SERUAN SECARA RAHASIA
Kemudian Rasulullah saw. bangkit mengerjakan perintah Allah, yaitu menyeru kaum yang berhati keras dan tidak beragama untuk menyembah Allah swt. Mereka adalah kaum penyembah berhala yang tidak dapat memberikan manfaat atau mudarat kepada diri mereka, dan mereka tidak mempunyai hyijah dalam hal tersebut selain hanya mengikuti apa yang disembah oleh nenek-moyang mereka. Mereka sama sekali tidak memiliki akhlak yang mulia selain hanya fanatisme dan kebanggaan belaka. Hal ini merupakan penyebab banyaknya timbul peperangan, saling menyerang di antara mereka, dan banjir darah. Kemudian Rasulullah saw. datang kepada mereka dengan membawa ajaran-ajaran syariat yang belum mereka ketahui. Adapun sikap orang-orang yang berakal sehat dari kalangan mereka bergegas menyambut seruannya dan mempercayainya serta meninggalkan penyembahan berhala. Adapun yang terlena oleh empuknya kursi kedudukan, ia berpaling dan bersikap takabbur supaya kursi kedudukannya tidak lepas dari tangannya.
Orang pertama yang menyambut seruannya adalah Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah saw. sendiri, dan sahabat ‘Ali ibnu Abu Thalib, anak paman Rasulullah. Pada waktu itu sahabat ‘Ali berada dalam asuhan dan jaminan Rasulullah saw. Kisahnya bermula pada saat orang-orang Quraisy terkena paceklik, sedangkan Abu Thalib tidak mampu karena anaknya banyak. Maka Rasulullah saw. berkata kepada Al-Abbas ibnu ‘AbdulMuththalib, pamannya yang lain, “Sesungguhnya saudara engkau, Abu Thalib, banyak anaknya, sedangkan sekarang ini seperti yang engkau lihat sendiri sedang musim paceklik. Marilah kita pergi kepada Abu Thalib untuk meringankan bebannya, engkau mengambil seorang di antara anakanaknya, dan aku pun akan mengambil seorang anaknya pula.” Lalu mereka berdua berangkat menuju ke rumah Abu Thalib. Keduanya langsurz mengemukakan maksudnya, dan Abu Thalib pun mau menerima usul mereka berdua. Akhirnya Al-Abbas mengambil Ja’far ibnu Abu-Thalib, sedangkan Rasulullah saw. mengambil sahabat ‘Ali untuk dipelihara dalam jaminannya dan diperlakukan sama dengan anak-anaknya yang lain. Ketika ia diangkat menjadi nabi, umur sahabat ‘Ali telah mencapai usia balig. Sahabat ‘Ali selalu mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Ia belum pernah mengotori dirinya dengan perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah seperti menyembah berhala dan mengikuti kemauan hawa nafsu. Selain itu, yang menyambut pula ajakan Rasulullah saw. adalah Zaid ibnu Haritsah ibnu Syurahbil al-Kalbiy, bekas hamba sahaya Rasulullah saw. sendiri. Zaid dikenal pula dengan nama Zaid ibnu Muhammad karena sewaktu Rasulullah saw. membelinya, dia langsung memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak angkat. Pada saat itu anak angkat kedudukannya sama dengan anak sendiri dalam arti kata ia dapat mewarisi dan diwarisi. Yang juga menyambut ajakannya ialah Ummu Ayman, bekas pengasuhnya, yang kemudian dinikahkannya dengan Zaid, bekas hamba sahaya tadi.
Orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah saw. yang buka, dari kalangan ahli baitnya (keluarga Rasulullah sendiri) jalah Abu Baka ibnu Abu Quhafah ibnu ‘Amir ibnu Ka’b ibnu Sa’d ibnu Taim ibnu Murrah at-Taimi al-Qurasyi. Sebelum masa kenabian, Abu Bakar sangat akrab dengan Muhammad. Ia memiliki akhlak yang mulia dan belum pernah berkata dusta sejak ia bergaul dengan Rasulullah saw. Pada pertama kali ia menerima berita tentang pengangkatan Muhammad sebagai utusan Allah ia langsung percaya, dan berkata, “Demi ayah, engkau, dan ibuku, orang yang paling jujur adalah engkau, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan engkau adalah utusan-Nya.” Sahabat Abu Bakar r.a. termasuk orang terpandang di kalangan kaum Quraisy. Ia memiliki banyak harta dan berakhlak mulia. Ia termasuk orang yang paling dermawan di kalangan kaumnya dan baik dalam bergaul. Ia dicintai oleh kaumnya. Oleh sebab itu, Sahabat Abu Bakar dianggap oleh Rasulullah saw. sebagai wakilnya. Rasu. lullah saw. selalu bermusyawarah dengannya dalam semua hal. Rasulullah saw. pernah bersabda sehubungan dengan perihal Sahabat Abu Bakar r.a ini:
Aku belum pernah mengajak seseorang untuk masuk Islam melainkan masih menemui ganjalan padanya, terkecuali Abu Bakar.
Pada mulanya seruan Rasulullah saw. untuk mengajak mereka masuk Islam dilakukan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi. Rasulullah saw. melakukannya secara hati-hati karena khawatir orang-orang Arab menjadi kaget dengan adanya perkara yang berat ini, yang akibatnya sulit bagi mereka untuk masuk Islam. Oleh sebab itu Rasulullah saw. tidak menyeru selain kepada orang-orang yang benar-benar dapat dipercaya.
Sahabat Abu Bakar meniru jejak Rasulullah saw. Ia pun turut andil dalam menyerukan agama Islam dengan menyeru orang-orang yang dapat dipercaya dari kalangan kabilah Quraisy. Ternyata ajakannya ini mendapat sambutan hangat dari segolongan orang, antara lain dari ‘Utsman ibnu ‘Affan ibnul’Ash ibnu Umayah ibnu ‘Abdi Syams ibnu ‘Abdu Manaf al Umawiy al-Qurasyi. Tatkala Al-Hakam, paman Sahabat ‘Utsman, mengetahui tentang keislamannya, maka ia mengikatnya dengan kuat, lalu berkata , “Apakah engkau benci dengan agama nenek-moyang engkau lalu engkau memeluk agama yang baru itu? Demi Allah, aku tidak akan melepaskan ikatan ini sehingga engkau meninggalkan agama yang baru engkau peluk itu.” Lalu ‘Utsman menjawab” Demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya dan tidak akan berpisah daripadanya.” Setelah Al-Hakam melihat keteguhan hati “Utsman dalam memeluk agamanya, lalu ia mele paskan ikatannya. Al-Hakam sudah tua, tetapi, kelihatannya seolah-olah masih berumur tiga puluh tahun.
Yang juga menyambut seruan Nabi saw. ialah Az-Zubair ibnul’Awwam ibnu Khuwailid ibnu Asad ibnu ‘Abdul ‘Uzza ibnu Qushay alQurasyi. Ibunya adalah Shafiyah binti ‘Abdul-Muththalib. Paman Az-Zubair, sewaktu mendengar keponakannya masuk Islam, lalu mengikatnya dan menyekapnya dengan asap supaya ia kembali kepada agama nenekmoyangnya. Akan tetapi, Allah swt. meneguhkan hatinya. Pada saat itu AzZubair masih remaja dan belum mencapai usia balig. Yang lainnya lagi ialah ‘Abdur-Rahman ibnu ‘Auf ibnu ‘Abdu ‘Auf ibnul-Harits ibnu Zahrah ibnu Kilab al-Qurasyi al-Hasyimiy. Sebelum masuk Islam ia bernama ‘Abdu ‘Amr, kemudian namanya diganti oleh Rasulullah saw. menjadi ‘AbdurRahman.
