PERBAIKAN KA’BAH
Ketika Muhammad mencapai usia tiga puluh lima tahun, terjadi banjir besar sehingga merobohkan bangunan Ka’bah yang sebelumnya memang sudah rapuh karena pernah kebakaran. Setelah peristiwa itu orang-orang Quraisy bermaksud untuk merobohkan Ka’bah, kemudian membangunnya kembali dan memberinya atap serab, sebelum itu, bangunan Ka’bah hanyalah merupakan batu yang ditumpuk-tumpukkan sehingga berdiri merupakan suatu bangunan. Lalu semua kabilah berkumpul untuk memusyawarahkan hal ini, hanya saja mereka tidak berani merobohkannya karena Ka’bah sangat diagungkan oleh mereka. Al-Walid ibnul Mughirah berkata kepada mereka, “Apakah kalian merobohkannya dengan maksud untuk memperbaikinya atau merusaknya?” Mereka menjawab, “Tidak, kami bermaksud untuk memperbaikinya.” Maka Al-Walid ibnul Mughirah menjawab, “Kalau memang demikian, sesungguhnya Allah tidak akan membinasakan orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Setelah itu Al-Walid ibnul Mughirah mulai mengambil inisiatif merobohkannya, lalu diikuti oleh mereka hingga bangunan itu roboh. Manakala mereka sampai kepada fondasi Hijir Isma’il, di situ mereka menemukan prasasti-prasasti, terukir pada batu-batunya, yang berisi berbagai macam kata-kata hikmah. Hal seperti itu biasa dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu di kala mereka membangun suatu bangunan yang agung. Maksudnya supaya menjadi peringatan bagi generasi selanjutnya tentang pekerjaan-pekerjaan yang telah dilakukan oleh orang-orang dahulu.
Kemudian mereka mulai membangunnya. Untuk itu mereka menyediakan dana yang dikumpulkan bukan dari hasil riba atau hasil pelacuran. Mulailah orang-orang terpandang dari kabilah Quraisy memanggul batubatu di atas pundak mereka, dan Al-‘Abbas, paman Muhammad, bersama dengan Muhammad termasuk orang-orang yang memanggul batubatu. Orang yang menjadi arsitek pelaksana bangunan itu adalah seorang bangsa Romawi bernama Bagum. Setiap rukun (sudut) bangunan Ka’bah dikhususkan untuk segolongan pemimpin, mereka mengangkut batu-batu ke rukun tersebut, lalu membangunnya. Akan tetapi, dana dari barang halal sangat terbatas dan tidak cukup untuk menyempurnakan bangunan tersebut hingga sampai pada fondasi-fondasi Nabi Isma’il. Akhirnya mereka mengeluarkan kembali batu-batu dari fondasinya, kemudian mereka membangun tembok pendek di atasnya sebagai pertanda, bahwa tembok tersebut termasuk bagian dalam Ka’bah.
Bangunan telah mereka selesaikan dengan panjang dan lebar yang sama, yaitu delapan belas hasta. Bangunan tersebut ditambah sembilan hasta dari bentuk asalnya. Kemudian pintu Ka’bah ditinggikan dari permukaan tanah sehingga orang yang ingin memasukinya harus memakai tangga. Setelah itu mereka bermaksud meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya, tetapi para pemimpin kabilah Quraisy bertentangan, siapakah di antara mereka yang berhak meletakkannya. Mereka bersaing dalam hal ini, masing-masing pihak menginginkan dirinya sebagai peletak Hajar As. wad, sehingga peristiwa ini hampir saja menjadi penyebab terjadinya per. tempuran di antara mereka. Persengketaan ini berlangsung selama empat malam. Pada saat itu orang yang paling tua di kalangan kabilah Quraisy adalah Abu Umayyah ibnul Mughirah al-Makhzumi, paman Khalid ihnul. Walid. Abu Umayyah berkata kepada mereka, “Hai kaum, janganlah kalian berselisih, tetapi putuskanlah masalah ini di antara kalian melalui ge. seorang yang kalian relakan akan keputusannya.” Lalu mereka menjawah, “Baiklah, kalau demikian kami menyerahkan masalah ini kepada orang yang paling awal memasuki Ka’bah besok.” Ternyata orang yang paling awal memasuki Ka’bah adalah Muhammad. Mereka merasa lega karena mereka telah mengetahui sifat amanah dan kejujuran Muhammad dalam berbicara. Mereka mengatakan, “Baiklah, kami rela terhadap orang yang dipercaya ini.” Demikianlah Muhammad dijuluki sebagai orang yang amin (dipercaya) karena mereka meminta keputusan daripadanya pada waktu mereka tidak mengetahui bagaimana memutuskan perkara yang sedang mereka alami itu. Setelah mereka memberitahukan kepada Muhammad bahwa dia adalah orang yang terpilih untuk memutuskan perkara mereka, Muhammad segera menggelarkan kain serbannya seraya berkata, “Hendaknya masing-masing kabilah memegang pinggiran kain serban ini.” Kemudian Muhammad meletakkan Hajar Aswad ke atas kain serban itu, dan memerintahkan mereka untuk mengangkatnya secara bersamaan. Setelah sampai pada tempat Hajar Aswad, Muhammad mengambilnya dan meletakkannya ke tempatnya semula.
Demikianlah, akhirnya terpecahkanlah masalah ini yang kebanyakan merupakan penyebab timbulnya peperangan besar di kalangan mereka, padahal masalahnya kecil dan sepele, tetapi akibatnya fatal jika tidak terpecahkan. Niscayalah peperangan akan terjadi seandainya Allah tidak menganugerahkan kepada mereka seorang yang berakal seperti Abu Umayyah, yang menunjukkan kepada mereka jalan yang baik, dan seorang yang bijaksana seperti Muhammad guna memutuskan perkara mereka dengan keputusan yang diridai oleh semua pihak. Tidak mengherankan jika masalah ini sempat membuat mereka bersaing demi meraih kemuliaan karena Baitullah adalah kiblat bangsa Arab dan Ka’bah selalu mereka ziarahi. Setiap pekerjaan yang agung merupakan kebanggaan tersendiri bagi pelakunya dan akan membawa pelakunya untuk berkuasa. Dialah rumah pertama di bumi ini yang dijadikan tempat beribadah, dan hal ini disaksikan oleh Al-Quranul-Karim melalui firman-Nya:
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) makam Ibrahim: barang siapa yang memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. (Q.S. 3 AL Imran: 96-97).
Orang-orang yang mengurus Ka’bah sesudah Nabi Isma’il adalah kabilah Jurhum, tetapi ternyata mereka bertindak semena-mena dan berlaku aniaya terhadap orang-orang yang memasuki kota Makkah. Kabilah Khuza’ah sepakat mengusir mereka dari Baitullah. Setelah itu kepengurusan Ka’bah dipegang oleh orang-orang Khuza’ah selama beberapa masa. Kemudian jabatan ini direbut oleh kabilah Quraisy pada masa Gushay ibnu Kilab, dan berkat Qushay akhirnya amanlah negeri tempat tinggal mereka karena semua kabilah Arab merasa takut kepada kabilah Quraisy. Apabila mereka berlindung kepada Qushay, maka dia merupakan benteng yang kuat dan aman bagi mereka dari serangan orang-orang jahat. Allah swt. menganugerahkan hal ini kepada mereka sebagaimana yang telah dijelaskan melalui firman-Nya:
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia di sekitarnya saling merampok. (Q.S. 29 Al-A’nkabut: 67)









One Comment