Sejarah

Terjemahan Kitab Nurul Yaqin

TAHUN KEENAM HIJRIAH

Pada tanggal 10 Muharam tahun keenam Hijriah, Rasulullah saw. mengirimkan Muhammad ibnu Maslamah bersama tiga puluh orang pasukan berkuda dengan tujuan memerangi Bani Bakar ibnu Kilab yang perkemahannya terletak di daerah Dhariyyah.” Kemudian Muhammad ibnu Maslamah membawa pasukannya menuju tempat mereka: bila siang ber. henti untuk istirahat, dan bila malam hari berjalan sehingga sampai ke tempat mereka. Sesampainya di tempat mereka Muhammad ibnu Maslamah langsung menyerbu sehingga ia dapat membunuh sepuluh orang di antara mereka, sedangkan yang lainnya lari tunggang-langgang. Akhirnya pasukan Muhammad ibnu Maslamah mendapat ghanimah berupa unta dan kambing, lalu ia dan balatentaranya kembali ke Madinah dengan membawa ghanimah.

Di tengah jalan, sewaktu mereka kembali, mereka bertemu dengan Tsamamah ibnul-Atsal al-Hanafi, salah seorang yang terkemuka dari kalangan Bani Hanifah. Kemudian kaum Muslimin menawannya sedangkan mereka belum mengetahui siapa dia. Ketika mereka menghadapkannya kepada Rasulullah saw., Rasulullah saw. memperkenalkannya kepada mereka dan memperlakukannya berlandaskan akhlak yang mulia. Sudah tiga hari Rasulullah saw. melepaskannya. Selama itu dia ditawari oleh Rasulullah saw. untuk masuk Islam, tetapi ia tidak mau menuruti ajakannya. Akan tetapi, setelah Tsamamah merasakan semua perlakuan yang baik dan akhlak yang mulia dari Rasulullah saw, terlintas di dalam benaknya, bahwa tidak ada gunanya lagi ia memperturutkan hawa nafsunya dan meninggalkan agama yang pilarnya adalah hal-hal yang terpuji. Ia kembali kepada Rasulullah saw. dalam keadaan Muslim tanpa dipaksa. Lalu Tsamamah berkata kepada Rasulullah, “Hai Muhammad, demi Allah, dahulu tiada suatu wajah pun di muka bumi ini yang lebih aku benci daripada wajah engkau. Akan tetapi, sekarang wajah engkau adalah wajah yang paling aku cintai lebih daripada segalanya. Demi Allah, dahulu tiada suatu agama pun di muka bumi ini yang lebih aku benci daripada agama engkau, tetapi sekarang sungguh ia adalah agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dahulu tiada suatu negeri pun yang lebih aku benci daripada negeri engkau, tetapi sekarang sungguh ia adalah negeri yang paling aku cintai.” Mendengar pernyataan itu Rasulullah saw. gembira sekali, sebab di belakangnya terdapat kaum yang taat kepadanya.

Ketika Tsamamah kembali ke negerinya melewati Makkah seraya ber’umrah, di Makkah ia menampakkan keislamannya. Orang Quraisy bermaksud menyakitinya, tetapi mereka ingat bahwa kebutuhan mereka akan biji-bijian disuplai dari negeri Yamamah tempat tinggal Tsamamah. Akhirnya mereka membiarkannya. Selain itu Tsamamah telah bersumpah bahwa ia tidak akan mengirimkan hasil biji-bijiannya lagi kepada penduduk Makkah sebelum mereka mau beriman kepada Rasulullah. Hal tersebut membuat penduduk Makkah kelabakan dan menderita sekali, lalu mereka tidak punya alternatif lain kecuali meminta pertolongan kepada Rasulullah saw. Rasululah saw. menerima kedatangan mereka dengan baik dan memperlakukan mereka dengan sikap belas kasihan yang telah menjadi pembawaan dirinya. Akhirnya Rasulullah saw. mengirimkan surat kepada Tsamamah supaya ia mengembalikan keadaan seperti semula, yaitu menyuplai penduduk Makk-h dengan hasil biji-bijian tanah Yamamah. Tsamamah memenuhi permintaan Rasulullah saw. dengan baik.

Lelaki yang mulia ini (Tsamamah) mempunyai peranan penting dalam kaumnya sehabis Rasulullah saw. wafat, yaitu ketika kebanyakan penduduk negerinya murtad. Ia selalu mencegah kaumnya mengikuti Musailamah al-Kadzdzab, dan selalu mengatakan kepada mereka, “Hati-hatilah kalan dengan perkara yang gelap lagi tidak ada cahayanya itu (perkara Musailamah al-Kadzdzab), sesungguhnya barang siapa yang mengikutinya, berarti telah dipastikan oleh Allah sebagai orang yang celaka.” Banyak di antara kaumnya yang berpendirian teguh bersamanya, tidak tergoda oleh Musailamah dan para pengikutnya.

PERANG BANI LIHYAN

Bani Lihyan adalah orang-orang yang membunuh ‘Ashim ibnu Tsabit dan kawan-kawannya. Rasulullah saw. masih tetap dalam keadaan belasungkawa atas kematian mereka, dan selalu mengharapkan dapat membalas musuh-musuh mereka dengan hukum gishash. Kemudian pada bulan Rabiulawal tahun keenam Hijriah, Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat untuk bersiap-siap. Sebagaimana biasa dalam kebanyakan peperangan yang dilakukannya, dia tidak memberitahukan kepada mereka tujuan yang akan menjadi sasaran. Maksudnya supaya rencana yang telah disusunnya tidak diketahui oleh pihak musuh. Kemudian sebelum itu dia mengangkat Ibnu Ummi Maktum sebagai penggantinya di Madinah.

Rasulullah saw. berjalan dengan membawa dua ratus orang pasukan berkendaraan, di antaranya dua puluh orang pasukan berkuda. Rasulullah saw. terus melakukan perjalanan hingga sampai di suatu tempat yang bernama Ar-Raji’. Di tempat itu Rasulullah saw. teringat akan para sahabatnya yang dibunuh oleh orang-orang katir di tempat tersebut. Lalu Rasulullah saw. memohonkan rahmat dan ampunan kepada Allah buat mereka yang telah gugur sebagai syuhada.

Tatkala Bani Lihyan mendengar tentang kedatangan Rasulullah dan pasukannya, mereka melarikan diri ke daerah pegunungan. Rasulullah saw. tinggal di perkampungan mereka selama dua hari seraya mengirimkan beberapa kelompok pasukan untuk mengejar mereka, tetapi ternyata tidak seorang pun dari mereka yang ditemukan. Kemudian Rasulullah saw. mengirimkan sebagian dari para sahabat untuk mendatangi ‘Asfan” supaya mereka diketahui oleh penduduk Makkah dan penduduk Makkah akan takut dibuatnya. Selanjutnya kaum Muslimin berangkat menuju Kura’il Ghaim,? dan terus pulang ke Madinah. Rasulullah saw. bersabda:

Kami kembali dalam keadaan bertobat dan memuji kepada Rabb kami. Aku berlindung kepada Allah dari perjalanan yang melelahkan, pulang dalam keadaan kecewa, dan buruknya keadaan keluarga dan harta benda.

PERANG GHABAH

Nabi saw. memiliki dua puluh ekor unta perah yang digembalakan di daerah Ghabah. Kemudian ternak milik Nabi itu diserang oleh ‘Uyaynah ibnu Hishn bersama empat puluh orang tentara berkuda, lalu mereka merampas semua ternak tersebut dari tangan penggembalanya. Berita mengenai peristiwa itu sampai dengan cepat kepada Rasulullah saw. Orang yang menyampaikan berita itu adalah Salamah ibnul-Akwa’, seorang anggota pasukan pemanah Anshar dan jago maraton. Rasulullah saw. memerintahkan supaya keluar membuntuti musuh, lalu menyibukkan mereka dengan panah-panahnya. Ia berlari cepat mengejar mereka sehingga dapat menyusulnya, lalu memanahi mereka. Apabila pasukan berkuda musuh mengejarnya, ia lari dengan cepat sehingga tidak terkejar oleh mereka. Apabila pasukan berkuda memasuki daerah yang sempit di antara dua bukit, maka Salamah ibnul Akwa’ menaiki bukit, lalu melempari mereka dengan batu-batu dari atas bukit. Akhirnya mereka melemparkan tombak dan tameng-tameng yang ada di tangan mereka supaya beban mereka menjadi ringan dan dapat lari kencang hingga pasukan kaum Muslimin tidak dapat mengejar mereka.

Salamah ibnul Akwa’ terus melakukan hal ini sampai pasukan kaum Muslimin dapat bergabung dengannya. Sebelum itu Rasulullah saw. mengajak para sahabat untuk melakukan pengejaran ini, lalu mereka mengabulkan permintaannya. Orang yang terakhir diajak oleh Rasulullah saw. adalah Al-Migdad ibnul-Aswad. Lalu Rasulullah bersabda, “Keluarlah engkau untuk mengejar mereka, nanti aku akan menyusulmu.” Kemudian Rasulullah saw. memberikan kepadanya panji peperangan. Ia berangkat diikuti oleh pasukan berkuda. Akhirnya mereka dapat menyusul barisan belakang musuh, lalu terjadilah di antara kedua pasukan tersebut peperangan yang seru. Seorang Muslim gugur dan dua orang kafir mati terbunuh. Kaum Muslimin dapat menyelamatkan sebagian besar dari ternak untanya, sedangkan sisanya dibawa lari oleh pasukan barisan depan musuh yang melarikan diri.

Kemudian Salamah ibnul Akwa’ meminta kepada Rasulullah saw. supaya mengizinkannya mengejar tentara musuh yang tersisa bersama segolongan tentara kaum Muslimin maksudnya supaya ia menyerang mereka sewaktu mereka dalam keadaan lengah dan sedang beristirahat di oase mereka. Rasulullah saw. berkata, “Sekarang engkau telah berhasil mengalahkan mereka, maka maafkanlah mereka.” Kemudian kaum Muslimin kembali lagi ke Madinah setelah lewat lima hari.

SARIYYAH

Bani Asad yang kisahnya telah kami kemukakan di muka sering menyakiti kaum Muslimin yang lewat di daerah mereka. Rasulullah saw. mengirimkan ‘Ukasyah ibnu Muhashshin bersama empat puluh orang pasukan berkuda guna menyerang mereka. Akan tetapi, tatkala pasukan itu hampir sampai di daerah mereka, mereka mendengar kedatangannya, lalu melarikan diri. Di tempat itu kaum Muslimin menemukan seorang lelaki yang sedang tidur, lalu mereka menawannya supaya menunjukkan tempat ternak milik Bani Asad. Lelaki tersebut mau menunjukkan tempatnya. Kaum Muslimin menggiring semua ternak milik mereka yang jumlah seluruhnya seratus ekor unta. Setelah itu mereka kembali ke Madinah tanpa menemukan perlawanan sedikit pun dari pihak musuh.

SARIYYAH

Dalam bulan Rabiulawal tahun itu juga (enam Hijriyah) ada berita yang sampai kepada Rasulullah saw. bahwa orang-orang yang mendiami daerah Drul-Qishshah bermaksud menyerang ternak milik kaum Muslimin yang digembalakan di daerah Haifa. Rasulullah saw. mengirimkan Muham. mad ibnu Maslamah bersama sepuluh orang tentara kaum Muslimin untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Kaum Muslimin sampai di tempat mereka pada malam hari.

