PERSAUDARAAN ISLAM
Barang siapa memperhatikan kecintaan ini, mustahil disebabkan oleh pe ngaruh manusia, tetapi berkat kemurahan dan rahmat Allah swt., dan niscaya ia akan memahami mengapa mereka mampu menang melawan kaum musyrikin dan kaum ahli kitab yang menentangnya sekalipun bilangan dan perlengkapan mereka sedikit.
Orang Anshar lebih mementingkan kaum Muhysjirin daripada diri mereka sendiri seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya:
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. 59 Al-Hasyr: 9)
Ini jelas merupakan derajat persaudaraan yang paling tinggi. Semua perlakuan itu dianggap oleh sahabat Anshar masih belum memadai kewajiban yang harus mereka suguhkan kepada kaum Muhajirin. Hal ini berkat pengaruh Rasulullah saw. yang mampu mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, sehingga setiap orang Anshar bersama tamu Muhajirinnya merupakan dua saudara karena Allah swt. Sia-sialah jika kami memaksakan diri untuk menjelaskan kepada para pembaca bahwa persaudaraan ini lebih tinggi rasa solidaritasnya daripada persaudaraan kefanatikan. Akan tetapi, hal tersebut tiada lain adalah berkat perasaan Islam yang telah memateri di hati mereka. Hanya kenyataan inilah yang dapat kami ungkapkan.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa hati mereka telah dipersatukan oleh Allah swt. sehingga seolah-olah mereka adalah satu hati sekalipun jasad mereka berbeda. Mudah-mudahan saja Allah swt. mempersatukan pula hati umat Islam pada zaman kita sekarang, sehingga mereka memiliki pengaruh seperti pengaruh yang dimiliki oleh kaum Muslimin zaman dahulu yang telah bersatu.
Persaudaraan ini berlandaskan asas saling menolong menegakkan perkara yang hak, dan hendaknya mereka saling mewarisi sekalipun tanpa adanya hubungan kekerabatan.
Rasulullah saw. berpesan kepada setiap dua orang di antara mereka (seorang Muhajir dan seorang Anshar):
Bersaudardiah kalian berdua di jalan Allah setiap dua orang bagaikan dua bersaudara.
Sistem pewarisan ini terus berlangsung pada permulaan Islam sehingga turunlah firman Allah swt.: :
Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain
lebih berhak (waris-mewaris) dalam kitab Allah ….. (Q.S. 33 Al. Ahzab: 6)









One Comment