Sejarah

Terjemahan Kitab Nurul Yaqin

PERKAWINAN DENGAN SITI ‘AISYAH

Selang sebulan kemudian Rasulullah saw. menikah lagi dengan Siti ‘Aisyah binti Abu Bakar, yang pada waktu itu umurnya tidak lebih dari tujuh tahun. Rasulullah saw. tidak pernah kawin dengan perawan selain Siti ‘Aisyah. Rasulullah saw. baru mencampurinya setelah berada di Madinah, sedangkan dengan Siti Saudah ia mencampurinya sewaktu masih berada di Makkah.

Setelah Siti Khadijah wafat, sebulan kemudian pamannya, Abu Thalib, meninggal dunia pula. Abu Thalib adalah orang yang selalu melindungi Rasulullah saw. dari perlakuan musuh-musuhnya. Sekalipun Abu Thalib tidak pernah mendustakan Rasulullah atas apa yang didatangkan kepadanya, bahkan dia meyakini kebenarannya, ia tidak mengucapkan kalimah Syahadat hingga akhir hayatnya. Sehubungan dengan itu Allah menurunkan firman-Nya:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Q.9. 28 Al-Gashash: 58)

Hanya perbuatan-perbuatannya yang agung yang telah dilakukannya terhadap Rasulullah saw. kami memohon kepada-Nya semoga dia mendapat keringanan. Tidak Islamnya Abu Thalib dan sebagian besar kerabat Rasul mengandung hikmah yang nyata karena sesungguhnya, jika mereka segera mengikuti Rasul saw., niscaya ada orang yang mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang mencari pengaruh dan kebanggaan yang belum mereka miliki, akhirnya mereka melakukan buat-buatan itu.

Setelah orang-orang yang ingkar dan para pengikutnya mengetahui bahwa para pengikut Rasulullah saw. hanyalah terdiri dari orang-orang lain, dan bukan keluarganya, bahkan terkadang justru bekas musuhnya seperti “Utsman ibnu ‘Affan dari Bani Umayyah, mereka tidak mempunyai alasan hujjah sedikit pun buat menuduh Rasulullah saw. kecuali dengan taduhan-tuduhan bohong belaka manakala mereka terdesak dan tidak mempunyai alasan lain, yaitu seperti perkataan mereka bahwa Muham. mad seorang tukang sihir yang memecah belah seseorang dengan istrinya. Terkadang mereka mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang tukang ramal yang dapat meramal hal-hal gaib.

Rasulullah saw. menamakan tahun istri dan pamannya meninggal dunia sebagai ‘amul huzn (tahun kesedihan). Setelah Abu Thalib mening:gal dunia, orang-orang musyrik Quraisy dapat melancarkan tekanantekanan terhadap diri Rasulullah saw. yang belum pernah mereka lakukan sewaktu Abu Thalib masih hidup. Tekanan yang mereka lancarkan itu kian hari kian bertambah keras sehingga mereka berani menaburkan tanah di atas kepalanya ketika ia sedang berjalan, dan mereka pernah meletakkan kotoran kambing di tubuh Rasulullah saw. pada saat ia sedang menjalankan salat.

Pada suatu hari orang-orang kafir Quraisy menarik-narik tubuh Rasulullah saw. di antara sesama mereka, lalu mereka mengatakan, “Engkaukah orang yang hendak menjadikan tuhan-tuhan banyak menjadi satu Tuhan?” Pada saat itu tidak ada seorang pun dari kalangan kaum Muslimin yang menyaksikan kejadian itu, berani maju untuk membebaskan Rasulullah saw. dari cengkeraman mereka karena kaum Muslimin pada saat itu masih lemah sekali. Akhirnya majulah Sahabat Abu Bakar dengan berani seraya berkata kepada mereka, “Apakah kalian hendak membunuh seorang lelaki yang hanya mengatakan, Rabb-ku-Allah?”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker