MUKJIZAT-MUKJIZAT RASULULLAH SAW
Bilamana seseorang mau memperhatikan pembahasan yang telah kami kemukakan di muka, yaitu sehubungan dengan perjalanan hidup Rasul yang mulia ini, jejak-jajaknya yang terpuji, keunggulan ilmunya, kecemerlangan
akalnya, sifat penyantunnya, semua kesempurnaan kemanusiaannya, se. mua akhlak-akhlaknya, tingkah lakunya, dan kebenaran ucapannya, niscaya tidak akan diragukan lagi keabsahan kenabiannya dan kebenaran dakwahnya. Hal ini telah cukup disaksikan oleh seseorang yang tidak diragukan keislaman dan keimanannya seperti ‘Abdullah ibnu Sallam. Ia menceritakan, “Ketika Nabi saw. datang ke Madinah, aku datang kepadanya untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Ketika kulihat wajahnya, tampak jelas bagiku, bahwa bukanlah wajah orang yang suka berdusta.”
Imam Muslim meriwayatkan pula bahwa tatkala Dhamad datang menghadap Rasulullah saw. sebagai utusan dari kaumnya, Rasulullah berkata:
Sesungguhnya segala puji hanyalah bagi Allah. Kami memuji dan meminta pertolongan kepada-Nya. Barang siapa telah diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya.
Barang siapa telah diberi menyesatkan-Nya, niscaya tiada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Pada saat itu juga Dhamad berkata kepadanya, “Ulangi lagi kepadaku perkataan engkau tadi. Sungguh kalimat-kalimat itu telah mencapai perbendaharaan kata yang amat luas. Berikanlah tangan engkau, aku akan berbai’at kepada engkau.”
Ketika sampai ke telinga raja ‘Amman bahwa Rasulullah telah menyeru dirinya untuk masuk Islam, ia berkata, “Demi Allah, sungguh Nabi yang ummi ini telah memberi petunjuk kepadaku. Tiada sekali-kali ia memerintahkan kepada kebaikan kecuali jika dia orang yang pertama kali meneladaninya. Tidak sekali-kali ia melarang sesuatu kecuali jika ia orang yang pertama kali menjauhinya. Dia selalu menang, tetapi tidak sombong. Bila menang ia tidak gaduh. Dia selalu setia kepada janjinya dan selalu melaksanakan apa yang telah dijanjikannya. Aku bersaksi bahwa dia adalah nabi.”
Ibnu Rawwahah dalam salah satu bait syairnya mengatakan:
Seandainya di dalam diri Nabi tidak terdapat tanda-tanda yang jelas (mengenai kenabiannya), niscaya penampilannya akan memberikan kesan kepadamu sebagai orang yang berwibawa.
Terlebih lagi Allah swt. telah menampakkan melalui tangannya berbagai macam mukjizat sebagai pembenaran atas kenabiannya. Mukjizat yang memancar dari dirinya tak terhitung banyaknya. Hal ini membuat dirinya nabi yang paling banyak mukjizatnya dan paling jelas bukti-buktinya. Dalam pasal ini insya Allah akan kami ketengahkan mukjizat-mukjizat Rasulullah yang dapat membuat hati pembaca puas serta menambah keyakinan. Mukjizat-mukjizat tersebut berdasarkan periwayatan yang telah diketengahkan oleh sebagian besar sahabat dan telah diakui kebenarannya oleh para ahli hadis. Berikut ini kami mulai dengan mengetengahkan mukjizat yang paling terkenal dan paling jelas keterangannya, yaitu mukjizat Al-Quran.
Perlu untuk diketahui bahwa Kitabullah itu mengandung cukup banyak mukjizat. Hal ini dapat disimpulkan ke dalam empat kategori seperti penjelasan berikut ini:
Pertama: Al-Qur’an memiliki metode yang baik, kalimat-kalimatnya membentuk perpaduan yang serasi, dan kefasihan bahasa serta keringkasan ibaratnya dan paramasastranya benar-benar berbeda dengan kebiasaan yang berlaku di kalangan orang Arab. Karena mereka adalah orang-orang yang ahli dalam bidang ini dan sebagai jago-jago berbicara, mereka memiliki keahlian dalam bidang berparamasastra dan menguntai kata-kata bijak yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa yang lain. Mereka dianugerahi kefasihan lisan yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan ketajaman pidato mereka dapat memikat hati pendengarnya. Hal ini telah dijadikan oleh Allah swt. di dalam diri mereka sebagai pembawaan dan watak yang sudah menyatu secara alami.
