nya:

Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni (kalian), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (Q.S. 12 Yusuf: 92)

Ketika Rasulullah saw. sampai di Qadid, dia melihat bahwa shaum dirasakan amat berat oleh kaum Muslimin. Lalu ia memerintah mereka untuk berbuka, dan dia berbuka. Di tengah perjalanan Rasulullah saw. bertemu pula dengan pamannya, yaitu Al-‘Abbas, yang dalam perjalanan untuk hijrah ke Madinah bersama keluarga dan anak-anaknya. Rasulullah saw. memerintahkan dia kembali ke Makkah bersamanya, kemudian ia mengirimkan anak-anaknya ke Madinah.

Ketika sampai di Jalan Zhahran, Nabi saw memerintahkan kaum Muslimin supaya menyalakan sepuluh ribu obor. Orang Quraisy pada saat itu telah mendengar berita bahwa Muhammad bersama pasukan yang amat besar sedang bergerak, tetapi secara pasti tidak diketahui ke mana arahnya. Mereka mengirimkan Abu Sufyan ibnu Harb dan Hakim ibnu Hizam serta Badil ibnu Warga’ untuk mencari informasi tentang Rasulullah dan pasukannya. Ketiga orang tersebut menyanggupi tugas ini, lalu mereka berjalan hingga sampai di Jalan Zhahran. Di tempat itu mereka dikejutkan dengan banyaknya obor bagaikan obor orang-orang ‘Arafah. Abu Sufyan berkata,”Apakah itu? Seolah-olah orang ‘Arafah.” Badil ibnu Warga berkata, “Mungkin itu obor orang Bani ‘Amr. “Tetapi Abu Sufyan menyangkal, “Orang ‘Amr jumlahnya lebih sedikit daripada itu.”

Mereka dipergoki oleh orang-orang yang mengawal Rasulullah, lalu para pengawal mengejar dan menangkap mereka, kemudian mereka dihadapkan kepada Rasulullah. Ketika dihadapkan kepada Rasulullah saw. Abu Sufyan masuk Islam di hadapannya. Sewaktu Rasulullah saw. berangkat, ia berkata kepada Al-‘Abbas, “Tahanlah Abu Sufyan di bukit sehingga ia dapat melihat kaum Muslimin. “AI’Abbas segera melaksanakan perintahnya, lalu setiap kabilah berlalu di hadapanya, satu golongan demi satu golongan. Pada saat itu Abu Sufyan bertanya-tanya, “Apakah artinya aku dengan mereka? “Lewatlah di hadapannya suatu kabilah dari kalangan Anshar. Yang membawa panji adalah sahabat Sa’d ibnu ‘Ubadah. Sa’d berkata, “Hai Abu Sufyan, hari ini adalah hari pertempuran. Pada hari ini Ka’ bah dihalalkan.” Lalu Abu Sufyan berkata, “Hai ‘Abbas, andaikata aku dapat membela tanah tumpah darahku.” Kemudian datang segolongan pasukan yang jumlahnya agak sedikit. Di dalamnya terdapat Rasulullah saw. dan para sahabat, sedangkan orang yang memegang panji adalah sahabat Zubair ibnul–Awwam. Abu Sufyan memberitahukan kepada Rasulullah apa yang telah dikatakan oleh Sa’d. Rasulullah saw. berkata, “Sa’d bohong, bahkan hari ini adalah hari Allah mengagungkan Ka’bah, dan hari ini adalah hari Ka’bah diberi pakaian”.

Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan agar panji ditancapkan di Juhun” lalu memerintahkan pula agar sahabat Khalid ibnul-Walid memasuki Makkah dari daerah bawah, yaitu dari Kuda sedangkan Rasululah sendiri memasukinya dari daerah atas, yaitu Kadaun.? Selanjutnya penyeru mengumandangkan, “Barang siapa memasuki rumahnya lalu mengunci pintu, ia berada dalam keamanan: dan barang siapa memasuki Masjidil-Haram, ia dalam keadaan aman, dan barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia dalam keadaan aman. “Hal ini merupakan anugerah besar bagi Abu sufyan yang kini telah masuk Islam. Akan tetapi dikecualikan dari hal tersebut segolongan orang yang dosanya sangat besar dan telah menyakiti Islam serta para pemeluknya dengan tindakan-tindakan yang sangat menyakitkan. Darah mereka tidak dilindungi sekalipun mere. ‘! ka bergantungan pada kain Ka’bah.

Di antara mereka yang tidak dilindungi ialah ‘Abdullah ibnu Sa’d ibnu Abu Sarah yang telah masuk Islam dan pernah menjadi juru tulis wahyu Rasulullah selama beberapa waktu. Akan tetapi, ia murtad dari Islam, kemudi| an membuat-buat kebohongan tentang diri Rasulullah saw. Ia pernah me’ ngatakan, “Sesungguhnya Muhammad pernah memerintahkan kepadaku supaya menuliskan alimun hakim. Lalu aku menuliskannya menjadi ghafurun rahim, kemudian ia mengatakan, bahwa semuanya baik.” :

Yang juga tidak dilindungi adalah ‘Ikrimah ibnu Abu Jahal, Shafwan | ibnu Umayyah, Harib Ibnul-Aswad, Al-Harits ibnu Hisyam, Zuhair ibnu Abu Umayyah, Ka’b ibnu Zuhair, Wahsyi pembunuh Sahabat Hamzah, Hindun binti ‘Atabah (istri Abu Sufyan), Qalil, dan lain-lain. Rasulullah : saw. melarang kaum Muslimin membunuh siapa pun kecuali yang telah disebutkan di atas dan yang melawan mengajak perang.

Pasukan Khalid ibnul-Walid disambut oleh orang Quraisy dengan maksud menghalang-halangi mereka masuk. Maka Khalid bertempur melawan mereka sehingga berhasil membunuh dua puluh empat orang pihak musuh, sedangkan dari pasukannya hanya dua orang yang gugur. Khalid memasuki Makkah dari arah ini dengan melalui peperangan terlebih dahulu, dan berhasil mendobraknya. Pasukan Rasulullah saw. tidak menemukan hambatan apa pun. Pada saat itu Rasulullah saw. menaiki hewan kendaraannya seraya merundukkan tubuhnya karena merendahkan diri kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya atas karunia yang agung ini sehingga kelihatan kepalanya hampir menyentuh pelana kendaraannya. Ketika itu dia memboncengkan Usamah ibnu Zaid. Hal itu terjadi pada pagi hari Jumat tanggal 20 Ramadan. Rasulullah saw. terus berjalan hingga sampai di Juhun, tempat panji dipancangkan. Di tempat itu telah disediakan pula sebuah kemah untuknya. Di dalam kemah telah ada Ummu Salamah dan Maimunah, lalu Nabi saw. beristirahat sejenak. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya, di sampingnya ada Sahabat Abu Bakar yang menjadi teman berbicara, sedangkan Rasulullah saw. pada saat itu membacakan surah AlFath hingga sampai di Baitullah.

Ketika Rasulullah saw. sampai di Ka’bah, dia langsung thawaf sebanyak tujuh kali dengan menunggang kendaraannya, dan mencium Hajar Aswad hanya dengan perantaraan tongkat bengkoknya. Pada saat itu di sekeliling Ka’bah terdapat sekitar tiga ratus enam puluh buah berhala. Rasulullah saw. menusuki berhala-berhala itu dengan tongkat kayu yang berada di tangannya seraya mengatakan:

Telah datang perkara yang hak, dan lenyaplah perkara yang batil. Kebatilan tidak akan muncul dan tidak akan kembali lagi.

Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan kaum Muslimin supaya mengeluarkan berhala-berhala tersebut dari Ka’bah. Di dalam Ka’bah terdapat gambar Nabi Isma’il dan Nabi Ibrahim yang lagi memegang azlam (alat pengundi). Lalu Rasulullah saw. berkata “Semoga Allah melaknat mereka yang menggambarnya. Sebenarnya mereka telah mengetahui bahwa keduanya belum pernah sama sekali memakai azlam tersebut.”

Ini adalah untuk yang pertama kalinya Ka’bah disucikan dari penyembahan-penyembahan yang batil itu. Dengan bersihnya Ka’bah dari hal-hal yang najis seperti itu, maka lenyaplah penyembahan berhala dari kalangan bangsa Arab seluruhnya. Ada yang masih tetap melakukannya, tetapi jumlahnya sangat sedikit sehingga boleh dikatakan hampir lenyap.

MEMBERI MAAF DI KALA BERKUASA

Rasulullah saw. memasuki Ka’bah dan bertakbir di setiap penjuru ruangan. Setelah itu dia keluar menuju makam Ibrahim dan menunaikan salat di tempat itu, lalu meminum air zamzam dan duduk di Masjid. Sementara itu Semua mata tertuju kepadanya, menunggu-nunggu keputusan yang akan dijatuhkannya terhadap orang-orang musyrik Quraisy yang telah menyakiti dan mengusirnya dari tanah kelahirannya serta memeranginya. Akan tetapi, pada detik-detik yang mendebarkan itu muncullah kemuliaan akhlaknya. Hal ini harus ditiru oleh setiap Muslim, yaitu hendaknya kerelaan dan kemarahan hanya demi Allah belaka, bukan demi hawa nafsu. Pada saat itu Rasulullah saw. berkata, “Haj orang orang Quraisy, bagaimana aku Ini menurut pendapat kalian, apakah yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Mereka menjawab, “Hanya kebaikan belaka, engkau adalal: saudara yang mulia anak saudara kami yang mulia pula. “Maka Rasulullah saw. berkata, “Pergilah kalian semua karena kalian telah bebas.”

Kemudian Rasulullah saw. mengucapkan khotbahnya yang di dalamnya terkandung banyak hukum Islam. Antara lain dia mengatakan bahwa hendaknya seorang Muslim tidak boleh dihukum mati oleh sebab membunuh orang kafir, dua orang yang berbeda agama tidak boleh saling mewaris, seorang wanita tidak boleh dimadu dengan bibi dari pihak ayah atau bibi dari pihak ibunya, bukti bagi orang yang menuduh dan sumpah bagi orang yang mengingkari tuduhan, seorang wanita tidak boleh melakukan perjalanan sejauh tiga hari jarak tempuh kecuali dibarengi muhrimnya: tidak ada salat sesudah subuh dan asar: dan tidak boleh melakukan shaum pada hari Idul-Adha dan Idul-Fitri.

Selanjutnya Rasulullah berkata, “Hai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah melenyapkan dari kalian tradisi Jahiliah dan mengagungagungkan nenek-moyang. Manusia itu berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah.” Setelah itu dia membacakan firman-Nya :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. 49 Al-Hujurat: 13)

Setelah itu orang-orang berdatangan membai’at Rasulullah saw. dan menyatakan diri masuk Islam. Di antara orang-orang yang masuk Islam pada hari itu ialah Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan dan Abu Quhafah, ayah Sahabat Abu Bakar ash-Shiddig. Rasulullah saw. sangat gembira menyambut keislaman mereka. Kemudian pada hari itu datang seorang lelaki yang gemetar karena takut. Rasulullah saw. berkata kepadanya :

Tenangkanlah dirimu, sesungguhnya aku bukanlah seorang raja, aku hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa memakan dendeng kering. Bagi orang yang tidak mendapat perlindungan dari Rasulullah saw. bumi yang luas ini terasa amat sempit. Di antara mereka ada yang telah dipastikan oleh Allah untuk mendapat siksaan-Nya, akhirnya ia mati dibunub dalam keadaan kafir. Di antara mereka ada yang mendapat pertolonganNya sehingga masuk Islam. ‘Abdullah ibnu Sa’d ibnu Abu Sarah berlindung kepada saudara sepersusuannya yaitu Sahabat ‘Utsman ibnu ‘Affan, lalu ia meminta kepadanya supaya memintakan perlindungan kepada Rasulullah buat dirinya. Sahabat ‘Utsman menyembunyikannya hingga keadaan tenang kembali, setelah itu ia menghadapkannya kepada Rasulullah saw. Di hadapan Rasulullah saw. Sahabat ‘Utsman meminta, “Wahai Rasulullah, aku telah menjamin keamanannya, maka aku mohon engkau mau memberi bai’at kepadanya. “Rasulullah saw. berpaling daripadanya berkali-kali, tetapi akhirnya dia mau memberikan bai’at kepadanya.

Ketika Sahabat ‘Utsman dan ‘Abdullah telah keluar, Rasulullah saw. berkata, “Sengaja aku berpaling daripadanya supaya salah seorang dari kalian menebas batang lehernya. “Para sahabat berkata, “Mengapa engkau tidak memberikan isyarat kepada kami?” Rasulullah menjawab, “Tidaklah patut bagi seorang nabi melakukan kecurangan. “Adapun ‘Ikrimah ibnu Abu Jahal melarikan diri, kemudian dikejar oleh istrinya dan anak perempuan pamannya, yaitu Ummu Hakim bintil-Harits ibnu Hisyam, yang telah masuk Islam sebelum penaklukan kota Makkah. Ia telah meminta perlindungan kepada Rasulullah, dan Rasulullah saw. mengabulkan permintaannya. Setelah mendapat izin dari Rasulullah, ia segera mengejar ‘Ikrimah. Ketika ‘Ikrimah hendak menaiki perahu, Ummu Hakim dapat menyusulnya dan berkata, “Aku datang kepadamu dari sisi orang yang paling baik dan paling terpilih. Janganlah engkau membinasakan diri engkau sendiri. Sesungguhnya aku telah meminta perlindungan kepadanya untuk engkau. “Akhirnya ‘Ikrimah mau kembali ke Makkah. Ketika ia terlihat oleh Rasulullah, Rasulullah saw. melompat berdiri karena kegirangan atas kedatangannya seraya berkata, “Selamat datang dengan orang yang hijrah (dari kemusyrikan) dan masuk Islam. “Kemudian “Ikrimah masuk Islam dan meminta kepada Rasulullah untuk memohonkan ampunan atas semua permusuhan yang telah dilakukannya, dan Rasulullah saw. memohonkan ampunan buatnya. Sesudah itu ‘Ikrimah termasuk orang Islam pilihan dan paling besar ghirahnya terhadap agama Islam.

Hubar ibnu)-Aswad melarikan diri dan bersembunyi. Sewaktu Rasulullah saw. berada di Jaranah”. Ia datang menemui Rasulullah saw. untuk masuk Islam. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melarikan diri dar! engkau dan bermaksud bergabung dengan orang ‘Ajam. Akan tetapi, aku teringat kembali akan kepulangan engkau, silaturrahim engkau, dan maaf engkau terhadap orang-orang yang tidak mengerti mengenai diri engkau. Sebelumnya kami, wahai Rasulullah, adalah orang musyrik, kemudian Allah memberikan petunjuk melalui engkau, dan Dia telah menyelamatkan diriku dari kebinasaan. Maka maafkanlah daku dengan maaf yang baik.” Maka Rasulullah saw. berkata. “Aku telah memaafkan engkau.”

Al-Harits ibnu Hisyam dan Zuhair ibnu Umayyah al-Makhzumiy, mendapat perlindungan dari Ummu Hani binti Abu Thalib, maka Rasulullah saw. mengizinkan perlindungan itu. Ketika Al-Harits ibnu Hisyam menghadap Rasulullah dalam keadaan Muslim, Rasulullah saw. berkata “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah kepada engkau. Tidak pantas orang seperti engkau ini tidak mengerti Islam.” Setelah itu AlHarits termasuk sahabat yang utama.

Shafwan ibnu Umayyah menyembunyikan diri dan bermaksud melemparkan dirinya ke dalam laut hendak bunuh diri. Datanglah anak pamannya, yaitu ‘Umair ibnu Wahb al-Jumahi, menghadap Rasulullah seraya berkata “Wahai Nabiyullah, sesungguhnya Shafwan adalah ketua kaumnya. Ia telah melarikan diri dan bermaksud mencampakkan dirinya ke laut. Kami mohon supaya engkau memberikan keamanan (perlindungan) kepadanya karena sesungguhnya engkau pun telah memberikan keamanan kepada orang yang berkulit merah dan orang yang berkulit hitam. “Rasulullah saw. menjawab, “Susullah anak pamanmu itu. Ia sekarang telah mendapat perlindunganku. “Umar berkata, ‘Kalau demikian, berilah aku tanda buktinya. “Maka Rasulullah saw. memberikan kepada ‘Umar kain serbannya. ‘Umair menerima kain serban Rasulullah dan langsung menyusul Shafwan. Setelah berhasil menyusulnya, ia berkata , “Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagi engkau. Aku datang kepada engkau dari sisi orang yang paling utama, paling mulia, paling penyantun, dan paing baik. Dia adalah anak paman engkau, kemuliaannya adalah kemuliaan engkau, kejayaannya adalah kejayaan engkau, dan kerajaannya adalah kerajaan engkau juga. “Shafwan menjawab, “Akan tetapi, sesungguhnya aku sangat takut terhadapnya. “Umair menjawab, “Dia lebih penyantun dan lebih dermawan daripada apa yang engkau gambarkan. “Lalu ‘Umair memperlihatkan kain serban Rasulullah saw. sebagai pertanda keamanan. Maka kembalilah Shafwan, lalu menghadap Rasulullah. Sesampainya di hadapannya Shafwan berkata, “Sesungguhnya orang ini menduga bahwa engkau telah memberikan keamanan kepada diriku. “Rasulullah saw. menjawab, “Ya, dia benar”. Shafwan berkata, “Tangguhkanlah aku selama dua bulan untuk memilih”. Rasulullah saw. berkata, “Kuberikan masa tangguh kepadamu selama empat bulan. “Tidak lama kemudian ia masuk Islam, dan ternyata sesudah itu ia menjadi orang Muslim yang baik.