Di antara mereka juga termasuk Sa’d ibnu Abu Waqqash Malik ibnu Uhaib ibnu ‘Abdu Manaf ibnu Zahrah ibnu Kilab az-Zuhri al-Qurasyi. Tatkala ibunya yang bernama Hamnah binti Abu Sufyan mengetahui tentang keislamannya, ia berkata kepada Sa’d, “Hai Sa’d, aku telah mendengar bahwa engkau telah memeluk agama yang baru (Islam). Demi Allah, aku sekarang tidak mau dinaungi oleh atap rumah biar kepanasan dan kedinginan sekalipun, dan makanan serta minuman kuharamkan atas diriku sehingga engkau ingkar terhadap Muhammad.” Hal itu berlangsung selama tiga hari tiga malam. Lalu Sa’d datang kepada Rasulullah saw. untuk mengadukan perihal ibunya itu. Turunlah firman Allah sebagai pemberitahuan untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu:
Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Kulah kembali kalian, lalu Aku kabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (Q.S. 29 AlAnkabut: 8)
Allah swt. berpesan kepada Sa’d agar berbuat baik terhadap kedua orang tuanya, dan Dia memerintahkan supaya ia tetap memuliakan ibu-bapaknya, baik mereka berdua mukmin ataupun kafir. Adapun jika keduanya memerintahkan Sa’d’ supaya berbuat musyrik, maka perbuatan maksiat dilarang sama sekali oleh-Nya. Sebab sesungguhnya, betapa pun besarnya kewajiban, menjadi gugur di hadapan perbuatan maksiat, karena pada prinsipnya tiada ketaatan bagi makhluk untuk berbuat maksiat terhadap Khaliqnya. Selanjutnya Allah swt. menegaskan dalam ayat tersebut bahw, “hanya kepada Akulah tempat kembali kalian, baik kalian beriman atay musyrik, maka Aku akan membalas kalian sesuai dengan pembalasan yang berhak kalian terima.” Pada akhir ayat ini terkandung dua kesimpular yang sangat penting, yaitu:
Pertama: Suatu pe.ingatan yang menyatakan bahwa masalah pem. balasan itu berada di tangan kekuasaan Allah, maka jangan sekali-kali engkau mempunyai niat untuk berlaku keras terhadap mereka berdua yang disebabkan oleh kemusyrikan mereka.
Kedua: Anjuran untuk tetap teguh dalam memegang agama dan iman supaya jangan mendapat balasan yang buruk kelak di akhirat
Di antara mereka lagi yang menyambut dengan segera seruan Rasulul. lah saw. jalah Thalhah ibnu “Ubaidillah ibnu ‘Utsman ibnu ‘Amr ibnu Ka) ibnu Sa’d ibnu Taim ibnu Murrah at-Taimi al-Qurasyi. Sebelumnya Thal. hah ibnu “Ubaidillah telah mengetahui berita tentang Rasulullah saw. dan sifat-sifatnya dari para rahib. Tatkala Sahabat Abu Bakar mengajaknya masuk Islam, ia telah mendengar secara langsung dari Rasulullah saw. tentang wahyu yang diturunkan Allah kepadanya, dan ia melihat agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. mempunyai hujjah yang kuat serta jauh dari kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang Arab, maka ia segera masuk Islam.
Di antara mereka yang pertama masuk Islam terdapat juga Shuhaib ar-Rumi, bekas hamba sahaya, dan ‘Ammar ibnu Yasir al-‘Anasi. ‘Ammar ibnu Yasir r.a. pernah mengatakan, “Aku melihat Rasulullah saw. pada permulaan dakwahnya hanya diikuti oleh lima orang hamba sahaya, dua orang wanita, dan Sahabat Abu Bakar.” Demikian pula ayahnya yang bernama Yasir serta ibunya yang bernama Sumayyah masuk Islam mengikuti jejak anaknya.
Yang paling dahulu masuk Islam lainnya ialah Sahabat ‘Abdullah ibnu Mas’ud. Semula ia seorang penggembala ternak milik orang musyrik dari kabilah Quraisy. Tatkala ia mendengar ayat-ayat yang cemerlang dan ajakan yang diserukan oleh Rasulullah saw., ia langsung meninggalkan berhala-berhala yang dahulu disembah-sembahnya, kemudian ia selalu mendampingi Rasulullah saw. Sejak saat itu Sahabat ‘Abdullah ibnu
Masud sering mengunjungi Rasulullah saw., dan tiada satu pun yang menghalang-halanginya untuk bertemu dengan Rasulullah. Bila Rasulullah saw. berjalan, Ibnu Mas’ud selalu mengawalnya: dan bila Rasulullah mandi, maka Ibnu Mas’udlah yang menutupinya. Bilamana Rasulullah saw. tidur, dialah yang membangunkannya, dan dia pulalah yang memakaikan alas kakinya bila Rasulullah saw. hendak bangun, dan bilamana Rasulullah saw. duduk, maka Ibnu Mas’ud memegang kedua alas kaki itu pada kedua hastanya.
Yang lain lagi yang paling dahulu masuk Islam ialah Sahabat Abu Dzar al-Ghifari. Dia adalah seorang Arab yang tinggal di daerah pedalaman, fasih gaya bahasanya dan manis tutur katanya. Tatkala telah sampai kepadanya berita tentang diutusnya Rasulullah saw., lalu ia berkata kepada saudara lelakinya, “Naikilah kendaraanmu untuk menuju ke lembah ini, kemudian berikanlah keterangan dan penjelasan kepadaku tentang seorang lelaki yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi yang diberi wahyu dari langit, kemudian dengarlah percakapannya, lalu ceritakan olehmu semuanya kepadaku.” Saudara lelaki Abu Dzar segera berangkat ke Makkah. Ia mendengar apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. Setelah itu ia kembali menemui Abu Dzar dan berkata kepadanya, “Aku lihat dia memerintahkan kepada umat manusia agar berakhlak mulia, dan ia mengatakan kalam yang bukan syair.” Abu Dzar menjawab,” Aku masih belum puas dengan keteranganmu itu.” Lalu Abu Dzar segera membawa bekal dan sebuah Qirbah (tempat air minum) air dan berangkat ke Makkah. Ketika sampai di Makkah, ia langsung menuju ke Masjidil-Haram. Ia mencari Nabi saw., tetapi ia masih belum kenal kepadanya, dan ia pun tidak pula mau bertanya kepada orang lain karena ia telah mengetahui bahwa orang-orang Quraisy membenci orang yang ingin berbicara dengan Rasulullah saw. Manakala malam hari tiba, ia diketahui oleh Sahabat ‘Ali bahwa dia adalah orang asing. Lalu Sahabat ‘Ali menerimanya sebagai tamu, tetapi baik Sahabat ‘Ali maupun Abu Dzar tidak saling menanya karena memang demikianlah etika menghormati tamu di kalangan bangsa Arab pada masa itu. Mereka tidak mau menanyakan kepada tamunya tentang maksud kedatangannya kecuali setelah tiga hari ia berada di rumah mereka. Keesokan harinya Abu Dzar membawa girbah dan bekalnya, lalu berangkat menuju ke Masjidil Haram. Pada hari itu ia selalu berada di dalam Masjid, tetapi ia masih juga belum bertemu dengan Rasulullah hingga sore harinya. Setelah hari sore dan menjelang malam, lalu ia kembali ke tempat istirahatnya, tetapi Sahabat ‘Ali di Masjid bertemu lagi dengannya. Sahabat ‘Ali berkata dalam hati, “Sekarang sudah tiba saatnya menanyakan orang ini untuk mengetahui tempat ia bermalam kemarin sebagai tamuku.” Kemudian Sahabat ‘Ali membangunkannya dan mengajaknya pergi ke tempat ia menginap tadi malam. Mereka berdua tidak saling menanya. Pada hari yang ketiganya, setelah Sahabat ‘Ali melakukan hal yang serupa, lalu ia bertanya kepada Abu Dzarg, “Tidakkah engkau ceritakan kepadaku apa maksud kedatangan engkau.” Abu Dzar menjawab, “Jika engkau berjanji bersedia memberikan petunjuk kepadaku, aku bersedia mengemukakan tujuanku kepada engkau.” Ternyata Sahabat ‘Ali bersedia Maka Abu Dzar menceritakan tujuannya. Setelah Sahabat ‘Ali mendengar tujuannya, segera ia berkata, “Sesungguhnya dia (Muhammad) memang benar utusan Allah. Untuk itu, pagi hari nanti engkau harus mengikutiku, dan jika aku melihat sesuatu yang aku khawatir akan membahayakan diri engkau, aku akan melakukan gerakan seolah-olah menuangkan air. Bila ternyata aku terus berjalan tanpa rintangan, hendaknya engkau tetap mengikutiku sehingga engkau memasuki rumah yang aku masuki.” Keduanya mengerjakan hal yang telah disepakati itu. Maka Abu Dzar berangkat mengikuti Sahabat ‘Ali sehingga memasuki rumah tempat Rasulullah saw. berada. Setelah memasuki rumah itu Abu Dzar langsung bertemu dengan Rasulullah saw. dan mendengar langsung daripadanya. Maka segera Abu Dzar masuk Islam. Sesudah masuk Islam, Rasulullah berkata kepadanya, “Sekarang kembalilah kepada kaum engkau, dan sampaikanlah berita ini kepada mereka sehingga utusanku datang menemui engkau di sana.” Abu Dzar menjawab, “Demi Zat yang jiwaku ini berada di dalam kekuasaanNya, niscaya aku akan menjelaskan secara terang-terangan di hadapan mereka.” Kemudian Abu Dzar keluar hingga sampai di Masjidil-Haram, lalu ia berseru dengan sekuat suaranya, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.” Semua orang bangkit dan memukulinya hingga ia terkapar, lalu datanglah Al-‘Abbas menelungkupinya untuk melindunginya dari pukulan orang banyak seraya berkata, “Celakalah kalian. Tidakkah kalian tahu bahwa dia dari Bani Ghiffar? Tidakkah kalian tahu bahwa jalur perdagangan kalian ke negeri Syam melalui kampung halamannya?” Akhirnya Al-‘Abbas berhasil menyelamatkan Abu Dzar dari tangan mereka. Kemudian pada keesokan harinya Abu Dzar melakukan hal yang serupa, maka semua orang memukulinya lagi, tetapi Al Abbas membelanya. Demikianlah riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari.
Setelah Abu Dzar masuk Islam, dia terkenal sebagai orang yang paling jujur dalam berbicara dan paling zuhud (menjauhi) terhadap masalah duniawi.
Orang lainnya lagi yang paling dahulu masuk Islam ialah Sa’id ibnu Zaid al-‘Adawiy al-Qurasyi. Ia mempunyai dua orang istri, yaitu Fathimah binti al-Khaththab, saudara perempuan ‘Umar, dan Ummul Fadhl atau Lubabah binti al-Harits al-Hilaliyah, bekas istri al Abbas ibnu ‘AbdulMuththalib. ‘Ubaidah ibnul-Harits ibnu ‘Abdul-Muththalib ibnu Hasyim adalah saudara misan Rasulullah saw. Abu Salamah ibnu ‘Abdullah ibnu ‘Ahdul-Asad al-Makhzumi al-Qurasyi adalah anak bibi Rasulullah saw., sedangkan istrinya bernama Ummu Salamah. Kemudian ‘Utsman ibnu Mazh’un al-Jumahiy al-Qurasyi dan dua orang saudara lelakinya, Qudamah dan ‘Abdullah, dan al-Argam ibnul-Argam al-Makhzumi al-Qurasyi.
Yang lainnya lagi lebih dahulu masuk Islam ialah Khalid ibnu Sa’id ibnul-‘Ash ibnu Umayyah ibnu ‘Abdu Syams al-Umawi al-Qurasyi. Ayah Khalid adalah seorang pemimpin terkemuka kabilah Quraisy. Bila ia terlambat menyuguhi tamu, maka orang-orang Quraisy bergegas menyuguhi tamunya demi menghormati kedudukannya. Pada mulanya Khalid ibnu Sa’id bermimpi dalam tidurnya seolaholah dirinya akan terjatuh ke dalam suatu jurang yang dalam sekali, tetapi ia ditolong oleh Rasulullah hingga selamat. Keesokan harinya ia datang menemui Rasulullah dan bertanya, “Apakah yang engkau serukan itu, ya Muhammad?” Rasulullah saw. menjawab, “Aku mengajak engkau untuk beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Hendaknya engkau berhenti dari apa yang sekarang engkau lakukan, yaitu menyembah berhala yang tidak dapat mendengar dan melihat serta tidak dapat memberikan madarat dan manfaat, dan hendaknya engkau berbuat baik kepada kedua orang tuamu. Janganlah engkau membunuh anak engkau karena takut miskin, janganlah engkau melakukan perbuatan zina, baik terang-terangan maupun secara tersembunyi, janganlah engkau membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah membunuhnya kecuali dengan alasan yang hak: dan janganlah engkau mendekati harta anak yatim kecuali dengan maksud yang lebih baik sehingga anak yatim itu mencapai usia balig, Hendaknya engkau menunaikan takaran dan timbangan secara adil: hendaknya engkau berlaku adil dalam keputusan engkau jika diserahi tugas untuk memutuskan sekalipun terhadap kerabat engkau sendiri, dan hendaknya engkau menunaikan janji dengan orang yang mengadakan perjanjian dengan engkau.” Akhirnya Khalid ibnu Sa’d masuk Islam, dan sejak saat itu ayah Khalid marah sekali, lalu dihukumnya Khalid hingga tidak diberinya makan. Sejak ia tidak diberi makan oleh orang tuanya, ia pergi menemui Rasulullah saw. dan selalu bersamanya. Ditinggalkannya orang tuanya itu untuk hidup bersama Rasulullah di pinggiran kota Makkah. Tidak berapa lama kemudian saudara lelakinya yang bernama ‘Amr ibnu Sa’id mengikuti jejak saudaranya masuk Islam.
Demikianlah orang-orang mulia tersebut masuk agama Islam. Pada saat itu Rasulullah saw. tidak mempunyai kekuatan yang dapat dijadikan sebagai senjata guna menekan mereka untuk taat kepadanya dalam keada an menyerah. Rasulullah pun tidak memiliki hal-hal yang menyenangkan hati mereka sehingga mereka rela meninggalkan orang-orang tua mereka untuk mengikuti Rasulullah saw. dan memakan kelebihan harta yang dimiliki oleh Rasulullah. Bahkan kebanyakan dari mereka yang masuk Islam terdiri dari orang-orang yang jauh lebih kaya daripada Rasulullah saw. sen. diri, yaitu seperti Abu Bakar, ‘Utsman, Khalid ibnu Sa’id. Adapun para pengikut Rasulullah saw. yang terdiri dari kalangan hamba sahaya lebih senang memilih disakiti, lapar, dan hidup susah. Sekiranya mereka mau mengikuti majikan-majikan mereka, niscaya kehidupan mereka di dunia ini lebih nikmat dan lebih menyenangkan bagi mereka. Tiada lain hal tersebut berkat adanya hidayah dari Allah swt. dan munculnya cahaya agama Islam dalam hati mereka sehingga mereka menyadari kesesatan yang selama ini mereka lakukan, lalu mereka mengikuti hidayah Rasulullah saw. dengan sukarela.









One Comment