Akan tetapi, kaum Musyrikin yang telah mengetahui kedatangan mereka memasang perangkap buat kaum Muslimin. Ketika kaum Muslimin tidur untuk beristirahat, tanpa sepengetahuan mereka tiba-tiba anak-anak panah musuh telah menghujani mereka. Kaum Muslimin berlompatan menuju senjatamasing-masing, tetapi musuh telah mencegat mereka terlebih dahulu. Akhirnya musuh dapat membunuh mereka semua, kecuali Muhammad ibnu Maslamah sendiri. Musuh mengira bahwa ia telah mati bersama teman-temannya, dan ia ditinggalkan begitu saja. Muhammad ibnu Maslamah kembali ke Madinah sendirian, lalu mengabarkan kepada Rasulullah saw. semua peristiwa yang telah dialaminya.

Selanjutnya pada bulan Rabiulakhir Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Abu “Ubaidah ‘Amir ibnul-Jarrah untuk membalas perlakuan mereka. Ketika tentara kaum Muslimin sampai di tempat mereka, ternyata mereka telah melarikan diri meninggalkan kampung halaman mereka. Akhirnya kaum Muslimin menggiring semua ternak milik mereka dan kembali ke Madinah dengan membawa ghanimah.

SARIYYAH

Bani Salim adalah orang-orang yang bergabung dengan golongan yang bersekutu dalam Perang Khandag. Mereka selalu mengganggu kaum Muslimin yang mengadakan perjalanan lewat daerah mereka. Rasulullah saw. mengirimkan sahabat Zaid ibnu Haritsah bersama pasukan kaum Muslimin untuk menyerang mereka di Al-Jamum. Hal ini terjadi pada bulan Rabiulakhir tahun keenam Hijriah. Ketika Zaid bersama tentaranya sampai di tempat mereka, ternyata ia tidak menemukan seorang pun karena mereka sudah lari meninggalkannya. Di tempat tersebut ia dan balatentaranya hanya menemukan seorang wanita dari Muzayyanah. Kemudian wanita itu menunjukkan kepada tentara kaum Muslimin tempat perkemahan Bani Salim. Akhirnya di perkemahan mereka kaum Muslimin memperoleh banyak ternak unta dan domba, dan mereka pun menemukan pula kaum lelaki. Semuanya ditawan, termasuk suami wanita tersebut yang ada bersama mereka. Kemudian kaum Muslimin kembali ke Madinah. Sesampainya di Madinah mereka dihadapkan kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. membebaskan wanita tersebut bersama suaminya.

SARIYYAH

Telah sampai berita bahwa kafilah dagang milik orang Quraisy sedang dalam perjalanan kembali ke Makkah. Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Zaid ibnu Haritsah bersama seratus tujuh puluh tentara berkuda guna mencegat mereka. Akhirnya tentara kaum Muslimin berhasil mengambil semua yang di bawa oleh kafilah tersebut, sedangkan para pembawanya ditawan, termasuk Abul-‘Ash ibnur-Rabi’, suami putri Rasulullah saw., Siti Zainab, yang ikut bersama mereka.

Abul-‘Ash ibnur-Rabi’, termasuk orang Makkah yang terpandang dalam hal berniaga, banyak harta, dan dipercaya. Ia meminta perlindungan kepada istrinya, Siti Zainab. Akhirnya Siti Zainab mau memberikan perlindungan kepadanya, kemudian Siti Zainab meminta dukungan dari kelompok orang Quraisy (yang telah masuk Islam). Rasulullah saw. berkata, “Kaum Muslimin itu bagaikan satu tangan: orang yang paling bawah dari kaum Muslimin dapat memberikan perlindungan kepada mereka (yang ditawan). Sekarang kami mau membebaskan orang-orang yang engkau lindungi.”

Hal ini merupakan gambaran tentang prinsip persamaan yang paling kuat di kalangan Muslimin. Kemudian Rasulullah saw. mengembalikan semua harta yang dibawanya tanpa kurang sedikit pun. Selanjutnya Abul’Ash ibnur-Rabi’ kembali ke Makkah dengan selamat, lengkap dengan hasil perniagaannya. Sesampainya di Makkah ia mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya, kemudian ia kembali ke Madinah dalam keadaan Muslim. Lalu Rasulullah saw. mengembalikan istrinya kepadanya.

SARIYYAH

Pada bulan Jumadilakhir tahun keenam Hijriah Rasulullah saw. mengiTimkan sahabat Zaid ibnu Haritsah bersama lima belas orang tentara untuk menyerang Bani Tsa’labah. Bani Tsa’labah adalah orang-orang yang telah membunuh teman-teman Sahabat Muhammad ibnu Maslamah, Mereka tinggal di Ath-Tharf.” Oleh sebab itu Rasulullah saw. mengirimkan sariyyah-nya untuk menghajar mereka.

Tatkala musuh melihat mereka, musuh menduga bahwa mereka adalah balatentara besar di bawah pimpinan Rasulullah saw. Mereka ketakutan, lalu lari dan meninggalkan ternak unta berikut domba yang mereka miliki. Akhirnya kaum Muslimin menggiring semua ternak milik mereka sebagai ghanimah. Setelah empat hari mereka kembali ke Madinah.

SARIYYAH

Pada bulan Rajab Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Zaid ibnu Haritsah bersama sejumlah tentara kaum Muslimin untuk menyerang Bani Fazzarah sebab mereka pernah mencegat kafilah Zaid ibnu Haritsah yang baru kembali dari negeri Syam dengan membawa barang dagangan. Mereka merampas semua yang dibawa oleh Zaid, dan bahkan mereka hampir saja membunuhnya. Tatkala datang di Madinah, Zaid melaporkan kepada Rasulullah saw. semua yang terjadi atas dirinya. Segera Rasulullah saw. mengirimkannya kembali untuk membalas perlakuan Bani Fazzarah yang bermukim di Wadil-Qura? itu.

Sahabat Zaid berangkat sehingga sampai ke tempat musuh, lalu langsung mengepung dan menyerang mereka. Zaid bersama balatentaranya dapat membunuh sebagian besar tentara musuh dan dapat menawan seorang wanita dari kalangan pembesar mereka. Sesampai di Madinah tawanan wanita itu diminta oleh Rasulullah saw. untuk dijadikan tukaran dengan orang Muslim yang ditawan di Makkah.

SARIYYAH

Pada bulan Sya’ban tahun keenam Hijriah Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat ‘Abdur-Rahman ibnu ‘Auf bersama tujuh ratus sahabat untuk memerangi Bani Kalb di Daumatul-Jandal?. Sebelum pasukan diberangkatkan, Rasulullah saw. berpesan kepada mereka: Berperanglah kalian semua di jalan Allah. Bunuhlah orang-orang yang kafir kepada Allah, tetapi janganlah kalian berbuat korup (dengan ghanimah), jangan berbuat khianat, jangan membunuh dengan cara mencincang, dan jangan membunuh anak-anak. Hal itu merupakan janji Allah dan perjalanan Nabi-Nya di antara kalian. Kemudian Rasulullah saw. menyerahkan panji peperangan kepada Sahabat ‘Abdur-Rahman ihnu ‘Auf.

Sahabat ‘Abdur-Rahman berangkat membawa pasukannya disertai berkah Allah hingga sampai di tempat musuh. Kemudian tentara kaum Muslimin menyeru mereka selama tiga hari untuk masuk Islam. Pada hari yang keempat pemimpin mereka yang bernama Al-Ashbagh ibnu ‘Amr masuk Islam. Turut masuk Islam bersamanya seorang yang beragama Nasrani bersama segolongan kaumnya, sedangkan yang lainnya dengan suka rela memilih membayar jizyah.

Selanjutnya Sahabat ‘Abdur-Rahman ibnu ‘Auf mengawini anak perempuan pemimpin mereka sesuai dengan perintah Rasulullah kepadanya. Hal ini merupakan sarana yang paling mengena demi memperkuat hubungan di antara para pemimpin sehingga terjalinlah hubungan kekeluargaan di antara mereka. Sebagian di antara mereka ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sebagian yang lain. Yang demikian itu merupakan cara yang terbaik, yaitu menjalin perdamaian dan rasa kasih sayang.

SARIYYAH

Pada bulan Sya’ban Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat ‘Ali ibnu Abu Thalib bersama seratus tentara kaum Muslimin untuk memerangi Bani Sa’d ibnu Bakr di Fadak” karena Rasulullah saw. mendapat informasi yang akurat, bahwa mereka telah menghimpun balatentara untuk membantu orang Uahudi Khaibar memerangi kaum Muslimin dengan imbalan akan diberi kurma Khaibar.

Bergeraklah tentara kaum Muslimin yang dipimpin oleh Sahabat ‘Alj ibnu Abu Thalib. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan mata-mata musuh yang dikirim oleh Bani Sa’d untuk mengadakan perjanjian dengan orang Yahudi di Khaibar sebagai wakil mereka. Kaum Muslimin meminta supaya ia menunjukkan tempat kaum mereka, dan kaum Muslimin men. jamin keselamatannya. Orang itu mau menunjukkan tempat mereka. Ak. hirnya dari tempat musuh kaum Muslimin berhasil menggiring ternak milik mereka, sedangkan para penggembalanya lari terbirit-birit ketakut. an. Kemudian para pengembala itu memberitahukan kedatangan tentara kaum Muslimin kepada kaumnya. Hal ini membuat mereka takut, lalu mereka melarikan diri meninggalkan perkampungan mereka. Kembalilah kaum Muslimin bersama lima ratus ekor ternak unta dan seribu ekor kambing milik kaum sebagai barang ghanimah. Ternyata Allah swt. telah mematahkan tipu muslihat kaum musyrikin sehingga mereka sama sekali tidak dapat memberikan bantuan apa pun kepada orang Yahudi.

TERBUNUHNYA ABU RAFI

Orang yang menggerakkan penduduk Khaibar untuk memerangi kaum Muslimin adalah pemuka mereka sendiri, yaitu Abu Rafi” Sallam ibnu Abul Hagig yang terkenal dengan julukan Pedagang Ulung dari Hijaz. Ia mendapat julukan demikian karena ia seorang yang ahli dalam masalah perniagaan dan memiliki harta yang banyak sekali, dengan hartanya itu ia dapat mempengaruhi orang Yahudi Khaibar. Rasulullah saw. mengutus beberapa orang untuk membereskannya. Tugas ini disanggupi oleh lima orang lelaki dari kabilah Khazraj di bawah pimpinan ‘Abdullah ibnu “Utaig. Mereka sengaja menyanggupi memikul tugas ini supaya mereka mendapat pahala yang sama dengan saudara-saudara mereka dari kabilah Aus yang telah membunuh Ka’b ibnul Asyraf. Termasuk di antara karunia yang dilimpahkan Allah terhadap Rasul-Nya ialah, bilamana kabilah Aus merasa bangga terhadap apa yang telah mereka lakukan dalam memenuhi keinginan Rasulullah, kabilah Khazraj pun berupaya sekuat tenaga untuk mengimbanginya dengan melakukan hal yang serupa.

