Sejarah

Terjemahan Kitab Nurul Yaqin

BUDI PEKERTI RASULULLAH SAW.

Allah swt. telah menganugerahkan kepada Nabi kita semua kesempurnaan dunia dan akhirat yang belum pernah dianugerahkan kepada siapa pun, baik sebelum ataupun sesudahnya. Sudah merupakan keharusan bagi kami untuk mengemukakan dalam bab ini ) sekilas mengenai sifat-sifat yang baik dari Rasulullah dan akhlak-akhlaknya yang mulia. Hal ini dimaksudkan supaya dapat dijadikan teladan oleh para pembaca yang budiman sehingga barangsiapa yang mengikuti jejaknya, maka ia akan berhak mendapat pujian di dunia dan pahala di akhirat.

Perlu diketahui, semoga Allah memberikan bimbingan kepada diriku dan pembaca sekalian, semoga Dia memberikan petunjuk kepada kita kejalan yang lurus, bahwa perilaku yang agung lagi sempurna bagi manusia itu ada dua macam, yaitu: 1. Bersifat pembawaan sejak lahir karena merupakan kebutuhan yang mutlak bagi kehidupan manusia. 2. Bersifat kasbi lagi keagamaan, yaitu perilaku yang pelakunya terpuji, dan hal ini dapat dijadikan sebagai amal takarrub kepada Allah swt. Adapun perilaku yang bersifat pembawaan, yang dimaksud adalah hal yang tidak ada pilihan serta tidak ada upaya bagi orang yang bersangkutan sehubungan dengan keberadaannya. Yaitu seperti pembawaan yang terdapat di dalam diri Rasulullah berupa bentuk yang sempurna, indah penampilan, kekuatan daya pikir, pemahaman yang benar, lisan yang fasih, pancaindera dan anggota tubuh yang kuat, gerak yang seimbang, keturunan yang terhormat, kaum dan tempat tinggal yang mulia. Termasuk pula ke dalam kategori ini hal-hal yang merupakan kebutuhan pokok hidup seperti makanan, tidur, pakaian, tempat tinggal, harta benda, dan kedudukan.

Adapun mengenai hal-hal yang bersifat kasbi lagi ukhrawi semuanya berupa akhlak dan etika yang luhur seperti kuat beragama, memiliki ilmu, penyantun, sabar, bersyukur, adil, zuhud dan rendah diri, pemaaf, memelihara kehormatan, dermawan, pemberani, pemalu, berharga diri, pendiam, tenang dalam segala hal, anggun, belas kasihan, baik dalam bergaul, dan hal-hal lain yang tercakup ke dalam akhlak yang baik. Bilamana engkau melihat, semoga Allah memelihara diri watak-watak sempurna yang bersifat bukan kasbi dan terkandung di dalam fitrah kejadian, niscaya engkau akan menemukan semua seginya yang baik terdapat di dalam diri Rasulullah saw.

Adapun mengenai penampilannya, kegantengannya, dan keserasian bentuknya yang begitu indah, telah banyak disebutkan oleh atsar-atsar yang sahih dan terkenal lagi cukup banyak. Disebutkan bahwa warna kulit Rasulullah itu putih kemerah-merahan, bagian hitam bola matanya cukup besar, matanya lebar tapi indah, warna putih matanya dicampuri warna kemerah-merahan, bulu matanya tebal, wajahnya selalu tampak bercahaya dan berseri-seri, alis matanya tipis tetapi memanjang, hidungnya mancung, wajahnya bundar, keningnya lebar, dan janggutnya lebat, keriting dan tidak terlalu panjang. Perutnya rata (tidak buncit), dadanya bidang, pundaknya kekar, tulangnya besar, lengan dan hastanya kekar, telapak tangannya lebar demikian pula telapak kakinya, dan jari-jemarinya cukup panjang tetapi memadai, dadanya berbulu, dan tingginya sedang tidak terlalu tinggi dan pula tidak pendek. Sekalipun demikian, siapa pun yang berjalan bersamanya, yang terbilang orang yang tinggi, Nabi saw. kelihatan lebih tinggi. Dia selalu menyisir rambutnya. Apabila tertawa, kelihatan wajahnya bercahaya bagaikan kilatan petir dan bagaikan butiran air hujan. Apabila berkata, maka kelihatan seolah-olah ada cahaya yang keluar dari gigi serinya. Bentuk lehernya paling baik, tidak terlalu gemuk dan tidak kurus, badannya kekar dan tidak gemuk. Al-Barra ibnu ‘Azib menceritakan: Aku belum pernah melihat seseorang yang memiliki Cambang yang hitam disemir warna merah lebih indah dari milik Rasulullah saw. Sahabat Abu Hurairah r.a. telah menceritakan pula: Aku belum pernah melihat wajah yang lebih indah daripada wajah Rasulullah, seolah-olah bagaikan matahari yang memancarkan sinar nya, dan apabila tertawa maka nampaklah wajahnya gemerlapan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Halah disebutkan: Wajah Rasulullah selalu tampak gemerlapan bagaikan rembulan pada tanggal lima belas. Sahabat ‘Ali r.a. mengatakan pada akhir kalimatnya sewaktu ia menggambarkan diri Rasulullah saw.: Barang siapa yang melihatnya sekilas, niscaya ia takut terhadapnya, dan barang siapa yang telah bergaul mengenalnya, niscaya akan mencintainya. Orang yang menggambarkan tentang bentuknya niscaya mengatakan, aku belum pernah melihat seseorang yang mirip dengan Rasulullah, baik sebelum melihatnya ataupun sesudahnya. Adapun mengenai kebersihan tubuhnya, bau harum tubuhnya, keringatnya, kesuciannya dari kotoran-kotoran, dan kerapiannya dalam menutupi aurat tubuh, merupakan karunia Allah yang khusus diberikan kepada dirinya dan tidak terdapat pada orang lainnya. Kemudian hal ini disempurnakan pula dengan kebersihan dalam bersyariat. Rasulullah saw. telah bersabda: Agama itu berlandaskan kebersihan. Sahabat Anas ibnu Malik pernah mengatakan: Aku belum pernah mencium bau minyak wangi dan tidak pula minyak kesturi serta wewangian yang lain yang lebih wangi daripada bau tubuh Rasulullah. Sahabat Jabir menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. mengusap pipinya. Selanjutnya Jabir berkata, “Terasa tangannya ketika menyentuh pipiku begitu sejuk dan harum, seolah-olah tangan tersebut baru dikeluarkan dari tempat minyak wangi.” Sedangkan dalam riwayat yang lain ditambahkan bahwa apakah tangannya itu menyentuh wewangian sebelumnya atau tidak, tangannya tetap berbau harum. Seseorang yang menjabat tangannya, tangan dia akan tetap berbau harum seharian penuh. Umpamanya dia menaruh telapak tangannya pada kepala anak kecil, niscaya anak kecil itu mengetahui bahwa bau wangi tersebut bekas berjabat tangan dengan Rasulullah. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab tarikhnya melalui Sahabat Jabir r.a.:

Belum pernah Nabi saw. melalui suatu jalan, kemudian bekasnya diikuti oleh seseorang, dia tidak mengetahui bahwa Rasulullah baru saja melewati jalan itu karena tercium dari baunya yang wangi. Ditinjau dari kecerdesan akal, pandangan mata hatinya yang tajam, kekuatan pacainderanya, kefasihan lisannya, keseimbangan semua gerakgeriknya, dan kebaikan penampilannya, tidak diragukan lagi bahwa dia orang yang paling cerdas dan paling pandai. Barang siapa memperhatikan pengaturannya terhadap perkara batiniah dan lahiriah makhluk, serta kebijaksanaannya dalam mengatur masyarakat umum, penampilan dan gerak-geriknya yang menakjubkan itu, terlebih lagi bila dibarengi pula dengan ilmu yang dimilikinya dan keputusan syara’ yang telah ditetapkannya tanpa mengalami proses belajar terlebih dahulu dan pula tanpa proses latihan serta tanpa membaca kitab-kitab, maka kesan pertama yang terlintas pada dirinya tidak meragukan lagi tentang kecemerlangan akal dan ketajaman pandangannya dalam segala hal.

Apabila Rasulullah saw. melakukan salat, dia dapat melihat orang yang di belakangnya sebagaimana dia melihat seseorang yang berada di hadapannya. Berdasarkan pengertian ini, ada seorang mufassir yang mengartikan firman-Nya dengan pengertian tersebut:

Dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Q.S. 26 Asy-Syu’ara: 219)

Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. dapat melihat di dalam gelap sebagaimana dia melihat di dalam terang. Dia pernah menghitung bahwa jumlah bintang Tsurayya itu ada sebelas. Banyak hadis yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. pada suatu hari mengajak Rukanah masuk Islam. Rukanah adalah orang yang paling kuat pada masa itu. Akan tetapi, Rukanah menolak kecuali bila Nabi saw. dapat mengalahkannya dalam bergulat. Akhirnya beliau dapat menjatuhkannya.

