UTUSAN DARI NAJRAN
Setelah Rasulullah saw. bebas dari pengucilan itu, datanglah kepadanya utusan dari kaum Nasrani Najran. Mereka telah mendengar berita tentang Rasulullah saw. dari kaum Muslimin yang sedang melakukan hijrah ke Abesinia. Mereka bergegas datang menemui Rasulullah saw. supaya mereka melihat secara langsung sifat-sifat Rasulullah, lalu mereka sesuaikan dengan apa yang terdapat di dalam kitab suci mereka. Jumlah mereka kurang-lebih ada dua puluh orang laki-laki. Maka Rasulullah saw. membacakan kepada mereka Al-Quran. Akhirnya mereka semua beriman. Akan tetapi, Abu Jahal berkata kepada mereka, “Aku belum pernah melihat kafilah yang lebih bodoh daripada kalian. Kaum kalian mengutus kalian untuk mengetahui berita lelaki ini (Nabi Muhammad saw.), tetapi kemudian kalian memeluk agama baru.” Mereka menjawab perkataan Abu Jahal, “Semoga kesejahteraan atas diri kalian. Kami tidak menganggap bodoh kalian atas apa yang kalian lakukan, dan kami berhak memilih sesuai dengan kehendak kami.” Sehubungan dengan peristiwa tersebut Allah swt. menurunkan firman-Nya :
Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al-Kitab sebelum Al-Quran, mereka beriman (pula) dengan Al-Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al-Quran itu) kepada mereka, mereka berkata, “Kami beriman kepadanya: sesungguhnya Al-Quran itu adalah suatu kebenaran dari Rabb kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(-nya). Mereka itu diberi pahala dua kali karena kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebahagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya, dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian. Kesejahteraan atas diri kalian. Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil.” (Q.S. 28 Al-Gashash: 52-55)
Penduduk Makkah, setelah mereka tidak mampu menghadapi Rasulullah saw. dengan hujjah, akhirnya menuduh Rasulullah saw. dengan tuduhan yang bukan-bukan. Terkadang mereka menuduhnya sebagai seorang tukang tenung, terkadang sebagai pendusta atau orang gila, dan terkadang sebagai peramal. Semuanya itu hanyalah merupakan gambaran tentang orang yang lemah lagi ingkar hingga keingkarannya itu membuatnya tidak punya rasa malu lagi untuk mengatakan hal-hal berikut ini seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya:
Ya Allah, jika betul (Al-Quran) ini dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih (Q.9. 8 Al-Anfal: 32)





One Comment