Rasulullah saw. memerintahkan mereka untuk melakukan tugas itu setelah dia berpesan kepada mereka, agar tidak membunuh anak kecil dan wanita. Mereka berangkat hingga sampai di Khaibar, lalu ‘Abdullah berkata kepada teman-temannya, “Kalian harap tetap di tempat ini karena aku akan berangkat menuju penjaga pintu dan membujuknya supaya ia memperbolehkan aku masuk, barangkali saja caraku membawa hasil.” Lalu ‘Abdullah mendekati penjaga pintu gerbang Khaibar seraya menutup! kepalanya dengan pakaiannya seolah-olah ia baru kembali dari buang air pesar, sedangkan orang-orang lain telah memasuki gerbang tersebut. Penjaga gerbang itu berkata, “Hai ‘Abdullah, bila engkau hendak masuk cepatjah karena sebentar lagi aku akan menutup pintu ini.” Lalu ‘Abdullah masuk dan bersembunyi selama beberapa waktu sehingga penjaga gerbang tertidur. Setelah itu Abdullah mendekatinya dan mengambil kunci gerbang jalu membuka pintu gerbang supaya ia mudah lari sehabis menunaikan tugasnya nanti.

Kemudian ‘Abdullah ibnu Utaig langsung menuju rumah Abu Rafi’, jalu membuka pintu-pintu yang menuju ke tempatnya satu demi satu. Setiap ia membuka pintu, ia langsung menguncinya dari dalam hingga sampai ke suatu ruangan tempat tinggal Abu Rafi’. Ternyata ruangan tersebut sangat gelap. Abu Rafi’ pada saat itu berada di tengah-tengah anakanak dan keluarganya, hingga Abdullah tidak dapat memastikan di mana Abu Rafi’ berada. Lalu ia berseru, “Hai Abu Rafi!” Abu Rafi’ menjawab, “Siapakah engkau?” Lalu ‘Abdullah ibnu ‘Utaig mengayunkan pedangnya ke arah suara tersebut, tetapi tidak membawa hasil apa-apa. Pada saat itu istri Abu Rafi’ berkata, “Ini tidak salah lagi suara Ibnu Abu ‘Utaig”. Abu Rafi’menjawab, “Celakalah ibumu, di mana Ibnu Abu ‘Utaig sekarang?” Kemudian ‘Abdullah berseru lagi seraya mengubah suaranya, “Suara siapakah yang sekarang kamu dengar, hai Abu Rafi’?” Abu Rafi’ menjawab, “Celakalah ibumu, sesungguhnya sekarang ada seorang lelaki di dalam rumah yang mencoba menetakku dengan pedang.” Maka ‘Abdullah kembali menetakkan pedangnya ke arah suara itu, tetapi kali ini pun tidak membawa hasil apa-apa. Lalu beberapa saat ia bersembunyi dahulu, kemudian mendatangi sambil meminta tolong dan mengubah suaranya. Akhirnya ia dapat menemukan Abu Rafi’ sedang membaringkan tubuhnya, lalu langsung mengayunkan pedangnya ke perutnya sehingga ia mendengar suara tulang berdetak.

Setelah itu ‘Abdullah ibnu ‘Utaig keluar dari rumah Abu Rafi’, pandangan matanya lemah akibat penyakit rabun. Ja terjatuh dari atas tangga. Hal ini mengakibatkan kakinya keseleo, lalu ia membalut kakinya yang keseleo itu dengan kain serbannya dan bergabung dengan teman-temannya. Pada waktu keluar ia berseru, “Tolong, demi Allah, Abu Rafi’ telah mati terbunuh.”

Akhirnya mereka kembali dengan selamat dan menceritakan segalanya kepada Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw. berkata kepada ‘Abdullah, “Coba luruskan kakimu itu.” Rasulullah mengusapnya. Setelah itu ‘Abdullah merasakan kakinya sembuh sama sekali seperti sedia kala dan tidak merasakan sakit sedikit pun. Coba Anda lihat, semoga Allah swt. memelihara diri Anda. Bagaimana keadaan kaum Muslimin pada zaman Rasulul. lah saw? Mereka menganggap mudah semua rintangan dan kesulitan selagi hal itu demi keridaan Rasulullah saw. Semoga Allah meridai (merestui) mereka.

SARIYYAH

Setelah Ka’b ibnul-Asyraf terbunuh, tampuk pimpinan orang Yahudi dipegang oleh penggantinya, yaitu Asir ibnu Razzam. Kemudian Rasulullah saw. mengirimkan orang untuk mengawasi gerak-geriknya. Sampailah berita kepada Rasulullah bahwa Asir telah berkata kepada kaumnya, “Aku akan melakukan terhadap Muhammad apa-apa yang belum pernah dilakukan oleh para pendahuluku. Aku akan berangkat menuju Ghathafan, lalu aku kumpulkan mereka guna memerangi Muhammad.” Ternyata ia melakukan usaha tersebut. Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat ‘Abdullah ibnu Rawwahah al-Khazrajiy bersama tiga puluh orang tentara dari kalangan kaum Anshar untuk membujuknya supaya tidak melangsungkan niatnya.

Keluarlah mereka hingga sampai di Khaibar, lalu mereka berkata kepada Asir, “Kami datang dengan baik-baik hingga kami menawarkan kepadamu maksud kedatangan kami ini.” Asir menjawab, “Ya, kami pun demikian.” Lalu mereka menyetujuinya. Kemudian mereka mengajak Asir menghadap Rasulullah dan agar mau meninggalkan niatnya memerangi Rasulullah. Kelak Rasulullah saw. akan mengangkatnya menjadi pemimpin di tanah Khaibar. dan penduduknya akan hidup dengan aman dan damai. Asir mau menerima usul itu. Akhirnya keluarlah ‘ia bersama tiga puluh orang Yahudi. Setiap orang Yahudi membonceng kepada seorang Muslim.

Akan tetapi, di tengah perjalanan Asir merasa menyesal atas kesediaannya mau menghadap Rasulullah saw. Maka ia bermaksud berbuat khianat terhadap orang-orang yang telah menjamin keselamatannya. Lalu ja mencoba meraih pedang yang dibawa oleh ‘Abdullah ibnu Rawwahah. ‘Abdullah ibnu Rawwahah berkata, “Hai musuh Allah, apakah engkau mau berkhianat?” Kemudian ‘Abdullah ibnu Rawwahah turun dan menyabetnya dengan pedang sehingga memutuskan pahanya. Tidak lama kemudian binasalah Asir. Kaum Muslimin yang ada pada saat itu bangkit melawan setiap orang Yahudi yang ikut bersamanya, lalu mereka membunuh semuanya. Demikianlah pembalasan atas pengkhianatan itu.

KISAH MENGENAI ‘AKL DAN ‘ARINAH

Pada bulan Syawal tahun keenam Hijriah datang menghadap Rasulullah saw. segolongan orang dari ‘Akl dan ‘Arinah. Mereka datang dengan menampakkan keislamannya dan mau berbai ‘at kepada Rasulullah. Mereka dalam keadaan sakit, tubuh mereka tampak pucat, dan perut mereka tampak besar-besar. Cuaca kota Madinah tidak sesuai bagi mereka. Ragulullah saw. memerintahkan penggembalanya untuk menggembalakan unta mereka. Kemudian ia memerintahkan mereka supaya menyusul para penggembala tersebut di tempat penggembalaan. Maksudnya supaya orang-orang ‘Akl dan ‘Arinah itu berobat di sana dengan meminum air sugu dan air seni unta. Lalu mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah.

Setelah sembuh, mereka membalas air susu dengan air tuba. Mereka membunuh penggembala ternak itu dan bahkan mencincangnya, selanjutnya mereka menggiring ternaknya. Ketika berita tersebut sampai kepada Rasulullah saw. dia memerintahkan Sahabat Karz ibnu Jabir al-Fihri bersama dua puluh orang tentara berkuda untuk mengejar mereka. Akhirnya Sahabat Karz dapat menyusul mereka dan menangkap semuanya. Ketika mereka dihadapkan kepada Rasulullah saw. di Madinah, Rasulullah saw. memerintahkan supaya mereka diberi pembalasan yang setimpal dengan perlakuan mereka terhadap penggembala ternak. Tangan dan kaki mereka dipotong serta mata mereka dibutakan, lalu mereka dilemparkan di padang pasir sehingga semuanya mati. Demikianlah pembalasan pengkhianat yang tidak diharapkan lagi kebaikannya. Perilaku mereka yang jahat menunjukkan rusaknya watak mereka dan tercelanya sikap pergaulan mereka. Akan tetapi, sesudah peristiwa itu Rasulullah saw. melarang perbuatan mencincang.

SARIYYAH

Pada suatu hari ketika sedang duduk-duduk di tempat berkumpul kaumnya, tiba-tiba Abu Sufyan ibnu Harb berkata, “Adakah seorang lelaki yang mau pergi besok untuk menemui Muhammad lalu membunuhnya karena ia suka berjalan di pasar-pasar, supaya kita bebas daripadanya?”. Majulah seorang lelaki yang bersedia melakukan apa yang dikehendaki oleh Abu Sufyan, dan ia berjanji untuk melaksanakannya. Lalu Abu Sufyan memberinya kendaraan dan bekal serta mempersiapkannya untuk melakukan tugas itu.

Lelaki tersebut berangkat hingga sampai di Madinah pada pagi hari keenam sejak keberangkatannya. Ia menanyakan tempat Rasulullah saw. berada dan mendapat petunjuk. Pada saat itu Rasulullah saw. berada di da. lam masjid orang-orang Bani ‘Abdul-Asyhal. Ketika Rasulullah saw. melihat kedatangannya, dia berkata, “Sesungguhnya lelaki ini bermaksud untuk berbuat khianat, dan Allah akan mencegahnya.” Lalu lelaki itu menghadap Rasulullah saw. Ketika ia membungkuk sebagai penghormatan, tiba-tiba Usaid ibnu Hudhair menarik kainnya dari belakang. Pada saat itu pisau belati yang terselip dalam kainnya terjatuh, lalu lelaki itu menyesali perbuatannya. Kemudian Rasulullah saw. menanyai penyebab ia mau berbuat demikian. Lelaki itu menceritakan dengan sejujurnya semua maksudnya sesudah ia merasa yakin bahwa jiwanya selamat dan tidak diapa-apakan. Setelah itu Rasulullah saw. melepaskannya. Lelaki itu berkata, “Demi Allah, wahai Muhammad, aku belum pernah merasa takut kepada lelaki mana pun, tetapi begitu aku melihat engkau langsung pikiranku menjadi kacau dan jiwaku menjadi lemah. Kemudian engkau telah mengetahui maksud yang tersimpan di dalam hatiku. Hal itu tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Kini aku mengetahui bahwa engkau terpelihara dan bahwa engkau adalah benar serta golongan Abu Sufyan adalah golongan setan.” Selanjutnya lelaki itu masuk agama Islam.