Sahabat Abu Hurairah r.a. dalam salah satu hadisnya menceritakan: Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih cepat jalannya daripada Rasulullah saw., seolah-olah bumi ini melipatkan diri untuknya.

Sesungguhnya kami sangat payah mengimbanginya dalam berjalan, sedangkan dia tidak menghiraukannya sama sekali.

Sehubungan dengan sifat Rasulullah saw. telah disebutkan bahwa tertawanya hanyalah berupa senyuman: bilamana berpaling, tubuhnya pun ikut memalingkan dirinya, dan bilamana berjalan, langkah-langkahnya tegap. Adapun mengenai kefasihan lisan dan paramasastra pembicaraannya dia menduduki tempat paling utama. Gaya bahasa Rasulullah saw. dalam percakapannya mudah dicerna, lihai dalam membuat istilah, ringkas, fasih, anggun, makna yang tepat dan tidak dibuat-buat. Dia dianugerahi kalimat-kalimat yang bermakna global dan mempunyai keistimewaan lihai dalam membuat kata-kata yang bijak serta mempunyai pengetahuan yang mencakup semua dialek bahasa Arab.

Dia selalu berbicara dengan setiap kabilah sesuai dengan dialek yang mereka pakai dan menyaingi paramasastra mereka, serta berbicara dengan bahasa yang populer di kalangan mereka, sehingga banyak sahabat yang bertanya kepadanya tentang arti dan penafsiran pembicaraannya, bukan hanya satu-dua kali. Barang siapa merenungkan pembicaraannya dan menekuninya, niscaya ia akan mengetahui dan dapat membuktikan hal tersebut. Pembicaraan Nabi saw. dengan orang-orang Quraisy tidaklah seperti pembicaraannya dengan kabilah-kabilah Hadhramaut, raja-raja negeri Yaman, dan para penguasa negeri Najed. Dia selalu berbicara terhadap setiap kabilah sesuai dengan apa yang dianggap baik di kalangan mereka dalam hal kata-kata dan paramasastranya. Dengan demikian Nabi saw. dapat menjelaskan kepada mereka apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya dia dapat berbicara dengan mereka sesuai dengan apa yang biasa berlaku di kalangan mereka.

Adapun mengenai pembicaraan sehari-harinya, kefasihan bahasanya yang mudah dipahami dan keglobalan pembicaraannya banyak dihimpun di dalam kitab-kitab, dan lafazh-lafazh serta makna-maknanya diabadikan di dalamnya. Di antaranya adalah pembicaraan-pembicaraan yang langka tandingannya dalam hal kefasihan bahasa dan paramasastranya seperti kata-katanya:

Darah kaum Muslimin itu sebanding, orang yang paling rendah dari mereka dapat memberikan jaminannya, mereka bagaikan satu tangan terhadap orang-orang selain mereka. Perkataan-perkataan Rasulullah saw., Manusia itu bagaikan gigi-gigi sisir.

Seseorang itu (kelak di akhirat) akan bersama orang yang dicintainya.

Tiada baiknya engkau berteman dengan seseorang yang memandang dirimu tidak sebagaimana pandanganmu terhadap dirinya.

Manusia itu bagaikan benda-benda dari logam.

Tidaklah akan binasa seseorang yang mengetahui bobot dirinya.

Penasihat itu orang yang dipercaya.

Semoga Allah mengasihi seorang hamba yang berkata baik kemudian ia memperoleh kebaikan, atau ia diam kemudian memperoleh keselamatan.

Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat: dan masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberi pahala dua kali lipat kepadamu.

Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat tempat kedudukannya di antara kalian kelak pada hari kiamat ialah di antara kalian yang paling baik akhlaknya lagi merendahkan diri, yaitu orang-orang yang mencintai orang lain dan dicintai oleh orang lain.

Supaya ia mengatakan apa yang tidak ada urusan dengannya atau bersikap bakhil terhadap apa yang ia telah berkecukupan daripadanya.

Orang yang bermuka dua kelak (pada hari kiamat) tidak akan dapat berhadapan dengan Allah.

Demikian pula perkataan Rasulullah saw. sehubungan dengan larangannya terhadap perbuatan gil dan gal, banyak bertanya, gemar menyianyiakan harta, dan larangannya terhadap perbuatan hat (berikanlah), menyakiti ibu, dan mengubur anak-anak perempuan hidup-hidup.

Rasulullah saw. telah bersabda:

Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada: imbangilah perbuatan buruk dengan amal baik, niscaya amal baik akan menghapus perbuatan buruknya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. Dan perkara yang sebaik-baiknya adalah yang paling perte. ngahan.

Cintailah kekasihmu biasa saja, barangkali dia kelak akan menjadi orang yang engkau benci. Perbuatan zalim itu (akan menjadi) kegelapan yang pekat pada hari kiamat (nanti).

Rasulullah saw. dalam salah satu doanya mengatakan:

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu rahmat yang dapat memberikan petunjuk kepada hatiku, yang dapat menghimpun perkaraku, yang dapat merapikan kekacauanku, yang dapat memperbaiki semua keinginanku, yang dapat membersihkan amalku, yang dapat memberikan ilham kepada jalan petunjuk, yang dapat mengembalikan kecintaanku, dan yang dapat memelihara diriku dari semua perbuatan jelek. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu keberuntungan di dalam gadha-Mu, kedudukan para syuhada, kehidupan yang bahagia, dan kemenangan atas musuh-musuh(-Mu).

Masih banyak lagi hal lain yang diceritakan oleh para ulama tanpa kecuali berupa ceramah-ceramah, khotbah-khotbah, doa-doa, surat-surat, dan perjanjian-perjanjian yang telah dibuatnya. Semuanya itu secara sepakat menyimpulkan bahwa Nabi saw. dalam hal ini menduduki tempat yang tiada bandingannya dan menjadi pendahulu yang tak dapat digambarkan keagungannya.

Pada suatu hari para sahabat berkata kepada Rasulullah saw. “Kami belum pernah melihat seseorang yang lebih fasih dasipada engkau.” Rasulullah saw. menjawab, “Tiada sesuatu pun yang dapat mencegahku karena sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan memakai bahasaku, yaitu bahasa Arah yang jelas.” Dalam riwayat yang lain ditambahkan, “Hanya saja aku berasal dari kabilah Quraisy dan aku ditumbuhkan di Kalangan Bani Sa’d.” Dengan demikian terhimpunlah di dalam dirinys daya talar bahasa orang Badui dan keanggunan gaya bahasanya. Hal ter

sebut dibarengi pula oleh kecemerlangan kata-kata orang perkotaan dav keindahan gaya bahasanya. Hal itu diperkuat oleh dukungan Illahi melalw wahyu-Nya yang tidak dapat diliputi oleh ilmu manusia.

Adapun mengenai keagungan nasab (keturunan) Nabi saw. dan kemujaan negeri tempat ia dibesarkan tidak perlu bukti lagi karena sudah jelas dan tidak diragukan. Rasulullah saw. berasal dari keturunan Bani Hasyim, salah satu golongan dari kabilah Quraisy, dan bahkan merupakan intinya. Ayah dan ibu Rasulullah saw. berasal dari golongan orang Arab yang paling terhormat dan paling dimuliakan, dan tempat kelahirannya adalah kota Makkah yang disucikan oleh Allah swt. buat hamba-hambaNya. Penjelasan secara rinci telah kami kemukakan pada permulaan kitab ini, karena itu kami tidak akan mengulanginya kembali.

Adapun mengenai hal-hal yang terdorong oleh keharusan dalam hidup, sikap Rasulullah saw. dalam hal ini antara lain ada yang dinilai utama bilamana sedikit, dan ada yang dinilai utama bilamana banyak, dan ada pula hal-hal yang penilaiannya bergantung pada situasi dan kondisi. Mengenai jenis yang pertama, yaitu sesuatu yang dinilai utama bilamana sedikit, menyangkut masalah makan dan tidur.

Sehubungan dengan kedua hal itu orang-orang Arab dan orang-orang yang bijak pada zaman dahulu menganggap bahwa mengurangi diri dari kedua hal tersebut merupakan suatu hal yang terpuji, sedangkan memperbanyak diri dari kedua hal tersebut merupakan hal yang tercela. Terlalu banyak makan dan minum mencerminkan bahwa pelakunya berwatak rakus, tamak, buas, dan selalu memperturutkan kemauan hawa nafsu, dapat menyebabkan kemudaratan di dunia dan akhirat, mengundang banyak penyakit pada tubuh, kekeruhan dalam jiwa, dan tersumbatnya pemikiran. Mempersedikit diri dalam hal tersebut merupakan cermin bahwa pelakunya bersifat menerima apa adanya, dapat menguasai diri, dan dapat menekan hawa nafsunya. Kemudian hal ini akan mendatangkan kesehatan, kejernihan hati, dan ketajaman berpikir. Sebagaimana terlalu banyak tidur merupakan cermin yang menunjukkan bahwa pelakunya orang yang malas, lemah, tidak pandai, dan tidak cerdik. Tentu saja kebanyakan tidur dapat menyebabkan malas, lemah, menyia-nyiakan umur untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, dapat menyebabkan hati menjadi keras, lali, dan mati

Sehubungan dengan hal ini Rasulullah saw. berkata dalam salah satu hadis:

Tiada wadah yang dipenuhi oleh anak Adam (manusia) yang lebih jelek daripada perutnya sendiri. Cukuplah bagi anak Adam hanya beberapa suap (makanan) guna menegakkan tulang shulbinya (menguatkan badannya). Apabila tidak ada pilihan lain baginya, maka sepertiga dari (perut)-nya untuk makanannya, dan sepertiga lagi untuk minumannya, serta sepertiga yang lain untuk napasnya.

Lagi pula banyaknya tidur itu diakibatkan oleh terlalu banyak makan dan minum. Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa perut Nabi saw. sama sekali belum pernah penuh karena kekenyangan. Bilamana berada di rumah istri-istrinya, ia belum pernah meminta kepada mereka makanan, dan tidak pula mengemukakan keinginannya untuk makan. Bilamana mereka memberinya makan, ia memakannya: dan bilamana mereka tidak memberinya makan, ia diam saja, dan bilamana mereka memberinya minum, ia minum. Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan bahwa Nabi saw. pernah berkata:

Adapun aku, belum pernah makan sambil bersandar.

Pengertian kata al-ittika (bersandar) pada hadis di atas ialah duduk dengan posisi yang memberikan keleluasaan untuk makan banyak, seperti bersila dan cara duduk yang serupa. Duduk dalam posisi tersebut dapat memberikan dorongan untuk makan banyak, dan sesungguhnya duduk yang dilakukan oleh Rasulullah saw. ketika makan ialah duduk dalam posisi yang tidak memberikan keleluasaan untuk makan banyak. Nabi saw. berkata:

Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, aku makan bagaikan seorang hamba sedang makan.

Demikian pula tidur Rasulullah saw. sangat sedikit. Dalam hal ini ia telah berkata pula:

Sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur. Adapun mengenai hal-hal yang dinilai utama bilamana banyak, sebagai contohnya ialah kedudukan. Kedudukan merupakan suatu hal yang terpuji di kalangan orang-orang yang berakal, demikianlah kebiasaannya. Ia ditentukan oleh kadar kehormatan dan keagungan seseorang di hati orangorang banyak. Sehubungan dengan hal ini Allah swt. berfirman mengenai sifat Nabi ‘Isa a.s., yaitu :

Seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat. (Q.S. 3 Ali ‘Imran: 45)

Nabi saw. telah dianugerahi sifat disegani, dikagumi oleh hati masyarakat, dan diagungkan. Hal ini telah menyatu dengan pribadinya sejak Zaman Jahiliah dan sesudahnya. Kaumnya mendustakan dan menyakiti para sahabatnya serta secara diam-diam mereka bermaksud mencelakakannya. Apabila mereka bertujuan demikian, lalu berhadap-hadapan dengannya, maka keadaan menjadi sebaliknya, lalu mereka segan terhadapnya dan mau memberikan kepadanya apa yang diperlukannya seperti yang sering kami sebutkan di muka.

Seseorang yang belum pernah mengenalnya, ketika pertama kali memandangnya ia langsung akan gemetar dan gugup karena melihatnya, seperti sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qublah. Disebutkan dajam hadis tersebut bahwa ketika pertama kali QGublah melihat Nabi saw. ia menjadi gugup dan gemetar, lalu Rasulullah saw. berkata kepadanya:

Kasihan engkau ini, tenanglah.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Mas’ud disebutkan bahwa ada seorang lelaki ketika berhadapan dengan Rasulullah saw. karena ada suatu keperluan, tiba-tiba tubuhnya gemetar karena ketakutan. Lalu Rasulullah saw. berkata kepadanya:

Tenanglah engkau, karena sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Adapun derajat yang agung oleh sebab kenabian, kedudukan yang mulia karena kerasulan, dan pangkat yang tinggi oleh sebab menjadi makhluk yang terpilih dan dimuliakan di dunia, mencapai puncak kesempurnaannya, sedangkan di akhirat dia adalah penghulu umat manusia.

Hal-hal yang penilaiannya berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi, dalam arti kata bahwa hal tersebut dapat dijadikan sebagai subjek pujian dan kebanggaan serta keutamaan, sebagai contoh ialah harta benda. Pemilik harta benda semuanya dihormati oleh kalangan awam karena mereka mempunyai keyakinan bahwa harta benda itu dapat mengantarkan pemiliknya untuk meraih keperluan dan untuk mencapai tujuan. Apabila tidak demikian, maka ia bukan merupakan keutamaan. Bilamana harta benda itu seperti demikian, kemudian pemiliknya membelanjakannya untuk kepentingan dirinya dan kepentingan orang-grang yang menjadi tujuan dan dambaannya, maka ia membelanjakannya pada tempat yang Sebenarnya dengan tujuan untuk memperoleh keluhuran dan pujian yang baik serta tempat di hati. Berarti harta benda tersebut merupakan keutamaan bagi pemiliknya menurut penduduk dunia. Apabila pemilik harta membelanjakannya untuk tujuan-tujuan kebajikan dan ia mengintakannya ke jalan kebaikan dengan tujuan mencari keridaan Allah dan pahala di akhirat, maka harta benda merupakan keutamaan bagi pemiliknya dalam semua kondisi dan situasi menurut penilaian seluruhnya.

Bilamana pemilik harta benda memegangnya erat-erat tanpa membelanjakannya kepada hal-hal yang semestinya karena sangat getol mengumpulkannya, maka memiliki harata yang banyak sama saja dengan tidak mempunyai harta sama sekali, dan merupakan aib dan cela bagi pemiliknya karena ia tidak menggunakannya untuk keselamatan dirinya, bahkan menggunakannya sebagai sarana untuk menjerumuskan dirinya ke dalam jurang kekikiran dan keajaiban yang hina.

Harta benda bukanlah tujuan melainkan sarana untuk meraih hal yang lain dan untuk meng-infak-kannya ke jalan yang sebenarnya, sesuai dengan fungsinya. Nabi kita telah diberi semua perbendaharaan bumi dan kunci berbagai negeri: semua ghanimah telah dihalalkan baginya, dan semasa hidupnya telah dibukakan untuknya negeri Hijaz, Yaman, dan semua kawasan Jazirah Arabia serta negeri-negeri yang berdekatan seperti Syam dan negeri Irak juga diserahkan kepadanya semua harta khumus, Jizyah, dan zakat dari negeri-negeri tersebut sebagaimana telah dihadiahkan kepadanya dari kebanyakan raja yang berada di Jazirah Arabia. Akan tetapi, ia tidak pernah menggunakan sesuatu pun untuk kepentingan pribadinya, dan tidak pernah pula ia memegang satu dirham pun yang tidak dibelanjakannya kepada hal-hal yang semestinya, dan menginfakkannya untuk diri orang lain serta untuk memperkuat kaum Muslimin. Rasulullah saw. telah berkata:

Tidaklah aku merasa gembira andaikata aku mempunyai emas sebanyak Gunung Uhud, lalu ada satu dinar daripadanya yang sempat menginap di sisiku, yang tidak aku infak-kan untuk kepentingan agamaku. Pada suatu hari Rasulullah saw. mendapat banyak uang dinar sehingga hatinya merasa tidak tenang, karena itu beliau cepat-cepat membagi-bagikan nya dan disisakannya sedikit, sisa yang sedikit itu pun langsung beliau bagikan kepada istri-istrinya, setelah itu beliau berkata: “Sekarang aku merasa tenang”.

Sewaktu Rasulullah saw. wafat, baju besi miliknya masih dalam keadaan tergadai untuk menafkahi orang-orang yang menjadi tanggungannya. Dalam hal nafkah, pakaian, dan tempat tinggal, ia selalu membatasi diri hanya pada keperluan yang penting saja. Hal-hal yang lebih dari itu selalu dijauhinya. Dia selalu berpakaian apa adanya. Sebagian besar pakaiannya terdiri dari kain tenun yang sederhana dan kain bulu yang kasar. Dia membagi-bagikan kain-kain sutera yang diberi bordelan benang emas kepada orang-orang yang hadir di hadapannya, dan mengirimkannya kepada orang-orang yang tidak hadir di antara para sahabat. Seperti yang telah pembaca saksikan sendiri, Rasulullah saw. telah memperoleh keutamaan dari harta benda miliknya dengan cara menjauhinya dan menginfak-kannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Adapun watak yang bersifat kasbi, berupa akhlak yang terpuji dan etika yang mulia, semuanya tersimpul ke dalam kategori akhlak yang baik. Semuanya telah berada di dalam diri Nabi saw. dalam bentuk yang sangat sempurna dan stabil sehingga Allah swt. sendiri memujinya melalui firman-Nya:

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Q.S. 68 Al-Galam: 4)

Siti ‘Aisyah r.a. telah meriwayatkan dalam salah satu hadis:

Akhlak Rasulullah adalah Al-Quran: ia rida demi Al-Quran, dan ia marah demi Al-Quran (pula).

Rasulullah saw. dalam salah satu hadis telah berkata:

Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia. Sahabat Anas r.a. dalam hadis yang diriwayatkannya mengatakan:

Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik akhlaknya.

Bagi Rasulullah saw., semua(nya) etika yang mulia tadi adalah seperti yang terdapat pula di dalam diri saudara-saudaranya yang terdiri dari para nabi. Mereka telah diciptakan mempunyai watak yang mulia itu, kemudian semakin mengakar di dalam diri mereka, dan sentuhan-sentuhan dari Allah yang datang secara beruntun membuat cahaya pengetahuan makin bersinar cemerlang di dalam hati mereka. Setelah itu mereka dapat mencapai tujuan dan berhasil meraih derajat kenabian di dalam mengamalkan akhlak yang mulia itu tanpa batas dan latihan. Akhlak yang terpuji dan watak yang indah ini cukup banyak, tetapi kami akan mengetengahkan pokok-pokoknya saja dan mengisyaratkan seginya saja untuk menyatakan sifat Rasulullah saw. yang mencakup kesemuanya itu seperti pembahasan berikut ini.

Pokok cabangnya, unsur sumbernya, dan titik lingkarannya adalah akal. Dari akal muncullah ilmu dan pengetahuan, dan dari akal serta pengetahuan timbullah ketajaman pandangan, kepandaian yang cemerlang, ketepatan dalam berpikir, dugaan yang tepat, dapat melihat akibat segala sesuatu dan kemaslahatan diri. Ilmu dan pengetahuan itu dapat pula mendorong kemampuan pemiliknya dalam melawan hawa nafsu dirinya, me. miliki giasat dan pengaturan yang baik, dan selalu mencari keutamaan serta menjauhi kerendahan. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah mencapai puncak kesempurnaan yang belum pernah dicapai oleh manusia lainnya. Hal tersebut dapat diketahui oleh orang yang mau menelusuri sejarah kehidupannya, hadis-hadis yang diucapkannya, akhlak-akhlaknya yang baik, serta semua sepak terjangnya yang menakjubkan. Dapat pula diketahui melalui hikmah-hikmah yang terkandung dalam hadis-hadisnya, pengetahuannya mengenai isi kitab Taurat, kitab Injil, dan kitab-kitab yang diturunkan Allah swt., yang dapat diketahui melalui pengetahuannya tentang hikmah-hikmah yang dikatakan oleh orang-orang yang bijak, pengetahuannya tentang perjalanan umat-umat terdahulu dan kejadian-kejadian yang telah dialami oleh mereka. Hal itu dapat diketahui melalui tamsil-tamsil yang telah dikemukakannya, kebijaksanaannya dalam mengatur umat manusia, ketetapan-ketetapan syariat yang telah diputuskannya, dan melalui akhlak-akhlak yang agung serta sifat-sifat yang terpuji, di samping berbagai cabang ilmu yang menggunakan kata-kata Nabi saw. sebagai teladan dan hujjah bagi orang-orang yang menekuninya. Cabang-cabang ilmu tersebut ialah ilmu tabib, ilmu hisab, ilmu faraidh (bagi waris), ilmu nasab (keturunan), dan lain-lain yang semuanya dapat di kuasai oleh Nabi saw. tanpa melalui proses pendidikan, tanpa belajar, tanpa membaca kitab-kitab umat terdahulu, dan pula tanpa bergaul dengan para ulama mereka. Dia adalah seorang nabi yang ummi dan tidak mengetahui sedikit pun tentang hal-hal tersebut, tetapi Allah swt. melapangkan dadanya dan menjelaskan hal-hal tersebut kepadanya serta mengajarkannya kepadanya.

Semua pengetahuan Rasulullah saw. yang bersumberkan akalnya sendiri ditunjang pula oleh semua yang telah diajarkan Allah swt. dan apa yang diperlihatkan kepadanya, berupa ilmu mengenai yang bakal terjadi dan yang telah terjadi serta mengenai keajaiban-keajaiban kekuasaan Allah serta kebesaran kerajaan-Nya. Sehubungan dengan hal ini Allah swt. telah berfirman:

Dan Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan karunia Allah sangat besar atasmu. (Q.S. 4 An-Nisa: 113)

Adapun sifat penyantun, menguasai diri, pemaaf, mampu dan sabar dalam menghadapi semua hal yang tidak disukai, termasuk etika yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi-Nya. Sehubungan dengan hal ini Allah swt. telab berfirman:

Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (Q.S. 7 Al-A’raf: 199)

Kemudian Rasulullah saw. bertanya kepada malaikat Jibril a.s. tentang penakwilan ayat di atas. Malaikat Jibril a.s. menjawab: Hai Muhammad, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu supaya kamu menghubungkan silaturrahim kepada orang yang memutuskannya dari kamu, dan hendaknya kamu memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, serta hendaknya engkau memaafkan orang yang telah berbuat aniaya kepada dirimu. Allah swt. berfirman :

Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa dirimu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) (Q.S. 81 Lugman: 17)

Berfirman pula dalam ayat lainnya:

Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.5. 24 An-Nur: 22)

 Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (Q.S. 42 AsySyura: 43).

Banyak sekali hadis yang menceritakan tentang diri Nabi saw. bahwa di dalam dirinya telah terdapat sifat tersebut dalam bentuk yang paling sempurna. Tiada seorang pun yang memiliki sifat penyantun yang tidak pernah berbuat suatu kealpaan dan kekeliruan. Sedangkan Nabi kita, sekalipun banyak menerima perlakuan yang menyakitkan, hanya semakin menambah kesabarannya, dan dalam menghadapi orang yang bersikap tidak mengerti tentang keadaan dirinya, ia sangat penyantun. Siti ‘Aisyah r.a. dalam salah satu hadis yang diriwayatkannya telah menceritakan:

Belum pernah sama sekali Rasulullah saw. disuruh memilih antara dua perkara, sementara ia tidak memilih perkara yang paling mudah di antara keduanya selagi hal itu bukan merupakan perkara yang berdosa, Maka apabila ternyata hal tersebut adalah perbuatan yang berdosa, dia adalah orang yang paling menjauhinya. Dan dia belum pernah membalas untuk pribadinya, kecuali bila larangan Allah dilanggar, pada saat itu dia membalas karena Allah.

Ketika kaum musyrikin melakukan pukulan yang berat terhadap kaum Muslimin dalam Perang Uhud, kemudian Rasulullah saw. diminta untuk berdoa kepada Allah untuk kebinasaan mereka, ternyata yang dikatakan dalam doanya adalah seperti berikut ini:

Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui (kebenaran).

Untuk dijadikan sebagai bukti, cukuplah dalam hal ini apa yang telah dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy. Mereka telah menyakiti dan menghina serta mengusirnya bersama para sahabat dari tanah tumpah darahnya, kemudian mereka memeranginya dan bahkan menganjurkan kepada orang-orang selain mereka yang terdiri dari kaum musyrikin Arab untuk memeranginya, sehingga terbentuklah golongan yang bersekutu dari kaum musyrikin. Akan tetapi, setelah Allah swt. menganugerahkan kepadanya pembukaan kota Makkah, maka sikap yang diambil tidak lebih dari memberi maaf dan ampunan. Dia berkata kepada mereka yang telah ditaklukkan, “Bagaimana menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap diri kalian?” Mereka menjawab, “Baik-baik saja karena engkau adalah saudara yang mulia dan anak saudara kami yang mulia (pula).” Rasulullah saw. hanya berkata kepada mereka:

Pergilah, sekarang kalian adalah orang-orang yang bebas.

Sahabat Anas r.a. menceritakan bahwa pada suatu hari ia bersama Nabi saw. yang pada saat itu memakai selendang yang terbuat dari kain yang kasar. Kemudian datang seorang Badui yang langsung menarik selendangnya dengan kasar sekali sehingga kain selendang jtu membuat bekasbekas memerah pada lehernya. Lalu lelaki Badui itu berkata, “Hai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian dari harta Allah yang ada padamu untuk aku muatkan pada dua ekor unta milikku ini. Sebab se sungguhnya engkau memberi kepadaku bukan dari hartamu sendiri dar bukan pula dari harta orang tuamu.” Ketika itu Nabi saw. diam sejenak, lalu berkata, “Harta ini adalah milik Allah dan aku adalah hamba-Nya.” Selanjutnya dia berkata, “Engkau akan dibalas sesuai dengan perbuatar engkau terhadap diriku.” Lelaki Badui itu menjawab, “Tidak mungkin.” Rasulullah saw. bertanya, “Mengapa tidak mungkin” Lelaki Badui itu berkata, “Karena sesungguhnya engkau tidak akan membalas keburukan dengan keburukan yang lain.” Rasulullah saw. tertawa setelah mendengar jawaban lelaki badui itu, kemudian ia memerintahkan supaya dimuatkan kepada salah seekor unta milik Badui itu gandum, dan unta miliknya yang lain supaya dimuati kurma.

