PENULISAN SHAHIFAH
Setelah orang-orang kafir Quraisy kehabisan akal dalam melancarkan tipu muslihat terhadap Rasulullah saw. dan para pengikutnya, mereka menawarkan kepada Bani ‘Abdu Manaf yang di dalamnya termasuk Rasulullah saw. diat yang berlipat ganda. Mereka bersedia membayar diat tersebut dengan syarat orang-orang Bani ‘Abdu Manaf mau menyerahkan Rasulullah saw. ke tangan mereka. Akan tetapi, Bani ‘Abdu Manaf menolak tawaran tersebut. Lalu mereka menawarkan kepada Abu Thalib seorang pemuda yang terhormat dari kalangan mereka untuk dijadikan anak angkatnya, dan ja menyerahkan Rasulullah saw. kepada mereka. Dengan spontan Abu Thalib menjawab, “Sungguh aneh sikap kalian ini, kalian berikan anak kalian supaya aku mendidiknya dan memberinya makan sebagai ganti dari kalian, sedangkan aku harus menyerahkan anakku untuk kalian bunuh.”
Ketika mereka menemui jalan buntu, lalu mereka sepakat untuk mengucilkan Bani Hasyim dan Banil-Muththalib, keduanya merupakan anakcucu ‘Abdu Manaf. Kemudian mereka mengusir Bani Hasyim dan banil-Muththalih dari kota Makkah, lalu memutuskan hubungan ekonomi dengan Bani Hasyim dan Banil-Muththalib. Mereka tidak mau mengadakan hubungan jual-beli dengan kedua kabilah tersebut kecuali jika kedua kabilah itu mau menyerahkan Muhammad kepada mereka untuk dibunuh. Tindakan mereka tidak sampai di situ saja, bahkan mereka menuliskan sanksi ini pada selembar shahifah, kemudian mereka letakkan shahifah tersebut di dalam Ka’bah.
Akhirnya Bani Hasyim bergabung dengan blok Abu Thalib yang kemudian disusul oleh Banil-Muththalib karena adanya sanksi tersebut. Baik yang Muslim maupun yang kafir, semua orang dari kalangan Bani Hasyim dan Banil-Muththalib bergabung ke dalam blok Abu Thalib tempat Nabi saw. berada, kecuali Abu Lahab. Adapun Abu Lahab berpihak kepada orang-orang kafir Quraisy. Ja tidak menghiraukan lagi celaan yang dilancarkan oleh saudara-saudara misannya, yaitu ‘Abdusy-Syams dan Naufal yang sama-sama dari Bani ‘Abdul Manaf.
Setelah mendapat sanksi tersebut, semua orang terkena sanksi kelaparan sehingga mereka terpaksa memakan dedaunan. Sedangkan musuhmusuh mereka mencegah orang-orang lain melakukan hubungan dagang dengan mereka. Orang yang paling sengit dalam hal ini adalah Abu Lahab.





One Comment