Di dalam diri mereka hal ini telah terbentuk secara naluriah lagi sangat kuat pengaruhnya. Mereka dengan mudah dapat menciptakan ungkapan yang menakjubkan, dan ungkapan itu mereka pakai di dalam setiap kebutuhan. Mereka dapat berpidato secara naluriah dalam berbagai munasabah dan keadaan yang genting. Mereka dapat mengumandangkan keahliannya dalam bersyair sewaktu mereka sedang berperang. Melalui keahliannya ini mereka dapat mendiskreditkan seseorang, meminta perantara, mengangkat atau merendahkan seseorang, dengan demikian mereka mampu mendatangkan ungkapan yang sangat memukau yang pengaruhnya bagaikan sihir.
Ungkapan-ungkapan mereka lebih indah daripada untaian mutiara, dan dapat membuat hati terpesona karenanya, semua hambatan dan kesulitan dapat dimudahkan, dan semua malapetaka serta ujian dapat disingkirkan. Melalui keahlian mereka di dalam berparamasastra, mereka dapat membuat orang yang pemberani menjadi pengecut, orang yang pengecut menjadi pemberani, orang yang mempunyai kekurangan menjadi tampak Sempurna, dan orang yang terkenal menjadi tidak terkenal. Di antara mereka ada yang dibesarkan di kalangan Badui (perkampungan) yang memili ki ciri khas perbendaharaan yang luas, kalimat yang tegas, gaya bahasanya cukup anggun, memiliki bakat yang cemerlang dan kecenderungan yang kuat dalam bidang ini. Di antara mereka ada yang dibesarkan di lingkungan hadhar (perkotaan) yang memiliki ciri khas berupa kelihaian dalam berparamasastra, mempunyai lafazh yang cemerlang dan kalimat-kalimat yang bersifat umum serta memiliki ungkapan yang mudah dicerna, dan pandai dalam menguntai kata-kata yang tidak dipaksakan, tetapi sangat indah dan lembut didengar.
Dalam kedua lingkungan tersebut dalam hal paramasastra mereka mempunyai hujjah yang tegas dan kekuatan yang dapat mematahkan, serta pengaruh yang sangat dominan dalam mematahkan hujjah lawan dan menggerakkan potensi. Mereka tidak meragukan lagi bahwa ilmu berbicara tunduk di bawah pengaruh mereka dan berparamasastra sudah menjadi bakat mereka. Mereka telah berhasil mencakup semua jenisnya, menguasai semua sumbernya, memasuki semua pintunya, dan mereka dapat menguasai menaranya untuk mencapai tujuannya. Mereka dapat mengungkapkan semua peristiwa yang besar dan yang kecil sebagaimana mereka pun ahli pula dalam mengungkapkan hal-hal yang jelek. Mereka pun pandai menguntai kata-kata dalam hal yang sedikit atau yang banyak sebagaimana mereka pun ahli dalam menguntai kata-kata berupa syair maupun kalam biasa, tetapi mereka sama sekali tidak takut selain terhadap Rasulullah bersama Kitabullah yang tidak mengandung kebatilan, baik dari hadapan maupun dari belakangnya, dan ia diturunkan oleh Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Ayat-ayatnya disusun secara rapi, kalimat-kalimatnya sangat jelas, paramasastranya memukau semua akal, dan kefasihan bahasanya melampaui semua yang telah dikatakan. Keringkasan bahasanya dan kemukjizatannya telah terpadu di dalamnya, dan hakikat serta majasnya tampak menonjol di dalamnya. Permulaanpermulaannya sangat langka keindahannya, dan keglobalan keglobalan serta keindahannya mencakup semua kejelasan. Kepadatannya seimbang dengan keindahan susunan kalimatnya serta lafaz-nyayang pilihan itu sangat sesuai dengan faedahnya yang banyak.
Padahal mereka (orang-orang Arab) memiliki pengetahuan yang sangat luas sekali dalam hal ini, mereka sangat terkenal ahli di dalam berkhotbah dan perbendaharaan syair serta sajak mereka sangat luas. Mereka sangat pandai dalam menguntai kata-kata yang beristilah. Sekalipun demikian, Al-Quran jauh lebih unggul dari mereka. Ia berbicara dan menyanggah mereka setiap saat dan mengingatkan mereka selama dua puluh tahun lebih sebagaimana yang telah dijelaskan oleh firman-Nya:
Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah,” Kalau benar yang kalian katakan itu) maka cobalah datangkan sebuah surat seperti itu dan panggillah siapa yang dapat kalian panggil (untuk membuatnya) selain Allah jika kalian orangorang yang benar. (Q.S. 10 Yunus: 38)
Dan jika kalian (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) semacam Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah jika kalian orang-orang yang memang benar. (Q.S. 2 Al-Bagarah: 23)
Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya sekalipun sebagian dari mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Q.5. 17 AlIsra: 88).
Katakanlah, “(Kalau demikian) datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya.” (Q.S. 11 Hud: 13)
Al-Qur’an masih tetap mengingatkan mereka dengan peringatan yang keras mencela mereka dengan celaan yang keras, membodoh-bodohkan orang-orang bijak mereka, merendahkan orang-orang pandai mereka, memorakperandakan tatanan mereka, mencela tuhan-tuhan dan nenek-moyang mereka, dan menghalalkan tanah serta rumah-rumah dan harta benda milik mereka. Padahal mereka dalam semuanya itu tidak berdaya menantangnya dan tidak mampu mendatangkan hal yang semisal dengannya. Akhirnya mereka menipu diri mereka sendiri melalui pengacauan, pendustaan, dan membangga-banggakan diri sebagai kompensasi bagi ketidakmampuan mereka, yaitu melalui perkataan mereka seperti berikut ini: “Al-Quran itu tiada lain hanyalah sihir yang dibuat-buat. Al-Qur’an adalah sihir yang terus-menerus dan kedustaan yang dibuat-buat serta dongengan-dongengan orang-orang terdahulu.” Mereka rela dengan kerendahan diri mereka sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firman-Nya:
Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada dinding. (Q.S. 41 Fushshilat: 65)
Allah swt. telah berfirman yang menceritakan perkataan mereka:
Janganlah kalian mendengarkan dengan sungguh-sungguh Al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya. (Q.S. 41 Fushshilat: 28)
Mereka hanya mengaku-aku saja, padahal kenyataannya mereka sama sekali tidak mampu menandinginya sebagaimana yang telah diceritakan dalam firman-Nya:
Seandainya kami suka, niscaya kami dapat mengatakan hal yang serupa dengannya (Al-Guran). (Q.5. 8 Al-Anfal: 31)
Kemudian Allah swt. menyanggah perkataan mereka itu melalui firmanNya:
Kalian tidak akan dapat melakukannya. (Q.5. 2 Al-Bagarah: 24)
Mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak akan mampu. Orang yang tolol dari kalangan mereka, yang berani melakukan hal itu, justru membuka keaiban dirinya di mata semua orang seperti apa yang telah dilakukan oleh Musailamah al-Kadzdzab.
Allah swt. telah mencabut kefasihan berbicara yang telah menjadi kebiasaan mereka. Bilamana tidak demikian, niscaya orang-orang yang ahli dari kalangan mereka tidak akan menilai bahwa Al-Quran itu bukan termasuk jenis kefasihan mereka dan bukan paramasastra mereka. Bahkan mereka akan melarikan diri daripadanya, tetapi kenyataannya mereka mau mendatanginya dalam keadaan tunduk bilamana memikirkan firman Allah swt. berikut ini:
Dan dalam gishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian. (Q.S. 2 Al-Bagarah: 179)
Dan (alangkah hebatnya) jika kamu melihat ketika mereka (orang-orang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari kiamat). Mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka). (Q.S. 34 Saba: 51)
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang diantara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Q.S. 41 Fushshilat: 34)
Dan difirmankan, “Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu pun berlabuh di atas vukit Judi, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang yang zalim.” (Q.S. 11 Hud: 44).
Maka masing-masing (merera itu) Kami siksa karena dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Q.5. 29 Al-Ankabut: 40)
Ayat-ayat lainnya yang serupa, bahkan sebagian besar dari AlGuran, niscaya akan dapat membuktikan apa yang telah kami jelaskan di muka tadi, yaitu berkenaan dengan keringkasan lafazh AlQGuran, kepadatan maknanya, keindahan ungkapannya, dan keindahan susunan huruf serta keserasiannya. Sesungguhnya di balik setiap lafazh-nya terkandung pengertian yang cukup panjang sehingga berpasal-pasal dan menjadi berbagai macam disiplin ilmu yang kini telah memenuhi kitab-kitab sebagai kesimpulan dari ana vang dikandungnya.
Kemudian penyajian Al-Qur’an tentang kisah-kisah yang panjang mengenai berita kaum-kaum zaman dahulu kala, yang biasanya orang-orang fasih mereka tidak mampu melakukannya merupakan bukti bagi orang yang memperhatikannya, yaitu mengenai hubungan antara suatu jumlah kalimat dengan jumlah kalimat yang lain, keterpaduan penyajiannya, dan kejelasan segi-seginya, seperti kisah tentang Nabi Yusuf yang panjang itu. Kemudian bilamana kisahnya berulang-ulang, ternyata ungkapan yang dipakainya berbeda-beda dan keserasian ungkapannya begitu memukau. Jiwa seseorang tidak akan bosan sekalipun diulang-ulang dan tidak akan merasa antipati terhadapnya: justru hal itu semakin membuatnya tertarik.
Kedua: Mukjizat Al-Qur’an menyangkut gambaran susunannya yang menakjubkan, uslub-uslub-nya yang aneh dan berbeda pula uslub-uslub yang biasa berlaku dalam bahasa Arab, serta berbeda pula dari nizham dan natsar yang berlaku di kalangan mereka. Semua yang dikemukakan dalam Al-Qur’an berbeda, dan baik sebelumnya ataupun sesudahnya tidak pernah dijumpai hal yang serupa dengannya, serta tidak ada seorang pun yang mampu membuat sesuatu yang serupa dengannya. Bahkan Al-Qur’an membuat mereka menjadi bingung dan kemampuan mereka melemah di hadapannya. Mereka tidak menemukan jalan untuk membuat hal yang setara dengannya dari kalam mereka. Hal seperti Al-Qur’an tidak mereka jumpai di dalam natsar, nizham, dan sajak mereka. Mukjizat Al-Qur’an baik ditinjau dari segi keringkasan ungkapannya, balaghah (paramasastra), atau dari segi ungkapannya yang aneh, masing-masing segi itu tidak mampu mereka melakukannya, karena masing-masing berada di Juar jangkauan kemampuan mereka dan berbeda densan kefasihan bicara mereka.
Ketiga: Di antara mukjizat al-Quran ialah karena ditinjau dari segi bahwa dalam Al-Qur’an terkandung berita-berita mengenai masalah gaib dan hal-hal yang belum terjadi, kemudian kejadiannya persis seperti yang telah diberitakan di dalamnya sebagaimana yang terdapat dalam firmanNya:
Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil-Haram, insya Allah dalam keadaan aman. (Q.S. 48 Al-Fath: 27)
Sehubungan dengan bangsa Romawi Allah berfirman:
Dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. (Q.5. 30 Ar-Rum: 3-4)
Untuk dimenangkan-Nya atas segala agama. (Q.S. 9 At-Taubah: 33)
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. (Q.S. 24 An-Nur: 55)
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. (9.5. 110 An-Nashr: 1-2)
Ternyata semua yang telah diberitakan oleh Al-Qur’an menjadi kenyataan. Kekaisaran Romawi akhirnya dapat mengalahkan Kerajaan Persia, kemudian manusia masuk agama Islam secara berbondongbondong, dan kekuasaan kaum Muslimin kian meluas, sehingga pada suatu waktu kekuasaan mereka sampai ke Andalusia (Spanyol) di sebelah barat, sampai batas India di sebelah timur, hingga ke Anatolia (Asia Kecil) di sebelah utara, dan sampai mencapai batas terakhir Sudan di sebelah selatan. Allah swt. mengatakan dalam firman-Nya:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-guran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.5. 15 Al-Hijr: 9)
Ternyata keadaannya, al-hamdulillah seperti apa yang telah diberitakan oleh-Nya hingga sekarang. Allah swt. berfirman pula dalam ayat yang Jain:
Golongan (orang-orang kafir) itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (Q.S. 54 Al-Gamar: 45)
Kemudian kejadiannya memang seperti yang telah diberitakan oleh AlQuran, yaitu dalam Perang Badar. Ayat di atas diturunkan di Makkah. Dalam ayat yang lain Allah swt. berfirman:
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian. (Q.S. 9 At-Taubah: 14)
Kejadiannya memang persis seperti yang telah diberitakan Allah swt. dalam Kitab-Nya. Hal ini dapat para pembaca ketahui melalui sejarah hidup Rasulullah saw. yang telah kami kemukakan. Di dalamnya telah disebutkan tentang terbongkarnya rahasia orang-orang munafik dan orang-orang Yahudi serta kedustaan perkataan mereka di dalam sumpahnya sebagaimana yang difirmankan-Nya:
Dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita karena apa yang kita katakan?” (Q.S. 58 Al-Mujadilah: 8)
Mereka menyembunyikan di dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. (Q.S. 3 Ali ‘Imran: 154)
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar,” tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah” semoga kamu tidak dapat mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) “Raina,” dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. (Q.S. 4 An-Nisa: 46)
Masih banyak ayat lain yang menceritakan hal ihwal mereka.
Keempat: Di antara mukjizat Al-Quran ialah karena di dalamnya terkandung berita-berita tentang umat-umat terdahulu dan syariat-syariatnya. Satu kisah di antaranya tidak akan dapat diketahui selain oleh para pendeta ahli kitab yang benar-benar cemerlang, yang hanya menekuni hal ini seumur hidupnya. Hal ini dapat dikemukakan oleh Rasulullah saw. sesuai dengan kenyataan yang telah terjadi pada masa dahulu. Ahli kitab yang mengetahui kisah ini dengan sebenarnya langsung membenarkan apa yang telah dikemukakannya, karena mereka telah mengetahui bahwa Rasulullah saw. adalah seorang ummi, tidak dapat membaca dan tidak dapat menulis, serta tidak pernah belajar di madrasah atau duduk di majelis ilmu. Hal ini merupakan kenyataan yang tidak diingkari oleh para ahli kitab. Tiada seorang pun di antara mereka yang mengingkari hal ini. Sering kali ahli kitab bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kisahkisah ini. Maka turunlah kepada Rasulullah Al-Qur’an yang di bacakan kepada mereka sebagai peringatan seperti kisah para nabi, kisah tentang kejadian, dan apa-apa yang telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu. Ternyata para ulama mereka tiada sorang pun yang berani mendustakan apa yang telah diceritakan oleh Rasulullah saw. karena semuanya benar. Semua yang diceritakan oleh Rasulullah saw. ternyata dapat membedakan mana yang benar dan mana yang telah mengalami perubahan dari kitab mereka sesudah terlebih dahulu Al-Qur’an yang dibacakannya itu mengingatkan dan mencela mereka sebagaimana yang difirmankan-Nya:
Katakanlah, “(Jika kalian mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kalian orang-orang yang benar.” (Q.5. 3 Ali ‘Imran: 93)
Di antara bukti yang menunjukkan bahwa para ahli kitab mengetahui kebenaran yang telah dikatakan oleh Rasulullah saw. ialah adanya tantangan dari Allah swt. kepada mereka melalui firman-Nya:
Katakanlah, “Jika kalian (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untuk kalian di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (kalian) jika kalian memang benar. (Q.S. 2 Al-Bagarah: 94)
Kemudian dalam ayat yang lain Allah swt. memastikan tentang ketidakmauan mereka untuk mati, yaitu melalui firman-Nya:
Dan sekali-kali mereka tidak-akan mengingini kematian itu selamalamanya karena kesalahan-kesalahan yang telah di perbuat oleh tangan mereka (sendiri). (Q.S. 2 Al-Bagarah: 95)
Ternyata tidak pernah terdengar bahwa ada seseorang di antara mereka yang mengharapkan hal tersebut (kematian) sekalipun hanya melalui mulut saja tanpa dilaksanakan. Sekalipun demikian, mereka adalah orangorang yang paling sengit mendustakan Rasulullah saw. Sebagai contoh ialah seperti yang telah dilakukan oleh penduduk Najran tatkala Rasulullah saw. mengajak mereka untuk ber-mubahalah dan mereka menolak. Hal ini telah kami kemukakan dalam pembahasan mengenai utusan orang Najran.
Di antara hal-hal yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu bukanlah perkataan manusia ialah adanya rasa takut yang menyusup di hati para pendengarnya dan pengaruh yang menguasai mereka sewaktu AlQuran dibacakan. Hal ini tidak lain disebabkan oleh kekuatan yang terkandung di dalam Al-Quran dan wibawanya yang anggun membuat mereka merasa berat untuk mendengarkannya dan semakin dibacakan, semakin bertambah pula antipati mereka terhadapnya. Oleh sebab itu, benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. yaitu:
Sesungguhnya Al-Quran itu sulit dan menyulitkan bagi orang yang membencinya: Al-Quran adalah hukum.
Bagi orang mukmin, keagungan dan pengaruh Al-Quran sewaktu ia membacanya justru makin menambahnya senang dan kepercayaannya makin menebal terhadapnya sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firmanNya:
Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka pada waktu mengingat Allah. (Q.S. 39 Az-Zumar: 23).
Dalam ayat lain Allah swt. berfirman:
Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah di sebabkan oleh takut kepada Allah. (Q.S. 59 Al-Hasyr: 21)
Di antara segi-segi mukjizat Al-Quran ialah karena ia merupakan tanda (mukjizat) yang bersifat abadi dan tidak akan lenyap sepanjang dunia masih ada. Di samping itu Allah swt, telah menjamin pemeliharaan keutuhannya sebagaimana yang telah diungkapkan melalui firman-Nya:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. 15 Al-Hijr: 9)
Di dalam ayat yang lain Allah swt. telah berfirman pula:
Yang tidak datang kepadanya (Al-Quran) adalah kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya. (Q.S. 41 Fushshilat: 42)
Mukjizat-mukjizat para nabi yang lain tidak ada satu pun yang tertinggal, yang ada hanyalah beritanya saja, tetapi mukjizat Al-Qur’an sampai sekarang masih tetap ada. Ia merupakan hujjah yang dapat mengalahkan semua hujjah, dan ia adalah penantang tanpa tandingan. Zaman itu penuh dengan ahli ilmu bayan, pemangku ilmu bahasa dan imam ilmu balaghah, serta jago bicara dan cendekiawan. Sebagian besar dari mereka tidak percaya dan ingkar terhadap syariat Al-Guran. Sekalipun demikian, ternyata tidak ada seorang pun dari kalangan mereka yang mampu mendatangkan sesuatu yang berarti untuk menantang Al-Quran, dan mereka sama sekali tidak mampu membuat dua kalimat yang serupa dengannya. Bahkan setiap orang yang berani mencoba-coba menentang Al-Quran dengan mengerahkan segala kemampuannya, pada akhirnya mundur dengan perasaan patah karena tidak mampu menyainginya.
Alangkah baiknya bilamana bab ini kami akhiri dengan menyebutkan hadis Rasulullah saw. mengenai Al-Quran, yaitu:
Sesungguhnya Allah swt. menurunkan Al-Quran dalam bentuk perintah, larangan, menceritakan tentang sunnah-sunnah terdahulu, dan perumpamaan-perumpamaan (yang dibuat oleh-Nya). Di dalamnya terkandung berita mengenai kalian dan cerita tentang umat-umat sebelum kalian, berita tentang apa yang bakal terjadi sesudah kalian, dan hukum mengenai apa yang ada di antara kalian. Al-Quran tidak membosankan sekalipun banyak yang diulang-ulang, dan keajaibannya tidak pernah habis. Al-Quran adalah perkara ygng hak dan bukan mainan-mainan. Barang siapa mengatakannya, berarti ia benar, barang siapa memutuskan hukum dengan memakainya, berarti ia adil, barang siapa bersengketa dengan memakainya (sebagai dalilnya), berarti ia akan menang: barang siapa menghukumi (sesuatu) dengan memakainya, berarti ia berlaku adil: barang siapa mengamalkannya, akan mendapat pahala, barang siapa berpegang kepadanya, niscaya mendapat petunjuk jalan yang lurus, barang siapa mencari petunjuk kepada selain Al-Quran, niscaya Allah akan menyesatkannya, dan barang siapa membuat hukum dengan selainnya, niscaya ia dipatahkan oleh Allah. Al-Qur’an adalah peringatan yang bijaksana, cahaya yang jelas, Jalan yang lurus, tali Allah yang kuat, dan penawar yang mujarab. AlQuran merupakan pemelihara bagi orang yang berpegang kepadanya serta merupakan keselamatan bagi orang yang mengikuti (petunjuk)nya. Al-Quran tidak bengkok yang membutuhkan pelurusan, dan ia tidak menyimpang sehingga membuatnya tercela.









One Comment