KEMBALINYA MUHAJIRIN DARI ABESINIA
Selang tiga bulan sejak kaum Muslimin hijrah ke Abesinia, mereka kem. bali ke Makkah. Mereka merasa sangat sulit tinggal di Abesinia, sebab jum. lah mereka sedikit. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka rindu kepada tanah airnya. Selain itu mereka adalah orang-orang terpandang dari kabilah Quraisy, dan mereka pun membawa istri-istri mereka sehingga mereka tidak betah tinggal di negeri asing dalam keadaan demikian.
Akan tetapi, ada sebagian ahli sejarah yang tergiur oleh suatu kisah, kemudian mereka jadikan sebagai penyebab kembalinya para Muhajirin dari Abesinia. Kisah tersebut mengatakan, mereka mendengar kaumnya telah masuk Islam sewaktu Rasulullah saw, membacakan kepada mereka surah An-Najm. Kisah itu menyebutkan bahwa pada saat itu Rasulullah saw. mengucapkan kata-kata yang baik tentang berhala-berhala mereka. Hal ini dikemukakannya sesudah mengucapkan firman-Nya:
Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap lata dan ‘uzza dan manah yang ketiga, yang paling kemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (Q.S. 53 An-Najm: 19-20)
Dalam kisah ini disebutkan bahwa Rasulullah saw. mengatakan, “Malaikatmalaikat yang tinggi itu sangat diharapkan safaatnya.” Kemudian orang: orang musyrik sujud mengagungkan berhala manat (patung malaikatmalaikat tersebut, pen.) sebagai ungkapan rasa gembira mereka.
Riwayat seperti itu hanya dikemukakan oleh orang-orang yang pendek jangkauan pemikirannya, yaitu mereka yang kebiasaannya hanya menukil setiap kisah yang mereka temukan tanpa menguji lebih dahulu kebenarannya. Berikut ini kami kemukakan kepada para pembaca dalil-dalil nagli dan ‘agli yang menyatakan batilnya kisah tersebut. Secara singkat sanad dan matan kisah tersebut kacau dan lemah sekali. Khusus mengenai sanad, Al-Gadhi ‘Iyadh mengatakan dalam kitab Asy-Syifa bahwa sanad ki sah tersebut tidak seorang pun dari kalangan ahlus-sunnah yang mence ritakannya, dan tidak pernah diriwayatkan oleh seorang yang dipercaya de ngan sanad yang benar. Khusus mengenai matannya, sudah barang tentu, baik para sahabat Rasulullah saw. maupun orang-orang musyrik, bukar orang-orang yang gila hingga mereka mendengar pujian di sela-sela celaan, kemudian mereka membiarkannya.
Selanjutnya dalam kisah tersebut dikatakan bahwa sesudah Rasulullah saw. menyebutkan berhala-berhala mereka dengan sebutan yang baik, lalu dia mengucapkan firman-Nya:
Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan bapak-bapak kalian mengada-adakannya: Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)-nya. (Q.5. 53 An-Najm: 23)
Dari sini tampak jelas bahwa ternyata hubungan antara ayat ini dengan ayat sebelumnya (jika dipahami menurut versi kisah tersebut, pen.) tidak ada, padahal kedua ayat tersebut berkaitan erat sekali. Seandainya hal tersebut benar-benar terjadi, niscaya orang-orang kafir akan menjadikannya sebagai hyijah mereka untuk memukul kaum Muslimin sewaktu mereka berdebat dengan kaum Muslimin. Sedangkan kaum musyrikin itu adalah orang-orang yang telah kita kenal keingkarannya. Dengan segala upaya mereka ber-hujjah sekalipun dengan hujjah yang lemah, terlebih lagi dengan hujjah ini. Tuduhan tersebut tidaklah lebih ringan daripada apa yang telah dikatakan oleh orang-orang semacam perawi kisah tersebut sehingga dicap oleh Allah melalui firman-Nya dalam surah Al-Bagarah sebagai orang-orang yang tidak waras akalnya, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya berikut ini:
Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Magdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya.” (Q.S. 2 AlBagarah: 142)
Memang belum pernah terdengar dari salah seorang di antara mereka yang menjadi pemimpin dalam menentang Rasulullah saw. yang mengatakan kepada Rasulullah saw., “Mengapa engkau mencaci tuhan-tuhan kami sesudah engkau memujinya?” Kami kira hyjjah ini cukup buat mereka dalam menghadapi Rasulullah saw. daripada memakai pedang dan mengorbankan banyak nyawa mereka.
Perlu diketahui bahwa ahli sejarah menukil ungkapan-ungkapan kisah tersebut untuk dijadikan penyebab kaum Muslimin yang hijrah ke Abesinia berani kembali ke Makkah. Selanjutnya di tengah-tengah pembicaraan ini mereka mengatakan bahwa hijrah ke Abesinia mereka lakukan pada bulan Rajab, kemudian mereka kembali pada bulan Syawaj. Sedangkan surah Najm diturunkan pada bulan Ramadan, dan jarak antarg turunnya ayat dengan kembalinya kaum Muhajirin hanya satu bulan.
Akan tetapi, orang yang mau memperhatikan perkataan mereka itu, walau hanya sejenak, niscaya akan menyimpulkan bahwa jarak satu bulan tidak cukup untuk melakukan perjalanan pulang-pergi dari Makkah ke Abesinia. Sebab pada masa itu belum ada kapal bermesin yang dapat membawa seseorang melakukan perjalanan di laut dengan cepat. Dan belum ada telegram yang dapat menyampaikan berita dengan cepat tentang masuk Islamnya orang-orang Quraisy kepada kaum Muslimin yang berada di Abesinia. Tidak aneh bilamana kita katakan, sesungguhnya kisah itu hanyalah merupakan isapan jempol dan buatan orang-orang yang ingin menghancurkan Islam. Alhamdulilah, Allah telah memberikan anugerah kepada kita bahwa Al-Guranul-Karim, yang memutuskan antara kita dan setiap penghasut lagi hanya berdusta, masih tetap terpelihara. Dalam surah yang sama Allah swt. berfirman pula, yaitu:
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. (Q.S. 53 An-Najm: 3)
Apa yang diajarkan oleh setan mencakup riwayat yang paling buruk: mana mungkin Rasulullah saw. mengucapkannya, atau dia berani mengatakan hal-hal yang dapat menimbulkan keraguan pada wahyu? Akan tetapi, ternyata hasutan yang dilancarkan oleh orang-orang yang akalnya tidak waras dikembalikan kepada mereka oleh Allah swt. sehingga tipu muslihat yang mereka buat justru menjerat diri mereka sendiri.
Menurut hadis yang sahih, mengenai masalah sujud ini adalah seperti yang diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Mas’ud. Dalam hadis ini Sahabat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud menceritakan:
Bahwasanya Nabi saw. membacakan surah An-najm, maka Nabi sujud,
dan sujud pula orang-orang yang bersamanya (sujud tilawah, pen.) kecuali hanya seorang lelaki: ia mengambil segenggam batu kerikil, lalu diletakkannya pada jidatnya seraya mengatakan, “Untukku cukup hanya dengan cara ini.” (Selanjutnya Sahabat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud meneruskan riwayatnya), kemudian aku lihat sesudah peristiwa itu ia mati dibunuh karena murtad.
Dari makna hadis di atas tiada suatu pengertian pun yang menunjukkan bahwa orang-orang yang melakukan sujud (tilawah itu) bersama Nabi saw. adalah orang-orang musyrik. Bahkan yang dapat kami simpulkan dari perkataan Ibnu Mas’ud itu hanyalah bahwa lelaki tersebut dahulunya Muslin., kemudian Sahabat Ibnu Mas’ud melihat dia murtad sesudah peristiwa itu. Memang demikianlah apa yang terjadi pada sebagian orang yang berhati lemah, mereka tidak tahan menanggung siksaan, akhirnya mereka kembali menjadi kafir. Di antara mereka yang berbuat demikian jalah ‘Ali ibnu Umayyah ibnu Khalaf.
Tatkala kaum Muhajirin Abesinia kembali ke Makkah, ternyata mereka tidak mampu memasukinya kembali kecuali orang-orang yang mempunyai pelindung. Abu Salamah berlindung di bawah pamannya dari pihak ibu, yaitu Abu Thalib, sedangkan “Utsman ibnu Mazh’un berlindung di bawah Al-Walid ibnul-Mughirah yang kini bersedia melindunginya kembali. Pada mulanya Al-Walid telah mencabut jaminannya dari ‘Utsman. Ketika ja melihat orang-orang musyrik menyakiti kaum Muslimin, ia memberikan kembali jaminannya. Ia tidak merasa senang bila ia hidup enak-enak sedangkan saudara-saudaranya hidup dalam keadaan tersiksa.









One Comment