MENGAJUKAN TAWARAN KEPADA PARA KABILAH ARAB
Ketika Rasulullah saw. telah merasakan bahwa orang-orang Quraisy mencegahnya menyampaikan risalah Rabb-nya, dan sifat takabur serta sombong telah menguasai hati mereka, maka Allah swt. berkehendak menampakkan perkara agama-Nya melalui orang-orang Arab selain orangorang Quraisy. Keluarlah Rasulullah saw. untuk mengunjungi pasar orang-orang Arab, yaitu pasar-pasar yang didirikan oleh orang-orang Arab untuk memamerkan barang dagangan dan kebudayaan mereka. Kemudian Rasulullah saw. menawarkan dirinya kepada para kabilah yang hadir agar mereka mau melindunginya supaya ia dapat menunaikan risalah Rabbnya. Di antara mereka ada yang menolak tawaran itu dengan baik, dan sebagian dari mereka menolaknya dengan kasar. Di antara orang-orang yang paling jelek penolakannya adalah dari bani Hanifah, kabilah Musailamah al-Kadzdzab. Kemudian Bani ‘Amir meminta kepada Rasulullah saw. bahwa mereka mau beriman kepada Rasulullah saw bila Rasulullah mau menyerahkan tampuk kepemimpinan sesudah dia wafat. Permintaan mereka itu dijawab oleh Rasulullah saw. bahwa masalah itu sepenuhnya berada di tangan Allah: Dialah yang menyerahkannya kepada orang yang dikehendaki-Nya.
Di antara orang-orang yang datang berziarah ke Baitullah adalah orang-orang Arab dari Yatsrib (Madinah). Yatsrib adalah nama kota yang terletak di antara Makkah dan negeri Syam. Penduduknya terdiri dari dua kabilah. Salah satu di antaranya ialah bani AlAus, sedangkan yang lain. nya ialah Bani Al-Khazraj. Al-Aus dan AlKhazraj merupakan saudara sekandung, tetapi anak-cucu mereka terlibat dalam permusuhan yang se. ngit di antara mereka, sehingga timbullah peperangan di antara kedua golongan tersebut tanpa henti-hentinya. Mereka selalu hidup di dalam per. sengketaan dan pertentangan. Di samping mereka terdapat pula di Madinah beberapa kaum dari kalangan Yahudi. Mereka adalah Bani Qainuqa’, Bani Quraizhah, dan Bani Nadhir. Pada mulanya merekalah yang berkuasa di kota Madinah, kemudian orang-orang Arab memerangi mereka sehingga dapat menguasainya dan mempunyai kekuatan yang disegani mereka.
Jika orang-orang Yahudi mengalami kekalahan, mereka memohon kemenangan dalam menghadapi musuh-musuh mereka dengan menyebut nama nabi yang kini sudah dekat masa pengutusannya. Akan tetapi, apabila perselisihan telah berkecamuk di kalangar. orang Arab, dan persatuan mereka pecah, mereka mengadakan perjanjian dengan orang-orang Yahudi buat diri mereka masing-masing. Orang-orang kabilah Aus mengadakan pakta pertahanan dengan Bani Quraizhah, sedangkan orang-orang kabilah Khazraj dengan Bani Nadhir dan Bani Qainuglqa’. Peperangan paling akhir di kalangan mereka dan para sekutunya adalah Perang Bi’ats. Dalam perang tersebut banyak pemimpin orang Yahudi terbunuh. Tiada seorangpun dari para pemimpin orang Yahudi yang masih hidup selain ‘Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul dari kalangan Yahudi yang memihak kepada kabilah Khazraj, dan Abu ‘Amir, seorang rahib Yahudi, dari kalangan mereka yang memihak kabilah Aus.
Oleh sebab itu, berdasarkan kenyataan ini Siti ‘Aisyah r.a. pernah mengatakan, “Perang Bi’ats adalah peperangan yang dihadiahkan oleh Allah swt. kepada Rasulullah saw.” Timbul dalam pikiran para pemimpin kabilah Aus untuk mengadakan perjanjian dengan orang-orang Quraisy dalam menghadapi kabilah Khazraj. Mereka mengutus Iyas ibnu Mu’adz dan Abul-Haisar Anas ibnu Rafi’ bersama segolongan orang Madinah untuk mengajukan perjanjian tersebut kepada orang-orang Quraisy. Tatkala mereka datang di kota Makkah, mereka ditemui oleh Rasulullah saw., lalu Rasulullah berkata kepada mereka, “Apakah kalian tidak menginginkan agar kedatangan kalian dipenuhi dengan kebaikan?. (Yaitu) hendaknya kalian beriman kepada Allah semata, dan jangan sekali-kali kalian menyekutukan-Nya dengan apa pun. Sungguh Allah swt. telah mengutus diriku kepada umat manusia semuanya.” Kemudian Rasulullah saw. membacakan Al-Qur’an kepada mereka, Maka Iyas ibnu Mu’adz berkata, “Ha! kaum, demi Allah ini lebih baik daripada maksud kita datang untuknya.”
Akan tetapi, perkataannya itu langsung dipotong oleh Abul Haisar. Abul Haisar berkata kepada Iyas ibnu Mu’adz, “Biarkanlah kami dengan urusan, mu. Sesungguhnya kita datang ke sini bukan untuk urusan itu.” Maka Iyas , ibnu Mu’adz pun diam.





One Comment