Di antara sifat yang dimiliki Rasulullah saw. adalah berani dan suka menolong. Kedua sifat itu seperti yang dikisahkan oleh Siti ‘Aisyah r.a., “Aku belum pernah melihat Rasulullah saw. melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berbuat aniaya terhadapnya selagi hal itu bukan merupakan pelanggaran terhadap apa-apa yang telah dilarang oleh Allah swt. Dia belum pernah memukul seseorang dengan tangannya kecuali dalam berjihad di jalan Allah. Dia belum pernah memukul pembantunya dan belum pernah pula memukul istrinya.” Akhirnya Allah swt. mencurahkan shalawat-Nya kepadanya dan membuat hatinya menjadi senang karena sikapnya itu diikuti oleh kaum Muslimin.

Adapun sifat kedermawanan, kebaikan dan kemurahan serta rasa toleransinya Rasulullah saw. merupakan contoh yang utama bagi akhlak yang mulia. Tiada seorang pun yang dapat menandinginya. Hal ini diungkapkan oleh orang-orang yang telah melihat langsung dan mengenalnya dengan baik. Sahabat Jabir r.a. menceritakan dalam salah satu hadis yang diriwayatkannya:

Rasulullah saw. belum pernah diminta sesuatu, lalu dia menjawab,

“Tidak.”

Sahabat Ibnu ‘Abbas r.a. telah menceritakan pula:

Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan dalam hal kebaikan (harta benda), dan lebih dermawan lagi dalam bulan Ramadan.

Apabila malaikat Jibril menemuinya, maka dia lebih dermawan daripada angin yang berhembus sepoi-sepoi basa.

Siti Khadijah r.a. menceritakan tentang sifat Nabi saw. pada saat ia berbicara kepadanya, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang suka menanggung beban penderitaan (orang lain) dan suka berusaha demi orang yang tidak punya.”

Kiranya cukup untuk dijadikan sebagai bukti dalam hal ini apa yang telah dilakukan Rasulullah terhadap orang-orang Hawazin, yaitu tentang pengembalian para tawanan mereka. Apa yang telah dilakukannya ketika membagi-bagi ghanimah, ketika ia memberikan bagian yang besar kepada Orang-orang yang hatinya dilunakkan untuk masuk Islam. Hal ini telah kami bahas secara rinci. Pada suatu hari disuguhkan kepada Rasulullah saw. uang logam sebanyak sembilan puluh ribu keping, lalu ia langsung membagi-bagikannya dan ia baru pergi setelah semuanya habis terbagikan, Pada suatu hari datang menghadap seorang lelaki. Lelaki itu meminta sesuatu kepadanya. Ia menjawab, “Aku sedang tidak mempunyai sesuatu pun yang dapat aku berikan kepada engkau, tetapi jangan khawatir, aku anggap hal ini sebagai hutangku kepada engkau. Nanti, bila aku mendapat sesuatu, akan kubayarkan kepada engkau. “Sahabat ‘Umar r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, Allah tidak membebankan kepada engkau hal-hal yang di luar kemampuan engkau.” Hal itu membuat Rasulullah saw. tidak senang, tetapi tiba-tiba seorang lelaki dari kalangan sahabat Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, ber-infak-lah, janganlah engkau takut dikurangi oleh Zat yang menguasai ‘arasy (Allah).” Perkataan itu membuat wajah Rasulullah saw. berseri, lalu ia berkata “Memang demikianlah aku diperintahkan.”

Berita-berita yang menceritakan kedermawanan dan kemurahannya memang cukup banyak. Kami cukupkan hal ini dengan pembahasan tadi sebagai bukti supaya diketahui.

Rasulullah saw. telah banyak mengikuti keadaan yang amat sulit dalam peperangan. Pada saat itu semua orang kuat dan para pendekar perang sering sekali lari meninggalkan Rasulullah saw. Akan tetapi Rasulullah saw. tetap teguh bertahan menghadapi musuh dan tidak lari serta tidak goyah dari posisinya dalam berbagai peperangan. Tiada seorang pun yang dibilang pemberani yang tidak pernah terpukul mundur dan tidak pernah melarikan diri kecuali Rasulullah saw. Kiranya cukup untuk dijadikan bukti apa yang telah dilakukan Rasulullah saw. dalam Perang Hunain dan Perang Uhud seperti yang telah kami jelaskan di muka. Dalam hal ini Sahabat ‘Abdullah ibnu ‘Umar r.a. menceritakan, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih berani, lebih suka menolong, dan lebih rela daripada Rasulullah saw.” Sahabat ‘Ali r.a. menceritakan pula, “Sesungguhnya, apabila keadaan sangat kritis dalam suatu peperangan dan suasana peperangan sedang berkecamuk dengan hebatnya, kami berlindung di belakang Rasulullah. Pada saat itu tiada seorang pun dari kaum Muslimin yang lebih dekat kepada musuh daripada Rasulullah. Aku telah menyaksikan dalam Perang Badar, kami semua berlindung di belakang Rasulullah saw. Dia adalah orang yang paling dekat dengan musuh di antara kami, dan pada saat itu dia adalah orang yang paling hebat dalam peperangan.” Sahabat Anas dalam hal ini menceritakan bahwa Rasulullab saw. adalah orang yang paling berani, paling baik, dan paling dermawan. Pada suatu hari penduduk kota Madinah dilanda prahara. Pada saat itu hari telah malam. Semua orang berangkat menuju ke arah sumber suara yang gemuruh itu seraya membawa senjata masing-masing. Akan tetapi, mereka bersua dengan Rasulullah saw. yang baru saja kembali dari sumber suara tersebut. Ternyata dia telah mendahului mereka. Pada saat itu Rasulullah saw. menaiki kuda milik Abu Thalhah yang tidak berpelana, sedangkan pedangnya tergantung di leher kuda. Lalu Rasulullah saw. menenangkan mereka dengan berkata, “Kalian tidak usah takut, tidak ada apa-apa.”

Mengenai sifat malu dan merundukkan pandangan mata, Rasulullah saw. adalah orang yang paling pemalu dan paling merundukkan pandangan mata terhadap aurat. Sahabat Abu Sa’id alKhudri sehubungan dengan hal ini telah menceritakan, “Rasulullah saw. adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis pingitan. Bilamana ia tidak menyukai sesuatu, hal itu dapat kami ketahui melalui roman mukanya, dan dia adalah orang yang lemah lembut lagi ramah-tamah. Dia belum pernah memperlihatkan kepada seseorang hal-hal yang tidak disukainya karena kemuliaan jiwanya dan karena malu.”

Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw., apabila mendengar berita tentang seseorang yang tidak disukainya, tidak mengatakan mengapa si Fulan berlaku demikian dan demikian. Akan tetapi, yang Dikatakannya adalah, apakah gerangan yang telah dilakukan atau yang telah dikatakan oleh kaum hingga ia berani melakukan atau mengatakan demikian. Kala itu ia tidak menyebutkan pelakunya secara tertentu tetapi memakai ungkapan yang bersifat menyeluruh dengan maksud melarangnya.

Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan pula bahwa Rasulullah saw. tidak pernah berkata buruk dan tidak pernah memburuk-burukkan orang lain. Ia tidak pernah berkata gaduh di pasar-pasar yang dilaluinya, dan tidak pernah membalas perbuatan buruk dengan perbuatan buruk yang lainnya. Dia adalah pemaaf dan mengampuni orang yang berlaku buruk terhadapnya.

Mengenai kebaikannya dalam bergaul dan sopan santun serta akhlaknya yang mulia bersama berbagai macam manusia, banyak disebutkan dalam hadis-hadis yang sahih. Sehubungan dengan hal ini Sahabat ‘Ali r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang paling lapang dadanya, paling jujur dalam berbicara, paling lembut sikapnya, dan paling mulia akhlaknya dalam bergaul. Rasulullah saw. adalah orang yang dapat membuat orang-orang rukun dan tidak membuat mereka merasa antipati terhadapnya. Dia memuliakan setiap orang yang mulia di kalangan kaumnya, kemudian dia mengangkatnya menjadi pemimpin kaumnya. Rasulullah saw. memberikan peringatan kepada umat manusia dan bersikap waspada terhadap mereka tanpa mendiskreditkan seorang pun dari kalangan mereka tentang kejelekan dan akhlak yang telah dilakukannya. Dia selalu memeriksa keadaan para sahabatnya dan selalu memberikan kepada setiap teman duduknya bagian yang selayaknya diperolehnya sehingga tidak ada seorang pun dari tempat duduknya yang merasakan bahwa ada seseorang yang lebih dimuliakan daripada dirinya di antara orang-orang yang duduk bersamanya, atau di antara kerabatnya yang datang karena suatu keperluan yang sengaja ditahannya sehingga orang itu pergi daripadanya. Siapapun yang meminta kepadanya suatu keperluan belum pernan ditolaknya. Ia berhasil memperoleh keperluannya itu atau ia hanya memperoleh nasihat yang baik. Kelapangan dada dan akhlaknya membuat diri Nabi saw. menjadi tempat mengadu bagi semua orang sehingga jadilah ia bagaikan ayah mereka dan mereka mempunyai hak dan perlakuan yang sama di sisinya. Oleh sebab itu, Ibnu Abu Halah menggambarkan sifatnya bahwa ia adalah orang yang selalu gembira, mudah dalam bergaul dan lemah lembut, tidak keras, tidak kasar, tidak gaduh, tidak buruk, tidak mencela, dan tidak banyak memuji. Dia selalu melupakan hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi orang-orang tidak pernah merasa putus harapan terhadapnya. Sehubungan dengan sifat Rasulullah saw. Allah swt. berfirman: –