Rasulullah saw. langsung mengirimkan ‘Amr ibnu Umayyah adh-Dhimri. Pada Zaman Jahiliah ia terkenal sebagai orang gagah dan berani. Nabi saw. menyuruhnya membawa seorang teman untuk membunuh Abu Sufyan secara diam-diam sebagai pembalasan atas perbuatannya terhadap dirinya. Setelah sampai di Makkah keduanya langsung menuju ke Ka’bah untuk melakukan thawaf sebelum menunaikan tugas yang dibebankan kepada mereka. Akan tetapi, salah seorang penduduk Makkah mengenalnya. Lalu ia berkata, “Ini adalah ‘Amr ibnu Umayyah, sekali-kali ia tidak akan datang kecuali membawa keburukan.” Tatkala ‘ Amr menyadari bahwa (kaum QQuraisy) telah mengetahui Ledatangannya, dak ada pilihan lain kecuali segera angkat kaki dari Makkah. Segera ia mengajak temannys untuk kembali ke Madinah. Dengan demikian seolah-olah Allah swt. menghendaki Abu Sufyan tetap hidup sehingga ia menyerahkan kunci Ka’bah kepada kaum Muslimin dan sampai ia masuk Islam.

PERANG HUDAIBIYAH

Pada suatu malam Rasulullah saw. bermimpi bahwa ia dan para sahabat memasuki Masjidil-Haram dalam keadaan aman. Di antara mereka ada yang mencukur rambut dan ada yang memperpendeknya saja. Rasulullah saw. memberitahukan kepada kaum Muslimin bahwa ia bermaksud mepunaikan ‘umrah. Lalu ia menyeru kepada orang Arab yang tinggal di sekitar Madinah untuk ikut bersamanya, maksudnya sebagai tindakan hatihati karena dikhawatirkan orang Quraisy akan menolak kedatangan mereka Orang-orang Arab itu sengaja memperlambat jawaban mereka karena mereka mempunyai harapan, Rasul dan kaum Muslimin tidak kembali lagi kepada mereka untuk selama-lamanya sehingga mereka bebas. Mereka berdalih sedang sibuk dengan urusan harta dan keluarga mereka dan mohon maaf.

Akhirnya Rasulullah saw. keluar bersama kaum Muhajirin dan Anshar yang jumlahnya mencapai seribu lima ratus orang. Sebelum itu Rasulullah saw. mengangkat Ibnu Ummi Maktum sebagai penggantinya di Madinah. Rasulullah saw. kali ini membawa istrinya yang bernama Ummu Salamah dan mengeluarkan hewan kurban sebagai pemberitahuan kepada kaumnya bahwa ia datang bukan untuk tujuan berperang. Para sahabat pada saat itu tidak membawa senjata apa-apa selain pedang yang tetap dalam sarungnya masing-masing karena Rasulullah saw. tidak suka mereka membawa pedang terhunus sambil melakukan ibadah ‘umrah.

Rasulullah saw. berangkat hingga sampai di ‘Asfan”. Di tempat itu Rasulullah saw. kedatangan informannya yang mengabarkan bahwa orangorang Quraisy telah sepakat untuk mencegah kaum Muslimin agar tidak memasuki kota Makkah, dan mereka berupaya supaya kaum Muslimin tidak memasukinya dengan kekerasan. Untuk itu mereka telah mempersiapkan diri untuk berperang, lalu mereka menyuruh Khalid ibnul-Walid bersama dua ratus orang tentara berkuda menghambat perjalanan kaum Muslimin. Setelah mendengar berita itu Rasulullah saw. berkata, “Siapakah yang dapat memberi petunjuk jalan kepada kami supaya tidak berpapasan dengan mereka?” Seorang lelaki dari kabilah Aslam berkata, “Saya, wahai Rasulullah.” Maka lelaki itu membawa kaum Muslimin menempuh jalan yang sulit, lalu ia membawa keluar dari jalan sulit itu menuju suatu jalan yang rata dan mudah ditempuh. Jalan ini menuju ke Makkah dari daerah bawah.

Tatkala Khalid mengetahui apa yang telah dilakukan oleh kaum Muslimin, ia kembali ke Makkah menemui orang-orang Quraisy dan mengabarkan kepada mereka semua yang telah dialaminya. Ketika Rasulullah saw. sampai di Tsaniyyatul Mirar,” tiba-tiba unta kendaraannya berhenti dan mendekam. Para sahabat menghardiknya agar unta itu bangkit, tetapi tidak juga mau berdiri. Mereka berkata, “Qashwa (nama unta kendaraan Rasulullah) membandel tidak mau menurut.” Rasulullah saw. berkata, “Sebenarnya ia tidak membandel dan hal ini bukan kebiasaannya, tetapi ia telah ditahan oleh Tuhan yang telah menahan tentara bergajah. Demi zat yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidak sekali-kali orang Quraisy mengajakku kepada suatu hal yang berprinsip untuk mengagungkan tempat suci Allah, melainkan aku diharuskan mau mengabulkan permintaan mereka.” Padahal jika saat itu langsung memerangi musuh-musuh mereka, niscaya kaum Muslimin menang. Akan tetapi, rupanya Allah swt. mencegah kaum Muslimin terhadap orang-orang Quraisy sebagaimana Dia pun mencegah orang-orang Quraisy terhadap kaum Muslimin. Maksudnya supaya kesucian Ka’bah tidak ternodai oleh peperangan. Allah menghendaki Ka’bah menjadi tempat yang suci lagi aman, tempat kaum Muslimin dari segala penjuru kelak memperkuat sendi-sendi persaudaran mereka.

Selanjutnya Rasulullah saw, memerintahkan kaum Muslimin untuk berhenti pada akhir batas Hudaibiyah” Ke tempat itu datanglah Badil ibnu Waraqa’ al-Khuza’iy, utusan orang Quraisy untuk menanyakan maksud kedatangan kaum Muslimin ke Makkah. Lalu Rasulullah saw. menceritakan maksud yang sebenarnya kepadanya. Ketika Badil kembali kepada orang Quraisy dan menceritakan kepada mereka hal tersebut, mereka tidak mempercayainya, sebab dia berasal dari Khuza’ah yang berpihak kepada Rasulullah seperti yang telah dilakukan oleh kakek-moyangnya. Lalu orang-orang Quraisy berkata kepadanya, “Apakah Muhammad bermaksud memasuki kota kami bersama balatentaranya untuk ber’umrah? Tidakkah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh orang-orang Arab bahwa Muhammad ingin memasuki kota kami dengan kekerasan, dan antara kami dengan dia telah berlangsung peperangan sekian lamanya? Demi Allah, tidak, sedikit pun kami tidak mempercayainya.”

Kemudian mereka mengutus Hulais ibnu ‘Algamah, pemimpin orang Habgyi sekutu orang Quraisy. Ketika Rasulullah saw. melihat kedatangannya, dia berkata, “Dia berasal dari kaum yang mengagungkan berkurban, maka tampakkanlah hewan kurban itu oleh kalian di hadapannya supaya ja melihatnya.” Mereka melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah, lalu mereka menyambut kedatangannya seraya mengucapkan talbiyah. Setelah Hulais melihat semuanya itu, ia kembali dan mengatakan kepada orang Quraisy, “Mahasuci Allah, tidak layak bila mereka dihambat. Apakah Lahm, Judzam, dan Himyar diperbolehkan haji sedangkan cucu ‘Abdul-Muththalib sendiri dicegah menziarahi Ka’bah?, Demi Tuhan Ka’bah, celakalah orang-orang Quraisy. Sesungguhnya mereka datang untuk tujuan ‘umrah.” Setelah orang-orang Quraisy mendengar kata-kata tersebut dari Hulais, mereka berkata kepadanya, “Duduklah engkau dan tepanglah, sesungguhnya engkau ini orang kampung yang sama sekali tidak mengetahui arti tipu muslihat.”

Lalu orang Quraisy mengirimkan ‘Urwah ibnu Mas’ud ats-Tsagafi, pemimpin orang Thaif. Ia menghadap Rasulullah dan langsung berkata kepadanya, “Hai Muhammad, engkau telah mengumpulkan berbagai kabilah, kemudian engkau datang kepada kaum dan keluarga engkau. Hal ini berarti engkau ingin mencerai-beraikan mereka. Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah keluar. Mereka berjanji kepada Allah supaya engkau tidak memasuki Makkah dengan cara kekerasan untuk selama-lamanya. Demi Allah, seolah-olah diriku ini membayangkan bahwa mereka akan dapat mengalahkan engkau.” Mendengar kalimat tersebut Sahabat Abu Bakar naik darah, lalu berkata, “Celakalah engkau ini. Kamilah yang akan mengalahkan mereka untuk membelanya.”

Sewaktu ‘Urwah berbicara, ia selalu mengelus-elus janggut Rasulullah saw. (sebagai tanda penghormatan), sedangkan Al-Mughirah ibnu Syu’bah, bila mempunyai keinginan untuk itu, ia mengetuk tangannya supaya jangan melakukannya. Setelah itu ‘Urwah kembali, dan ia telah melihat semua yang telah dilakukan oleh para sahabat terhadap Rasulullah saw. Setiap kali Rasulullah berwudu, para sahabat hampir saling bertengkar di antara sesama mereka untuk memperebutkan air bekas wudunya untuk diusap-usapkan kepada anggota tubuh mereka. Bilamana mereka berbicara kepada Rasulullah saw., mereka selalu merendahkan suara serta merundukkan pandangan matanya. Lalu ‘Urwah berkata kepada orang-orang Quraisy, “Demi Allah, hai orang-orang Quraisy, aku baru menemui seorang Kisra di kerajaannya dan seorang kaisar di dalam kebesarannya. Aku belum pernah melihat seorang raja yang dihormati oleh kaumnya seperti penghormatan para sahabat terhadap Muhammad. Aku telah melihat suatu kaum yang tidak akan pernah mau menyerahkannya dengan imbalan apa pun. Pertimbangkanlah masakmasak pendapat kalian. sesungguhnya dia menawarkan kepada kalian hal yang masuk akal. Maka kunasihatkan agar kalian mau menerima tawarannya. Aku sangat khawatir terhadap kalian karena niscaya kalian tidak akan memperoleh kemenangan dalam menghadapinya.” Orang Quraisy langsung menjawab, “Janganlah engkau membicarakan hal itu lagi. Kami telah sepakat untuk menolak kedatangannya tahun ini, dan ia boleh kemari tahun depan.”

Kemudian Rasulullah saw. memilih Sahabat ‘Utsman ibnu ‘Affan sebagai utusannya untuk memberitahukan kepada orang Quraisy maksud kedatangannya. Berangkatlah Sahabat ‘Utaman diiringi sepuluh orang ‘ lainnya. Sebelum itu mereka meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk menziarahi kaum kerabat mereka masing-masing. Rasulullah saw. me’ merintahkan Sahabat “Utsman supaya mengunjungi golongan yang lemah dari kaum mukminin Makkah, lalu memberitahukan kepada mereka berita gembira bahwa zaman penaklukkan Makkah telah dekat dan bahwa Allah pasti akan menampakkan agama-Nya.

Sahabat “Utsman memasuki kota Makkah di bawah perlindungan Abban ibnu Sa’id al-Umawiy, lalu menyampaikan pesan yang dibawanya. Orang Quraisy menjawab, “Sesungguhnya Muhammad selamanya tidak boleh memasukinya dengan kekerasan terhadap kami.” Lalu mereka meminta supaya ‘Utsman melakukan fhawaf di Ka’bah, tetapi “Utsman menjawab, “Aku tidak akan melakukan thawaf selagi Rasulullah saw. dilarang melakukannya.” Kemudian mereka menahan “Utsman ibnu ‘Af-. fan, dan tersiarlah berita di kalangan Muslimin bahwa shahabat “Utsman dibunuh. Ketika Rasulullah saw. mendengar berita tersebut dia bersabda, “Kami tidak akan membiarkan hal ini sebelum membalas mereka melalui peperangan.”

BAI ‘ATUR-RIDHWAN

Rasulullah saw. mengajak orang-orang untuk berbai’at kepadanya dengan menyatakan kesediaan mereka berperang, lalu mereka berbai’at kepada Rasulullah saw. di bawah sebuah pohon yang terdapat di tempat tersebut. Belanjutnya pohon tersebut dinamakan Syajaratr-Ridhwan (pohon tempat kaum Muslimin mengucapkan bai’atnya untuk rela berkorban demi aganta).” Kemudian perihal bai’at ini terdengar oleh orang Quraisy, dan mereka menjadi takut.

Sebelum itu orang Quraisy telah mengirimkan lima puluh orang tentaranya di bawah pimpinan Mukarriz ibnu Hafsh, untuk mengintai perkemahan kaum Muslimin, dengan harapan mereka dapat menyerang sebagian dari kaum Muslimin sewaktu dalam keadaan Tengah. Akan tetapi, mereka dapat ditangkap oleh patroli yang dilakukan oleh Sahabat Muhammad ibnu Maslamah. Pemimpin mereka, Mukarriz, sempat melarikan diri. Setelah orang Quraisy mengetahui hal tersebut, mereka mengumpulkan sepasukan tentara dari kalangan mereka untuk menyerbu kaum Muslimin.

Terjadilah pertempuran antara mereka dengan kaum Muslimin. Kesudahannya dua belas orang tentara kaum musyrikin tertawan, sedangkan dari pihak Muslimin hanya seorang yang gugur.

PERJANJIAN HUDAIBIYAH

Sejak saat itu orang Quraisy mulai merasa takut terhadap kaum Muslimin. Lalu mereka mengutus Suhail ibnu ‘Amr sebagai jubir perdamaian. Ketika datang ia berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya hal yang baru terjadi bukan buah pikiran orang-orang pandai kami, melainkan tindakan gegabah dari orang-orang bodoh kalangan kami. Maka kami minta supaya engkau mengirimkan orang-orang kami yang telah engkau tawan.” Rasulullah menjawab, “Kami mau melakukannya bilamana kalian mengirimkan pula orang-orang kami yang kalian tawan.” Pada saat itu mereka melepaskan Sahabat “Utsman berikut sepuluh orang Muslim.

Selanjutnya Suhail menawarkan syarat-syarat yang dikehendaki oleh orang Quraisy kepada Rasulullah saw. Syarat-syarat tersebut seperti berikut ini:

  1. Gencatan senjata antara kaum Muslimin dan orang Quraisy selama empat tahun.
  1. Barang siapa datang kepada kaum Muslimin (di Madinah) dari kalangan orang Quraisy, kaum Muslimin harus mengembalikannya kepada mereka. Barang siapa dari kaum Muslimin datang kepada orang Quraisy, orang Quraisy tidak diharuskan mengembalikannya kepada kaum Muslimin (di Madinah).
  1. Hendaknya Nabi kembali tanpa melakukan ‘umrah untuk tahun ini. la boleh datang tahun depan bersama para sahabatnya sesudah terlebih dahulu orang-orang Quraisy keluar dari kota Makkah. Nabi boleh bermukim selama tiga hari di dalam kota Makkah, sedangkan para sahabat tidak diperkenankan membawa senjata apa pun selain pedang yang disarungkan dan busur panah.
  1. Barang siapa ingin masuk ke dalam perjanjian dengan Muhammad, bukan ke dalam orang Quraisy, ia boleh melakukannya. Dan barang siapa ingin masuk ke dalam perjanjian dengan orang Quraisy, ia boleh melakukannya.

Rasulullah saw. mau menerima semua syarat tersebut. Adapun tanggapan kaum Muslimin berbeda. Mereka berkata, “Mahasuci Allah, bagaimana kami diharuskan mengembalikan kepada mereka orang yang datang kepada kami dalam keadaan Muslim, dan mereka tidak diharuskan me. ngembalikan orang yang datang kepada mereka dalam keadaan murtad” Rasulullah saw. menjawab, “Barang siapa pergi kepada mereka dari kala. ngan kami, niscaya Allah akan menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Barang siapa datang kepada kami dari kalangan mereka, kemudian kami diharus. kan mengembalikannya, maka kelak Allah akan menunjukkan baginya jalan keluar.” Persyaratan nomor tiga, yaitu dilarangnya kaum Muslimin melakukan thawaf di Baitullah (Ka’bah), sangat mempengaruhi hati kaum Muslimin karena Rasulullah saw. telah memberitahukan kepada mereka bahwa ia telah bermimpi bahwa mereka memasuki Baitullah dalam keadaan aman. Sahabat ‘Umar menanyakan hal tersebut kepada Sahabat Abu Bakar, lalu Sahabat Abu Bakar r.a. menjawab, “Apakah Rasulullah menyebutkan bahwa hal itu terjadi tahun ini?”

Kemudian syarat-syarat perjanjian tersebut ditulis oleh kedua belah pihak. Sekretaris dari pihak Nabi saw. adalah Sahabat ‘Ali ibnu Abu Thalib. Lalu Rasulullah saw. mengimlakannya: “Bismillahir-rahmanir-rahim” (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Akan tetapi. Suhail memotongnya, “Tulislah, Bismikallahumma” (Dengan nama-Mu, ya Allah): lalu Rasulullah saw. memerintahkan Sahabat ‘Ali menurutinya. Selanjutnya Rasulullah saw. berkata, “Ini adalah perjanjian yang telah disetujui oleh Muhammad Rasulullah.” Suhail memotongnya lagi, “Seandainya kami mengakui bahwa engkau utusan Allah, kami tidak akan menentang engkau. Akan tetapi, tulislah Muhammad ibnu ‘Abdullah,” Lalu Rasulullah saw. menyuruh Sahabat ‘Ali untuk menghapusnya dan menggantinya dengan tulisan “Muhammad ibnu ‘Abdullah’. Akan tetapi, Sahabat ‘Ali r.a. tidak mau melakukannya. Akhirnya Rasulullah saw. sendiri yang menghapusnya dengan tangannya sendiri. Surat perjanjian ini ditulis sebanyak dua lembar: satu lembar buat orang Quraisy, yang lain buat kaum Muslimin.

Setelah penulisan perjanjian itu selesai, datanglah kepada kaum Muslimin Abu Jandal ibnu Suhail yang masih dalam keadaan terbelenggu. Dia termasuk orang-orang Muslim yang tidak boleh melakukan hijrah, lalu ia melarikan diri ke kubu kaum Muslimin untuk meminta perlindungan mereka. Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Bersabarlah dan lakukanlah demi Allah karena sesungguhnya Allah akan membuatkan jalan keluar dan pemecahannya bagi engkau dan orang-orang yang bersama engkau dari kalangan yang lemah. Sesungguhnya kami telah mengadakan perjanjian dengan kaum Quraisy. Antara kami dan mereka telah terjalin kesepakatan. Untuk itu kami tidak mau berbuat khianat terhadap perjanjian yang telah kami setujui bersama.” Pada saat itu kabilah Khuza’ah masuk ke dalam perjanjian dengan Rasulullah, sedangkan Bani Bakar masuk ke dalam perjanjian dengan orang Quraisy.

Setelah perkara perjanjian ini selesai, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk mencukur rambut mereka dan memotong hewan kurban mereka sebagai pertanda tahallul (berlepas diri) dari ‘umrah mereka (yang tidak jadi itu). Hal ini mengakibatkan kaum Muslimin menanggung beban perasaan yang sangat besar, sehingga mereka tidak segera melaksanakan perintah Rasulullah. Rasulullah saw. masuk menemui Ummul Mu’minin Ummu Salamah, lalu berkata kepadanya, “Celakalah kaum Muslimin, kuperintahkan mereka untuk melakukannya, tetapi mereka tidak mau melakukannya.” Ummu Salamah menjawab, “Maafkanlah mereka. Sungguh engkau telah menanggung perkara yang besar dalam perjanjian yang telah engkau lakukan itu. Kaum Muslimin kembali tanpa melakukan penaklukan. Oleh sebab itu, mereka sedih dan susah. Akan tetapi, sebaiknya keluarlah engkau, wahai Rasulullah, kemudian berilah contoh apa yang engkau kehendaki itu. Bilamana mereka melihat engkau telah melakukannya, niscaya mereka akan mengikuti langkahmu.

Kemudian Rasulullah saw. melangkah menuju hewan kurbannya, lalu menyembelihnya. Sesudah itu ia meminta pencukur lalu langsung mencukur rambutnya sendiri. Manakala kaum Muslimin melihat Rasulullah melakukan hal tersebut, mereka bergegas kepada hewan kurban masingmasing, kemudian mencukur rambut mereka seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah. Setelah itu kaum Muslimin kembali ke Madinah. Masingmasing pihak memelihara perjanjian tersebut.

Akan tetapi, ketika hal itu telah berjalan dengan lancar, tiba-tiba datanglah kepada mereka Ummu Kaltsum binti “Uqbah ibnu Abu Mu’ith, saudara perempuan seibu Sahabat “Utsman ibnu ‘Affan, dengan maksud berhijrah. Kaum musyrikin meminta supaya kaum Muslimin mengembalikannya ke Makkah. Tetapi Ummu Kaltsum berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini seorang perempuan. Bilamana aku dikembalikan kepada mereka, niscaya mereka akan memfitnah agamaku.” Lalu Allah swt. menurunkan firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepada kalian perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kalian uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, Jika kalian telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman janganlah kalian kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka. Dan berilanlah ke. pada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atas kalian mengawini mereka apabila kalian bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kalian tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir: dan hendaklah kalian minta mahar yang telah kalian bayar: dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kalian. Dan Allah| Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (Q.S. 60 Al-Mumtahanah: 10)

Ummu Kaltsum yang berhijrah itu bersumpah bahwa ia keluar dari Makkab bukan karena ingin pindah tempat, bukan karena benci kepada suami, bukan untuk mencari duniawi, dan bukan karena senang kepada seorang lelaki dari kaum Muslimin. Ia keluar hanya untuk tujuan berhijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Setelah ia menyatakan sumpah, ia tidak dikembalikan, tetapi yang dikembalikan hanyalah apa yang telah diberikan oleh suaminya, berupa nafkah dan mahar yang telah dikeluarkan oleh suaminya. Sesudah itu Ummu Kaltsum boleh dikawin oleh orang Muslim, siapa saja yang mau kepadanya. Dalam ayat tersebut terkandung makna bahwa haram mempertahankan istri yang mukmin untuk tetap bersama dengan suami yang kafir, bahkan istri harus dikembalikan kepada keluarganya, dan keluarga istri harus mengganti kerugian kepada suaminya.

Abu Buhsair yang nama aslinya ‘Atabah ibnu Usaid ats-Tsagafi r.a, sempat melarikan diri, lalu datang kepada Rasulullah. Orang Quraisy mengirimkan dua orang untuk mengembalikannya kepada mereka. Lalu Rasulullah saw. memerintahkan dia supaya kembali. Akan tetapi, Abu Bushair berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau tega mengembalikan diriku kepada orang-orang kafir? Niscaya mereka akan memfitnah agamaku sesudah Allah menyelamatkan diriku dari cengkraman mereka.” Rasulullah saw. menjawab, “Sesungguhnya Allah pasti akan menyediakan jalan keluar untuk engkau dan kawan-kawan engkau yang senasib,”

Akhirnya Abu Bushair tidak menemukan jalan lain kecuali menuruti perintah Rasulullah. Maka ia kembali ke Makkah dengan dikawal oleh dua orang dari kaum Quraisy. Ketika mereka mendekati Dzul Hulaifah, Abu Bushair menyerang salah satu di antara kedua temannya itu hingga dapat membunuhnya, sedangkan yang satunya lagi sempat melarikan diri kembali ke Makkah. Abu Bushair kembali lagi ke Madinah, lalu menemui Ragulullah saw. dan berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, aku telah memenuhi janjimu. Adapun diriku sekarang telah selamat,” Maka Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Pergilah engkau sesuka tetapi jangan tinggal d. Madinah.” Laiu Abu Bushair pergi ke suatu tempat yang terletak di tengah perjalanan yang menuju ke negeri Syam. Jalan itu biasa dilalui oleh kafilah dagang orang Quraisy.

Selanjutnya Abu Bushair bermukim di tempat tersebut dan bergabung dengannya golongan kaum Muslimin Makkah yang selamat melarikan diri. Abu jandal pun bergabung dengan mereka. Selain itu ikut bergabung pula bersama mereka sebagian dari orang-orang kampung yang mendiami daerah tersebut. Mereka membegal setiap kafilah orang Quraisy yang melalui tempat tersebut sehingga perdagangan orang-orang Quraisy macet dan suplai mereka terputus sama sekali. Orang Quraisy mengirimkan utusannya untuk meminta tolong kepada Rasulullah saw. supaya membatalkan syarat yang menyangkut hal ini. Mereka rela memberikan hak kepada Rasulullah saw. untuk tidak mengembalikan orang-orang Quraisy yang datang kepadanya sebagai Muslim. Rasulullah saw. menerima usul tersebut. Akhirnya Allah swt. melenyapkan dari kaum Muslimin kesusahan yang menyangkut syarat ini, sebab mereka tidak tahan melihat kejadian yang mereka alami di Hudaibiyah, yaitu ketika Rasulullah saw. memerintahkan mereka untuk mengembalikan Abu Jandal kepada orang Quraisy.

Kini mereka baru mengetahui bahwa pendapat Rasulullah saw. lebih utama dan lebih baik daripada pendapat mereka karena dengan dijalankannya syarat ini, terciptalah perdamaian antara urang-orang Muslim dan orang-orang kafir. Dengan demikian orang-orang kafir bergaul dengan kaum Muslimin, dan selanjutnya sinar Islam sempat mempengaruhi hati mereka sehingga Jslam bertambah berkembang. Sahabat Abu Bakar menanggapi hal ini melalui perkataannya, “Tiada suatu penaklukan pun yang paling besar dalam Islam daripada penaklukan Hudaibiyah. Akan tetapi, jangkauan mereka (kaum Muslimin) pendek, tidak seperti apa yang dipandang oleh Nabi Muhammad dan Rabb-nya, Hamba-hamba Allah selalu bersikap terburu-buru, sedangkan Allah tidak akan tergesa-gesa oleh ketergesaan hamba-hambaNya karena Daia menunggu matangnya perkara terlebih dahulu.”

Ketika Rasulullah saw. kembali dari Hudaibiyah, turunlah kepadanya Ayat:

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. (9.5. 48 Al-Fath: 1)

Peperangan ini dinamakan Al-Fathul Mubin (Kemenangan yang Nyata) adalah sebagai pembenaran terhadap apa yang telah dikatakan oleh Saha. bat Abu Bakar ash-Siddig di atas tadi.

MENYURATI RAJA-RAJA

Sesudah kaum Muslimin kembali dari Hudaibiyah pada akhir tahun keenam Hijriah, dan jalur-jalur telah aman dari gangguan orang Quraisy. Lalu Nabi saw. mengirimkan surat kepada raja-raja di seluruh dunia pada masa itu, mengajak mereka masuk Islam. Sejak saat itu Rasulullah saw. membuat stempel dari perak guna dicapkan pada semua surat-suratnya. Stempel tersebut bertuliskan lafazh “Muhammadur Rasulullah” (Muhammad Rasulullah).

Rasulullah saw. mengutus Dahiyyah al-Kalbiy untuk menyampaikan suratnya kepada kaisar Romawi. Ia memerintahkan supaya surat itu disampaikan melalui pembesar Bashra, selanjutnya pembesar Bashralah yarg akan mengantarkannya kepada Kaisar Romawi.

SURAT KEPADA KAISAR

Bunyi surat tersebut sebagai berikut:

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad ibnu ‘Abdullah untuk Heraclius kaisar Romawi. Kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba” du: Sesungguhnya aku mengajak engkau dengan seruan Islam: masuk Jslamlah engkau, niscaya selamat, Allah akan memberi engkau pahala dua kali lipat. Bilamana engkau berpaling, maka sesungguhnya di atas pundak engkau terpikul dosa-dosa para Petani”.

Katakanlah, “Hai ahli kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyrahkan diri ( kepada Allah).” (Q.5. 3 Ali ‘Imran: 64)

CERITA ABU SUFYAN

Tatkala surat itu sampai ke tangan Kaisar Heraclius, ia berkata, “Coba ha’dapkan kepadaku seseorang dari kalangan kaumnya. Aku akan menanyakan tentang dia (Nabi Muhammad) kepadanya.”

Pada saat itu Abu Sufyan ibnu Harb sedang berada di negeri Syam bersama orang-orang Quraisy yang sedang melakukan misi perniagaan. Kemudian datanglah utusan Kaisar kepada Abu Sufyan, lalu mengajaknya menghadap Kaisar. Abu Sufyan mau memenuhi ajakan itu.

Tatkala mereka sampai di Baitul-Magdis, Kaisar berkata kepada penerjemahnya, “Katakanlah kepadanya, siapakah diantara mereka yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan lelaki tersebut (Nabi Muhammad) yang mengaku seorang nabi?” Lalu Abu Sufyan menjawab, “Saya!” karena memang di dalam rombongan kafilah tersebut tiada orang lain dari kalangan Bani ‘Abdu Manaf kecuali Abu Sufyan sendiri. Kaisar berkata kepada Abu Sufyan, “Coba engkau mendekat kepadaku.” Kemudian Kaisar memerintahkan teman-temannya supaya berdiri di belakangnya. Lalu Kaisar berkata kepada penerjemahnya, “Katakanlah kepada teman-temannya, sesungguhnya aku sengaja menaruh lelaki ini (Abu Sufyan) di hadapan kalian karena aku bermaksud menanyakan kepadanya tentang lelaki tersebut (Nabi Muhammad) yang mengaku dirinya nabi. Aku menyuruh kalian untuk berada di belakangnya supaya kalian tidak malu kepadanya untuk menyanggah bila ada perkataannya yang dusta.” Kemudian Kaisar mulai bertanya tentang keturunan lelaki tersebut di antara mereka. Abu Sufyan menjawab, “Dia adalah orang yang mempunyai nasab (keturunan) yang terhormat di kalangan kami.” Kaisar selanjutnya bertanya, “Apakah ada seseorang dari kalian yang mengatakan hal seperti ini sebelumnya?”

Abu Sufyan menjawab, “Tidak ada.” Kaisar bertanya, lagi, “Apakah kalian pernah menuduhnya melakukan perbuatan dusta sebelum ia mengatakan apa yang di katakannya sekarang?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak pernah.” Kaisar seterusnya bertanya, “Apakah ada di antara kakek-moyangnya yang pernah menjadi raja?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak ada.” Kaisar bertanya lagi, “Orang-orang yang terhormatkah yang mengikutinya, ataukah orangorang yang lemah?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak, bahkan orang-orang yang lemah.” Kaisar seterusnya bertanya lagi, “Apakah para pengikutnya makin bertambah atau makin berkurang?” Abu Sufyan menjawab “Bahkan kian hari kian bertambah.” Kaisar bertanya lagi, “Apakah ada seseorang yang murtad karena benci terhadap agamanya?” Abu Sufyan bertanya, “Tidak ada.” Kaisar bertanya lagi, “Apakah ia pernah berbuat khianat bilamana berjanji?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak pernah, dan sekarang kami sedang mengadakan perjanjian dengannya, tetapi kami tidak mengetahui apa yang akan dilakukannya dengan perjanjian tersebut. Kaisar bertanya, “apakah kalian memeranginya?” Abu Sufyan menjawab, ” Ya.” Kaisar kembali bertanya, “Bagaimana keadaan perang kalian dengannya?” Abu Sufyan menjawab, “Perang di antara kami dan dia silih berganti, terkadang untuk kemenangan kami dan terkadang kami kalah.” Kaisar bertanya, “Ia memerintahkan apa kepada kalian?” Abu Sufyan menjawab, “Ia mengatakan, sembahlah oleh kalian Allah semata, dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Ia melarang menyembah apa-apa yang biasa disembah oleh nenek-moyang kami, dan memerintahkan salat, zakat, memelihara kehormatan, menepati perjanjian, dan memelihara amanat.” Kemudian Kaisar berkata, “Sesungguhnya aku telah bertanya kepadamu tentang nasabnya, lalu kamu mengatakannya bahwa ia mempunyai nasab yang terhormat di kalangan kalian, demikian pula perihal para rasul, mereka dibangkitkan dari kalangan kaumnya yang bernasab terhormat. Aku bertanya kepadamu, apakah ada seseorang di antara kalian yang mengatakan hal ini sebelumnya, lalu kami mengatakan, tidak ada. Seandainya ada seseorang yang telah mengatakan hal ini sebelumnya, niscaya aku akan menduganya bahwa dia adalah seseorang yang hanya mengatakan apa yang telah dikatakan oleh orang-orang sebelumnya. Aku bertanya kepadamu, apakah kalian pernah menuduhnya berlaku dusta sebelum ia mengatakan apa yang dikatakannya itu? Lalu kamu menjawab, belum pernah. Maka aku berkesimpulan bahwa mustahil ia tidak pernah berdusta terhadap manusia, lalu ia berbuat dusta kepada Allah. Aku bertanya kepadamu, apakah ada di antara kakek-moyangnya yang menjadi raja? Lalu kamu mengatakan, tidak. Seandainya ada di antara kakek-moyangnya yang menjadi raja, niscaya aku berkesimpulan bahwa dia menuntut kerajaan kakek-moyangnya. Aku telah bertanya kepadamu, apakah orang-orang yang terhormat yang menjadi para pengikutnya, ataukah orang-orang yang lemah? Lalu kamu mengatakan, tidak, bahkan para pengikutnya terdiri dari orang-orang yang lemah. Maka aku berkesimpulan pahwa memang demikianlah para pengikut rasul-rasul. Aku bertanya kepadamu, apakah para pengikutnya makin bertambah atau makin berkurang. Lalu kamu mengatakan, bahkan mereka makin bertambah. Memang demikianlah iman sehingga ia sempurna. Aku bertanya kepadamu, apakah ada seseorang dari para pengikutnya yang murtad karena benci pada agamanya? Lalu kamu mengatakan, tidak ada. Memang demikianlah keadaan iman bilamana ia telah meresap ke dalam kalbu. Akn telah bertanya kepadamu, apakah kalian memeranginya? Lalu kalian mengiakan, dan sesungguhnya pertempuran antara kalian dan dia silih berganti. Memang demikianlah perihal para rasul, mereka diuji terlebih dahulu, tetapi pada akhirnya merekalah yang menang. Aku bertnya kepadamu, apa yang diperintahkannya agar orang-orang melakukannya? Lalu kamu mengatakan bahwa dia memerintahkan untuk salat, berzakat, memelihara kehormatan, menunaikan janji, dan memelihara amanat. Aku bertanya kepadamu, apakah dia pernah berkhianat? Kemudian kamu menjawabnya, tidak pernah. Demikian pula keadaan para rasul, mereka sama sekali tidak pernah berkhianat.

Kini aku mengetahui bahwa dia adalah seorang nabi, dan aku mengetahui bahwa dia benar-benar diutus menjadi seorang rasul. Aku tidak menduga bahwa dia berasal dari kalian. Apabila ternyata apa yang telah kamu katakan padaku itu benar, niscaya dia akan menguasai tempat berpijak kedua kakiku ini. Seandainya aku menaatinya, berarti aku memaksakan diriku terhadap hal tersebut.”

Abu Sufyan menceritakan bahwa pada saat itu terjadilah suara gaduh karena mereka membicarakan hal ini dengan suara yang keras, tetapi dia tidak mengerti apa yang mereka katakan. Selanjutnya mereka memerintahkan agar Abu Sufyan dan kawan-kawannya dikeluarkan. Ketika sudah keluar Abu Sufyan berkata, “Sungguh perkara mengenai Ibnu Abu Kabsyah ini sempat membuat khawatir raja orang-orang yang berkulit kuning.”

Ketika Kaisar berangkat ke Himsha, ia menyeru kepada para pembesar Romawi agar berkumpul di istana pribadinya. Setelah semuanya berkumpul, ia memerintahkan kepada penjaga pintu supaya mengunci pintu istananya. Kemudian ia berkata,” Hai orang-orang Romawi, apakah kalian ingin beruntung dan mendapat petunjuk serta menginginkan supaya kerajaan kalian ini tetap tegak? Maka hendaknya kalian membai’at nabi itu (Nabi Muhammad).” Tiba-tiba mereka menjadi binal dan berebutan menuju pintu keluar, tetapi ternyata mereka menjumpainya telah terkunci dari dalam. Ketika Kaisar melihat rasa antipati mereka yang sungguh-sungguh itu, ia berkata kepada para pengawal pribadinya, “Kembalikanlah mereka menghadap kepadaku!” Lalu Kaisar berkata kepada mereka,”Sesungguhnya aku katakan hal ini sekadar untuk menguji keteguhan kalian dalam memegang agama kalian.” Kemudian mereka diam dan tenang kembali serta rela dengan keputusannya. Ternyata kecintaan Kaisar terhadap kerajaannya lebih besar daripada kecintaannya terhadap Islam. Hal ini berarti ia menanggung dosanya sendiri dan dosa rakyatnya seperti yang telah diungkapkan oleh surat Nabi saw. tadi, hanya saja ia menolak Dahiyyah dengan cara yang baik dan sopan.

SURAT KEPADA PEMBESAR BASHRA

Rasulullah saw. mengutus Al-Harits ibnu ‘Umair al-Azdi membawa suratnya supaya disampaikan kepada pembesar Bashra. Akan tetapi, ketika ia sampai di Mu’tah, yaitu salah satu perkampungan yang termasuk ke dalam wilayah Al-Balga, negeri Syam, ia dihadang oleh Syurahbil ibnu ‘Amr alGhassaniy (orang Arab yang memihak kepada raja Romawi, pen.), Kemudian Syurahbil berkata kepadanya , “Hendak ke manakah kamu?” Al-Harits menjawab, “Negeri Syam.” Syurahbil bertanya lagi, “Barangkali engkau ini termasuk utusan Muhammad, bukan?” Al-Harits menjawab, “Ya.” Maka Syurahbil memerintahkan orang-orangnya supaya menangkapnya, kemudian ia dibunuh dengan cara dipenggal. Al-Harits merupakan satu-satunya utusan Rasulullah yang terbunuh, Rasulullah saw. sangat bersedih atas kehilangannya.

SURAT KEPADA AL-HARITS IBNU ABU SYAMR

Kemudian Rasulullah saw. mengirimkan Syuja’ ibnu Wahb untuk menyampaikan suratnya kepada amir Damaskus dari pihak Heraclius, yang bernama Al-Harits ibnu Abu Syamr. Ia tinggal di daerah perkebunan kota Damaskus. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Rasul Allah, kepada Al-Harist ibnu Abu Syamr. Kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk dan mau beriman dan percaya kepada Allah.

Sesungguhnya aku mengajak engkau supaya beriman kepada Allah se mata, tiada sekutu bagi-Nya. Maka niscaya kerajaan engkau akan tetap. Tatkala Al-Harits selesai membaca surat Nabi, lalu ia melemparkan surat itu seraya berkata, “Siapakah yang berani merebut kerajaanku dari tanganku?” Setelah itu ia bersiap-siap menghimpun balatentaranya guna memerangi kaum Muslimin, lalu berkata kepada Syuja’ “Beritahukanlah kepada sahabatmu (Nabi saw.) apa yang telah engkau lihat sekarang ini.” Lalu AlHarits mengirimkan surat kepada Kaisar untuk meminta izin melaksanakan hal tersebut. Ternyata ketika utusan itu menghadap, ia sempat bertemu dengan Dahiyyah yang juga ada di situ. Lalu Kaisar membalas suratnya seraya memuji niatnya itu, dan ia memerintahkan Al-Harits supaya membuat persiapan bagi kunjungannya nanti karena, setelah Kaisar berhasil memukul pasukan kerajaan Persia, ia berniat mengunjunginya di Elia. Setelah Al-Harist membaca surat Kaisar, lalu ia mempersilakan Syuja’ ibnu Wahb kembali dengan cara yang baik-baik, bahkan menghadiahkan kepadanya perbekalan dan pakaian.

SURAT KEPADA MUQAUQIS

Rasulullah saw. mengutus Hathib ibnu Abu Balta’ah untuk membawa surat yang ditujukan kepada Mugaugis, raja Mesir,yang diangkat oleh kaisar Romawi. Surat ini berbunyi:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasul Allah, ditujukan kepada Mugaugis pembesar orang-orang Mesir (Qibth). Kesejahteraan atas orang yang mau mengikuti petunjuk.

Amma ba’du: Sesungguhnya aku mengajak engkau dengan ajakan Islam, masuk Islamlah engkau, niscaya engkau akan selamat, Allah akan memberikan pahala kepada engkau dua kali hpat. Bilamana engkau berpaling, maka sesungguhnya di atas pundak engkau terpikul beban semua dosa orang Mesir. Hai orang-orang ahli kitab, marilah kepada suatu kalimat… dan seterusnya.

Kemudian surat itu disampaikan oleh Hathib kepada Mugaugis di Iskandariah. Setelah Mugaugis membacanya, ia berkata, “Apakah gerangan yang mencegahnya, bila memang ia seorang nabi, dari berdoa supaya orangorang yang menentangnya dan yang telah mengusirnya dari tanah tumpah darahnya dihancurkan dan dibinasakan” Hathib menjawab, “Tidakkah engkau percaya bahwa Nabi ‘Isa ibnu Maryam adalah Rasul Allah ketika kaumnya menangkap dirinya dan bermaksud hendak membunuhnya? Mengapa dia tidak berdoa saja kepada Allah supaya membinasakan mereka?. Mengapa ia menunggu sampai Allah mengangkat dirinya ke sisi-Nya?” Mugaugis berkata, “Jawaban engkau sangat bagus. Engkau memang bijaksana dan datang dari seorang yang bijaksana pula.” Selanjutnya Mugaugis berkata, “Sesungguhnya aku telah memperhatikan perihal nabi ini, ternyata aku menjumpainya bahwa dia tidak memerintahkan kepada hal yang tidak disukai dan pula dia tidak melarang hal yang disukai. Aku menemukannya bukan seorang penyihir lagi sesat, dan bukan pula seorang juru ramal lagi pendusta. Aku menemukan pada dirinya tanda kenabian, yaitu dapat mengetahui hal gaib yang tersembunyi, dan dapat menceritakan tentang apa yang terbetik dalam hati. Aku akan mempertimbangkannya lebih dahulu.” Selanjutnya ia menulis surat balasan sebagai berikut:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ditujukan kepada Muhammad ibnu ‘Abdullah, dari Mugaugis penguasa bangsa Mesir. Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas diri engkau.

Amma ba’du: Aku telah membaca surat engkau dan telah mengerti apa yang engkau serukan, serta aku telah mengetahui bahwa masih ada seorang nabi yang aku duga keluar dari negeri Syam. Aku telah memuliakan utusan engkau serta aku kirimkan bersamanya dua orang jariah yang keduanya mempunyai kedudukan terhormat di kalangan kami, dan kami kirimkan pula pakaian-pakaian, serta aku hadiahkan khusus untuk engkau seekor bagal sebagai kendaraan engkau.

Wassalam.

Salah seorang di antara kedua jariah tersebut bernama Mariah, yang kemudian dikawin oleh Nabi saw. sebagai hasil perkawinannya dengan Mariah, Nabi saw. mempunyai seorang anak lelaki bernama Ibrahim. Sedangkan jariah yang seorang lagi diberikan kepada Sahabat Hissan ibnu Tsabit. Sangat disayangkan, Mugaugis tidak mau masuk Islam.

SURAT KEPADA KISRA, RAJA PERSIA

Rasulullah saw. mengutus Sahaba’ ‘Abdullah ibnu Hudzafah as-Sahmiy untuk menyampaikan surat kepada Kisra, raja Persia. Surat itu berbunyi:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Rasul Allah kepada Kisra penguasa negeri Persia. Kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk, mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Aku menyeru engkau dengan seruan Allah. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada seluruh umat manusia, untuk memberi peringatan kepada orang yang hidup, dan untuk menyatakan perkara yang hak terhadap orang-orang kafir. Masuk Islamlah engkau, niscaya engkau selamat. Apabila engkau membangkang, maka sesungguhnya di atas pundak engkau terpikul dosa-orang-orang majusi. Setelah ia membaca surat tersebut, lalu ia merobek-robeknya dengan sikap yang angkuh. Ketika hal tersebut sampai ke telinga Rasulullah saw, dia berdoa, “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya dengan sesungguhnya.” Ternyata doa Rasulullah saw. itu dikabulkan. Kerajaan Persia merupakan kerajaan yang paling dahulu runtuh. Raja celaka ini memulai lebih dahulu permusuhannya. Ia memerintahkan gubernurnya yang menguasai negeri Yaman supaya ia memerintahkan orangorangnya untuk mendatangkan Rasulullah ke hadapannya. Akan tetapi niatnya itu tidak kesampaian karena Allah swt. telah membinasakannya terlebih dahulu melalui anaknya yang bernama Syairuwaih. Syairuwaih merebut takhta kerajaan ayahnya, dan membunuhnya. Selanjutnya Syairuwaih mengirimkan utusan kepada wakilnya yang berada di negeri Yaman supaya ia tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh ayahnya.

SURAT KEPADA RAJA NAJASYI (NEQUS)

Rasulullah saw. mengutus Sahabat ‘Amr ibnu Umayyah adh-Dhimriy un “uk membawa suratnya kepada Raja Najasyi, raja negeri Habsyah (Etio pia). Bunyi surat itu sebagai berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Najasyi penguasa negeri Habsyah. Semoga kesejahteraan atas kamu.

Amma ba’du: Aku memulai suratku kepada engkau dengan memuji kepada Allah, Yang tiada tuhan selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa ‘Isa anak Maryam adalah tiupan roh Allah yang disampaikan-Nya kepada Maryam Perawan Suci, maka ia mengandung ‘Isa dengan tiupan roh daripada-Nya sebagaimana Dia menciptakan Adam dengan tangan kekuasaan-Nya.

Sesungguhnya aku mengajak engkau untuk menyembah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bersedia taat kepada-Nya, dan hendaknya engkau mau mengikutiku serta meyakini apa yang disampaikan kepadaku. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Aku mengajak engkau dan balatentara engkau untuk menyembah kepada Allah swt. Aku telah menyampaikan dan telah mengutarakan nasihatku maka terimalah nasihatku. Semoga kesejahteraan atas orang yang mengikuti hidayah.

Tatkala surat Rasulullah saw. sampai ke tangannya dan telah dibacanya, ia menghormati utusan Rasulullah saw. dengan penghormatan yang luar biasa. Lalu ia berkata kepada ‘Amr, “Sesungguhnya aku telah mengetahui, demi Allah, bahwa ‘Isa telah memberikan kabar gembira tentang kedatangannya. Hanya saja pembantu-pembantuku di Habsyah masih sedikit jumlahnya. Untuk itu tangguhkanlah diriku hingga pengikutku banyak, dan aku dapat melunakkan hati mereka.”

Selanjutnya ‘Amr menawarkan kepada orang-orang yang masih tertinggal di Habsyah dari kalangan Muhajirin Muslimin untuk kembali bergabung dengan Rasulullah saw. di Madinah. Di antara mereka terdapat Ummu Habibah binti Abu Sufyan, istri ‘Abdullah ibnu Jahsy yang telah masuk Islam dan kemudian membawa istrinya hijrah ke Habsyah. ‘Abdullah ibnu Jahsy telah ditakdirkan tergiur oleh agama Nasrani, akhirnya ia masuk agama nasrani (dan dia menceraikan istrinya). Kemudian Rasulullah saw. mengawini Ummu Habibah melalui perantaraan kaum Muslimin yang berada di Habsyah. Orang yang mengawinkannya adalah Raja Najasyi berdasarkan wakil dari Rasulullah saw.

SURAT KEPADA AL-MUNDZIR IBNU SAWI

Untuk menyampaikan suratnya kepada Al-Mundzir ibnu Sawiy, raja negeri Bahrain, Rasulullah saw. mengutus Al’Ala ibnulHadhramiy. Tujuan surat ini mengajaknya untuk masuk agama Islam. Isi surat adalah sebagai berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, masuk Islamlah engkau. Sesungguhnya aku memulai suratku kepadamu dengan memuji kepada Allah yang tiada tuhan selain Dia.

Amma ba’du: Sesungguhnya orang yang melakukan salat seperti kami, menghadap kiblat kami, dan memakan sesembelihan kami, maka dia adalah orang Muslim, baginya jaminan Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang menyukai hal tersebut dari kalangan orang-orang majusi, maka berarti ia telah beriman. Barang siapa yang membangkang, maka diwajibkan baginya membayar jizyah, maka masuk Islamlah engkau.

Al-Mundzir ibnu Sawiy membalas surat Rasulullah saw , bunyinya sebagai berikut:

Amma ba’du: WahaiRasulullah, sesungguhnya aku telah membacakan surat engkau kepada penduduk Bahrain. Di antara mereka ada yang menyukai Islam dan membuatnya kagum, lalu ia masuk Islam. Di antara mereka ada pula yang tidak menyukainya. Di negeri kami terdapat orang-orang yang beragama majusi dan Yahudi, maka ceritakanlah kepadaku sehubungan dengan hal ini tentang perkara engkau itu.

Maka Rasulullah saw. mengirimkan surat lagi kepadanya yang bunyinya sebagai berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Al-Mundzir ibnu Sawiy. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada diri engkau. Aku memulai kepada engkau dengan memuji kepada Allah yang tiada tuhan selain Dia, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Amma ba’du: Sesungguhnya aku mengingatkan diri engkau kepada Allah swt. Barang siapa yang mau menerima nasihat, maka manfaatnya bagi dirinya sendiri, dan sesunggunnya barang siapa yang menaati utusanku ini dan mau mengikuti perintahnya. maka berarti ia taat kepadaku. Barang siapa yang mau menasihati mereka, berarti dia menasihati atas namaku. Sesungguhnya para utusanku telah memuji engkau dengan pujian yang baik, dan kini aku memberikan pertolongan kepada engkau dalam menghadapi kaum engkau. Biarkanlah harta kaum Muslimin sejak mereka masuk Islam, dan aku telah memaafkan orang-orang yang berdosa, maka terimalah (jizyah) dari mereka. Sesungguhnya betapa baiknya sikap engkau maka aku tidak sekali-kali akan mengubah tugas engkau. Barang siapa yang menetapi keyahudiannya atau kemajusiannya, maka baginya harus membayar jizyah.

SURAT KEPADA DUA PENGUASA ‘AMMAN

Rasulullah saw. mengutus ‘Amr ibnul ‘Ash untuk menyampaikan surat kerada Jaifar dan ‘Abd, dua orang anak Al-Jalandi yang keduanya merupakan penguasa negeri ‘Amman. Isi gurai itu sebagai berikut:

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Jaifar dan ‘Abd, kedua anak AlJalandi. Kesejahteraan atas orang yang mengikuti hidayah.

Amma ba’du: Sesungguhnya aku menyeru kalian berdua dengan seruan Islam. Masuk Islamlah kalian berdua, niscaya kalian berdua selamat. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada umat manusia seluruhnya, untuk memberi peringatan terhadap orang-orang yang hidup dan menegakkan perkara yang hak terhadap orang-orang kafir. Sesungguhnya bila kalian berdua mau berikrar masuk Islam, maka aku akan mengangkat kalian berdua. Bilamana kalian berdua membangkang, maka sesungguhnya kerajaan kalian berdua pasti lenyap, dan akan ada pasukan berkuda menempati negeri kalian, dan kenabianku pasti akan muncul pada kerajaan kalian berdua.

Ketika ‘Amr memasuki ruangan kedua penguasa itu, ‘Abd ibnul-Jalandi bertanya kepadanya tentang apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh Rasulullah saw. ‘Amr menjawab, “Ia memerintahkan taat kepada Allah swt. dan melarang berbuat maksiat kepada-Nya: memerintahkan kepada kebajikan dan silaturrahim: melarang berbuat zalim, permusuhan, zina, meminum khamar, dan menyembah batu, berhala dan salib.” ‘Abd ibnul-Jalandi berkata, “Alangkah baiknya apa yang diserukan olehnya itu. Seandainya saudaraku mengikuti aku, niscaya kami akan berangkat untuk beriman kepada Muhammad dan percaya kepadanya. Akan tetapi, sangat disayangkan, saudaraku itu begitu kuat memegang kerajaannya. Ia sangat khawatir akan kehilangan kerajaannya dan tidak mau menjadi pengikut.” Lalu ‘Amr berkata kepadanya, “Apabila saudaramu itu mau masuk Islam, niscaya Rasulullah akan mengangkatnya menjadi raja bagi kaumnya, lalu ia bertugas mengambil zakat dari orang-orang kaya di antara kaumnya untuk diberikan kepada kaum fakir-miskin.” ‘Abd ibnul-Jalandi berkata, “Sesungguhnya hal ini merupakan akhlak yang baik. Apakah zakat itu”

Selanjutnya ‘Amr menceritakan kepadanya tentang apa yang telah diwajibkan oleh Allah berupa zakat harta benda, tetapi ketika ‘Amr menyebutkan masalah zakat ternak, ‘Abd berkata, “Hai ‘Amr, apakah diambil puia zakat dari ternak kami yang digembalakan dengan memakan tumbuh-tumbuhan dan meminum airnya sendiri” ‘Amr menjawab, “Ya.” Maka ‘Abd berkata, “Demi Allah, menurut pendapatku, aku merasakan bahwa kaumku yang vegitu berjauhan letaknya dan jumlahnya cukup banyak, tidak akan rels dengan hal ini.” Selanjutnya ‘Abd mengantarkan ‘Amr kepada saudaranya yang bernama Jaifar. Lalu ‘Amr berbicara dengan Jaifar dengan pempicaraan yang dapat melunakkan hatinya. Akhirnya Jaifar mau masuk Islam berikut saudaranya. Begitu pula ‘Amr dapat menyadarkan mereka berdua untuk mau menunaikan zakat.

SURAT KEPADA HAUDZAH IBNU ‘ALI

Rasulullah saw. mengirimkan Salbath ibnu ‘Amr al-‘Amiriy untuk menyampaikan suratnya kepada Haudzah ibnu ‘Ali, penguasa negeri Yamamah. Isi surat tersebut seperti berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, dari Muhammad utusan Allah kepada Haudzah ibnu ‘Ali. Kesejahteraan atas orang yang mau mengikuti petunjuk.

Aku beritahukan bahwa agamaku akan tampak sampai sejauh kaki dan teracak melangkah, maka masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat, dan aku akan mengangkat engkau sebagai penguasa di daerah engkau.

Ketika surat sampai kepadanya, dan setelah dibacanya, lalu Haudzah membalas surat tersebut yang bunyinya seperti berikut: Alangkah baik dan indahnya ajakan engkau itu. Aku adalah penyair kaumku dan juru pidato mereka. Orang Arab menyegani kedudukanku. Maka jadikanlah untukku sebagian perkara, niscaya aku akan mengikuti engkau. Tatkala balasannya itu sampai ke tangan Rasulullah, lalu Rasulullah saw. berkata “Seandainya ia meminta kepadaku sebidang tanah, niscaya aku tidak akan memberikannya. Sungguh akan lenyaplah apa yang berada di tangannya. Tidak lama kemudian ia mati sewaktu Rasulullah saw. kembali ke Madinah dari penaklukan kota Makkah. Bagi setiap kaum yang mau memeluk Islam, Rasulullah saw. selalu mengangkat orang yang paling terhormat dari kalangan mereka untuk menjadi pemimpin kaumnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker