Sejarah

Terjemahan Kitab Nurul Yaqin

PERLAKUAN YANG MENYAKITKAN

Rasulullah saw. mengalami banyak perlakuan yang menyakitkan dan kekerasan dari kaum musyrikin, khususnya bilamana ia pergi untuk menunaikan salatnya di Ka’bah. Golongan orang yang sering menimpakan perlakuan yang menyakitkan terhadap diri Rasulullah saw. adalah golongan yang dijuluki Mustahziin. Mereka dijuluki dengan panggilan ini karena mereka adalah orang-orang yang paling banyak menyakiti Rasulullah saw. Pemim. pin mereka serta yang paling keras adalah Abu Jahal, nama aslinya “Amr ibnu Hisyam ibnul-Mughirah al-Makhzumi al-Qurasyi. Pada suatu hari ia berkata, “Hai kaum Quraisy, sesungguhnya Muhammad seperti yang telah kalian lihat sendiri, ia telah mencela agama kalian, dan telah mencaci sesembahan-sesembahan kalian, membodoh-bodohkan orang-orang pandai di antara kalian, dan telah mencaci maki bapak-bapak kalian. Sekarang aku bersumpah akan membebankan kepadanya sebuah batu besar yang berat sekali. Bilamana ia sujud dalam salatnya, aku akan menindihkan batu besar itu pada kepalanya. Pada saat itu silakan kalian membiarkan aku atau memihak aku, sesudah itu biarkanlah Bani ‘Abdu Manaf (keluarga Rasulullah) melakukan sekehendak hati mereka terhadap dirinya.” Keesokan harinya Abu Jahal mengambil sebuah batu besar sesuai dengan apa yang telah dikatakannya kemarin, lalu ia duduk menunggu kedatangan Rasulullah saw. Rasulullah saw. berangkat untuk menunaikan salat sebagaimana biasanya, sedangkan orang-orang Quraisy pada saat itu sedang berada di dalam rumah perkumpulan mereka sambil menunggu apa yang akan dilakukan oleh Abu Jahal. Tatkala Rasulullah sujud, Abu Jahal segera mengangkat batu besar itu, lalu menuju ke arah Rasulullah saw. Akan tetapi, setelah ia berada dekat dengan Rasulullah saw., tiba-tiba ia mundur dan wajahnya pucat pasi karena kaget, lalu ia melepaskan batu di tangannya dan berlari. Orang-orang Quraisy yang menyaksikannya segera menemuinya, lalu mereka berkata, “Mengapa engkau ini, hai Abul Hakam, “Abu Jahal menjawab, “Ketika aku hendak melakukan seperti apa yang telah aku katakan kepada kalian, setelah aku berada dekat dengannya, tiba-tiba ada unta jantan yang besarnya belum pernah aku lihat sebelumnya. Lalu unta itu hendak memakan diriku.” Peristiwa itu diceritakan kepada Rasulullah saw. Dia berkata, “Itu adalah malaikat Jibril. Seandainya Abu Jahal mendekat kepadaku, niscaya Jibril akan memakannya benar-benar.”

Abu Jahal sering sekali melarang Rasulullah saw. melakukan salat di Ka’bah. Pada suatu hari ia berkata kepada Rasulullah saw. setelah melihat Rasulullah melakukan salat di Ka’bah, “Bukankah aku telah melarangmu melakukan hal itu disini?” Lalu Rasulullah berkata kasar terhadapnya seraya mengancamnya. Setelah mendengar jawaban dari Rasulullah, Abu Jahal berkata, “Apakah engkau mengancamku sedangkan aku adalah orang yang paling berpengaruh di lembah ini?” Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya sebagai ancaman yang ditujukan kepada Abu Jahal, yaitu:

Ketahuilah, sunggih jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya, dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah). (Q.S. 96 Al ‘Alag: 15-19)

Di antara perlakuan menyakitkan yang dialami oleh Rasulullah saw. ialah sebagaimana riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari melalui Sahabat Ibnu Mas’ud r.a. dalam riwayat hadis ini Sahabat Ibnu Mas’ud menceritakan: Ketika kami sedang bersama Rasulullah saw. di dalam MasjidilHaram, sedangkan Rasulullah saw. pada saat itu sedang mengerjakan salat, Abu Jahal berkata, “Tidakkah ada seorang lelaki yang mau mengambilkan tahi unta dari Bani Fulan, lalu ia mau melemparkannya kepada Muhammad yang sedang salat itu?” Kemudian berdirilah ‘Ugbah ibnu Abu Mu’ith ibnu Abu ‘Amr ibnu Umayyah ibnu ‘Abdusy Syamsy, lalu ia mendatangkan kotoran unta tersebut dan langsung melemparkannya kepada Nabi saw. yang pada waktu itu sedang sujud. Pada waktu itu tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang berada di Masjid mampu membersihkan kotoran tersebut dari tubuh Rasulullah saw. karena mereka masih lemah dan belum mampu melawan musuh mereka. Rasulullah saw. masih tetap dalam keadaan sujud sehingga datanglah Siti Fathimah, anaknya lalu ia membersihkan kotoran tersebut dan membuangnya. Setelah bar”gun dari sujudnya, segera ia berdoa melaknat orang-orang yang melakukan perbuatan yang buruk itu. Rasulullah saw. mengatakan di dalam doanya, “Ya Allah, turunkanlah laknatmu kepada segolongan orang Quraisy, “lalu dia menyebutkan beberapa orang. Ibnu Mas’ud melanjutkan ceritanya, “Maka aku melihat mereka semuanya terbunuh dalam Perang Badar.” (Hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari)

Di antara peristiwa yang dialami oleh Rasulullah dari Abu Jahal ialah sebagai berikut: Abu Jahal membeli beberapa ekor unta dari seorang lelaki yang dikenal dengan nama Al-Arasyi, tetapi Abu Jahal selalu menangguhnangguhkan pembayarannya. Kemudian Al-Arasyi mendatangi perkumpulan orang Quraisy dengan maksud untuk meminta bantuan mereka supaya ia dapat mengambil harga untanya dari Abu Jahal. Mereka menunjukkannya kepada Rasulullah saw. supaya dialah yang menagihnya dari Abu Jahal. Padahal mereka bermaksud mengejek Rasulullah saw. ka. rena telah mengetahui kebiasaan yang dilakukan oleh si terkutuk itu ter. hadap diri Rasulullah, sedangkan Al-Arasyi sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di antara Rasulullah dan Abu Jahal. Al-Arasyi menuruti saran mereka, lalu ia datang menemui Rasulullah saw. dan meminta bantuannya untuk menagih piutangnya dari Abu Jahal. Rasulullah saw. ke. luar bersamanya hingga sampai ke rumah Abu Jahal, lalu Rasulullah saw. mengetuk pintu rumah Abu Jahal. Dari dalam rumah, Abu Jahal bertanya, “Siapakah Anda? Rasulullah saw. menjawab, “Muhammad.” Abu Jahal keluar, sedangkan mukanya tampak pucat pasi. Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Berikanlah hak orang ini.” Abu Jahal menjawab, ‘jangan pergi dahulu, aku akan mengambilnya.” Lalu Rasulullah saw. menunggu sehingga berhasil menerima piutang Al-Arasyi. Kemudian. orangorang Quraisy berkata kepadanya, “Celakalah engkau, hai Abdul-Hakam, kami belum pernah melihat perlakuanmu yang sebaik itu terhadapnya.”Abu Jahal langsung menjawab, “Celakalah kalian ini, dem’ Allah, sewaktu ia mengetuk pintu rumahku, tiba-tiba aku mendengar suara yang mengerikan sekali. Aku sangat takut dibuatnya, dan tiba-tiba di atas kepalaku terdapat unta pejantan yang belum pernah aku lihat ada unta sebesar itu.”

Di antara orang-orang yang melakukan penghinaan dan ejekan terhadap diri Rasulullah saw. ialah Abu Lahab ibnu ‘Abdul-Muththalib, paman Rasulullah sendiri. Penghinaannya jauh lebih menyakitkan daripada penghinaan orang-orang lain. Abu Lahab sering melemparkan kotoran ke pintu rumah Rasulullah saw. karena ia adalah tetangga Rasulullah. Rasulullah membersihkan kotoran yang dilemparkannya itu seraya mengatakan, “Hai Bani ‘Abdu Manaf, tetangga macam apakah yang berlaku seperti ini?” Istri Abu Lahab pun ikut andil pula di dalam melakukan perbuatan buruk seperti apa yang dilakukan oleh suaminya. Ia dikenal dengan nama Ummu Jamilah binti Harb ibnu Umayyah. Dia sering mencaci Rasulullah saw. dan mempergunjingkannya, terlebih lagi setelah turun firman Allah mengenai dirinya dan suaminya, yaitu surat Al-Lahab.

Di antara orang-orang yang menghina Rasulullah saw, ialah ‘Aqabah ibnu Mu’ith. ‘Agabah adalah tetangga kedua Rasulullah saw. Ia sering melakukan hal-hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Abu Lahab terhadap diri Rasulullah saw. Pada suatu hari ia mengadakan pesta perkawinan. Ia mengundang semua orang terhormat dari kabilah Quraisy, termasuk Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Demi Allah, aku tidak akan memakan jamuan engkau sebelum engkau beriman kepada Allah dan membaca Syahadat.” Peristiwa itu terdengar oleh Ubay ibnu Kalaf al Jumahi al-Qurasyi, teman akrab ‘Agabah. Ubay bertanya kepadanya, “Apakah gerangan yang telah terjadi pada dirimu?” Agabah menjawab, “Tidak apa-apa, hanya ada seseorang yang terhormat menghadiri pestaku, tetapi ia tidak mau memakan jamuanku kecuali jika aku membaca Syahadat. Aku sangat malu bila ada seseorang yang menghadiri pesteku keluar dari rumahku tanpa memakan jamuanku. Oleh karena itu, terpdksa aku membaca syahadat.” Lalu Ubay berkata kepadanya, “Aku haramkan diriku bertemu dengan engkau jika engkau bertemu dengan Muhammad, kemudian engkau tidak menginjak lehernya dan meludahi – mukanya serta menampar mukanya.” Tatkala ‘Agabah melihat Rasulullah saw., ia langsung melakukan seperti yang dikatakan oleh Ubay tadi. Turunlah firman Allah swt. sehubungan dengan apa yang dilakukan oleh ‘Aqabah:

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata, “Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil Jalan bersama-sama Rasul. “Kecelakaan besarlah bagiku kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab-(ku). (Q.S. 25 Al-Furgan: 27-28)

Di antara perlakuan yang paling keras yang dilakukan oleh orang yang celaka ini (‘Ugbah ibnu Abu Mu’ith) terhadap diri Rasulullah saw. ialah seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yaitu: Ketika Nabi sedang melakukan salat di Hijir Isma’il, tiba-tiba datanglah ‘Ugbah ibnu Abu Mu’ith. Kemudian ia meletakkan kainnya pada leher Rasulullah, lalu ia mencekiknya dengan keras sekali, tetapi datanglah Sahabat Abu Bakar, lalu Sahabat Abu Bakar mengcengkeram pundak ‘Ugbah dan menariknya dari Nabi Saw. Selanjutnya Sahabat Abu Bakar mengucapkan Firman-Nya: “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Rabb-ku adalah Allah ‘ padahal dia telah datang kepada kalian dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabb kalian?” (Q.S. 40 Al-Mu’min: 28) (Hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari).

Di antara golongan yang menghina Rasulullah saw. ialah Al-‘Ash ibnu Wail as-Sahmiy al-Qurasyi, orang tua ‘Amr ibnul ‘Ash. Dia terkenal sangat memusuhi Rasulullah saw. dan dia pernah mengatakan, “Muhammad telah menipu para sahabatnya bahwa mereka akan dihidupkan kembali sesudah mati. Demi Allah, tiada yang dapat membinasakan kami selain hanya masa.” Maka Allah menurunkan firman-Nya sebagai jawaban atas tuduhan yang dilancarkan oleh Al-‘Ash ibnu Wail tadi, yaitu :

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,” dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu: mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Q.S. 45 Al-Jatsiyah: 24)

Pernah Al-‘Ash ibnu Wail mempunyai utang kepada Khabbab ibnul Art, salah seorang dari kaum Muslimin. Khabbab menagihnya, tetapi Al-‘Ash berkata kepadanya, “Bukankah Muhammad yang agamanya engkau peluk sekarang menduga bahwa di surga terdapat semua yang diingini oleh para penghuninya berupa emas, atau perak, atau pakaian, atau pelayan?” Khabbab menjawab, “Memang benar.”Lalu Al-‘Ash berkata, “Kalau memang demikian, tunggulah aku sampai pada hari itu. Aku akan diberi harta dan anak, dan aku akan membayar utangku kepada engkau,” Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya:

Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan,”Pasti aku akan diberi harta dan anak.”! Adakah dia melihat yang gaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah?. Sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang dikatakannya, dan benar-benar Kami akan memperpanjang azab untuknya, dan kami akan mewariskan apa yang dikatakannya itu, dan ia akan datang kepada Kami seorang diri. (Q.S. 19 Maryam: 7180)

Di aftara orang-orang yang menghina Rasulullah saw. terdapat pula AlAswad ibnu ‘Abdu Yaghuts z-Zuhriy al-Qurasyi. Ia berasal dari kalangan Bani Zahrah, paman (dari pihak ibu) Rasulullah saw. Apabila ia melihat para sahabat Nabi saw. datang, ia berkata, “Telah datang kepada kalian raja-raja besar,” dengan maksud mengejek mereka, karena mereka tampak sederhana sekali dan pakaian mereka penuh dengan tambalan, sedangkan kehidupan mereka miskin. Ia sering berkata kepada Rasulullah saw. dengan nada sinis, “Tidakkah hari ini engkau berbicara dari langit?” Orang lainnya yang sering menghina Rasulullah saw. ialah al Aswad ibnu ‘Abdul-Muththalib Al-Asadiy, anak lelaki paman Siti Khadijah. Dia dan golonganya, apabila bertemu dengan kaum Muslimin yang melewati mereka, saling mengedip-ngedipkan mata di antara sesama mereka dengan maksud mengejek kaum Muslimin. Dalam surah At-Tathfif terdapat ayatayat yang diturunkan berkenaan dengan sikap mereka itu, yaitu firmanNya: ,

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang sesat.” (Q.S. 83 At-Tathtif/ AlMuthaffin: 29-32)

Yang lain lagi yang menghina Rasulullah saw. ialah Al-Walid ibnul-Mughirah, paman Abu Jahal. Dia termasuk pembesar kabilah Quraisy dan kehidupannya mewah. Pada suatu ketika ia mendengar Al-Qur’an yang dibacakan oleh Rasulullah saw., lalu ia berkata kepada kaumnya, yaitu Bani Makhzum, “Demi Allah, tadi aku baru saja mendengar dari Muhammad suatu kalam yang bukan kalam manusia dan bukan pula kalam jin. Sesungguhnya kalam itu memiliki keindahan serta kecemerlangan: sesungguhnya (ibarat pohon) puncaknya penuh dengan buah dan di bawahnya (akarnya) sangat subur sekali: dan sesungguhnya ia sangat tinggi dan tidak ada yang melebihinya.”Maka orang-orang Quraisy berkata, “Demi Allah, Al-Walid sungguh telah masuk agama baru (Islam). Niscaya orang-orang Quraisy semua akan masuk agama baru itu.” Lalu Abu Jahal berkata kepada mereka, “Tenanglah, cukup aku sebagai pengganti kalian yang akan menyadarkannya. “Kemudian Abu Jahal pergi ke rumahnya. Sesampainya | di rumah Al Walid. ia duduk di hadapannya seraya bersedih dan berbicara | kepadanya dengan kata-kata yang membakar semangat kejahiliahannya.

Setelah Al-Walid mendengar hasutan Abu Jahal yang membakar itu, is segera bangkit dan langsung mendatangi orang-orang Quraisy, kemudian ia berkata kepada mereka, “Kalian menuduh Muhammad gila, apakah kalian pernah melihat dia ngelantur (gila)? Kalian telah mengatakan bahwa dia peramal: apakah kalian pernah melihatnya meramal? Kalian telah menuduhnya sebagai seorang penyair, apakah kalian per. nah melihat dia mengucapkan syair?

Kalian telah menuduhnya sebagai pendusta, apakah kalaian pernah mengalami/melihat dia berdusta dalam suatu hal?” Semua pertanyaan tersebut mereka jawab, tidak pernah. Kemudian mereka bertanya, “Kalau memang demikian, lalu dia menjadi apa” Lalu Al-Walid berpikir sejenak, kemudian berkata, “Dia tiada lain adalah seorang ahli sihir. Bukankah kalian telah melihat dia sering memisahkan seorang laki-laki dengan istri, anak, dan hamba-hamba sahayanya?” Setelah mendengar jawaban dari Al-Walid tersebut, orang-orang bersorak karena gembira sehingga aula tempat pertemuan mereka seolah-olah bergetar carena suara luapan kegembiraan mereka. Allah menurunkan firman-Nya sehubungan dengan sikap Al-Walid ini yang ditujukan kepada Rasulullah saw. khithab-nya yaitu:

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang telah Aku ciptakan sendiri. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anakanak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah) karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Quran). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, Al-Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” Aku akar memasukkannya ke dalam (neraka) Sagar. (Q.S. 74 Al-Muddatstsir: 1126)

Firman-Nya yang lain yang diturunkan sehubungan dengan Al-Walid ini, yaitu:

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian-kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain itu yang terkenal kejahatannya karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.” Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(-nya). (Q.5. 68 Al-QGalam: 10-15)

Hallaf artinya banyak bersumpah atau mudah mengeluarkan sumpah. Kami kira ayat ini cukup sebagai peringatan buat orang yang sering mengucapkannya.

Mahin artinya hina, dan makna yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang yang suka berdusta karena orang yang sering berdusta itu berarti menghina dirinya sendiri.

Hammazin artinya banyak mencela lagi jahat.

Masysyain binamimin artinya mempunyai kebiasaan memindah-mindahkan perkataan di antara manusia dengan tujuan menghasut (mengadu domba).

‘Utullin artinya kaku lagi kasar.

Zanim artinya sangat tercela lagi terkenal kejahatannya.

Al-khurthum merupakan ungkapan kinayah (kata kiasan) tentang menghina dan merendahkan. Karena wajah atau muka merupakan anggota tubuh manusia yang paling terhormat, sedangkan bagian muka yang paling mulia adalah hidung, maka orang Arab selalu memakainya untuk menunjukkan ungkapan yang mengandung arti kebesaran, seperti al-anafah yang artinya kebesaran jiwa. Memberi tanda (tatoo) pada anggota yang paling terhormat menunjuk kepada pengertian menghina dan merendahkan.

Orang lainnya lagi yang menghina Rasulullah saw. ialah An-Nadhr ibnul-Harits al-‘Abdari dari kalangan Bani ‘Abdud Dar, dan ‘Abdud-Dar adalah anak Qushay. Apabila Rasulullah saw. berada di dalam suatu majelis dalam rangka dakwah dan memberikan peringatan kepada mereka, kemudian apa yang dikemukakannya itu kelihatan mengena di hati mereka, maka An-Nadhr bangkit dan berkata, “Hai orang Quraisy, kemarilah! Sesungguhnya aku lebih baik daripada dia dalam berbicara.” Kemudian An-Nadhr mulai bercerita kepada mereka tentang kisah rajaraja Persia, sedangkan An-Nadhr sebelumnya telah mengetahui apa yang telah dibicarakan oleh Rasulullah saw. terhadap mereka. Lalu ia berkata menegaskan, “Tiada lain pembicaraan Muhammad itu hanyalah dongengan-dongengan (mitos) orang-orang dahulu.” Maka Allah swt menurunkan firman-Nya sehubungan dengan sikap An-Nadhr ini, yaitu:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka Itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telingganya: maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. (Q.S. 31 Lugman: 6-7)

Mereka semua yang telah kami sebutkan adalah orang-orang yang kelak pasti akan mendapat balasan azab dari Allah swt. sebagaimana yang telah disebutkan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang: orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah: maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). (Q.S. 15 Al-Hijr: 95-96)

Allah swt. telah menentukan ancaman-Nya melalui firman-Nya yang tadi (Al-Hijr) untuk diketahui bahwa ancaman-Nya itu benar-benar terjadi mengingat surat tersebut Makkiyah, sedangkan kebinasaan mereka, terjadi sesudah Hijrah. Di antara mereka ada yang mati terbunuh, yaitu seperti Abu Jahal, An-Nadhr ibnul Harits, dan ‘Ugbah ibnu Abu Mur’ith. Ada yang mati oleh sebab musibah yang ditimpakan Allah kepada mereka berupa penyakit yang berat sehingga mereka mati sesudah mengalami penderitaan yang hebat. Mereka yang mati karena penyakit yang berat sehingga mereka mati sesudah mengalami penderitaan yang hebat. Mereka yang mati karena penyakit adalah seperti Abu Labab, al-‘Ash ibnu Wail, dan Al-Walid ibnul-Mughirah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker