PENGHIDUPAN RASULULLAH SAW. SEBELUM DIUTUS
Muhammad tidak mewarisi harta apa-pun dari ayahnya, bahkan dia dilahirkan dalam keadaan yatim, tak berayah lagi tidak mampu, dan selanjutnya ia dititipkan pada kalangan Bani Sa’d. Tatkala ia telah mencapai usia yang cukup untuk bekerja, maka ia mulai bekerja menggembala ternak bersama-sama dengan saudara sepersusuannya di daerah pedalaman. Begitu pula tatkala ia kembali ke Makkah, ia pun bekerja menggembalakan ternak milik penduduk kota Makkah dengan imbalan upah beberapa girath emas seperti apa yang telah dituturkan Iman Bukhari di dalam kitah Shahih-nya.
Tidak mengherankan jika para nabi melepaskan dirinya dari masalah duniawi dan kesibukan-kesibukannya karena hal ini merupakan keharusan bagi mereka. Seandainya mereka berada dalam kekayaan yang berlimpah, niscaya perkara duniawi akan melalaikan dan menyibukkan dirinya dari kebahagiaan ukhrawi yang abadi. Oleh sebab itu Anda pasti melihat semua syariat Ilahi dan sepakat menganggap baik perbuatan zuhud (menjauhi keduniawian). Hal ini telah dibuktikan oleh para nabi zaman dahulu. Mereka merupakan saksi yang paling agung dalam masalah ini. Nabi ‘Isa a.s. adalah orang yang paling menjauhi keduniawian, demikian pula apa yang telah dilakukan oleh Nabi Musa dan Nabi Ibrahim a.s. Sewaktu masih kecil mereka tidak hidup dalam kemewahan, tetapi mereka hidup dalam kesederhanaan. Yang demikian merupakan hikmah yang agung dari Allah, sengaja dinampakkan Allah kepada nabi-nabi-Nya supaya mereka menjadi teladan buat para pengikutnya dalam mencegah diri dari mengejar keduniawian karena sesungguhnya perkara duniawi itu merupakan penyebab malapetaka dan musibah.
Demikian pula yang menggembalakan kambing atau domba, bukan hanya seorang nabi, melainkan mereka semua pernah menggembalakannya sesuai dengan berita yang dikemukakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahih-nya dari Rasulullah saw. Hal ini pun mengandung hikmah yang sangat besar karena seorang manusia bila menggembala kambing atau domba yang merupakan makhluk paling lemah, niscaya hatinya akan dipenuhi dengan rasa kasih sayang dan sikapnya akan menjadi lemah lembut. Bilamana ia beralih untuk menggembalakan manusia, maka modal pertama yang berhasil diraihnya ialah, dirinya terlepas dari sifat egois dan tidak ada kecenderungan untuk menganiaya, dan dengan demikian ia akan menjadi orang yang mempunyai kondisi paling prima untuk mengemban tugas berat ini.
Tatkala Muhammad tumbuh menjadi seorang pemuda, ia mulai berdagang. Yang menjadi temannya pada saat itu adalah As Saib ibnu Abu Saib. Ia pernah membawa dagangan Siti Khadijah r.a. ke negeri Syam dengan imbalan upah yang diambil dari keuntungannya. Setelah Siti Khadijah menyatakan kesediaan untuk menikah dengannya, sedangkan Siti Khadijah adalah wanita pengusaha yang kaya, lalu Muhammad bekerja mengembangkan hartanya, dan dia selalu memakan dari hasil keringatnya sendiri. Allah swt. menyebutkan hal ini sebagai anugerah daripada-Nya sebagaimana diungkapkan Allah dalam surat Adh-Dhuha berikut ini:
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan. (Q.S. 93 Adh-Dhuha: 68)
Allah telah memberi perlindungan dan membuatnya berkecukupan sebelum masa kenabiannya dan sebelum ia mendapat hidayah berkat kenabiannya. Selanjutnya Allah memberinya petunjuk Al-Kitab, iman, dan agama Nabi Ibrahim a.s., padahal sebelumnya ia tidak mengetahui tentang hal-hal tersebut. Sehubungan dengan hal ini Allah swt. berfirman:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah AlKitab (Al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman ita, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (Q.5. 42 Asy-Syura: 52)









One Comment