TURUN DI TEMPAT ABU AYYUB
Rasulullah saw. dan para pengiringnya melanjutkan perjalanannya. Setiap kali Rasulullah saw. melewati rumah orang Anshar, penghuninya meminta agar ia singgah di rumahnya dan tinggal bersama mereka. Mereka berebutan mengambil kendali kendaraan Rasulullah saw. untuk dituntun ke rumahnya. Akan tetapi, Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, “Biarkanlah dia (kendaraannya) karena sesungguhnya dia mendapat perintah (dari Allah).” Rasulullah saw. terus berjalan hingga sampai di halaman tempat Bani ‘Addi ibnun-Najjar. Bani ‘Addi ibnun Najjar adalah pamanpaman dari pihak ibu Rasulullah saw. karena buyut Rasulullah saw., Hasyim, kawin dengan seorang wanita dari kalangan Bani ‘Addi. Tiba-tiba unta kendaraan Rasulullah saw. berhenti di suatu pekarangan milik mereka, tepatnya di hadapan rumah Abu Ayyub al-Anshari yang nama aslinya Khalid ibnu Zaid.” lalu di tempat itu dibangun Masjid Nabawi. Rasulullah saw. bersabda, “Di sinilah rumahku, insya Allah.” Selanjutnya Rasulullah saw. berdoa seraya membacakan firman-Nya :
Rabb-ku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.” (Q.S. 23 AlMu’minun: 29)
Kemudian Abu Ayyub al-Anshari membawa pelana dan perbekalan Rasulullah saw., lalu ditempatkannya di rumahnya. Kemudian datanglah As’ad ibnu Zarrarah, lalu ia membawa hewan kendaraan Rasulullah saw. untuk ditambatkan di kandang miliknya.
Gadis-gadis Bani Najjar keluar seraya mengatakan: Kami adalah gadis-gadis dari Bani Najjar: alangkah bahagianya Muhammad berada di samping kami. Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, “Apakah kalian mencintai diriku?” Mereka menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Allah mengetahui bahwa hatiku mencintai kalian.” Rasulullah memilih tinggal di salah satu rumah milik Abu Ayyub yang terletak di daerah bagian bawah supaya memudahkan bagi orang-orang yang ingin mengunjunginya. Akan tetapi, sahabat Abu Ayyub al-Anshari tidak merelakan hal tersebut karena menghormati Rasulullah saw. Sebab, bilamana Rasulullah saw. tinggal di bagian bawah, niscaya akan terkena debu yang ditimbulkan oleh kaki orang-orang yang berjalan di bagian atasnya, atau akan terkena air yang dituangkan dari bagian atasnya. Secara kebetulan pada suatu malam gentong tempat air istri Abu Ayyuh pecah, kemudian Abu Ayyub dan istrinya membersihkan pecahannya seraya mengelap air yang tertuang karena mereka takut akan mengenai Rasulullah saw. Oleh sebab itu, Abu Ayyub r.a. terus membujuk Rasulul. lah saw. untuk tinggal di bagian atas. Lama-kelamaan Rasulullah saw. mau menerima permintaannya. Kiriman hidangan selalu datang di tempat ting. gal Rasulullah saw. dari para sahabat Anshar yang mampu seperti Sa’d ibnu ‘Ubadah, As’ad ibnu Zarrarah, dan ibu sahabat Zaid ibnu Tsabit. Tiada suatu malam pun yang terlewat, di depan pintu tempat Rasulullah saw selalu terdapat tiga atau empat fabsi makanan.
TEMPAT TINGGAL KAUM MUHAJIRIN
Tatkala sebagian besar dari kaum Muhajirin yang ikut bersama Rasulullah saw. sampai di Madinah, orang-orang Anshar berlomba-lomba menerima mereka. Akhirnya diputuskan melalui undian di antara mereka sehingga tiada seorang Muhajir pun yang tinggal di tempat orang Anshar tanpa melalui undian.





One Comment