MUKJIZAT-MUKJIZAT RASUL SELAIN AL-QUR’AN
Di antara mukjizat Rasulullah saw. yang lain ialah terbelahnya rembulan: hal ini telah disebutkan oleh hadis secara rinci.
Di antaranya lagi ialah memancarnya air dari celah-celah jari-jemari Rasulullah saw. sehingga air makin bertambah banyak berkat mukjizatnya. Hal ini diriwayatkan oleh sebagian besar sahabat, di antara mereka adalah Sahabat Anas ibnu Malik, Sahabat Jabir, dan Sahabat ‘Abdullah ibnu Mas’ud. Sahabat Anas r.a. menceritakan bahwa ia pernah melihat Rasulullah saw. pada suatu hari ketika salat asar telah tiba. Para sahabat mencari air untuk berwudu, tetapi mereka tidak menemukannya. Akhirnya Nabi saw. mendatangkan air dalam suatu wadah yang cukup untuk satu kali wudu, kemudian dia meletakkan tangannya ke dalam wadah tersebut. Setelah itu Rasulullah saw. memerintahkan orang-orang untuk berwudu dari wadah itu. Sahabat Anas r.a. melanjutkan ceritanya, bahwa ia melihat ada air yang keluar dari celah-celah jari-jemari Rasulullah saw. Kemudian orang-orang berwudu sehingga mereka semua sempat melakukan wudu dari wadah itu. Setelah itu Rasulullah saw. bertanya, “Berapa orangkah jumlah kalian?” Ada yang menjawab bahwa jumlah mereka sekitar tiga ratus orang.
Sahabat ‘Abdullah ibnu Mas’ud r.a. menceritakan pula, “Kami sedang bersama Nabi saw. pada waktu itu kami tidak membawa air. Nabi saw. berkata, “Carikanlah air oleh kalian dari orang-orang yang mempunyai kelebihan air.” Ada seseorang yang membawa sedikit air. Nabi saw. menuangkan air tersebut ke dalam suatu wadah, kemudian ia meletakkan telapak tangannya ke dalam wadah tersebut. Kala itu seolah-olah air memancar dari sela-sela jari-jemarinya.
Sahabat Jabir menceritakan. “Pada peristiwa Hudaibiyah orang-orang kehausan sementara di tangan Rasulullah saw. terdapat wadah yang berisi sedikit air. Lalu Nabi saw. berwudu. Ketika itu orang-orang berdatangan kepadanya seraya mengatakan, bahwa mereka tidak mempunyai air ke. cuali yang ada di dalam wadah yang sedang dipakainya. Rasulullah saw. meletakkan tangannya ke dalam wadah tersebut. Saat itu air seolah-olah menyembur dari sela-sela jari-jemarinya bagaikan mata air. Lalu ada yang bertanya, ‘Berapakah jumlah kalian?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Seandainya kita ini berjumlah seratus ribu orang, niscaya air ini akan mencukupi kita semua.’ Pada saat itu jumlah kami hanya seribu lima ratus orang.” Kisah seperti hadis-hadis di atas telah diriwayatkan oleh banyak sahabat. Hal-hal seperti itu, yang terjadi di tempat-tempat yang disaksikan banyak orang, merupakan hal yang tidak diragukan lagi kebenarannya oleh perawi. Sebab para perawi itu adalah orang-orang yang paling selektif dalam mengemukakan hadis-hadis, dan mereka adalah orang-orang yang tidak akan tinggal diam bilamana melihat suatu hal yang batil. Sedangkan sebagian besar sahabat telah menyaksikan sendiri kejadian-kejadian tersebut dan mengalaminya sehingga tidak ada seorang pun dari para perawi yang mengingkari apa yang telah diceritakan oleh para sahabat. Karena para sahabat sendiri yang menjadi pelaku dan saksi dalam peristiwa-peristiwa tersebut, maka kedudukannya sama dengan hadis yang telah disepakati oleh para sahabat semua.
Mukjizat lainnya yang menyerupai memancarnya air dari sela-sela jarijemari berkah doa dan sentuhan tangannya ialah seperti yang diceritakan oleh Sahabat Mw’adz. Sahabat Mu’adz ibnu Jabal r.a. menceritakan bahwa sewaktu para sahabat berada dalam Perang Tabuk, mereka menemukan mata air yang airnya tinggal sedikit sekali. Mereka mencedok airnya dengan tangan, lalu mereka kumpulkan dalam suatu wadah. Kemudian Rasulullah saw. membasuh muka dan kedua tangannya dengan air itu, lalu air bekas basuhannya itu di kembalikan ke dalam mata air. Pada saat itu juga mata air itu menjadi banyak kembali airnya sehingga semua orang dapat minum daripadanya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishag disebutkan bahwa pada saat itu terdengar dari mata air suara seperti guntur. Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada Sahabat Mu’adz:
Hai Mu’adz, bilamana umur engkau panjang, niscaya engkau akan melihat banyak kebun di sekitar sini.
Kisah mengenai kejadian di atas telah kami kemukakan dalam pasal yang membahas Perang Tabuk.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui Al-Barra dan Salamah ibnul Akwa’ disebutkan pula mengenai mata air di Hudaibiyah yang menjadi banyak airnya berkat doa Rasulullah saw.
Abu Qatadah meriwayatkan, “Dalam suatu perjalanan, para sahabat mengadu kepada Rasulullah saw. tentang rasa haus yang mencekik tenggorokan mereka. Rasulullah saw. memerintahkan supaya didatangkan sebuah wadah untuk berwudu kepadanya, lalu wadah itu di dekapnya, kemudian dia meletakkan mulutnya kepinggiran wadah itu. Hanya Allahlah Yang maha tahu, apakah dia meniup wadah tersebut atau tidak. Setelah itu orang-orang minum dari wadah itu sehingga segar kembali, dan mereka memenuhi setiap wadah air yang mereka bawa. Anehnya, kulihat wadah itu masih berisi air seperti semula sewaktu diambilnya dariku. Pada saat itu jumlah sahabat ada tujuh puluh orang.” Masih banyak lagi kisah serupa yang terjadi di berbagai tempat, semuanya telah diriwayatkan oleh banyak sahabat sehingga tidak diragukan lagi kebenarannya, terlebih lagi diperkuat oleh para perawinya yang dapat dipercaya. “
Mukjizat lainnya lagi yang dimiliki Rasulullah saw. ialah makanan yang sedikit dapat menjadi banyak berkat doanya. Sahabat Thalhah telah menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah memberi makan delapan puluh atau tujuh puluh orang hanya dari sedikit syair (gandum) yang dibawa oleh Sahabat Anas. Lalu Rasulullah saw. memerintahkan agar gandum itu dibagi-bagikan, dan sebelum itu dia membacakan doa seperti apa yang telah dikehendaki oleh Allah. Akhirnya gandum yang hanya sedikit itu dapat mencukupi kebutuhan makan orang banyak.
Sahabat Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah memberi makan seribu orang hanya dari satu sha’ gandum. Hal ini terjadi pada waktu Perang Khandag berlangsung. Sahabat Jabir r.a. memberikan komentarnya, “Aku bersumpah dengan Allah, sungguh mereka telah makan semuanya sehingga mereka meninggalkannya. Ketika mereka meninggalkan makanan, tabsi milik kami masih penuh dengan makanan seperti semula, padahal mereka sudah kenyang semuanya. Adonan roti milik kami masih tetap utuh sehingga kami masih sempat membuatnya menjadi roti. Sebelum itu Rasulullah saw. meludahi adonan dan fabsi makanan itu dan memberkahinya dengan doa.”
Abu Ayyub r.a. menceritakan pula bahwa ia telah membuat makanan untuk Rasulullah saw. dan Sahabat Abu Bakar r.a. yang hanya cukup untuk mereka berdua. Akan tetapi, dari makanan tersebut Rasulullah saw. dapat memberikan makan kepada seratus delapan puluh orang sahabatnya. Hal seperti ini diriwayatkan pula oleh banyak sahabat, di antara mereka adalah Sahabat ‘Abdur Rahman ibnu Abu Bakar, Salamah ibnul-Akwa’, Abu Hurairah, ‘Umar ibnul-Khaththab, dan Anas ibnu Malik, semoga Allah meridai mereka semuanya.
Mukjizat Rasulullah saw. yang lainnya ialah kisah tentang rintihan batang kurma. Sahabat Jabir ibnu ‘Abdullah r.a. menceritakan bahwa Masjid Madinah pada saat itu diberi atap yang ditopang oleh batang-batang kurma. “Bilamana Rasulullah saw. berkhotbah, ia berdiri di dekat salah satu dari batang kurma tersebut. Ketika dibuatkan mimbar untuk Rasulullah, kami mendengar suara yang bersumber dari batang kurma itu mirip dengan suara unta.” Dalam riwayat yang dikemukakan oleh Sahabat Anas disebutkan bahwa masjid sampai bergetar karena rintihannya itu. Menurut riwayat yang dikemukakan oleh Sahl, banyak orang yang menangis ketika mereka melihat hal itu.
Dalam hadits di atas, menurut riwayat yang dikemukakan oleh AlMuththalib, disebutkan bahwa batang kurma itu pecah, lalu Nabi saw mendatanginya dan meletakkan tangannya pada batang kurma yang pecah itu sehingga batang kurma itu diam dan tenang. Dalam riwayat selain AlMuththalib ditambahkan bahwa setelah itu Rasulullah saw. berkata, “Sesungguhnya batang kurma ini menangis karena ia merasa kehilangan zikir.” Perawi lainnya lagi menambahkan. “Demi Zat yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya Rasulullah saw. tidak segera menenangkannya, niscaya batang kurma itu akan tetap dalam keadaan demikian karena merasa sedih ditinggal oleh Rasulullah. Setelah itu Rasulullah saw. memerintahkan agar batang kurma itu dikubur, lalu dikubur di bawah mimbarnya.”
Hadits ini dikemukakan oleh para perawi yang dapat dipercaya kesahihannya, dan banyak pula Tabi’in yang telah meriwayatkannya dengan bersumberkan para sahabat. Kemudian hadis ini diriwayatkan oleh para Tabi’in yang berpredikat lemah dan oleh orang-orang yang kedudukannya di bawah mereka dengan bersumberkan para Tabi’in. Akan tetapi, kebeparan kisah ini akan dapat diketahui oleh orang yang menekuni bab ini. Semoga Allah menetapkan kebenaran.
Mukjizat Rasulullah saw. yang lainnya lagi ialah dia dapat menyembuhkan orang-orang sakit dan orang-orang cacat. Dalam Perang Uhud, mata Sahabat Qatadah ibnu Nu’man terkena pukulan sehingga bola matanya ke luar. Kemudian bola mata yang keluar itu di kembalikan lagi ke tempatnya semula oleh Rasulullah saw. Setelah itu ternyata mata yang dikembalikan oleh Rasul jauh lebih tajam pandangannya daripada yang satunya lagi.
Dalam Perang Dzu QGard muka Abu Qatadah terkena anak panah, kemudian Rasulullah saw. meludahi lukanya (mengobatinya). Ternyata setelah itu sembuh tanpa meninggalkan bekas. Ibnu Mula’ibul-Asinnan terkena suatu penyakit yang berat sekali. Ia mengirimkan utusan kepada Rasulullah saw. untuk meminta obat. Rasulullah saw. mengambil segenggam tanah, kemudian meludahinya, lalu di berikannya tanah itu kepada utusan Ibnu Mula’ib. Utusan itu menerima tanah tersebut, tetapi kelihatan ia merasa jijik dan meremehkannya. Sekalipun demikian, terpaksa ia menyampaikannya juga kepada Ibnu Mula’ib yang pada saat itu hampir meninggal. Lalu tanah itu dicampur dengan air dan diminumkan kepadanya. Akhirnya Allah menyembuhkan Ibnu Mula’ib.
Dalam pembahasan tentang Perang Khaibar telah kami sebutkan kisah mengenai Sahabat ‘Ali dan sakit mata yang dideritanya, yang kemudian disembuhkan oleh Nabi saw. Pada kenyataannya masih banyak hal yang seperti itu dan diriwayatkan oleh ulama kaum Muslimin yang dapat dipercaya, tetapi tidak dapat kami kemukakan semua karena banyaknya.
Mengenai anugerah Allah yang dilimpahkan kepada Rasulullah saw. sehubungan dengan doa-doanya yang dikabulkan, ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas ibnu Malik r.a. Ia meriwayatkan bahwa ibunya yang bernama Ummu Sulaim berkata kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah pembantumu si Anas.ini.” Rasulullah saw. berdoa, “Ya Allah, perbanyaklah harta benda dan anak-anaknya, dan berkahilah apa yang telah aku berikan kepadanya.” Selanjutnya Sahabat Anas ibnu Malik berkata, “Demi Allah, sesungguhnya harta bendaku menjadi banyak sekali, dan anak-cucuku sekarang telah mencapai sekitar seratus orang.”
Rasulullah saw. pernah pula mendoakan kebaikan untuk Sahabat ‘Abdur-Rahman ibnu ‘Auf, supaya harta miliknya diberkahi. Ternyata bagian setiap orang di antara istri-istrinya yang berjumlah empat orang, setelah ia meninggal dunia, unta-untanya berkembang biakmenjadi sebanyak delapan puluh ribu ekor. Ia pernah menyedekahkan satu kafilah miliknya bersama unta-unta dan barang-barang yang dibawanya, sedangkan jumlah unta dalam kafilahnya itu tujuh ratus ekor.
Rasulullah saw. pernah pula mendokan Mu’awiyah supaya diberi kekuasaan di muka bumi ini. Akhirnya ternyata Mu’awiyah menjadi khalfah. Rasulullah saw. juga pernah mendoakan Sahabat Sa’d supaya menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Setelah itu tiada seorang pun yang didoakan oleh Sa’d yang permintaannya tidak dikabulkan. Pada pembahasan yang telah lalu telah kami terangkan doa Rasulullah saw. untuk Sahabat ‘Umar r.a., yaitu semoga Allah menjayakan Islam melaluinya. Pada suatu hari Rasulullah saw. berdoa untuk Sahabat Abu Gatadah, “Semoga dirimu beruntung, ya Allah, berkahilah rambut dan kulitnya.” Ternyata ketika sahabat Abu Qatadah meninggal dunia dalam umur tujuh puluh tahun, jenazahnya kelihatan seolah-olah masih baru berumur lima belas tahun. Doa-doa Rasulullah saw. yang mustajab memang cukup banyak hingga sulit dihitung. Hal ini dapat diketahui oleh seseorang yang membaca seluruh kitab riwayat hidupnya ini. Adapun mengenai yang telah ditampakkan Allah kepada Rasulullah saw. berupa pengetahuan mengenai hal-hal yang belum terjadi, banyak diceritakan oleh para sahabat. Sahabat Hudzaifah r.a. menceritakan, “Rasulullah saw. singgah pada kami, lalu dia berdiri di suatu tempat. Apa yang bakal terjadi pada tempat tersebut hingga hari kiamat nanti niscaya semuanya diceritakannya. Hal ini dihafal oleh orang-orang yang menghafalnya, dan ada pula di antara mereka yang melupakannya. Telah diketahui oleh semua temanku bahwa kelak akan terjadi sesuatu di tempat itu. Aku langsung dapat mengetahui dan mengenalnya sebagaimana seseorang mengingat wajah orang lain yang pergi, kemudian bilamana ia melihatnya, ia langsung dapat mengenalnya. Akan tetapi, aku tidak mengetahui, apakah teman-temanku lupa kepadanya atau pura-pura lupa saja. Demi Allah, Rasulullah saw. tidak pernah tidak menyebutkan suatu pemimpin fitnah pun hingga hari kiamat, yang jumlahnya ada tiga ratus orang lebih. Dia menyebutkan kepada kami namanya, nama bapaknya, dan nama kabilahnya.
Para perawi hadis yang sahih dan para imam telah mengemukakan hadis-hadis yang menceritakan janji Rasulullah saw. terhadap para sahabatnya, yaitu bahwa mereka akan memperoleh kemenangan atas mushmusuh mereka, Makkah akan ditaklukkan oleh mereka, begitu pula Baitul-Magdis, Yaman, Syam, dan Irak. Kemudian stabilitas keamanan akan menaungi negeri-negeri yang telah dikuasai mereka sehingga seorang wanita berani melakukan perjalanan dari Hairah sampai ke Makkah sendirian tanpa merasa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah swt. Juga bahwa kota Madinah akan diserang, dan tanah Khaibar pada keesokan harinya akan ditundukkan oleh Sahabat ‘Ali r.a. Rasulullah saw. telah memberitakan pula tentang penaklukan yang dianugerahkan Allah terhadap umatnya sehingga banyak negara besar yang ditaklukkan umatnya, sehingga Persia takluk di bawah kekuasaan para sahabatnya, dan mereka memperoleh banyak harta benda serta kemewahan. Pada pembahasan yang telah lalu dari kitab ini telah kami jelaskan sebagian besar daripadanya. Hal itu cukup untuk dijadikan pegangan.
Untuk lebih jelasnya lagi kami kisahkan tentang anugerah yang dilimpahkan Allah terhadap Nabi-Nya, yaitu ia selalu berada dalam pemeliharaan-Nya dari ulah manusia dan perbuatan mereka yang ingin mencelakakan dirinya. Sehubungan dengan hal ini Allah swt. telah berfirman:
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Q.S. 5 AlMaidah: 67)
Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb-mu, maka sesungguhnya kamu berada dalam pemeliharaan Kami. (Q.S. 62 Ath-Thur: 48)
Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-himba-Nya? (Q.S. 39 Az-Zumar: 36)
Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokan (kamu). (Q.S. 15 Al-Hijr: 95)
Ketika turun kepada Rasulullah saw. firman Allah swt. berikut ini:
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Q.S. 5 AlMaidah: 67)
Rasulullah saw. langsung menyuruh pergi pengawal-pengawal pribadinya seraya berkata kepada mereka, “Pergilah kalian karena sesungguhnya Allah telah memelihara diriku.”
Pada pembahasan yang telah lalu kami telah menjelaskan tentang Da’tsur yang bermaksud membunuhnya, kemudian Allah swt. memelihara Nabi-Nya dari kejahatan Da’tsur. Kami banyak menceritakan mengenai yang telah dilakukan oleh Abu Jahal, yaitu ketika Abu Jahal bermaksud menipu Rasulullah saw. dengan berbagai macam cara yang menyakitkan, tetapi Allah swt. memelihara Nabi saw. dari kejahatannya. Telah kami kisahkan pula tentang anugerah Allah swt. yang dilimpahkan kepadanya pada malam Hijrah serta cerita tentang Suragah sewaktu Nabi saw. dalam perjalanan hijrah.
Dapat kami simpulkan dari pembahasan yang telah lalu bahwa Rasulullah saw. telah tinggal di Makkah di antara musuh-musuh bebuyutannya selama tiga belas tahun (setelah dia diangkat menjadi rasul). Dia tinggal di Madinah di tengah-tengah orang-orang yang berpura-pura masuk Islam, yaitu kaum munafikin, dan orang-orang Yahudi selama sepuluh tahun. Akan tetapi, dalam waktu yang cukup lama itu ternyata tidak ada seorang pun di antara mereka yang dapat menimpakan hal-hal yang membahayakan terhadap dirinya karena Allah swt. telah memeliharanya dari kejahatan musuh-musuhnya sehingga Allah memenangkan dan menyempurnakan agama-Nya
Segala puji bagi Allah dengan pujian yang seimbang dengan limpahan karunia-karunia-Nya dan lebih dari itu lagi, dan kami memohon kepada Allah semoga Dia memberikan taufik kepada para pembaca kitab riwayat hidup Rasulullah ini untuk dapat mengikuti jejak-jejaknya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya kepada diri Rasulullah, para sahabatnya, dan semua kaum Ansharnya,
perandakan tatanan mereka, mencela tuhan-tuhan dan nenek-moyang mereka, dan menghalalkan tanah serta rumah-rumah dan harta benda milik mereka. Padahal mereka dalam semuanya itu tidak berdaya menantangnya dan tidak mampu mendatangkan hal yang semisal dengannya. Akhirnya mereka menipu diri mereka sendiri melalui pengacauan, pendustaan, dan membangga-banggakan diri sebagai kompensasi bagi ketidakmampuan mereka, yaitu melalui perkataan mereka seperti berikut ini: “Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah sihir yang dibuat-buat. Al-Qur’an adalah sihir yang terus-menerus dan kedustaan yang dibuat-buat serta dongengan-dongengan orang-orang terdahulu.” Mereka rela dengan kerendahan diri mereka sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firman-Nya:
Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada dinding. (Q.S. 41 Fushshilat: 5)
Allah swt. telah berfirman yang menceritakan perkataan mereka:
Janganlah kalian mendengarkan dengan sungguh-sungguh Al-Quran Ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya. (Q.S. 41 Fushshilat: 28)
Mereka hanya mengaku-aku saja, padahal kenyataannya mereka sama sekali tidak mampu menandinginya sebagaimana yang telah diceritakan dalam firman-Nya:
Seandainya kami suka, niscaya kami dapat mengatakan hal yang serupa dengannya (Al-Quran). (Q.5. 8 Al-Anfal: 31)
Kemudian Allah swt. menyanggah perkataan mereka itu melalui firmanNya:
Kalian tidak akan dapat melakukannya. (Q.S. 2 Al-Bagarah: 24)
Mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak akan mampu. Orang yang tolol dari kalangan mereka, yang berani melakukan hal itu, justru membuka keaiban dirinya di mata semua orang seperti apa yang telah dilakukan oleh Musailamah al-Kadzdzab.
Allah swt. telah mencabut kefasihan berbicara yang telah menjadi kebiasaan mereka. Bilamana tidak demikian, niscaya orang-orang yang ahli dari kalangan mereka tidak akan menilai bahwa Al-Qur’an itu bukan termasuk jenis kefasihan mereka dan bukan paramasastra mereka. Bahkan mereka akan melarikan diri daripadanya, tetapi kenyataannya mereka mau mendatanginya dalam keadaan tunduk bilamana memikirkan firman Allah swt. berikut ini:
Dan dalam gishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian. (Q.3. 2 Al-Bagarah: 179)
Dan (alangkah hebatnya) jika kamu melihat ketika mereka (orangorang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari kiamat). Mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka). (Q.S. 34 Saba: 51)
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang diantara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Q.S. 41 Fushshilat: 34)
Dan difirmankan, “Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang yang zalim.” (Q.S. 11 Hud: 44).
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa karena dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Q.5S. 29 Al-Ankabut: 40)
Ayat-ayat lainnya yang serupa, bahkan sebagian besar dari AlGuran, niscaya akan dapat membuktikan apa yang telah kami jelaskan di muka tadi, yaitu berkenaan dengan keringkasan lafazh AlQuran, kepadatan maknanya, keindahan ungkapannya, dan keindahan susunan huruf serta keserasiannya. Sesungguhnya di balik setiap lafazh-nya terkandung pengertian yang cukup panjang sehingga berpasal-pasal dan menjadi berbagai macam disiplin ilmu yang kini telah memenuhi kitab-kitab sebagai kesimpulan dari ana yang dikandungnya.
Kemudian penyajian Al-Qur’an tentang kisah-kisah yang panjang mengenai berita kaum-kaum zaman dahulu kala, yang biasanya orang-orang fasih mereka tidak mampu melakukannya merupakan bukti bagi orang yang memperhatikannya, yaitu mengenai hubungan antara suatu jumlah kalimat dengan jumlah kalimat yang lain, keterpaduan penyajiannya, dan kejelasan segi-seginya, seperti kisah tentang Nabi Yusuf yang panjang itu. Kemudian bilamana kisahnya berulang-ulang, ternyata ungkapan yang dipakainya berbeda-beda dan keserasian ungkapannya begitu memukau. Jdiwa seseorang tidak akan bosan sekalipun diulang-ulang dan tidak akan merasa antipati terhadapnya: justru hal itu semakin membuatnya tertarik.
Kedua: Mukjizat Al-Qur’an menyangkut gambaran susunannya yang menakjubkan, uslub-uslub-nya yang aneh dan berbeda pula uslub-uslub yang biasa berlaku dalam bahasa Arab, serta berbeda pula dari nizham dan natsar yang berlaku di kalangan mereka. Semua yang dikemukakan dalam Al-Quran berbeda, dan baik sebelumnya ataupun sesudahnya tidak pernah dijumpai hal yang serupa dengannya, serta tidak ada seorang pun yang mampu membuat sesuatu yang serupa dengannya. Bahkan Al-Qur’an membuat mereka menjadi bingung dan kemampuan mereka melemah di hadapannya. Mereka tidak menemukan jalan untuk membuat hal yang setara dengannya dari kalam mereka. Hal seperti Al-Qur’an tidak mereka jumpai di dalam natsar, nizham, dan sajak mereka. Mukjizat Al-Qur’an baik ditinjau dari segi keringkasan ungkapannya, balaghah (paramasastra), atau dari segi ungkapannya yang aneh, masing-masing segi itu tidak mampu mereka melakukannya, karena masing-masing berada di luar jangkauan kemampuan mereka dan berbeda dengan kefasihan bicara mereka.
Ketiga: Di antara mukjizat al-Quran ialah karena ditinjau dari segi bahwa dalam Al-Quran terkandung berita-berita mengenai masalah gaib dan hal-hal yang belum terjadi, kemudian kejadiannya persis seperti yang telah diberitakan di dalamnya sebagaimana yang terdapat dalam firmanNya:
Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil-Haram, insya Allah dalam keadaan aman. (Q.S. 48 Al-Fath: 27)
Sehubungan dengan bangsa Romawi Allah berfirman:
Dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. (Q.S. 30 Ar-Rum: 3-4)
dimenangkan-Nya atas segala agama. (Q.S. 9 At-Taubah: 33)
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. (Q.S. 24 An-Nur: 55)
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. (Q.S. 110 An-Nashr: 1-2)
Ternyata semua yang telah diberitakan oleh Al-Quran menjadi kenyataan. Kekaisaran Romawi akhirnya dapat mengalahkan Kerajaan Persia, kemudian manusia masuk agama Islam secara berbondongbondong, dan kekuasaan kaum Muslimin kian meluas, sehingga pada suatu waktu kekuasaan mereka sampai ke Andalusia (Spanyol) di sebelah barat, sampai batas India di sebelah timur, hingga ke Anatolia (Asia Kecil) di sebelah utara, dan sampai mencapai batas terakhir Sudan di sebelah selatan. Allah swt. mengatakan dalam firman-Nya:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-gduran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. 15 Al-Hijr: 9)
Ternyata keadaannya, al-hamdulillah seperti apa yang telah diberitakan oleh-Nya hingga sekarang. Allah swt. berfirman pula dalam ayat yang Jain:
Golongan (orang-orang kafir) itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (Q.S. 54 Al-Gamar: 45)
Kemudian kejadiannya memang seperti yang telah diberitakan oleh AlQuran, yaitu dalam Perang Badar. Ayat di atas diturunkan di Makkah. Dalam ayat yang lain Allah swt. berfirman:
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian. (Q.S. 9 At-Taubah: 14)
Kejadiannya memang persis seperti yang telah diberitakan Allah swt. dalam Kitab-Nya. Hal ini dapat para pembaca ketahui melalui sejarah hidup Rasulullah saw. yang telah kami kemukakan. Di dalamnya telah disebutkan tentang terbongkarnya rahasia orang-orang munafik dan orang-orang Yahudi serta kedustaan perkataan mereka di dalam sumpahnya sebagaimana yang difirmankan-Nya:
Dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita karena apa yang kita katakan?” (Q.S. 58 Al-Mujadilah: 8)
Mereka menyembunyikan di dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. (Q.S. 3 Ali ‘Imran: 154)
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar,” tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah” semoga kamu tidak dapat mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) “Raina,” dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. (Q.S. 4 An-Nisa: 46)
Masih banyak ayat lain yang menceritakan hal ihwal mereka.
Keempat: Di antara mukjizat Al-Quran ialah karena di dalamnya terkandung berita-berita tentang umat-umat terdahulu dan syariat-syariatnya. Satu kisah di antaranya tidak akan dapat diketahui selain oleh para pendeta ahli kitab yang benar-benar cemerlang, yang hanya menekuni hal ini seumur hidupnya. Hal ini dapat dikemukakan oleh Rasulullah saw. sesuai dengan kenyataan yang telah terjadi pada masa dahulu. Ahli kitab yang mengetahui kisah ini dengan sebenarnya langsung membenarkan apa yang telah dikemukakannya, karena mereka telah mengetahui bahwa Rasulullah saw. adalah seorang ummi, tidak dapat membaca dan tidak dapat menulis, serta tidak pernah belajar di madrasah atau duduk di majelis ilmu. Hal ini merupakan kenyataan yang tidak diingkari oleh para ahli kitab. Tiada seorang pun di antara mereka yang mengingkari hal ini. Sering kali ahli kitab bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kisahkisah ini. Maka turunlah kepada Rasulullah Al-Quran yang di bacakan kepada mereka sebagai peringatan seperti kisah para nabi, kisah tentang kejadian, dan apa-apa yang telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu. Ternyata para ulama mereka tiada sorang pun yang berani mendustakan apa yang telah diceritakan oleh Rasulullah saw. karena semuanya benar.
Semua yang diceritakan oleh Rasulullah saw. ternyata dapat membedakan mana yang benar dan mana yang telah mengalami perubahan dari kitab mereka sesudah terlebih dahulu Al-Qur’an yang dibacakannya itu mengingatkan dan mencela mereka sebagaimana yang difirmankan-Nya:
Katakanlah, “(Jika kalian mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kalian orang-orang yang benar.” (Q.5S. 3 Ali ‘Imran: 93)
Di antara bukti yang menunjukkan bahwa para ahli kitab mengetahui kebenaran yang telah dikatakan oleh Rasulullah saw. ialah adanya tantangan dari Allah swt. kepada mereka melalui firman-Nya:
Katakanlah, “Jika kalian (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untuk kalian di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (kalian) jika kalian memang benar. (Q.S. 2 Al-Bagarah: 94)
Kemudian dalam ayat yang lain Allah swt. memastikan tentang ketidakmauan mereka untuk mati, yaitu melalui firman-Nya:
Dan sekali-kali mereka tidak-akan mengingini kematian itu selamalamanya karena kesalahan-kesalahan yang telah di perbuat oleh tangan mereka (sendiri). (Q.S. 2 Al-Bagarah: 95)
Ternyata tidak pernah terdengar bahwa ada seseorang di antara mereka yang mengharapkan hal tersebut (kematian) sekalipun hanya melalui mulut saja tanpa dilaksanakan. Sekalipun demikian, mereka adalah orangorang yang paling sengit mendustakan Rasulullah saw. Sebagai contoh ialah seperti yang telah dilakukan oleh penduduk Najran tatkala Rasulullah saw. mengajak mereka untuk ber-mubahalah dan mereka menolak. Hal ini telah kami kemukakan dalam pembahasan mengenai utusan orang Najran.
Di antara hal-hal yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah perkataan manusia ialah adanya rasa takut yang menyusup di hati para pendengarnya dan pengaruh yang menguasai mereka sewaktu AlQuran dibacakan. Hal ini tidak lain disebabkan oleh kekuatan yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan wibawanya yang anggun membuat mereka merasa berat untuk mendengarkannya dan semakin dibacakan, semakin bertambah pula antipati mereka terhadapnya. Oleh sebab itu, benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. yaitu:
Sesungguhnya Al-Quran itu sulit dan menyulitkan bagi orang yang membencinya: Al-Quran adalah hukum.
Bagi orang mukmin, keagungan dan pengaruh Al-Quran sewaktu ia membacanya justru makin menambahnya senang dan kepercayaannya makin menebal terhadapnya sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firmanNya:
Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka pada waktu mengingat Allah. (Q.S. 39 Az-Zumar: 23).
Dalam ayat lain Allah swt. berfirman:
Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah di sebabkan oleh takut kepada Allah. (Q.S. 59 Al-Hasyr: 21)
Di antara segi-segi mukjizat Al-Quran jalah karena ia merupakan tanda (mukjizat) yang bersifat abadi dan tidak akan lenyap sepanjang dunia masih ada. Di samping itu Allah swt, telah menjamin pemeliharaan keutuhannya sebagaimana yang telah diungkapkan melalui firman-Nya:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. 15 Al-Hjjr: 9)
Di dalam ayat yang lain Allah swt. telah berfirman pula:
Yang tidak datang kepadanya (Al-Quran) adalah kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya. (Q.S. 41 Fushshilat: 42)
Mukjizat-mukjizat para nabi yang lain tidak ada satu pun yang tertinggal, yang ada hanyalah beritanya saja, tetapi mukjizat Al-Qur’an sampai sekarang masih tetap ada. Ia merupakan hujjah yang dapat mengalahkan semua hujjah, dan ia adalah penantang tanpa tandingan. Zaman itu penuh dengan ahli ilmu bayan, pemangku ilmu bahasa dan imam ilmu balaghah, serta jago bicara dan cendekiawan. Sebagian besar dari mereka tidak percaya dan ingkar terhadap syariat Al-Quran. Sekalipun demikian, ternyata tidak ada seorang pun dari kalangan mereka yang mampu mendatangkan sesuatu yang berarti untuk menantang Al-Guran, dan mereka sama sekali tidak mampu membuat dua kalimat yang serupa dengannya. Bahkan setiap orang yang berani mencoba-coba menentang Al-Qur’an dengan mengerahkan segala kemampuannya, pada akhirnya mundur dengan perasaan patah karena tidak mampu menyainginya.
Alangkah baiknya bilamana bab ini kami akhiri dengan menyebutkan hadis Rasulullah saw. mengenai Al-Guran, yaitu:
Sesungguhnya Allah swt. menurunkan Al-Quran dalam bentuk perintah, larangan, menceritakan tentang sunnah-sunnah terdahulu, dan perumpamaan-perumpamaan (yang dibuat oleh-Nya). Di dalamnya terkandung berita mengenai kalian dan cerita tentang umat-umat sebelum kalian, berita tentang apa yang bakal terjadi sesudah kalian, dan hukum mengenai apa yang ada di antara kalian. Al-Quran tidak membosankan sekalipun banyak yang diulang-ulang, dan keajaibannya tidak pernah habis. Al-Quran adalah perkara yang hak dan bukan mainan-mainan. Barang siapa mengatakannya, berarti ia benar, barang siapa memutuskan hukum dengan memakainya, berarti ia adil, barang siapa bersengketa dengan memakainya (sebagai dalilnya), berarti ia akan menang: barang siapa menghukumi (sesuatu) dengan memakainya, berarti ia berlaku adil: barang siapa mengamalkannya, ie akan mendapat pahala: barang siapa berpegang kepadanya, niscaya mendapat petunjuk jalan yang lurus, barang siapa mencari petunjuk ke pada selain Al-Quran, niscaya Allah akan menyesatkannya, dan barang siapa membuat hukum dengan selainnya, niscaya ia dipatahkan oleh
Allah. Al-Quran adalah peringatan yang bijaksana, cahaya yang jelas, jalan yang lurus, tali Allah yang kuat, dan penawar yang mujarab. AlQuran merupakan pemelihara bagi orang yang berpegang kepadanya serta merupakan keselamatan bagi orang yang mengikuti (petunjuk)nya. Al-Quran tidak bengkok yang membutuhkan pelurusan, dan ia tidak menyimpang sehingga membuatnya tercela.








One Comment