Hindun binti ‘Atabah bersembunyi, kemudian masuk Islam. Lalu ia mendatangi Rasulullah saw, dan Rasulullah saw. menyambutnya dengan baik. Hindun berkata kepadanya, “Demi Allah, wahai Rasulullah, sebelumnya tiada suatu keluarga pun di muka bumi ini yang aku inginkan terhina selain keluarga engkau. Sekarang tiada suatu keluarga pun di muka bumi ini yang aku inginkan berjaya selain keluarga engkau.”

UTUSAN DARI KA’B IBNU ZUHAIR

Ka’b ibnu Zuhair, ketika ia merasakan bumi yang luas ini menjadi sempit baginya, dan tidak menemukan seorang pun mau melindungi dirinya, lalu ja datang menghadap Rasulullah saw. di Madinah sesudah Rasulullah pulang dari Makkah, kemudian ia masuk Islam. Pada saat itu mengumandangkan syair-syairnya sebagai pujian kepada Rasulullah, yaitu:

Setiap teman yang menjadi harapanku, semuanya mengatakan aku tidak mau mencampuri lagi urusanmu, maka aku katakan, menyingkirlah kalian, aku tidak peduli lagi dengan kalian, setiap yang telah ditakdirkan oleh Yang Maha Pengasih pasti akan terjadi. Setiap anak yang bersembunyi sekalipun keselamatannya lama, pada suatu hari pasti ia akan tertangkap pula. Aku mendapat firasat bahwa Rasulullah menjanjikan keamanan bagi diriku, dan ampunan di sisi Rasulullah adalah harapanku. Tunggu, semoga Zat yang telah memberimu AlQuran yang di dalamnya terdapat nasihat dan keutamaan memberikan kesabaran kepadamu. Dalam syairnya itu ia mengatakan pula sanjungannya terhadap diri Rasulullah saw, yaitu : Sesungguhnya Rasul adalah pedang yang dapat dijadikan pencerah (jalan), pedang itu sangat kuat dan ia termasuk di antara pedang pedang Allah yang terhunus.

Ketika Zuhair mengucapkan bait syair ini, Rasulullah saw. melepaskan kain burdahnya yang kemudian dihadiahkan kepada Zuhair. Adapun Wahsyi, pembunuh Sahabat Hamzah, ia pun masuk Islam dan akhirnya ia menjadi Muslim yang baik: Rasulullah saw. telah memaafkannya. Kemudian kedua anak Abu Lahab, yaitu ‘Atabah dan Mu’tib, datang menghadap Rasulullah saw, lalu mereka berdua masuk Islam. Keislaman mereka berdua disambut dengan gembira oleh Rasulullah saw.

Di antara orang-orang yang menyembunyikan dirinya adalah Suhail ibnu ‘Amr. Kemudian ia mendapat perlindungan dari anaknya, ‘Abdullah. Rasulullah saw. memberikan keamanan kepadanya seraya berkata, “Sesungguhnya Suhail itu orang yang berakal dan terhormat, tidak pantas bagi orang seperti Suhail tidak mengerti tentang Islam.” Ketika perkataan Rasulullah saw. itu sampai ke telinga Suhail, ia berkata, “Demi Allah, dia adalah orang yang mulia sewaktu kecil dan mulia pula sewaktu dewasa. “Tidak berapa lama Kemudian ia masuk Islam.

BAI’AT KAUM WANITA

Setelah kaum lelaki selesai berbai’at kepada Rasulullah, lalu Rasulullah saw. menerima bai’at kaum wanita. Mereka berbai’at kepada Rasulullah saw. bahwa mereka tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak mendatangkan kedustaan yang dibuat-buat di antara kedua tangan dan kedua kakinya, dan tidak mendurhakai Rasulullah dalam perkara yang bajik. Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan Sahabat Bilal untuk mengumandangkan azan di atas Ka’bah. Hal ini merupakan permulaan munculnya Islam di atas Ka’bah yang mulia, maka tidaklah mengherankan bilamana kaum Muslimin menjadikan hari tersebut sebagai hari bersejarah yang mereka rayakan. Pada hari itu mereka memuji kepada Allah dengan pujian yang sebenar-benarnya atas karunia yang besar dan kemenangan yang agung ini.

Rasulullah saw. bermukim di Makkah sesudah menaklukkannya selama sembilan belas hari. Selama itu Rasulullah selalu meng-gashar salatnya. Selanjutnya Rasulullah saw. mengangkat ‘Itab ibnu Usaid sebagai wali kota Makkah. Ia digaji satu dirham sehari. Setelah pengangkatannya Sahabat ‘Itab ibnu Usaid selalu mengatakan, “Semoga Allah tidak mengenyangkan perut yang lapar ini atas imbalan satu dirham sehari.”

DIHANCURKANNYA BERHALA ‘UZZA

Pada hari yang kelima Rasulullah bermukim di Makkah, dia mengirimkan Sahabat Khalid ibnul-Walid bersama tiga puluh orang pasukan berkuda untuk meruntuhkan berhala ‘Uzza. Berhala ‘Uzza merupakan berhala orang Quraisy yang paling besar bentuknya, ditempatkan di kampung Nakhlah. Sahabat Khalid membawa pasukannya menuju tempat tersebut. Sesampainya di sana Khalid bersama pasukannya menghancurkan berhala itu.

DIHANCURKANNYA BERHALA SUWA’

Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat ‘Amr ibnul-‘Ash untuk meruntuhkan berhala Suwa’. Suwa’ merupakan berhala orang Hudzail yang bentuknya besar sekali. Berhala itu ditempatkan di suatu tempat yang jauhnya tiga mil dari Makkah. Sahabat ‘Amir ibnul’Ash mendatangi tempat tersebut dan langsung merobohkannya.

DIHANCURKANNYA BERHALA MANAT

Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Sa’d ibnu Zaid al-Asyhaliy bersama dua puluh orang pasukan berkuda untuk meruntuhkan berhala Manat. Manat merupakan berhala yang dipuja-puja oleh orang Kalb dan Khuza’ah tempatnya di Al-Mugyallal, suatu bukit yang terletak di pantai. Dari tempat tersebut, apabila turun akan menuju ke daerah Qadid. Sahabat Sa’d ibnu Zaid berangkat dengan pasukannya ke tempat itu. Sesampainya di sana ia merobohkan berhala tersebut.

PERANG HUNAIN

Dengan penaklukan ini dan runtuhnya kerajaan berhala, maka tunduklah semua golongan orang Arab kepada Islam, dan mereka mulai masuk agama Islam secara berbondong-bondong. Akan tetapi, dua kabilah lain, yaitu kabilah Hawazin dan kabilah Tsagif, orang-orangnya termakan oleh fanatisme jahiliah. Lalu orang-orang terhormat dari kedua kabilah tersebut berkumpul untuk melakukan musyawarah. Mereka berkata, “Muhammad telah selesai memerangi kaumnya, maka tidak ada halangan lagi baginya Untuk memerangi kita. Sebaiknya kita serang dahulu dia sebelum dia menyerang kita. “Akhirnya mereka sepakat untuk melaksanakan keputusan tersebut, lalu mereka mengangkat Malik ibnu ‘Auf an Nadhri sebagai panglima perang mereka. Bergabung puladenganmereka berbagai kabilah sehingga jumlah mereka banyak sekali. Di dalamnya terdapat Bani Sa’d ibnu Bakr dari kalangan tempat Rasulullah saw. menyusu sewaktu kecil. Di antara kaum tersebut terdapat Duraid ibnush-Shummah yang dikenal sebagai orang cerdik dalam mengemukakan pendapat, terkenal hebat di medan perang. Karena umurnya sudah terlalu tua dalam perang ini ia hanya ikut andil dalam mengemukakan pendapat.

Malik ibnu ‘Auf memerintahkan pasukannya agar membawa istri-istri dan anak-anak serta harta benda mereka. Hal ini diketahui oleh Duraid. Lalu Duraid bertanya kepada Malik mengapa ia berbuat demikian. Malik mengemukakan alasannya. “Sengaja aku menyuruh orang-orang membawa harta benda dan anak-anak serta istri-istri mereka, kemudian aku tempatkan di belakang setiap lelaki keluarga dan harta bendanya, di tempat itu ia harus bertempur dan harus membelanya.” Duraid bertanya, “Apakah orang yang kalah dapat merebut kembali sesuatu dari miliknya? Apabila engkau ingin menang, tidak bermanfaat bagi engkau selain lelaki dengan pedang dan tombaknya. Apabila engkau kalah, sedangkan engkau membawa keluarga dan harta benda, maka berarti engkau membuat bahaya terhadap keluarga dan harta benda engkau. “Akan tetapi, Malik tidak mau menuruti usul Duraid. Ia tetap pada pendiriannya. Ia membariskan kaum wanita di belakang pasukan, dan di belakang mereka unta, lalu sapi dan kambing. Malik mengatur strategi demikian supaya tidak ada seorang pun dari pasukan yang melarikan diri bila terpukul.

Sewaktu Rasulullah saw. mendengar berita bahwa orang Hawazin dan orang Tsagif sedang bersiap-siap untuk memeranginya, ia bersama kaum Muslimin sepakat untuk berangkat memerangi mereka. Rasulullah saw. keluar bersama dua belas ribu orang tentara. Dua ribu orang di antara mereka terdiri dari penduduk Makkah, sedangkan sisanya terdiri dari orang-orang yang datang bersamanya dari Madinah. Pada saat itu penduduk Makkah ikut keluar. Di antara mereka ada yang berkendaraan dan ada pula yang berjalan kaki sehingga kaum wanita pun ikut pula berjalan kaki tanpa merasa penat sedikit pun karena mereka mengharapkan dapat memperoleh ghanimah. Dalam pasukan Rasulullah saw. ikut serta pula delapan puluh orang yang masih musyrik. Di antara mereka adalah Shafwan ibnu Umayyah dan Suhail ibnu ‘Amr.

Ketika perkemahan musuh telah dekat, Rasulullah saw. mengatur barisan pasukan dan mengangkat pemimpin-pemimpin kelompok pasukan. Panji orang-orang Muhajirin diberikan kepada Sahabat ‘Ali, panji kabilah Khazraj diberikan kepada Al-Habbab ibnul-Mundzir, dan panji kabilah Aus diberikan kepada Usaid ibnu Hudhair, Rasulullah pun memberikan panji-panji peperangan kepada kabilah-kabilah Arab lainnya. Setelah itu Rasulullah saw. menaiki bagalnya dan memakai dua lapis baju besi.

Sewaktu berhadapan dengan musuh, kaum Muslimin amat heran dengan jumlah yang begitu banyak, tetapi mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa dalam menghadapi musuh. Ketika barisan depan kaum Muslimin maju menghadapi musuh, tiba-tiba mereka masuk perangkap musuh yang tersembunyi. Mereka terjebak di antara dua tebing, lalu musuh menghujani mereka dengan anak panah, banyaknya bagaikan belalang yang menyebar. Akhirnya mereka membelokkan kuda-kudanya untuk mundur. Ketika mereka sampai di barisan belakang, barisan belakang pun ikut mundur karena terkejut. Rasulullah tetap bertahan dengan gigih di medan perang bersama tentara yang jumlahnya sedikit dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Di antara mereka yang ikut bertahan bersama Rasulullah pada saat itu adalah Sahabat Abu Bakar, Sahabat ‘Umar, Sahabat Ali, Sahabat Al-‘Abbas dan anaknya, Al-Fadhl, Abu Sufyan ibnul Harits dan saudaranya, Rabi’ah ibnul-Harits, dan Mut’ib ibnu Abu Lahab. Rasulullah saw. berseru, “Hai manusia, majulah bersamaku.” Tetapi ternyata tidak seorang pun yang menoleh kepadanya. Pada saat itu orang-orang yang mundur merasa bahwa bumi yang luas ini terasa amat sempit bagi mereka.

Di antara orang Makkah yang baru masuk Islam, dan orang yang belum meninggalkan kemusyrikannya ada yang gembira menyaksikan hal ini, dan ada pula yang merasa kecewa dengan kekalahan ini. Abu Sufyan ibnu Harb berkata, “Kekalahan mereka masih belum begitu fatal.” Saudara Shafwan ibnu Umayyah berkata pula, “Sekarang sihir batal.” Lalu Shafwan yang masih musyrik berkata kepada saudaranya, “Diamlah engkau, semoga Allah merobek mulutmu itu. Demi Allah, lebih baik aku.ditangisi orang Quraisy daripada aku ditangisi orang Hawazin.” Kemudian ada seseorang dari kabilah Quraisy lewat di hadapannya seraya berkata “Bergembiralah dengan kekalahan Muhammad dan para sahabatnya. Demi Allah, Muhammad dan para sahabatnya tidak akan dapat mengalahkan mereka.” Marahlah Shafwan seraya berkata, “Celakalah engkau ini. Apakah engkau merasa senang dengan kemenangan orang Badui?” Ikrimah ibnu Abu Jahal berkata kepada lelaki yang telah berbicara itu, “Muhammad dan para Sahabatnya tidak dapat mengalahkan mereka sama sekali bukan terletak di tanganmu. Ketentuan sepenuhnya berada di tangan kekuasaan Allah, dan Udak ada kaitannya sama sekali dengan Muhammad. Apabila ia kalah hari Ini, pasti akhirnya dia pulalah yang akan menang besok.” Suhail ibnu ‘Amr berkata, “Demi Allah, biasanya engkau selalu menentangnya, dan baru kali ini engkau memihak kepadanya. “Ikrimah menjawab, “Hai Abu Yazid (nama panggilan Suhail Ibnu ‘Amr), sesungguhnya kami dahulu tidak mempunyai pegangan apa-apa dan akal kami tidak digunakan karena menyembah batu yang tidak dapat memberikan mudarat dan manfaat.” Berita mengenai terpukulnya pasukan kaum Muslimin ini telah sampai pula di Makkah.

Dalam keadaan yang sangat kritis ini Rasulullah saw. tetap bertahan pada posisinya seraya mengucapkan :

Aku adalah nabi yang tidak pernah dusta. Aku adalah anak ‘Abdul-Muththalib. Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada Sahabat Al-‘Abbas yang terkenal memiliki suara yang keras, “Hai ‘Abbas, serulan orangorang Anshar! ” Kemudian Al-‘Abbas berseru, “Hai orang-orang Anshar, hai orang-orang yang telah ikut dalam bai’aturRidhwan.”Seruan ini terdengar oleh orangorang yang terjebak di dalam lembah. Kemudian orang-orang Anshar yang berada di tempat itu menyambut seruan itu, “Labbaik, labbaik.”Setiap orang dari mereka bermaksud memutar kembali kendali untanya, tetapi terhambat oleh banyaknya orang yang mundur. Terpaksa mereka mengalungkan baju besinya pada lehernya, lalu mengambil pedang dan perisainya, kemudian turun dari untanya untuk menyingkapkan jalan seraya mengumandangkan kembali seruan Sahabat Al-‘ Abbas. Akhirnya bergabunglah sejumlah besar pasukan dari kalangan mereka bersama Rasulullah saw. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasulullah dan kaum Mukminin, dan Dia pun menurunkan untuk membantu mereka balatentara yang tidak kelihatan (para malaikat). Akhirnya kaum Muslimin maju kembali melawan musuhnya secara bersatu padu dan dapat memukul mundur musuh. Musuh banyak yang terbunuh lalu mereka melarikan diri tanpa menghiraukan lagi harta benda dan kaum wanita serta anakanak mereka yang ditinggalkan di medan perang. Akan tetapi, kaum Muslimin mengejar mereka seraya membunuh dan menawannya. Akhirnya kaum Muslimin menangkap kaum wanita dan anak-anak musuh. Kaum Muslimin juga memperoleh banyak tawanan pasukan musuh yang tertangkap, sedangkan pasukan musuh yang selamat melarikan diri. Dalam pertempuran ini Sahabat Khalid ibnul-Walid mendapat luka yang cukup parah. Pengaruh kemenangan dalam peperangan ini membuat banyak musyrikin Makkah masuk Islam karena mereka melihat adanya pertolongan Allah kepada kaum Muslimin.

Apa yang terjadi dalam peperangan ini merupakan pelajaran yang sangat penting karena sesungguhnya di dalam pasukan kaum Muslimin pada saat itu terdapat cukup banyak unsur campuran yang terdiri dari orangorang musyrik, orang-orang Badui, dan orang-orang yang baru masuk Islam. Bagi mereka sama saja apakah Islam menang atau kalah. Oleh sebab itu, ketika pada permulaan peperangan kaum Muslimin terdesak, mereka buru-buru melarikan diri dari medan pertempuran. Hal ini hampir saja membuat kekalahan yang fatal bagi barisan Muslimin andaikata tidak ada kemurahan dari Allah. Seharusnya barisan Muslimin hanya terdiri dari orang-orang yang benar-benar ikhlas untuk mempertahankan agamanya. Dengan demikian hati mereka akan tetap teguh dan tidak akan tergiur untuk melarikan diri, sebab mereka pasti takut akan siksaan yang telah disediakan Allah buat orang-orang yang lari dari medan perang, yaitu siksaan yang amat pedih.

Selanjutnya Rasulullah saw. memerintahkan supaya para tawanan dan barang-barang ghanimah dikumpulkan menjadi satu. Jumlah semua ghanimah yang berhasil diraih kaum Muslimin terdiri dari 24.000 ekor unta, 40.000 ekor lebih kambing, dan 4.000 augiyah perak. Kesemuanya dikumpulkan menjadi satu di Ja’ranah.

Kaum musyrikin yang kalah perang itu, berpencar melarikan diri. Segolongan di antara mereka berlindung di Thaif, sebagian lagi berlindung di Nakhlah, dan sebagian lainnya melarikan diri lalu membuat perkemahan di daerah Authas.”

SARIYYAH

Kemudian Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Abu ‘Amir al Asy’ari bersama segolongan orang Asy’ari, di dalamnya ikut serta Sahabat Abu Musa al-Asy’ari, untuk menumpas sisa-sisa tentara musuh. Abu ‘Amir membawa pasukannya untuk mengejar mereka. Akhirnya ia bersama pasukannya berhasil menumpas mereka semua dan memperoleh sisa ghanimah yang masih dimiliki musuh. Akan tetapi, dalam peperangan ini Abu ‘Amir sendiri gugur sebagai syuhada, kemudian tampuk pimpinan pasukan dipegang oleh keponakannya, yaitu Sahabat Abu Musa al-Asy’ari. Akhirnya Sahabat Abu Musa kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan dan ghanimah.

PERANG THAIF

Selanjutnya Rasulullah saw. berangkat bersama orang-orang yang mengikutinya ke Thaif guna menumpas sisa-sisa orang Thaif dan orang Hawazin yang bergabung dengan mereka. Rasulullah mengangkat Sahabat Khalid ibnul-Walid sebagai panglima perang yang berada di barisan paling depan. Di tengah perjalanan Rasulullah melewati benteng orang ‘Auf ibnu Malik an-Nadhri, lalu ia memerintahkan kaum Muslimin supaya merobohkannya. Rasulullah pun melewati sebuah kebun milik seorang lelaki dari Tsagif. Rasulullah saw. pernah dilarang memasukinya. Lalu Rasulullah saw. mengirimkan seseorang supaya lelaki tersebut keluar dari kebunnya. Jika ia membangkang, kebunnya akan dibakar. Lelaki itu membangkang. Akhirnya Rasulullah memerintahkan agar kebun lelaki itu dibakar.

Ketika tentara kaum Muslimin sampai di Thaif, mereka menemukan musuh-musuhnya telah berlindung di dalam benteng kota Thaif, dan mereka memasukkan bahan makanan yang cukup untuk bertahun-tahun ke dalam benteng. Kaum Muslimin bermarkas di dekat benteng, tetapi kaum musyrikin menembaki mereka sangat gencar dengan panah sehingga tentara kaum Muslimin banyak yang terluka. Di antara mereka yang terluka ialah ‘Abdullah ibnu Abu Bakar. Lukanya semakin parah hingga ia meninggal dunia pada masa kekhalifahan ayahnya. Abu Sufyan ibnu Harb juga terluka sehingga salah satu matanya buta terkena panah musuh. Anggota pasukan kaum Muslimin yang meninggal dunia karena terluka kena panah ada dua belas orang.

Rasulullah saw. melihat situasi itu tidak menguntungkan posisi kaum Muslimin. Kelihatan musuh dapat menjangkau perkemahan kaum Muslimin dengan panah mereka. Lalu Rasulullah saw. memerintahkan kaum Muslimin supaya perkemahan mereka pindah ke tempat yang lebih tinggi, yaitu yang sekarang menjadi tempat Masjid Thaif. Selanjutnya di tempat itu Rasulullah saw. membuat dua kemah khusus untuk Ummu Salamah dan Zainab.

Pengepungan ini berlangsung selama delapan belas hari. Pada suatu hari Sahabat Khalid ibnul-Walid menantang musuh untuk perang tanding, tetapi tiada seorang pun yang meladeninya. Tantangan itu dijawab oleh ‘Abdu Yalil, pembesar orang Tsagif, “Tidak akan ada seorang pun dari kami yang turun dari benteng. Kami akan tetap tinggal di dalam benteng kami ini. Sesungguhnya di dalam benteng ini terdapat bahan makanan yang cukup untuk beberapa tahun. Bilamana engkau tetap menunggu sampai bahan makanan ini habis, niscaya sesudah itu kami semua, tak ada yang ketinggalan, akan keluar berperang sampai titik darah penghabisan.”

Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan supaya kaum Muslimin menghujani mereka dengan batu-batu yang dilontarkan dengan majanik. Perintah itu segera dilaksanakan. Ada segolongan sahabat yang masuk ke dalam dabbabat untuk mendobrak benteng mereka. Akan tetapi, orangorang Tsagif yang ada di dalam benteng melempari mereka dengan lempengan-lempengan besi yang membara sehingga para sahabat yang berada di dalam dabbabat mundur karena kepanasan. Melihat usahanya tidak berhasil, Rasulullah saw. memerintahkan pasukannya untuk menebangi pohon anggur dan pohon kurma milik mereka. Kemudian kaum Myslimin sungguh-sungguh menebangi pohon-pohon mereka. Akhirnya penduduk benteng berseru kepada Rasulullah saw. supaya menghentikan penebangan pohon-pohon milik mereka karena Allah dan demi hubungan silaturrahim. Rasulullah saw. menjawab, “Baiklah, kalau demi Allah dan demi silaturrahim aku mau menghentikannya.” Selanjutnya Rasulullah saw. memerintahkan juru serunya untuk mengatakan bahwa barang siapa yang turun dari benteng, ia dijamin keselamatannya. Lalu keluarlah dari benteng itu sebanyak sepuluh orang lebih, menyerah kepada kaum Muslimin, sedangkan sebagian besar dari mereka masih tetap di dalam dan tidak mau keluar.

Ketika Rasulullah saw. melihat kekerasan hati orang-orang Tsagif yang tidak mau menyerah, pembukaan benteng Thaif masih belum diizinkan. Lalu dia bermusyawarah dengan Naufal ibnu Mu’awiyah ad-Daily, apakah pergi saja atau tetap menunggu mereka keluar. Naufal menjawab, “Wahai Rasulullah, seekor musang di dalam lubang, bilamana engkau tunggu niscaya engkau akan dapat menangkapnya, dan bilamana engkau tinggalkan, ia tidak akan membahayakan engkau. “Rasulullah saw. memerintahkan pasukannya berangkat. Sebelum itu ada sebagian sahabat yang meminta kepada Rasulullah supaya berdoa untuk kecelakaan orang Tsagif. Akan tetapi Rasulullah saw. justru mengucapkan doa seperti berikut:

Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada orang Tsagif, hanya kepada Engkaulah mereka ku serahkan.

PEMBAGIAN GHANIMAH

Setelah itu Rasulullah saw. kembali ke Ja’ranah tempat ditinggalkannya barang-barang ghanimah, kemudian dia menghitung dan mengambil seperlimanya. Rasulullah saw. memberikan bagian yang cukup banyak kepada orang-orang yang agamanya masih lemah untuk membuat mereka lebih tertarik kepada agama Islam, sebagaimana dia memberikannya pula kepada orang-orang yang masih belum masuk Islam supaya mereka mau masuk Islam.

Di antara orang-orang yang mula-mula diberi bagian dari ghanimah ini ialah Abu Sufyan. Ia diberi sebanyak empat puluh augiyah emas dan seratus ekor unta, demikian pula kedua anaknya, yaitu Mu’awiyah dan Yazid. Setelah itu Abu Sufyan berkata, “Demi ayah dan ibuku, engkau ini sungguh sangat dermawan, baik dalam keadaan damai maupun dalam keadaan perang.” Di antara mereka yang diberi adalah Hakim ibnu Hizam. Rasulullah saw. memberinya seperti kepada Abu Sufyan, tetapi ia meminta tambahan lagi. Lalu Rasulullah saw. memberinya, dan sesudah itu ia meminta tambahan lagi. Maka Rasulullah saw. memberinya seperti pemberian yang pertama. Sesudah itu dia berkata :

Hai hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis, maka barang sia

pa mengambilnya dengan hati yang lapang, niscaya akan diberi keberkahan, dan barang siapa mengambilnya dengan hati yang berlebih-lebihan, niscaya ia tidak akan diberkahi, perumpamaannya bagaikan orang makan yang tidak pernah kenyang. Tangan di atas itu lebih baik . daripada tangan di bawah. Hakim mengambil seratus unta pemberian yang pertama, lalu ia menolak yang lainnya seraya mengatakan, “Demi zat yang telah mengutus engkau dengan membawa kebenaran, aku tidak akan mau menerima sesuatu dari seorang pun sesudah pemberian engkau ini hingga aku berpisah dari dunia yang fana ini. Dalam masa pemerintahan para khalifah, mereka masingmasing memberinya ‘atha yang berhak diterimanya dari baitulmal, tetapi ia tidak mau menerimanya. .

Kemudian Rasulullah saw. memberikan seratus ekor unta kepada ‘Uyaynah ibnu Hishn, serupa dengan yang diberikannya kepada Al-Agra’ ibnu Habis dan Al-‘ Abbas ibnu Muradis. Kepada Shafwan ibnu Umayyah ia memberikan suatu lereng bukit yang penuh dengan unta, sapi, dan kambing. Pada saat itu Shafwan melihatnya, lalu ia merasa takjub dengan jumlah ternak yang demikian banyaknya itu. Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Apakah semuanya itu membuatmu takjub?” Shafwan menjawab, “Ya, tentu saja.” Rasulullah saw. berkata, “Kalau demikian, semuanya buat kamu, ambillah.” Shafwan ibnu Umayyah berkata, “Tiada seorang pun

yang rela memberikan hal seperti itu selain engkau.” Hal ini merupakan penyebab Shafwan mau masuk Islam.

Tujuan utama dari semua pemberian itu tiada lain untuk melunakkan hati mereka, supaya mereka mau masuk Islam. Hal ini merupakan salah satu taktik dari agama untuk menarik orang-orang agar mau masuk Islam, yaitu menjadikan salah satu bagian dari zakat buat mereka guna melunakkan hati mereka terhadap agama Islam sehingga mereka mau masuk Islam. Ternyata sikap ini pengaruhnya sangat berfaedah terhadap kepentingan agama Islam karena hati kebanyakan dari orang-orang yang diberi bagian pada hari itu belum di resapi cinta terhadap Islam. Sesudah itu mereka menjadi orang-orang Muslim yang terhormat dan sangat bermanfaat bagi agama Islam seperti Shafwan ibnu Umayyah, Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan, dan Al-Harits ibnu Hisyam.

Setelah itu Rasulullah saw. memerintahkan kepada Sahabat Zaid ibnu Tsabit untuk menghitung sisa ghanimah yang masih ada, kemudian dia membagi-bagikan kepada pasukan perangnya sesudah terlebih dahulu orang-orang Badui mengerubuti dirinya. Orang-orang Badui itu berkata, “Berilah kami bagian!” sehingga mereka menyudutkan Rasulullah saw. pada suatu pohon sampai kain serbannya terkait padanya. Dia berkata, “Hai manusia, kembalikanlah kain serbanku itu kepadaku. Demi Allah, seandainya aku mempunyai ternak yang banyak hingga memenuhi daerah Tihamah, niscaya aku akan membagi-bagikannya kepada kalian. Kalian tentu telah mengetahui bahwa aku ini bukanlah orang yang bakhil, bukan pengecut, dan bukan pula orang yang sulit.”

Kemudian Rasulullah saw. menaiki untanya dan mencabut seutas bulu dari punuk untanya, lalu berkata, “Hai manusia, demi Allah, aku hanya mengambil seperlima dari ghanimah kalian ini tanpa lebih seujung rambut pun, dan yang seperlima itu nantinya kembali juga kepada kalian. Kumpulkanlah ghanimah yang besar maupun yang kecil karena sesungguhnya ghulul” itu merupakan keaiban bagi pelakunya, dan kelak pada hari kiamat akan menjadi api yang membakarnya. “Setelah ada pernyataan dari Rasulullah, kemuadian setiap orang yang menyembunyikan ghanimah secara diam-diam mengembalikannya lagi sekalipun yang diambil itu sedikit. Lalu Rasulullah saw. membagi-baginya sehingga setiap pasukan yang berjalan kaki mendapat bagian empat ekor unta dan empat puluh ekor kambing, sedangkan bagi pasukan berkuda bagian masing-masingnya tiga kali lipat bagian pasukan berjalan kaki.

Ada seorang lelaki dari kalangan orang munafik yang berkata “Ini adalah pembagian yang bukan karena Allah. “Merah padamlah wajah Rasulullah saw. Lalu ia berkata kepadanya “Celakalah engkau ini. Siapakah yang akan berlaku adil jika aku tidak adil?” Akan tetapi, kemarahan ini tidak mendorongnya untuk melampiaskannya kepada orang yang kurang ajar itu, bahkan hal itu membuat dirinya makin berhati-hati dan waspada serta mengoreksi diri, sebab Rasulullah saw. jauh dari perasaan seperti itu. Ketika itu Sahabat ‘Umar dan Sahabat Khalid berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, biarkanlah kami memenggal leher orang itu.” Rasulullah saw. menjawab, “Jangan, barangkali ia termasuk orang yang salat.” Khalid menjawab, “Tetapi banyak dari kalangan orang yang salat yang suka mengatakan apa yang berlainan dengan hatinya”. Rasulullah saw. menjawab, “Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk melubangi hati manusia, dan tidak pula untuk membelah dada mereka.”

Ketika Rasulullah saw. membagi-bagikan ghanimah itu kepada orangorang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab, orang-orang Anshar dilewatkan begitu saja sehingga sebagian dari mereka merasa jengkel dan berkata, “Sungguh aneh dia ini, mengapa orang-orang Quraisy diberi dan ia melewatkan kami begitu saja, sedangkan pedang-pedang kami masih meneteskan darah mereka?” Perkataan mereka itu terdengar oleh Rasulullah, lalu ia mengumpulkan mereka semua di suatu tempat. Setelah mereka berkumpul, dan ternyata di tempat tersebut tidak ada orang lain kecuali mereka, Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Anshar, perkataan apakah yang telah sampai kepadaku dari kalian? Bukankah aku menemukan kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah memberikan petunjuk kepada kalian melalui aku? Aku jumpai kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah membuat kalian kaya melalui aku. Aku menemukan kalian dalam keadaan bermusuhan, Allah merukunkan kembali hati di antara sesama kalian melalui aku. Sesungguhnya orang Quraisy itu masih baru lepas dari kekufuran dan musibah, maka aku bermaksud melipur hati mereka dan membuat mereka jinak. Apakah kalian, hai orang-orang Anshar, marah hanya karena barang sedikit dari dunia yang aku gunakan untuk menjinakkan suatu kaum supaya mereka mau masuk Islam, kemudian aku membiarkan kalian karena agama Islam kalian sudah mantap dan tidak tergoyahkan lagi? Tidakkah kalian rela, hai orang-orang Anshar, bilamana manusia pergi dengan membawa kambing dan unta, kemudian kalian kembali ke Madinah bersama Rasulullah yang bergabung dengan kafilah kalian? Demi zat Yang jiwa Muhammad berada di tangan kekuasaan-Nya, seandainya tidak ada Hijrah, niscaya aku ini akan menjadi orang Anshar pula. Seandainya orang-orang menempuh suatu jalan, dan kemudian orangorang Anshar pun menempuh jalan yang lain, niscaya aku akan menempuh jalan yang dilalui oleh orang-orang Anshar. Ya Allah, kasihanilah orang-orang Anshar dan anak-anak mereka.” Seketika itu juga kaum Anshar menangis semua sehingga kelihatan janggut mereka basah kuyup oleh air mata, dan mereka berkata, “Kami rela dengan Rasulullah sebagai bagian dan jatah kami.” Setelah itu Rasulullah pergi dan mereka pun bubar.

UTUSAN DARI HAWAZIN

Sesudah lewat sepuluh hari lebih, datanglah menghadap kepada Rasulullah saw. para utusan dari Hawazin yang dipimpin oleh Zuhair ibnu Shard. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di antara orang-orang yang engkau tawan terdapat ibu-ibu dan bibi-bibi engkau. Mereka adalah kaum yang sederhana. Kami akan membujuk mereka supaya menyenangi Allah dan diri engkau.” Zuhair berkata pula, “Sesungguhnya di antara para tawanan itu terdapat bibi-bibi engkau dan para pengasuh engkau yang pernah memelihara diri engkau.” Selanjutnya Zuhair mengucapkan beberapa bait syair seraya memohon belas kasihan:

Bebaskanlah kami, wahai Rasulullah, dengan kemurahan engkau karena sesungguhnya engkau adalah orang yang kami harap-harapkan dan kami tunggu maafnya. Bebaskanlah kaum wanita yang pernah engkau menyusu kepadanya, sebab mulut engkau pernah penuh oleh air susunya. Sesungguhnya kami akan sangat berterima kasih atas anugerah engkau bilamana engkau mau membebaskanriya, sesudah hari ini kami sangat berhutang budi kepada engkau. Sesungguhnya kami berlindung kepada maaf engkau. Engkau adalah petunjuk bagi makhluk, hendaklah memberi maaf dan pertolongan. Ulurkanlah maaf engkau kepada ibu-ibu yang pernah menyusukan engkau. Sesungguhnya maaf engkau itu lebih dikenal. Rasulullah saw. berkata, “Sesungguhnya perkataan yang paling aku sukai adalah yang paling benar, maka pilihlah oleh kalian di antara dua golongan: para tawanan atau harta benda. Sungguh, sebenarnya aku sedang menunggu-nunggu kalian sehingga sebelumnya aku menduga bahwa kalian tidak akan datang.” Mereka menjawab, “Keturunan kami bukan berarti apa-apa bagi engkau dan tidak sebanding, maka kembalikanlah kepada kami istri-istri dan anakanak kami. Hal ini lebih kami sukai, dan kami tidak akan membicarakan lagi masalah kambing dan unta.”

Lalu Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Adapun bagianku dan bagian Bani ‘Abdul-Muththalib, semuanya untuk kalian. Apabila aku telah melakukan salat zuhur, berdirilah kalian, lalu katakanlah, “Kami memohon syafaat (pertolongan) melalui Rasulullah terhadap kaum Muslimin, dan melalui kaum Muslimin terhadap Rasulullah. Kalian lakukan hal ini sesudah terlebih dahulu kalian menampakkan keislaman kalian terhadap mereka, lalu kalian harus mengatakan, kami adalah saudara-saudara kalian yang seagama.” Lalu mereka melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah itu. Setelah itu Rasulullah saw. berkata, “Amma ba’du. Sesungguhnya saudara-saudara kalian itu telah datang dalam keadaan tobat, dan menurut pendapatku sebaiknya aku mengembalikan tawanan kepada mereka. Barang siapa yang suka dengan hal tersebut, hendaknya ia melakukannya. Barang siapa ada di antara kalian yang suka bila aku memberikan gantinya, kelak akan aku berikan kepadanya begitu Allah menganugerahkan harta fai’ kepada kami, hendaknya ia melakukannya.”

Lalu kaum Anshar menjawab, “Apa yang untuk kami, itu adalah untuk Rasulullah.” Akan tetapi, ada segolongan orang Arab yang tidak mau memberikannya secara cuma-cuma, seperti Al-Agra’ ibnu Habis, ‘Uyaynah ibnu Hishn, dan Al-‘Abbas ibnu Muradis. Rasulullah saw. mengambil dari mereka secara utang, kemudian ia memerintahkan supaya keluarga Malik ibnu ‘Auf an-Nadhri ditahan di Makkah di tempat bibi mereka, yaitu di rumah Ummu ‘Abdillah, istri Umayyah. Para utusan Hawazin itu berkata, “Mereka adalah pemimpin-pemimpin kami.” Rasulullah saw. menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bermaksud baik terhadap mereka.”

Kemudian Rasulullah saw. menanyakan tentang Malik ibnu ‘Auf. Para sahabat menjawab bahwa ia telah melarikan diri bersama orang Tsagif. Rasulullah berkata, “Beri tahukan kepadanya bahwa bilamana ia mau datang sebagai seorang Muslim, akan aku kembalikan kepadanya keluarga dan harta bendanya, serta aku akan menghadiahkan kepadanya seratus ekor unta.” Ketika berita tersebut sampai ke telinga Malik, ia turun dari benteng dan secara diam-diam menemui Rasulullah yang pada waktu itu berada di Ja’ranah. Lalu Malik masuk Islam dan memperoleh kembali harta bendanya. Setelah itu Rasulullah saw. mengangkatnya menjadi pemimpin orang Hawazin yang telah masuk Islam.

“UMRAH JA’RANAH

Setelah peristiwa itu, Rasulullah saw. pergi ke Makkah untuk melakukan ibadah ‘umrah. Dia mulai ihram dari Ja’ranah, dan memasuki kota Makkah pada malam hari. Dia melakukan thawaf dan mencium Hajar Aswad, kemudian pada malam itu juga kembali lagi. Rasulullah saw. bermukim di Ja’ranah selama tiga belas hari. Setelah itu dia memerintahkan kaum Muslimin supaya kembali ke Madinah, Pasukan kaum Muslimin berangkat menuju ke Madinah dalam keadaan aman dan tenang, dan pada tanggal 3 Zulkaedah barulah mereka sampai di Madinah.

Perang Hunain adalah peperangan yang mencerai-beraikan golongangolongan kaum musyrikin sehingga lenyaplah kekuasaan mereka. Orangorang kaya dari kalangan mereka juga habis karena orang Hawazin mengharuskan setiap orang lelaki berperang dengan menyertakan semua harta bendanya sehingga tiada seekor unta atau domba pun yang tidak mereka ikutkan ke dalam barisan pasukan. Allah menghendaki Islam menang dan mengalahkan musuh-musuhnya. Untuk itu harta benda musuh-musuh Islam di rampas oleh tentara Islam sehingga hancurlah kekuatan kaum musyrikin. Setelah peristiwa tersebut, tidak ada suatu kekuatan pun yang dapat diandalkan mereka untuk menentang Islam atau untuk mempertahankan diri.

Oleh sebab itu, dapat kami katakan bahwa dengan hancurnya orang Hawazin, berarti peperangan melawan orang Arab sudah selesai. Sisa-sisa mereka yang masih ada hanya merupakan golongan-golongan kecil saja yang secara membabi buta menghunus senjata untuk menentang Islam. Akan tetapi, tidak lama kemudian mereka menyarungkan kembali senjatanya setelah melihat bahwa kekuatan yang hak benar-benar tidak tertandingi lagi.

SARIYYAH

Setelah Rasulullah saw. kembali ke Madinah, dia mengirimkan Sahabat Qais ibnu Sa’d bersama empat ratus orang pasukan untuk mengajak penduduk Shada (suatu kabilah yang mendiami negeri Yaman) kepada Islam. Datang menghadap Rasulullah saw. seorang lelaki dari kalangan mereka, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku datang kepada engkau sebagai wakil dari orang-orang yang berada di belakangku. Aku mohon supaya engkau menarik kembali pasukan engkau. Aku dan kaumku tunduk kepada engkau.” Lalu Rasulullah saw. memerintahkan pasukan yang telah dikirimkannya itu untuk kembali ke Madinah.

UTUSAN DARI SHADA

Kemudian lelaki itu mendatangi kaumnya, lalu datang lagi bersama lima belas orang lelaki dari kaumnya. Mereka tinggal di rumah Sahabat Sa’d ibnu ‘Ubadah sebagai tamu. Kemudian mereka berbai’at kepada Rasulullah saw. untuk masuk Islam, dan mereka mengatakan, “Kami menyerahkan diri kepada engkau bersama kaumku yang berada di belakangku.” Setelah mereka kembali ke negerinya, agama Islam tersiar di kalangan mereka. Pada saat Hajji Wada’ datang, seratus orang dari kalangan mereka menghadap Rasulullah saw.

SARIYYAH

Kemudian Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Bisyr ibnu Sufyan al’Adawiy kepada Bani Ka’b dari kabilah Khuza’ah untuk mengambil zakat harta benda mereka. Akan tetapi, orang-orang Bani Tamim yang hidup bertetangga dengan mereka melarang mereka menunaikan apa yang telah diwajibkan atas mereka, yaitu zakat. Ketika Rasulullah saw. mengetahui hal itu, dia mengirimkan Sahabat ‘Uyaynah ibnu Hishn bersama lima puluh orang pasukan berkuda yang terdiri dari kalangan orang Badui. ‘Uyaynah mendatangi mereka dan memerangi mereka. Akhirnya pasukan ‘Uyaynah berhasil menawan 11 orang laki-laki dan 21 orang perempuan serta 30 orang anak-anak. “Uyaynah membawa semuanya ke Madinah. Sesampai di Madinah, Rasulullah saw. memerintahkan agar semua tawanan itu di tempatkan di rumah Ramlah bintil-Harits.

UTUSAN DARI TAMIM

Ketika mereka sampai di Madinah, datanglah di belakang mereka utusan dari Bani Tamim. Di antaranya terdapat ‘Utharid ibnu Hajib, Zabargan ibnu Badar, dan ‘Amr ibnul-Ahtam. Mereka duduk menunggu Rasulullah keluar. Ketika Rasulullah saw. sangat lama menemui mereka, mereka berseru dari belakang kamarnya dengan suara yang kasar, “Hai Muhammad, keluarlah untuk menemui kami. Kami akan membangga-banggakan diri engkau. Sesungguhnya pujian kami enak untuk didengar dan celaan kami amat tidak enak bila didengar.” Rasulullah saw. keluar menemui mereka sementara ia merasa sakit hati oleh seruan mereka yang kasar itu. Berkenaan dengan peristiwa itu turunlah firman Allah:

Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan tidak mengerti. Kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 19.5. 49 Al-Hujurat: 4-5)

Pada saat itu waktu zuhur telah tiba. Sahabat Bilal menyerukan azan, kemudian keluarlah Rasulullah saw. dari dalam kamarnya. Tatkala mereka melihat Rasulullah saw. telah keluar, lalu mereka menggandulinya seraya berkata, “Kami adalah orang-orang dari Bani Tamim. Kami sengaja datang dengan membawa penyair dan ahli pidato kami dengan maksud membangga-banggakan diri engkau Rasulullah menjawab:

Kami diutus bukan untuk syair, dan kami tidak diperintahkan untuk membangga-banggakan diri. Kemudian Rasulullah saw. melakukan salat. Setelah itu orang-orang dari Tamim berkumpul di sekitarnya seraya membangga-banggakan kejayaan mereka dan kejayaan nenek-moyang mereka. ‘Amr ibnul Ahtam memuji Az-Zabargan ibnu Badar melalui perkataannya, “Sesungguhnya dia adalah orang yang selalu ditaati selamanya dan pemimpin di kalangan kaumnya.” Maka Az-Zabargan berkata, “wahai Rasulullah, dia merasa iri terhadap kehormatanku, padahal ia mengetahui apa yang lebih baik dari perkataannya itu.” ‘Amr berkata lagi, “Sesungguhnya dia tidak mempunyai hafga diri, orang-orang menjauh dari padanya, dan buruk perangai.” Pada saat itu kelihatan tanda kemarahan pada wajah Rasulullah karena mendengar dua perkataan ‘Amr yang berbeda. ‘Amr berkata, “Wahai Rasulullah, pada ucapan yang pertama aku berkata benar, tetapi aku tidak berdusta pada perkataan yang kedua. Pada perkataan yang pertama aku dalam keadaan senang, maka aku katakan yang sebaik-baiknya dari yang pernah aku ketahui mengenai dirinya. Pada perkataan yang kedua aku dalam keadaan marah, maka aku katakan yang seburuk-buruknya dari yang telah aku ketahui mengenai dirinya.” Lalu Rasulullah saw. berkata:

“Sesungguhnya di dalam ilmu bayan itu terkandung keindahan yang memukau bagai sihir.” Kemudian para utusan itu semuanya masuk Islam. Rasulullah saw. mehgembalikan kepada mereka tawanannya, selain itu juga memberikan kepada mereka hadiah yang baik. Mereka tidak langsung pulang, tetapi tinggal selama beberapa waktu untuk belajar Al-Qur’an dan pengetahuan agama.

SARIYYAH

Kemudian Rasulullah saw. mengirimkan Al-Walid ibnu ‘Ugbah ibnu Abu Mu’ith untuk mengambil zakat orang-orang Banil-Mushthalig. Ketika orang Banil-Musthalig melihat kedatangannya, keluarlah dari kalangan mereka sebanyak dua puluh orang lelaki seraya menyandang senjata dengan tujuan menyambut kedatangannya, dan bersama mereka unta-unta untuk zakat. Akan tetapi, ketika Al-Walid melihat keadaan mereka, ia menduga bahwa mereka bermaksud memeranginya mengingat antara dia dan mereka pernah terjadi permusuhan pada masa jahiliah. Melihat hal itu Al-Walid kembali lagi dengan cepat ke Madinah, lalu ia memberitahukan kepada Rasulullah bahwa kaum Banil-Musthalig telah murtad dan tidak mau membayar zakat mereka. Rasulullah saw. segera mengirimkan Sahabat Khalid ibnul-Walid untuk mengecek kebenaran berita itu. Lalu sahabat Khalid berangkat menuju perkemahan mereka secara diam-diam. Ketika ia memasuki tempat berkumpul mereka, ia mendengar salah seorang dari kalangan mereka mengumandangkan azan salat subuh. Kemudian Sahabat Khalid ibnul-Walid mendatangi mereka, dan ternyata ia melihat mereka sungguh-sungguh taat. Kemudian Khalid kembali ke Madinah dan menceritakan semua yang telah disaksikannya. Lalu Rasulullah saw. mengirimkan selain Al-Walid untuk mengambil zakat mereka. Sehubungan dengan peristiwa |(Al-Walid ini turunlah firman-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan itu. (Q.S. 49 Al-Hujurat: 6)

SARIYYAH Pada suatu ketika sampai berita kepada Rasulullah bahwa segolongan orang Habsyah terlihat oleh penduduk Jeddah berada di dalam perahu-perahu mereka. Dari gerak-gerik mereka dapat dibaca bahwa mereka bermaksud menyerang kota Jeddah. Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat ‘Algamah bersama tiga ratus orang pasukan untuk mengusir mereka. Kemudian ‘Algamah membawa pasukannya hingga sampai di Jeddah, dan ia langsung menuju ke pantai, lalu naik perahu untuk mengejar mereka. Pada saat itu orang-orang Habsyah berada di dalam suatu benteng yang terletak di sebuah pulau. Ketika orang-orang Habsyah itu melihat ke’ datangan kaum Muslimin, mereka mengetahui bahwa kaum Muslimin itu datang untuk menyerang mereka, lalu mereka buru-buru melarikan diri. Dengan demikian, ketika kaum Muslimin sampai di tempat mereka berlindung, mereka tidak menemukan seorang pun. Akhirnya kaum Muslimin kembali tanpa mengalami peperangan dengan pihak musuh.

Ketika pasukan kaum Muslimin berada di tengah perjalanan pulang, ‘Algamah memerintahkan mereka melalui seruan supaya berjalan agak cepat. Lalu ‘Algamah mengangkat ‘ Abdullah ibnu Hudzafah as-Sahmiy untuk memimpin mereka. ‘Abbdullah ibnu Hudzafah as-Sahmiy suka bergurau. Ia menyalakan api yang cukup besar untuk mereka sewaktu istirahat di tengah perjalanan. Setelah itu ‘Abdullah berkata kepada mereka, “Bukankah kalian diperintahkan supaya menaati perintahku?” Mereka menjawab, “Ya.” Lalu ‘Abdullah berkata, “Aku bermaksud dengan api ini supaya kalian melompat ke dalamnya.” Di antara mereka ada yang berkata, “Tidak, kami masuk Islam untuk menghindarkan diri dari api (neraka).” Akan tetapi, ternyata ada sebagian dari mereka yang benar-benar menaatinya sehingga mau melemparkan dirinya ke dalam api tersebut, kemudian dicegah oleh ‘Abdullah seraya berkata, “Aku hanya bergurau.” Ketika mereka menuturkan hal tersebut kepada Rasulullah saw., dia berkata:

“Tidak ada ketaatan terhadap makhluk bila ia menyuruh untuk berbuat maksiat terhadap Khaliq (Allah).”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker