BAI’AT AQABAH YANG KEDUA
Pada musim haji berikutnya, yaitu setahun setelah Bai’at ‘Agabah. Pertama, datanglah ke Makkah sebagian besar dari mereka dengan maksud menunaikan ibadah haji. Di antara mereka terdapat pula orang-orang yang masih musyrik. Utusan mereka menghadap Rasulullah saw.dan menyampaikan pesan bahwa mereka berjanji akan bertemu dengan Rasulullah saw. pada malam hari di ‘Agabah. Kemudian Rasulullah saw. berpesan kepada mereka agar mereka jangan sampai membangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak, dan jangan pula mereka menunggu-nunggu orang yang tidak ada. Semua kegiatan ini dilakukan secara tersembunyi dan sangat rahasia agar orang-orang musyrik Quraisy tidak mengetahuinya. Jika sampai mereka mengetahui hal ini, niscaya mereka akan mencegah apa yang telah mereka sepakati sejak semula bersama Rasulullah saw.
Setelah orang-orang Anshar menunaikan hajinya, mereka bergerak menuju ke tempat pertemuan yang telah dijanjikan secara sembunyisembunyi supaya tidak diketahui oleh rekan-rekan mereka yang musyrik. Hal itu mulai mereka lakukan setelah malam hari berlangsung sepertiganya (sekitar jam 10.00 malam). Mereka berangkat seorang demi seorang tanpa ribut-ribut sehingga jumlah mereka lengkap berada di tempat. Jumlah mereka semua ada tujuh puluh tiga orang. Di antara mereka terdapat enam puluh dua orang dari kabilah Khazraj, sedangkan sebelas orang lain. nya berasal dari kabilah Aus. Ikut dengan mereka ada dua orang perem. puan, yaitu Nasibah binti Ka’b dari Bani Najjar dan Asma binti ‘Amr dari Bani Salamah.
Rasulullah saw. menemui mereka di tempat tersebut. Ia diikuti oleh Al-‘Abbas ibnu ‘Abdul-Muththalib yang pada saat itu masih memeluk aga. ma kaumnya, tetapi ia ingin menghindari perkara keponakannya itu supaya ia yakin dan melihat sendiri apa yang akan dilakukannya. Setelah mereka berkumpul, Al-‘Abbas mengatakan kepada mereka bahwa keponakannya ini masih tetap disegani di kalangan kaumnya sehingga tiada seorang pun dari kalangan kaumnya yang menampakkan permusuhan dan kebencian terhadapnya dan mencelakakannya. Bahkan sebaliknya, mereka sendirilah yang menanggung banyak penderitaan dan keresahan dalam menghadapinya. Selanjutnya Al-‘ Abbas menegaskan kepada mereka, “Bila kalian benar-benar akan menepati janji kalian terhadapnya sesuai dengan apa yang telah kalian utarakan kepadanya, maka kalian benar-benar harus siap membelanya dari perlakuan orang-orang yang menentangnya, siap sedia menanggung segala akibatnya. Bila kalian tidak bersedia melakukan hal tersebut, biarkanlah dia berada di kalangan keluarganya, sebab keluarganya berada dalam kedudukan yang besar (yang mampu melindunginya).” Lalu pemimpin mereka selaku jurubicara mereka semua, yaitu Al-Barra ibnu Ma’rur, berkata, “Demi Allah, seandainya kami mempunyai sesuatu yang hendak kami katakan kepadanya, niseaya kami akan mengatakannya. Akan tetapi, kami datang ke sini tiada lain hanya demi memenuhi janji dan percaya serta siap mengorbankan jiwa demi Rasulullah.” Kemudian pada saat itu mereka semua berkata kepada Rasulullah saw, “Ambillah (dari kami) demi engkau dan Rabb-engkau apa-apa yang engkau sukai.” Maka Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Aku mensyaratkan kepada kalian, demi Rabb-ku, hendaklah kalian menyembah-Nya semata, dan jangan sekali-kali kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Aku mensyaratkan kepada kalian untukku, hendaknya kalian mempertahankan diriku sebagaimana kalian mempertahankan perempuan-perempuan dan anakanak kalian sendiri bilamana aku datang kepada kalian.”
Kemudian Al-Haitsam ibnut-Taihan berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di antara kami dan orang-orang lain terdapat ikatan perjanjian, dan kami telah siap untuk memutuskannya. Apakah jika kami melakukan hal tersebut, kemudian ternyata Allah swt. menyuruh engkau kembali kepada kaum engkau lalu engkau membiarkan kami begitu saja?” Mendengar perkataan tersebut Rasulullah saw. tersenyum, lalu berkata, “Tidak, tetapi darah dengan darah dan kehancuran dengan kehancuran.” Artinya, bila mereka ingin menuntut darah, maka Rasulullah akan menuntutnya: dan bila mereka ingin menyia-nyiakannya, niscaya Rasulullah akan menyia-nyiakan mereka pula. Atau dengan kata lain, Rasulullah saw. siap sehidup-semati dengan mereka.
Sejak saat itu mulailah pembai’atan, Bai’at ini dinamakan Bai”at “Agabah kedua. Kemudian mulailah orang-orang Anshar membai’at Rasulullah saw. sesuai dengan apa yang dimintanya. Orang yang mula-mula berbai’at ialah As’ad ibnu Zarrarah, tetapi menurut pendapat lain adalah Al-Barra ibnu Ma’rur. Kemudian Rasulullah saw. memilih dua belas orang di antara mereka dari setiap keluarga diambil seorang, untuk dijadikan sebagai pemimpin mereka, sembilan orang dari kabilah Khazraj dan tiga orang dari kalangan kabilah Aus. Mereka adalah Abul-Haitsam ibnut-Taihan, As’ad ibnu Zarrarah, Usaid ibnu Hudhair, Al-Barra ibnu Ma’rur, Rafi” ibnu Malik, Sa’d ibnu Khaitsamah, Sa’d ibnur-Rabi”’, Sa’d ibnu ‘Ubadah, ‘Abdullah ibnu Rawwahah, ‘Abdullah ‘Amr, ‘Ubadah ibnush-Shamit, dan Al-Mundzir ibnu ‘Arnr.
Selanjutnya Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Kalian adalah para pelindung kaum kalian sebagaimana kaum Hawariyin melindungi ‘Isa ibnu Maryam, dan aku adalah pelindung kaumku.” Akan tetapi, sudah merupakan kehendak Allah swt. Akhirnya berita pembai’atan ini sampai juga ke telinga orang-orang musyrik QQuraisy. Mereka mendatangi perkemahan orang-orang Anshar, lalu mereka berkata, “Hai orang-orang Khazraj, aku dengar kalian telah mendatangi Muhammad dan kalian akan mengeluarkannya dari tanah air kami, kemudian kalian telah berbai’at kepadanya untuk memerangi kami.” Akan tetapi, kaum Anshar membantah hal tersebut. Orang-orang musyrik yang datang dari Madinah bersama kaum Anshar, yaitu mereka yang tidak menghadiri bai’at tersebut, bersumpah kepada kaum musyrikin QQuraisy bahwa teman-teman mereka pada malam itu tidak pergi ke mana-mana dan tidak melakukan apa-apa (karena mereka tidak tahu, pen.) sehingga ‘Abdullah ibnu Ubay, seorang pemimpin dari kabilah Khazraj berkata, “Jika memang kaumku melakukan sesuatu dari hal-hal tersebut, niscaya mereka mengikutsertakan diriku.”




One Comment