Maka karena rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (Q.S. 3 Ali ‘Imran: 159)

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia. Q.S. 41 Fushshilat: 34

Disebutkan bahwa Rasulullah saw. selalu memenuhi orang-orang yang mengundangnya dan selalu menerima hadiah sekalipun dalam bentuk kaki kambing, lalu ia langsung membalas hadiah itu. Telah disebutkan pula bahwa dia senang bergurau dengan para sahabatnya, bergaul dengan mereka dan berbincang-bincang bersama mereka, serta senang bermain dengan anak-anak mereka dan mendudukkan anak-anak mereka pada pangkuannya. Dia selalu memenuhi undangan orang merdeka, hamba sahaya lelaki, hamba sahaya perempuan, dan orang miskin. Dia selalu menjenguk teman-temannya yang sakit sekalipun rumahnya jauh dari batas kota Madinah, dan dia selalu menerima alasan orang yang diajukan kepadanya.

Sahabat Anas ibnu Malik r.a. menceritakan bahwa belum pernah ada seorang pun yang mengemukakan alasannya di hadapan Rasulullah untuk mendapat izin daripadanya, kemudian Rasulullah saw. memalingkan mukanya, kecuali setelah orang itu memalingkan mukanya terlebih dahulu. Belum pernah ada seorang pun yang berjabat tangan dengan Rasulullah saw. kemudian dia melepaskan tangannya sebelum orang itu lebih dahulu melepaskan tangannya. Rasulullah saw. selalu mulai lebih dahulu mengucapkan salam kepada orang-orang yang bertemu dengannya. Bilamana bertemu dengan para sahabatnya, ia selalu yang lebih dahulu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan mereka.

Disebutkan pula bahwa dia belum pernah mengulurkan kakinya di antara para sahabatnya sehingga ada orang yang merasa kesempitan karenanya. Rasulullah saw. selalu memuliakan orang yang bertamu kepadanya, dan terkadang ia menggelarkan pakaian atau bantal yang didudukinya, kemudian mempersilakan tamunya itu duduk di atasnya sekalipun tamunya menolak. Dia selalu memanggil para sahabatnya dengan nama panggilan yang disukai mereka sebagai penghormatan kepada mereka, dan belum pernah ia memotong pembicaraan seorang pun sebelum ia selesai pembicaraannya: setelah itu baru ia menjawabnya, baik dengan larangan ataupun dengan perintah. Disebutkan pula bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang paling banyak senyum dan paling baik budinya selain ketika sedang menerima wahyu Al-Qur’an atau sedang memberi nasihat atau sedang berkhotbah.

Rasa belas kasihan, rasa penyayang dan sifat rahmatnya terhadap se mua makhluk digambarkan Allah swt. melalui firman-Nya:

Berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.S. 9 At-Taubah: 128)

Dan tiadalah Karni mengutus kamu selain untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. 21 Al-Anbiya: 107)

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa pada suatu hari ada seorang lelaki Badui datang menghadap dengan tujuan meminta sesuatu dari Rasulullah saw. Rasulullah saw. memberi apa yang dimintanya, kemudian ia berkata, “Apakah aku telah berbuat kebaikan terhadap diri engkau?” Lelaki Badui itu menjawab, “Tidak, dan engkau tidak pula berbuat yang baik terhadap diriku.” Kala itu para sahabat marah terhadap lelaki Badui itu, kemudian mereka bangkit untuk menghajar lelaki Badui yang kurang ajar itu, tetapi Rasulullah saw. memberikan isyarat kepada mereka supaya tenang. Lalu Rasulullah saw. bangkit dan masuk ke dalam rumah, kemudian menambahkan pemberiannya kepada lelaki Badui itu. Setelah itu Rasulullah saw. berkata lagi kepadanya, “Apakah aku telah berbuat baik terhadap diri engkau?” Lelaki Badui itu menjawab, “Ya, semoga Allah swt. membalas pemberian engkau kepada kaum engkau sendiri dengan balasan yang baik.” Kala itu Rasulullah saw. berkata, “Sesungguhnya engkau telah mengatakan perkataan yang telah engkau ucapkan tadi, dan ternyata di dalam diri para sahabatku terdapat sesuatu karena perilaku engkau itu. Jika engkau suka, katakanlah di hadapan mereka seperti apa yang telah engkau ucapkan di hadapanku sekarang ini supaya sesuatu yang mengganjal di hati mereka terhadap diri engkau lenyap.” Lelaki Badui itu menjawab, “Baiklah, aku akan mengatakannya.” Ketika pada keesokan harinya atau pada sore hari itu juga lelaki Badui itu datang, Rasulullah saw. berkata, : “Sesungguhnya lelaki Badui ini telah mengatakan apa yang tadi dikatakannya, lalu kami memberinya tambahan, dan ja menduga bahwa ia telah merasa suka dengan pemberian tersebut. Bukankah demikian?” Lelaki Badui itu menjawab, “Ya, semoga Allah swt. memberikan balasan atas pemberian engkau terhadap kaum engkau sendiri dengan pembalasan yang baik.” Rasulullah saw. memberikan penjelasan kepada para sahabatnya,” Perumpamaan antara aku dan dia bagaikan seorang lelaki yang memiliki seekor unta, kemudian unta itu larat tak terkendali lagi. Orang-orang mengejarnya, tetapi justru makin menambah larat unta. Lelaki itu atau pemilik unta tersebut memanggil mereka, biarkanlah dia yang akan menangkap untanya itu karena dia lebih belas kasihan terhadapnya daripada mereka, dan dia lebih mengetahui tentang untanya daripada mereka. Selanjutnya lelaki itu berangkat dan sampai di hadapan untanya, lalu ia langsung dapat menangkapnya dari tempat pelariannya, dan ia dapat mengembalikannnya ke tempat semula. Setelah itu ia datang dan merundukkan untanya, kemudian mengikatkan pelana ke atas punggungnya, lalu langsung menaikinya. Sesungguhnya jika aku membiarkan kalian sewaktu lelaki Badui itu mengatakan apa yang telah dikatakannya, kemudian kalian membunuhnya karena emosi, niscaya lelaki Badui itu akan masuk neraka.” Selanjutnya Rasulullah saw. berkata, “Aku tidak menginginkan ada seseorang di antara kalian menyampaikan suatu berita tentang para sahabatku karena sesungguhnya aku ingin agar bertemu dengan kalian sementara dadaku dalam keadaan lapang.”

Pada suatu ketika, sewaktu Rasulullah sedang melakukan salat dan menjadi imam, ia mendengar tangisan anak kecil. Ia segera mempercepat salatnya karena merasa kasihan kepada anak kecil itu sebab ibunya sedang makmum bersamanya. Sahabat ‘Abdullah ibnu Mas’ud menceritakan, bahwa Rasulullah saw. selalu menyelingi nasihatnya kepada mereka dengan hal-hal lain karena takut mereka akan bosan bila dilakukan terus-menerus.

Sehubungan dengan akhlak Rasulullah saw., khususnya dalam hal memenuhi janji, dalam berjanji, serta kegemarannya bersilaturrahim, ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah ibnu Abul Khamsa yang menceritakan bahwa ia telah berjanji akan mengadakan transaksi jual-beli bersama Nabi saw. sebelum ia diangkat menjadi rasul. Setelah hal itu berlangsung, ternyata ia masih berutang kepada Nabi, maka ia berjanji akan membawanya sendiri guna melunasi utangnya itu di tempat yang telah dijanjikannya. Akan tetapi, ternyata ia lupa. Setelah lewat tiga hari ia teringat akan janjinya kepada Nabi, lalu ia mendatangi tempat tersebut. Ternyata ia menjumpai Nabi saw. telah berada di tempat yang dijanjikannya itu. Nabi saw. lalu berkata, “Hai pemuda, engkau ini sungguh telah membuat aku capai menunggu engkau. Aku sudah berada di tempat ini sejak tiga hari yang lalu menunggu kedatangan engkau.”

Bilamana Rasulullah saw. mendapat hadiah, dia berkata, “Bawalah oleh kalian hadiah itu ke rumah si Fulanah karena sesungguhnya dia adalah teman baik Khadijah, dia benar-benar mencintainya.” Rasulullah saw. selalu menghubungkan silaturrahim dengan semua kerabatnya tanpa memandang bulu dan tanpa pilih kasih.

Pada suatu hari datang para utusan menghadap Rasulullah saw. Dia bangkit meladeni mereka, lalu para sahabat berkata, “Biarkanlah kami yang meladeni mereka.” Rasulullah saw. menjawab, “Sesungguhnya para utusan itu berlaku sangat hormat terhadap para sahabatku, maka aku bernaksud membalas budi mereka.” Siti Khadijah r.a. berkata, “Bergembiralah, demi Allah, selamanya Dia tidak akan mengecewakan engkau, sesungguhnya engkau adalah orang yang gemar ber-silaturrahim, menanggung beban, mengupayakan orang yang tidak mampu, selalu menghormati tamu, dan selalu menolong orang-orang yang tertimpa bencana.”

Adapun sifat rendah diri Rasulullah saw., sekalipun kedudukan dan pangkatnya sangat tinggi, ia adalah orang yang paling rendah diri dan hampir tidak pernah takabbur. Kiranya cukup untuk dijadikan sebagai bukti, bahwa pada suatu hari dia disuruh memilih antara menjadi seorang nabi lagi seorang raja, atau seorang nabi tetapi bersifat sebagai hamba biasa. Kala itu Rasulullah saw. memilih menjadi seorang nabi lagi hamba biasa. Pada suatu hari Rasulullah saw. keluar menemui para sahabatnya. Pada waktu itu ia berjalan seraya bertopang pada sebilah tongkat. Ketika para sahabat melihat kedatangannya, lalu mereka bediri sebagai penghormatan kepadanya. Ketika itu juga Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Janganlah kalian berdiri sebagaimana orang-orang ‘Ajam berdiri karena menghormat sesama mereka.: Lalu ia meneruskan, “Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah. Aku makan sebagaimana seorang hamba Allah makan, dan aku duduk sebagaimana seorang hamba Allah duduk.”

Bila menaiki kendaraannya, Rasulullah saw. sering memboncengkan seseorang di belakangnya. Dia gemar berkunjung kepada kaum fakir-miskin dan bergaul dengan mereka, atau memenuhi undangan seorang hamba sahaya. Dia selalu duduk-duduk, campur bersama para sahabatnya, di mana ada tempat, maka di situlah dia duduk bersama para sahabatnya.

Rasulullah saw. berkata, “Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku bagaikan orang-orang Nasrani menyanjung-nyanjung anak lelaki Maryam (Nabi ‘Isa). Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Sebutlah aku sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah saw. melakukan ibadah haji hanya membawa bekal yang harganya tidak mencapai empat dirham, dan hanya memakai pelana yang sederhana sekali. Kemudian ia berdoa, “Ya Ailah, jadikanlah hal ini sebagai haji yang sebenarnya, bukan karena ria dan bukan pula karena harga diri.” Padahal waktu ia melakukan ibadah haji, dihadiahkan kepadanya sebanyak seratus ekor unta, dan berbagai negeri telah dapat dibukanya.

Ketika kota Makkah dibuka (ditaklukkan), kemudian beliau memasuki kota Makkah bersama tentara kaum Muslimin, ia merundukkan kepalanya di atas kendaraan sehingga kepalanya hampir menyentuh bagian depan pelananya. Demikianlah yang dilakukannya karena merendahkan diri kepada Allah. Sahabat Abu Hurairah r.a. telah meriwayatkan sebuah hadis, “Aku memasuki pasar bersama Rasulullah saw. lalu ia membeli beberapa celana dan mengatakan kepada penjualnya, “Ukurlah dan lebihkanlah.” Selanjutnya Abu Hurairah menceritakan, “Penjual itu menangkap tangan Rasulullah dan langsung menciuminya, tetapi Rasulullah saw. menarik tangannya seraya mengatakan, ‘Ini kebiasaan yang dilakukan oleh orangorang ‘Ajam terhadap raja-raja mereka. Aku bukanlah seorang raja. Sesungguhnya aku hanyalah seorang lelaki diantara kalian. Selanjutnya Rasulullah saw. mengambil celana-celana yang dibelinya itu. Aku bermaksud membawakannya, tetapi dia berkata, ‘Orang yang memiliki sesuatu lebih berhak untuk membawanya.”

Mengenai keadilan, sifat amanah, memelihara kehormatan dan jujur di dalam berkata, Rasulullah saw. adalah orang yang paling jujur katakatanya sejak semula. Hal ini diakui oleh musuh-musuhnya dan oleh orang-orang yang menentangnya sekalipun. Sebelum diangkat menjadi nabi, ia dijuluki Al-Amin (Orang yang Dipercaya). Hal ini telah kami jelaskan secara rinci dalam pembahasan perjalanan hidupnya sebelum masa kenabian.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa tangan Rasulullah saw. belum pernah menyentuh tangan wanita lain yang kebebasannya tidak dimilikinya.

Abul ‘Abbas al-Mubarrad mengatakan bahwa Kisra (raja Persia) membagi hari-harinya menjadi beberapa bagian, yaitu hari bertiup angin kencang digunakannya untuk tidur, hari mendung digunakannya untuk berburu, hari hujan digunakannya untuk bermain dan minum-minum, dan hari matahari cerah digunakannya untuk keperluan-keperluan. Akan tetapi, Nabi kita membagi siang harinya menjadi tiga bagian, yaitu satu bagian untuk Allah swt., satu bagian lagi untuk keluarganya, sedangkan satu bagian yang lain untuk dirinya sendiri. Kemudian Rasulullah saw. membagibagikan waktu bagi dirinya untuk keperluan menghadapi orang-orang.

Rasulullah saw. selalu meminta tolong kepada orang-orang khusus untuk menyampaikan pesannya kepada orang-orang awam. Untuk itu ia berkata, “Sampaikanlah oleh kalian hal yang diperlukan oleh orang-orang yang tidak sempat mendatangiku karena sesungguhnya barang siapa yang menyampaikannya kepada orang yang tidak mampu hadir, niscaya Allah akan memelihara dirinya pada hari kiamat nanti.” Rasulullah saw. belum pernah menghukum seseorang oleh sebab kesalahan atau dosa yang telah dilakukan oleh orang lain sebagaimana ia pun belum pernah pula mempercayai seseorang yang menjelek-jelekkan orang lain di hadapannya.

Mengenai keanggunan, keagungan, ketenangan, harga diri, dan petunjuk yang baik ia terkenal sebagai orang yang paling diagungkan di dalam majelisnya sehingga di dalam majelis selalu tenang dan khidmat. Bilamana ia duduk, posisi yang diambilnya selalu dalam ber-ihtiba sehingga kebanyakan posisi duduknya ber-ihtiba.

Rasulullah saw. adalah orang yang banyak diam. Ia tidak pernah berbicara tanpa ada keperluan yang penting, dan tidak pernah meladeni orang yang berbicara kurang baik. Perkataannya tegas, tidak bertele-tele, dan tidak pernah melantur. Para sahabat ikut tertawa manakala melihat dia tersenyum karena menghargainya dan mengikuti jejaknya. Majelis tempat duduk Rasulullah adalah majelis yang penuh dengan rasa santun, rasa malu, penuh dengan kebaikan dan rasa amanah. Di dalam majelis Rasulullah belum pernah ada suara bernada tinggi dan belum pernah hal-hal yang haram dikatakan. Bilamana Nabi saw. sedang berbicara, teman-temannya duduk merundukan kepalanya karena mendengarkan pembicaraannya, seolah-olah di atas kepala mereka ada burung.

Ibnu Abu Halah mengatakan bahwa diamnya Rasulullah saw. itu karena empat perkara, yaitu sabar, waspada, hormat, dan berpikir. Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa bilamana Rasulullah saw. berbicara jika ada seseorang yang menghitungnya, niscaya ia akan dapat menghitungnya. Rasulullah saw. adalah orang yang suka memakai wewangian yang baik, dan ia sering sekali memakainya serta menganjurkan orang-orang supaya memakainya.

Di antara hal-hal yang menunjukkan harga diri Rasulullah saw. ialah bahwa ia mencegah seseorang meniup makanan dan minuman, memerintahkan orang untuk memakan makanan yang ada di hadapannya, dan memerintahkan orang supaya selalu bersiwak dan membersihkan celahcelah jari tangan dan kaki, baik bagian luar maupun bagian dalamnya.

Mengenai kezuhudannya terhadap masalah duniawi, dalam pembahasan yang lalu telah kami kemukakan secara rinci. Kiranya yang cukup dijadikan bukti yang menunjukkan kezuhudan Rasulullah saw. terhadap perkara duniawi dan berpalingnya dari kegemerlapan duniawi ialah ketika dia meninggal dunia, baju besinya dalam keadaan tergadai pada seorang Yahudi demi menafkahi keluarganya. Padahal banyak ghanimah yang mengalir kepadanya dan banyak pula negeri yang dibukanya. Rasulullah saw. selalu berdoa:

Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad berupa makanan pokok.

Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. belum pernah mengalami kekenyangan karena makan roti selama tiga hari berturut-turut hingga dia wafat. Siti Aisyah r.a. menceritakan pula bahwa Rasulullah saw. sewaktu wafat tidak meninggalkan dinar, atau dirham, atau kambing, atau unta. Ternyata di dalam rumahnya tiada sesuatu pun yang dapat dimakan oleh makhluk yang hidup, selain sekerat roti kering yang tersimpan di dalam lemari makanannya.

Rasulullah saw. berkata, “Sesungguhnya aku pernah ditawari agar tanah Makkah dijadikan untukku penuh dengan emas. Aku berkata, “Wahai Rabb, jangan Engkau jadikan hal itu. Aku ingin agar sehari merasa lapar dan sehari yang lain merasa kenyang. Adapun mengenai hari ketika aku merasakan lapar akan kugunakan untuk merendahkan diri dan berdoa kepada-Mu. Adapun hari ketika aku merasakan kenyang akan kugunakan untuk memuji dan menyanjung-Mu.”

Kemudian Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan, “Sesungguhnya kami keluarga Muhammad pernah selama satu bulan tidak pernah menyalakan api aapur walau hanya sekali. Makanan kami kala itu hanyalah kurma dan air. “Sahabat Anas ibnu Malik r.a. menceritakan pula bahwa Rasulullah saw. belum pernah makan pada tabsi atau piring besar, belum pernah memakan roti bersama sop, dan sama sekali belum pernah pula memakan daging kambing yang dipanggang.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Siti ‘Aisyah r.a. disebutkan, “Kasur tempat tidur Rasulullah saw. di dalam rumahnya terbuat dari kain bulu yang tebal. Kami lipat menjadi dua lipatan, kemudian Rasulullah saw. tidur di atasnya. Pada suatu malam kami melipatnya menjadi empat lipat, dan pada keesokan harinya dia bertanya, “Apakah yang telah kalian lakukan terhadap tilam tidurku?” Kemudian kami menjelaskan kepadanya apa yang telah kami lakukan. Lalu ia berkata, ‘Kembalikanlah tilam itu kepada posisinya semula (dua kali lipat) karena sesungguhnya keempukannya membuat aku lupa akan salat sunnahku.”

Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan pula “Perut Rasulullah saw. belum pernah penuh karena kekenyangan makan, dan dia belum pernah mengeluh kepada siapa pun karena lapar. Kemiskinan lebih dicintainya daripada kekayaan. Sekalipun ia tetap dalam keadaan lapar semalam suntuk, hal itu tidak dapat mencegahnya melakukan shaum pada keesokan harinya. Seandainya mau, dia dapat meminta kepada Rabb-nya semua perbendaharaan bumi, buah-buahannya, dan semua kemewahan hidup yang terdapat di muka bumi. Sungguh aku telah menangisinya karena terdorong oleh rasa belas kasihan ketika melihat keadaannya. Seraya kuelus-elus perutnya yang kosong itu, aku berkata kepadanya. “Diriku ihi menjadi tebusan engkau. Mengapa engkau tidak mencari bekal duniawi untuk engkau jadikan sebagai bekal makan? Kala itu Rasulullah saw. menjawab, ‘Hai ‘Aisyah, aku tidak ada urusan dengan masalah duniawi, sedangkan Saudara-saudaraku para rasul yang termasuk ke dalam Ulul-‘Azmi tetap bersabar dalam menghadapi hal-hal yang lebih berat daripada ini. Sekalipun demikian, mereka tetap menunaikan risalahnya dalam keadaan demikian hingga mereka menghadap kepada Rabb mereka, lalu Rabb memuliakan tempat kembali mereka dan memberikan kepada mereka pahala yang agung. Aku merasa sangat malu terhadap mereka bilamana aku hidup dalam keadaan mewah sehingga aku merasa khawatir kelak kedudukanku berada di bawah mereka. Tiada sesuatu pun yang lebih aku cintai kecuali menyusul saudara-saudara dan kekasihkekasihku.” Selan. jutnya Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan, peristiwa itu terjadi satu bulan menjelang wafatnya. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurahkan kepadanya.”

Rasa takut dan taatnya kepada Allah swt. serta kegetolannya dalam beribadah, sesuai dengan tingkat pengetahuannya. Oleh sebab itu, Rasulullah saw. pernah berkata, “Seandainya kalian mengetahui apa yang telah aku ketahui, niscaya kalian hanya sedikit tertawa dan banyak menangis. Aku dapat melihat hal-hal yang tidak dapat kalian lihat, atau aku dapat mendengar hal-hal yang tidak dapat kalian dengar. Langit ini telah bersuara karena keberatan, dan memang ia berhak untuk bersuara karena tiada suatu tempat pun, biar sekadar empat jari, di mana tidak ada malaikat yang meletakkan jidatnya karena bersujud kepada Allah swt. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang telah aku ketahui, niscaya kalian akan tertawa sedikit dan banyak menangis. Kalian niscaya tidak akan dapat bersenang-senang dengan istri-istri kalian di atas tempat tidur kalian, dan niscaya kalian akan keluar ke tempat-tempat yang tinggi lalu kalian meminta tolong kepada Allah swt. Sungguh aku menginginkan sekali diriku ini menjadi sebuah pohon yang dicabut.

Rasulullah saw. selalu melakukan salat sehingga kedua telapak kakinya bengkak-bengkak. Lalu ada yang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau paksakan hal ini terhadap diri engkau sedangkan Allah telah mengampuni dosa-dosa engkau yang terdahulu dan yang kemudian?” Kala itu Rasulullah saw. menjawab:

Bukankah aku ini seorang hamba yang banyak bersyukur?

Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan pula, “Amal ibadah Rasulullah saw. itu bersifat terus menerus. Siapakah di antara kalian yang mampu melakukan seperti apa yang telah dilakukannya?” Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan pula, “Rasulullah saw. selaluber-shaum sehingga kami mengatakan ia tidak pernah berbuka (tidak shaum), dan dia selalu berbuka sehingga kami mengatakan ia tidak pernah ber-shaum.”

‘Auf ibnu Malik menceritakan, “Pada suatu malam kami bersamasama dengan Rasulullah saw. Kemudian dia bersiwak lalu melakukan wudu. Setelah itu dia berdiri untuk salat. Kami pun ikut berdiri pula bermakmum kepadanya. Dalam salatnya itu Rasulullah saw. mulai dengan bacaan surah Al-Bagarah. Dia tidak pernah melewati ayat rahmat tanpa berhenti lalu berdoa, dan tidak pernah melewati ayat ‘Adzab tanpa berhenti lalu meminta perlindungan kepada Allah. Kemudian Rasulullah saw. rukuk dan diam di dalam rukuknya sama lamanya dengan ketika dia berdiri. Lalu dia berdoa:

Maha Suci Zat Yang memiliki keperkasaan, kerajaan yang agung, kebesaran dan keagungan.

Setelah itu Nabi saw. bersujud dan mengucapkan doa yang serupa dengan ketika ia sedang melakukan rukuk. Selanjutnya dia membacakan surah Ali Imran dan surah-surah lain pada rakaat berikutnya, dan ia melakukan pula hal yang serupa dengan apa yang telah dilakukannya pada rakaat pertama.”

Di antara para sahabat ada yang menceritakan, “Aku datang menemui Rasulullah saw. yang pada waktu itu sedang melakukan salat. Dari dalam perutnya terdengar suara bagaikan suara air mendidih di dalam panci.”

Abu Halah menceritakan sehubungan dengan sifat-sifat Rasulullah saw. bahwa ia adalah orang yang terus-menerus merasa susah dan selalu berpikir tanpa istirahat. Sahabat ‘Ali r.a. menceritakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang sunnah (kebiasaan)nya Dia menjawab:

Makrifah adalah modalku, akal adalah pokok agamaku, cinta adalah dasarku, rindu adalah kendaraanku, dzikrullah (ingat kepada Allah) adalah hiburanku, percaya diri adalah simpananku, susah adalah temanku, ilmu adalah senjataku, sabar adalah pakaianku, rida adalah ghanimah-ku, tidak mampu adalah kebanggaanku, zuhud (menjauhi keduniawian) adalah pekerjaanku, keyakinan adalah kekuatanku, kejuJuran adalah pandangaku, taat adalah kecukupanku, jihad adalah akhlakku, kesenanganku berada di dalam salat, dan buah hatiku adalah sewaktu berzikir kepada-Nya, dan kesusahanku adalah demi umatku, serta kerinduanku hanya kepada Rabb-ku. Semoga Allah membalas Nabi-Nya dengan balasan yang baik dari umatnya, semoga Allah mengasihi seorang hamba yang mau memperhatikan akhlak-akhlak yang mulia serta sifat-sifat yang indah ini, kemudian ia berpegang teguh kepadanya dan mengikutinya jejak Rasulullah saw. supaya ia mendapat syafaatnya kelak pada hari kiamat dan mendapat keridaan-Nya. Ya Allah, kami memohon taufik kepada-Mu yang di dalamnya terkandung kebaikan sebagai berkah dari karunia dan kemurahan-Mu, wahai Yang Maha Pemurah di antara orang-orang yang pemurah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker