Sejarah

Terjemahan Kitab Nurul Yaqin

TAHUN KESEPULUH HIJRIAH

SARIYYAH

Pada bulan Rabiulakhir Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Khalid ibnul-Walid bersama sepasukan kaum Muslimin untuk mendatangi orangorang Bani ‘Abdul Madan di Najran, wilayah Yaman. Sebelum berangkat Rasulullah saw. memerintahkan Khalid ibnul-Walid supaya menyeru mereka untuk masuk Islam sebanyak tiga kali. Apabila mereka menolak, maka mereka harus diperangi.

Setelah Sahabat Khalid dan pasukannya sampai di negeri mereka, ia mengirimkan orang-orangnya ke segala penjuru negeri itu sambil menyeru mereka untuk masuk Islam. Mereka berseru, “Masuk Islamlah kalian, niscaya kalian selamat.” Akhirnya mereka masuk Islam secara berbondongbondong, dan kini mereka menjadi pemeluk agama Allah.

Sahabat Khalid ibnul-Walid bermukim di antara mereka selama beberapa waktu untuk mengajarkan kepada mereka agama Islam dan AlQuran. Selanjutnya ia mengirimkan surat kepada Rasulullah untuk memberitahukan apa yang telah di lakukannya. Rasulullah saw. membalas suratnya seraya memerintahkan supaya ia mengirimkan utusan dari kalangan Bani ‘Abdul Madan untuk menghadap kepadanya. Sahabat Khalid melaksanakan perintah itu.

Ketika para utusan orang Bani ‘Abdul Madan bertemu dengan Rasulullah saw. dia bertanya kepada mereka, “Apakah yang menyebabkan kalian selalu menang terhadap orang-orang yang memerangi kalian pada masa jahiliah dahulu?” Mereka menjawab, “Kami selalu bersatu dan tidak pernah bercerai-berai, dan kami tidak pernah memulai berbuat zalim terhadap orang lain.” Rasulullah saw. berkata, “Kalian memang benar.” Selanjutnya Rasulullah saw. mengangkat Zaid ibnu Hushain sebagai pemimpin mereka.

SARIYYAH

Pada bulan Ramadan Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat ‘Ali sebagai pemimpin suatu pasukan untuk menemui Bani Mudzahih (salah satu kabilah di Yaman). Rasulullah saw. memakaikan serban kepada Sahabat ‘Ali dengan tangannya sendiri seraya berkata, “Berangkatlah engkau hingga sampai di tempat mereka, lalu ajaklah mereka kepada kalimah Ia ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah). Bilamana mereka mau mengatakannya, perintahkanlah mereka untuk mengerjakan salat, dan jangan engkau menyuruh mereka selain itu. Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepada seorang lelaki melalui engkau. Hal itu lebih baik bagi engkau daripada matahari terbit padanya. Jangan sekali-kali kamu memerangi mereka sebelum mereka memulai dahulu peperangan.”

Sesampainya Sahabat ‘Ali bersama pasukannya di tempat mereka, ia mengajak mereka masuk Islam, tetapi mereka membangkang, tidak mau, dan bahkan mereka menembaki kaum Muslimin dengan anak panah. Sahabat ‘Ali dengan sigap menyusun barisan pasukannya, dan terjadilah pertempuran di antara kedua pasukan. Akhirnya Sahabat ‘Ali dapat mengalahkan mereka dan mereka melarikan diri, tetapi Sahabat ‘Ali membiarkan mereka lari selama beberapa waktu. Setelah itu Sahabat ‘Ali mengejar mereka. Sesudah terkejar, lalu ia mengajak mereka masuk Islam. Akhirnya mereka mau menurut dan para pemimpinnya berbai’at masuk Islam. Mereka berkata, “Kami adalah wakil dari orang-orang yang berada di belakang kami, yaitu kaum kami. Ini semua harta milik kami, silakan ambil sebagian daripadanya sebagai hak Allah (zakat).” Sahabat ‘Ali melakukannya. Setelah itu ia kembali kepada Rasulullah. Ternyata Rasulullah saw. berada di Makkah pada saat Haji Wada,’ dan ia menemuinya di sana.

MENGIRIMKAN WAKIL UNTUK NEGERI YAMAN

Kemudian Rasulullah saw. mengirimkan wakil-wakilnya untuk negeri Yaman. Ia mengirimkan Sahabat Mu’adz ibnu Jabal ke daerah pegunungan Yaman dari arah ‘Aden, dan Sahabat Abu Musa al-Asy’ari ke daerah dataran rendahnya. Kemudian Rasulullah saw. berpesan kepada keduanya: Berlaku mudahlah kalian berdua, jangan sekali-kali mempersulit, dan berikanlah kesan yang baik, jangan sekali-kali menimbulkan rasa antipati. Secara khusus ia berpesan kepada Sahabat Mu’adz ibnu Jabal sebagai berita: Sesungguhnya engkau kelak akan bertemu dengan kaum ahli kitab, maka apabila engkau telah mendatangi mereka, ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Maka bilamana mereka mau menaati ajakan engkau itu, beri tahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka, kemudian diberikan kepada kaum fakir-miskin mereka. Bilamana mereka mau menaati seruan engkau itu, hati-hatilah engkau terhadap harta mereka yang berharga. Dan takutlah engkau terhadap doa orang yang dianiaya karena sesungguhnya doa orang yang dianiaya itu tidak akan ditolak oleh Allah. Sahabat Mu’adz ibnu Jabal bermukim di Yaman hingga Rasulullah saw. wafat, sedangkan Sahabat Abu Musa kembali kepada Rasulullah dan bertemu dengannya pada Haji Wada”.

HAJI WADA’

Pada tahun kesepuluh Hijriah Rasulullah saw. melakukan ibadah haji bersama kaum Muslimin. Dalam ibadah haji ini Rasulullah berpamitan kepada kaum Muslimin semuanya. Dia belum pernah melakukan ibadah haji selain ketika itu. Tepatnya pada hari Sabtu tanggal 5 Zulkaedah Rasulullah saw. berangkat dari Madinah untuk menunaikan Haji Wada’. Ia mengangkat Sahabat Abu Dujanah alAnshari menjadi khalifahnya di Madinah. Pada saat itu Rasulullah disertai golongan yang sangat besar jumlahnya sehingga jumlah kaum Muslimin mencapai sembilan puluh ribu orang. Dia melakukan ihram hajinya sejak menaiki kendaraannya, kemudian membaca talbiyah, seperti berikut ini: Kupenuhi panggilan-Mu, ya Allah, kupenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kupenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat serta kerajaan hanyalah bagi-Mu, tiada sekutu bagiMu.

Rasulullah berjalan terus hingga memasuki kota Makkah pada waktu dhuha dari celah-celah ‘Ulya, yaitu celah-celah Kuda’. Sewaktu melihat Ka’bah, lalu ia berdoa:

Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, pengaruh, dan kebaJikan kepadanya. Kemudian Rasulullah langsung melakukan thawaf di Baitullah sebanyak tujuh kali, lalu mencium Hajar Aswad dan melakukan salat dua rakaat pada makam Ibrahim. Sehabis itu ia meminum air zamzam, kemudian melakukan sa’i antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali seraya menaiki kendaraannya. Bilamana menaiki bukit Shafa, ia selalu mengucapkan doa berikut ini:

Tiada tuhan selain Allah. Allah Mahabesar, tiada tuhan selain Allah semata. Dia telah menunaikan janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan yang bersekutu sendirian. Pada tanggal 8 Zulhijjah Rasulullah berangkat menuju Mina, lalu menginap di sana.

KHUTHBATUL WADA’ (PIDATO PAMITAN)

Pada tanggal 9 Rasulullah. berangkat menuju ‘Arafah. Di ‘Arafah ia mengucapkan khotbahnya yang mulia itu. Isi khotbahnya kali ini mengandung pokok dan cabang ajaran Islam. Bunyi khotbah itu seperti berikut ini: Segala puji bagi Allah, kami memuji kepada-Nya, memohon pertolonganNya, meminta ampunan kepada-Nya, bertobat kepada-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh-Nya, niscaya tidak akan ada yang memberikan petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Wahai hamba-hamba Allah, aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, dan aku perintahkan kalian supaya taat kepada-Nya, serta aku membuka khotbah ini dengan hal yang lebih baik. ‘

Amma Ba’du: Wahai umat manusia, dengarkanlah aku baik-baik, aku akan menjelaskan kepada kalian karena sesungguhnya aku tidak mengelahui, barangkali aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian sesudah tahun ini di tempat yang sama. Wahai umat manusia, sesungguhnya darah dan harta benda kalian diharamkan atas kalian hingga kalian bertemu dengan Rabb kalian, sama haramnya dengan hari, bulan, dan negeri kalian ini. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikannya? Ya Allah, saksikanlah. Barang siapa yang di sisinya terdapat amanat, hendaknya ia menyampaikannya kepada orang yang berhak menerimanya. Sesungguhnya riba jahiliah itu telah dihapus, dan sesungguhnya pertama kali riba yang aku hapus adalah riba pamanku, Al-‘Abbas ibnu ‘Abdul Muththalib. Sesungguhnya darah jahiliah itu telah dihapus, dan darah pertama yang aku hapus adalah darah ‘Amir ibnu Rabi’ah ibnul-Harits. Sesungguhnya tradisi jahiliah telah dihapus selain sidanah dan sigayah. Membunuh dengan sengaja pembalasannya gishash, dan membunuh serupa itu dengan sengaja adalah pembunuhan yang dilakukan dengan tongkat dan batu, diatnya adalah seratus ekor unta. Barang siapa menambah-nambahkannya, maka ja adalah orang jahiliah.

Wahai umat manusia, sesungguhnya setan telah berputus asa untuk dapat disembah di tanah kalian ini, tetapi ia akan senang bila ditaati dalam hal-hal selain itu yang kalian anggap remeh dalam amal perbuatan kalian. Wahai umat manusia, sesungguhnya nasi”) itu merupakan tambahan dalam kekufuran. Dengan demikian orang-orang kafir semakin bertambah sesat: mereka menghalalkannya satu tahun dan mengharamkannya satu tahun yang lain supaya sesuai dengan bilangan bulan yang disucikan oleh Allah. Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana keadaannya semula ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dan sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah itu ada dua belas, telah disebutkan dalam Kitabullah sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan yang haram (suci), tiga di antaranya berturut-turut dan yang satunya lagi menyendiri, yaitu bulan Zulkaedah, Zulhijjah, Muharam dan Rajab yang terletak di antara bulan Jumada dan Sya’ban. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikannya? Ya Allah, saksikanlah.

Wahai umat manusia, sesungguhnya istri-istri kalian mempunyai hak atas diri kalian, tetapi mereka mempunyai kewajiban, yaitu janganlah mereka membiarkan seseorang menginjak kamarnya selain kalian sendiri, janganlah mereka memasukkan seseorang yang tidak kalian sukai selain atas izin kalian, dan janganlah mereka melakukan perbuatan fahisyah (zina). Apabila ternyata mereka melakukan (salah satu di antaranya), maka Allah mengizinkan kalian untuk menyekap dan mempersulit mereka, kemudian berpisah dari mereka dalam tempat tidur, lalu memukul mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Apabila ternyata mereka telah berhenti dari perbuatannya lalu mereka taat kepada kalian, maka kalian harus memberi rezeki dan pakaian kepada mereka dengan cara yang makruf. Sesungguhnya teman hidup kalian tidak memiliki apa-apa terhadap dirinya sendiri. Kalian telah mengambil mereka sebagai amanat dari Allah, dan kalian menghalalkan farji mereka dengan kalimat Allah. Bertakwalah kalian terhadap Allah dalam hal wanita, dan nasihatilah mereka dengan baik. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikannya? Ya Allah, saksikanlah.

Wahai umat manusia, sesungguhnya kaum mukminin itu bersaudara, tidak dihalalkan bagi seseorang harta saudaranya kecuali dengan secara sukarela. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikannya? Ya Allah, saksikanlah. Janganlah kalian menjadi orang-orang yang ingkar sesudah aku, sebagian di antara kalian memukul leher sebagian yang lain, karena sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian suatu hal yang bila kallan mau mengamalkannya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah (dan sunnah Rasul-Nya). Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikannya? Ya Allah, saksikanlah.

Hai umat manusia, sesungguhnya Rabb kalian adalah satu dan sesungguhnya kakek-moyang kalian pun satu pula. Kalian berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa. Tidak ada suatu kelebihan bagi orang Arab atas orang selain Arab kecuali ketakwaannya. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikannya? Ya Allah, saksikanlah. Orang yang menyaksikan di antara kalian harus menyampaikan (khotbah ini) kepada yang tidak hadir.

Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah membagikan kepada setiap ahli waris bagian warisannya. Wasiat tidak diperbolehkan untuk ahli waris, dan wasiat tidak boleh lebih dari sepertiga (tirkah). Anak itu bagi hamparan (ibu)-nya, dan bagi lelaki pelaku zina adalah batu (rajam). Barang Siapa mengingkari ayahnya atau menjadikan pemimpin bukan pemimpinpemimpinnya, maka ia terkena laknat dari Allah, para malaikat, dan manusia semuanya, tidak diterima amal sunnah dan ibadahnya.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah.

Pada hari itu juga Allah menganugerahkan kepada kaum mukminin karunia-Nya, yaitu melalui firman-Nya:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagi kalian. (Q.S. 5 Al-Maidah: 3)

Tidak aneh bilamana kaum Muslimin menjadikan hari itu sebagai hari raya mereka yang penuh dengan kebahagiaan. Pada hari itu mereka menampakkan rasa syukur kepada Allah atas karunia yang agung ini.

Kem adian perlu diketahui bahwa Rasulullah saw. menunaikan manasik hajinya mulai dari melempar jumrah, menyembelih kurban, mencukur rambut, dan thawaf. Sesudah bermukim di Makkah selama sepuluh hari, lalu ia kembali ke Madinah. Ketika melihat kota Madinah, lalu ia mengucapkan takbir sebanyak tiga kali, sesudah itu berdoa seperti berikut ini:

Tiada tuhan selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu. Kami kembali dalam keadaan bertobat, beribadah, dan bersujud kepada Rabb kami serta memuji(Nya). Allah telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan yang bersekutu sendirian.

DATANGNYA UTUSAN DARI BERBAGAI KABILAH

Pada tahun kesepuluh Hijriah dan tahun sebelumnya datanglah kepada Rasulullah saw. utusan dari berbagai kabilah untuk berbai’at masuk Islam kepadanya. Mereka datang secara berbondong-bondong. Mengingat kisah tentang para utusan ini mengandung ajaran-ajaran yang terpuji dan sangat perlu diketahui, maka pada pembahasan berikutnya kami, sengaja mengemukakannya.

UTUSAN DARI NAJRAN

Utusan kaum Nasrani Najran yang menghadap Rasulullah berjumlab enam puluh orang. Setelah sampai di Madinah, mereka langsung memasuki masjid. Mereka memakai jubah dan selendang sutera yang memakai jahitan benang emas. Mereka membawa permadani yang di dalamnya terdapat gambar-gambar patung dan kain yang terbuat dari bulu. Hal itu sengaja mereka bawa untuk dihadiahkan kepada Nabi saw. Nabi ternyata hanya mau menerima kain yang terbuat dari bulu dan menolak pemberian permadani. Ketika waktu salat mereka datang, mereka melakukan salat di dalam masjid dengan menghadap ke arah Baitul-Magiis. Setelah mereka menunaikan salat, Rasulullah saw. mengajak mereka masuk Islam, tetapi mereka menolak dan berkata, “Sesungguhnya kami telah Muslim sebelum kalian.” Rasulullah saw. menjawab, “Ada tiga hal yang menyebabkan kalian tidak mau masuk Islam, yaitu kalian menyembah salib, memakan daging babi, dan dugaan kalian yang mengatakan bahwa Allah mempunyai Anak.” Lalu mereka bertanya, “Siapakah orang yang seperti ‘Isa penciptaannya?”” Maka pada saat itu Allah swt. menurunkan firman-Nya: |

Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia) maka jadilah dia. (Q.S. 3 Ali ‘Imran: 59)

Untuk menampakkan kepada mereka bahwa sebenarnya mereka masih dalam keraguan tentang perkara yang mereka yakini itu, Allah menurunkan firman-Nya, yaitu:

Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah, dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (Q.S. 3 Ali ‘Imran: 61)

Rasulullah saw. mengajak mereka untuk ber-mubahalah, tetapi mereka menolak dan lebih suka membayar jizyah, banyaknya seribu hullah pada bulan Safar dan seribu hullah yang lain pada bulan Rajab. Untuk setiap hullah terdapat satu auqiyah emas. Kemudian mereka berkata kepada Rasulullah, “Kirimkanlah kepada kami seseorang yang dapat dipercaya dari kalangan kalian.” Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Abu ‘”Ubaidah ‘Amir ibnul-Jarrah untuk melakukan tugas itu. Maka sesudah peristiwa tersebut Abu ‘Ubaidah diberi julukan sebagai orang yang dipercaya dari umat ini.

KEDATANGAN DHAMAM IBNU TSA’LABAH

Pada suatu hari Rasulullah saw. sedang duduk bersama para sahabatnya. Tiba-tiba datang menghadap seorang lelaki dari kampung. Rambut lelaki itu kusut dan dari mulutnya terdengar suara, tetapi tidak dapat dimengerti. Lelaki itu merundukkan unta yang dinaikinya di depan masjid, lalu ia berkata, “Siapakah di antara kalian anak ‘Abdul Muththalib?” Para sahabat menunjukkannya. Lalu lelaki itu mendekat dan berkata, “Sesungguhnya aku akan banyak bertanya kepada engkau, maka aku mohon engkau jangan marah kepadaku.”

Rasulullah saw. berkata, “Katakanlah apa yang hendak engkau tanyakan.” Lelaki itu bertanya, “Demi Allah aku bertanya, apakah Allah yang telah mengutus engkau kepada seluruh umat manusia? Rasulullah menjawab, “Ya, benar.” Lelaki itu bertanya, “Demi Allah aku bertanya kepada engkau, apakah Allah telah memerintahkan kepada engkau supaya kami melakukan salat lima waktu setiap hari” Rasulullah menjawab, “Ya Allah, memang benar.” Lelaki itu kembali bertanya, “Demi Allah aku bertanya kepada engkau, apakah Allah telah memerintahkan engkau untuk memungut harta orang-orang kaya kami kemudian memberikannya kepada orang-orang miskin kami” Rasulullah menjawab, “Ya Allah, memang benar.” Lalu lelaki itu bertanya kembali, “Demi Allah, aku bertanya kepada engkau, apakah Allah telah memerintahkan engkau untuk melakukan shaum selama satu bulan dalam satu tahun?” Rasulullah menjawab, “Ya Allah, memang benar.” Lalu lelaki itu bertanya lagi, “Demi Allah aku bertanya kepada engkau, apakah Allah telah memerintahkan engkau supaya ibadah haji dilakukan oleh setiap orang yang mampu mengadakan perjalanan hingga sampai kepadanya?” Rasulullah menjawab, “Ya Allah, memang benar.”

Setelah itu lelaki tersebut berkata, “Sesungguhnya kini aku telah beriman dan percaya, aku adalah Dhamam ibnu Tsa’labah.” Setelah lelaki itu pergi, Rasulullah saw. berkata, “Alangkah pandainya lelaki itu.” Selanjutnya lelaki itu kembali kepada kaumnya dan mengajak mereka masuk Islam dan meninggalkan penyembahan berhala. Akhirnya semua kaumnya masuk Islam.

UTUSAN ‘ABDUL QAIS

Utusan lain yang datang kepada Rasulullah saw. ialah delegasi dari ‘ Abdul Qais. Kisah kedatangan mereka bermula ketika pada suatu hari Rasulullah saw. dan para sahabat sedang duduk-duduk, lalu ia berkata kepada mereka, “Kelak akan datang ke hadapan kalian dari arah ini suatu kafilah. Mereka terdiri dari penduduk daerah timur yang paling baik. Mereka masuk Islam bukan karena terpaksa. Kendaraan mereka telah letih dan bekal mereka pun telah habis semua. Ya Allah, ampunilah ‘Abdul Qais.”

Ketika para utusan dari ‘Abdul Qais itu melihat Nabi saw., mereka langsung turun dari kendaraannya di depan pintu masjid, lalu mereka segera menyalami Rasulullah. Di antara mereka terdapat orang yang bernama ‘Abdullah ibnu ‘Auf al-Asyaj. Dia adalah orang yang paling muda usianya di antara mereka. Ia tidak tergesa-gesa seperti teman-temannya, tetapi terlebih dahulu merundukkan kendaraannya, lalu turun dengan tenang. Setelah itu lalu membenahi barang-barang bawaannya. Kemudian ia mengeluarkan dua buah pakaian putih yang dibawanya, selanjutnya ia memakainya. Ia datang menghadap Rasulullah dengan langkah yang tenang hingga bersalam kepada Rasulullah. Dia adalah orang yang rapi dan sopan. Hal ini diketahui oleh Rasulullah saw. ketika ia melihat sikap dan gerakgeriknya. Kemudian ‘Abdullah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak pantas untuk menghadap kepada engkau sore hari ini dalam keadaan berpakaian seperti orang-orang tersebut sekalipun seseorang itu hanya dinilai dari dua anggota kecil, yaitu hati dan lisannya.” Maka Rasulullah saw. menjawab:

Sesungguhnya di dalam diri engkau itu terdapat dua perhiasan (akhlak) yang disukai oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu penyantun dan tenang (tidak terburu-buru). Rasulullah saw. menyambut kedatangan mereka dengan hangat seraya berkata, “Selamat datang kepada kaum yang tidak akan terhina dan tidak akan menyesal.” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami datang kepada engkau dari daerah yang jauh,” dan sesungguhnya di antara negeri kami dan negeri engkau terdapat penghalang yaitu suatu kabilah yang terdiri dari orang-orang kafir Mudhar. Kami tidak dapat sampai kepada engkau selain pada bulan haram (bulan suci), maka berikanlah kepada kami perintah yang tuntas.” Rasulullah saw. berkata, “Aku memerintahkan kalian untuk beriman kepada Allah. Tidakkah kalian mengetahui arti iman kepada Allah? Yaitu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah: mendirikan salat: menunaikan zakat: melakukan shaum dalam bulan Ramadan, dan kalian harus memberikan seperlima dari ghanimah. Aku melarang kalian meminum diba, hantam, nagir, dan muzaffat.” Yang dimaksud dari keseluruhan adalah wadah untuk membuat khamar.

Lalu Al-Asyaj berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya daerah kami iklimnya kejam sekali. Bilamana kami tidak meminum minuman tersebut, niscaya perut kami akan menjadi busung (membengkak). Berikanlah kemurahan kepada kami dalam hal seperti itu.” Ia mengatakan demikian seraya berisyarat dengan tangannya. Lalu Rasulullah saw. berisyarat dengan kedua tangannya pula seraya berkata kepadanya, “Hai Asyaj, bilamana aku berikan kemurahan kepada engkau dalam keadaan seperti ini, niscaya engkau akan meminumnya pula dalam keadaan seperti ini (seraya membuka kedua tangannya dan merentangkannya). Maka, apabila seseorang di antara kalian mabuk karena minuman yang diminumnya, niscaya ja akan bangkit ke arah anak pamannya, lalu ia menetak betisnya dengan pedang.” Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang mereka hal ini secara khusus, mengingat banyaknya macam minuman keras di kalangan mereka.

UTUSAN BANI HANIFAH

Di antara para utusan dari Bani Hanifah itu terdapat Musailamah alKadzdzab (Musailamah si Pendusta). Sebelum itu ia pernah mengatakan, “Bilamana ia (Nabi Muhammad) memberikan kenabiannya kepadaku sesudahnya, niscaya aku mau mengikutinya.” Lalu Rasulullah saw. menemui mereka. Pada waktu itu Rasulullah bersama Qais ibnu Syammas, sedangkan di tangannya terdapat sebuah pelepah kurma. Rasulullah saw. berdiri di hadapan Musailamah yang pada waktu itu bersama temantemannya, kemudian ia berkata, “Jika engkau meminta pelepah ini, niscaya aku tidak akan memberikannya kepada engkau, dan sesungguhnya aku akan memperlihatkan kepada engkau sesuai dengan apa yang telah aku lihat dalam mimpiku.”

Sebelum itu Rasulullah saw. bermimpi, di tangannya terdapat dua gelang emas. Hal ini tentu saja membuatnya susah. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadanya supaya meniup kedua gelang emas tersebut. Lalu ia meniupnya dan keduanya terbang. Hal ini ditakwilkan oleh Rasulullah saw. sebagai adany» dua pendusta yang bakal datang sesudahnya. Ternyata salah satu di antaranya adalah Musailamah, sedangkan orang yang kedua adalah Al-Aswad al-‘Anasiy dari Shana”. Pada saat itu orang-orang Bani Hanifah masuk Islam.

UTUSAN DARI THAYYI’

Utusan lain yang datang kepada Rasulullah saw. ialah orang Thayyi’. Di antara rombongan utusan itu terdapat Zaid al-Khail, pemimpin mereka. Mengenai pribadi Zaid al-Khail ini Rasulullah saw. telah berkata, “Tiada seorang pun dari orang Arab yang dituturkan perihalnya kepadaku yang tidak berada di bawah dari apa yang dikatakan mengenai dirinya, kecuali Zaid al-Khail.” Sejak saat itu Rasulullah saw. memberinya julukan Zaid alKhair (Zaid yang Baik).

UTUSAN DARI KINDAH

Di antara utusan dari Kindah, itu terdapat seseorang yang bernama AlAsy’ats ibnu Qais. Dia sangat dihormati dan disegani oleh kaumnya. Ketika mereka menghadap Rasulullah, mereka menyembunyikan sesuatu seraya bertanya kepada Rasulullah saw., “Coba engkau tebak apa yang kami sembunyikan untuk engkau.” Rasulullah saw. menjawab, “Mahasuci Allah, Sesungguhnya hal itu hanya dilakukan oleh tukang ramal, dan sebenarnya tukang ramal dan orang-orang yang meminta diramal akan terjerumus ke dalam neraka.” Selanjutnya Rasulullah saw. berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengutusku dengan membawa perkara yang hak, dan Dia telah menurunkan sebuah Kitab yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya.”

Kemudian mereka berkata, “Kalau demikian, bacakanlah kepada kami sebagian dari Al-Kitab itu.” Maka Rasulullah saw. membacakan firmanya:

Demi (rombongan) yang bersaf-saf dengan sebenar-benarnya, dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatanperbuatan maksiat), dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran. Sesungguhnya Tuhan kalian benar-benar Esa, Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya, dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari. (Q.S. 37 AshShaffat: 1-5)

Setelah itu Rasulullah saw. diam dan tenang, sedangkan air matanya membasahi pipinya. Mereka bertanya, “Sesungguhnya kami melihat engkau menangis. Apakah karena engkau takut kepada Zat yang telah mengutus engkau hingga engkau menangis?” Rasulullah saw. menjawab, “Sesungguhnya aku menangis karena takut kepadaNya. Dia telah mengutusku membawa jalan yang lurus bagaikan tajamnya pedang. Bilamgna aku menyimpang, niscaya aku akan binasa.” Selanjutnya dia membacakan pula firman Allah yang lainnya, yaitu:

Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami kecuali karena rahmat dari Rabb-mu. Sesungguhnya karunia-Nya atasmu besar. (Q.S. 17 Al-Isra: 86-87)

Kemudian Rasulullah saw. bertanya, “Tidakkah kalian masuk Islam?” Mereka menjawab, “Ya, tentu saja,” Rasulullah bertanya lagi “Kalau memang demikian, lalu apakah artinya sutera yang terdapat pada leher kalian itu? Seketika itu juga mereka merobek-robek selendang sutera mereka dan langsung mencampakkannya.

UTUSAN DARI AZD SYANUAH

Utusan yang juga datang kepada Rasulullah saw. ialah dari Azd Syanuah, pemimpin utusan itu adalah Shard ibnu ‘Abdullah al-Azdi. Mereka masuk Islam, dan Rasulullah saw. mengangkat Shard ibnu ‘Abdullah al-Azdi menjadi pemimpin kaumnya. Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan dia supaya berjuang bersama kaumnya yang telah masuk Islam untuk melawan kaum musyrikin yang tinggal di sekitar mereka.

UTUSAN DARI RAJA-RAJA HIMYAR

Utusan yang datang dari raja-raja Himyar dan membawa pesan dari rajaraja mereka ialah Al-Harits ibnu ‘Abdu Kulal, An-Nu’man, Mu’afir, dan Hamdan. Sebelumnya mereka telah masuk Islam. Kemudian mereka mengirimkan utusannya kepada Rasulullah saw. untuk menjelaskan hal tersebut. Rasulullah saw. mengirimkan surat kepada mereka yang bunyinya seperti berikut:

SURAT KEPADA RAJA HIMYAR

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Rasul Allah kepada Al-Harits ibnu ‘Abdu Kulal dan kepada An-Nu’man alias Dzu Ra’in, Mu’afir, dan Hamdan. Amma ba’du: Sesungguhnya aku memulai suratku kepada kalian ini dengan memuji kepada Allah yang tiada tuhan selain Dia. Amma ba’du: Sesungguhnya telah datang kepada kami utusan kalian sewaktu kami baru saja kembali dari negeri Romawi, dan kami bertemu dengannya di Madinah. Kemudian ia menyampaikan pesan kalian yang dibawakannya dan berita tentang apa yang telah kalian lakukan sebelumnya. Utusan itu telah memberitahukan kepada kami tentang keislaman kalian dan peperangan yang kalian Jakukan terhadap kaum musyrikin. Sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepada kalian dengan petunjuk-Nya. Bila kalian berbuat baik dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kalian mendirikan salat, menunaikan zakat, dan memberikan seperlima dari ghanimah untuk diberikan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kalian menyerahkan pula apa-apa yang telah diwajibkan atas kaum mukminin berupa shadagah. Amma ba’du: Sesungguhnya Nabi Muhammad telah mengutus seseorang kepada Zar’ah ibnu Dzi Yazin. Apabila datang para utusanku kepada kalian, aku berpesan kepada kalian untuk berlaku baik terhadapnya. Mereka adalah Mu’adz ibnu Jabal, ‘Abdullah ibnu Zaid, Malik ibnu ‘Ubadah, ‘Ugbah ibnu Namir, Malik ibnu Murrah dan teman-temannya. Bilamana mereka telah mengumpulkan zakat yang ada pada kalian, dan jizyah dari orang-orang yang berlainan agama, maka sampaikanlah hal itu kepada para utusanku, dan pemimpin mereka adalah Mu’adz ibn Jabal, maka jangan sekali-kali ia kembali melainkan dalam keadaan rela.

Amma ba’du: Sesungguhnya Muhammad bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya ia adalah hamba dan Rasul-Nya. Kemudian Malik ibnu Murrah ar-Rahawiy telah bercerita kepadaku bahwa engkau adalah orang Himyar pertama yang masuk Islam dan engkau pun telah memerangi kaum musyrikin. Maka terimalah berita gembira ini: Aku mengangkat engkau menjadi pemimpin Himyar. Pimpinlah mereka dengan baik. Janganlah kalian berbuat khianat dan jangan (pula) kalian saling menghina karena sesungguhnya Rasulullah adalah pemimpin orang-orang kaya dan orang-orang miskin. Sesungguhnya zakat itu tidak halal bagi Muhammad dan tidak halal (pula) bagi keluarganya. Sesungguhnya zakat itu merupakan pembersih harta yang kemudian diberikan kepada orang-orang miskin kaum Muslimin

dan ibnus-sabil. Malik menyampaikan berita ini serta menyerahkan segalanya kepada Allah. Aku perintahkan kepada kalian supaya berlaku baik terhadapnya. Semoga kesejahteraan, rahmat Allah dan berkahNya tercurahkan kepada kalian.

UTUSAN DARI HAMDAN

Di antara utusan dari Hamdan yang datang kepada Rasulullah saw. terdapat Malik ibnu Namath. Ia adalah seorang penyair yang agung. Mereka bersua dengan Rasulullah saw. sewaktu ia baru kembali dari Tabuk. Mereka datang dengan memakai jubah buatan Yaman dan kain serban dari ‘Aden. Pada saat itu Malik ibnu Namath memuji Rasulullah melalui syairnya, sebagai berikut: Aku bersumpah dengan nama Tuhan para penari wanita yang menuju ke Mina, dan berada di barisan paling depan dari suatu iring-iringan yang turun dari bukit cadas bahwa Rasulullah di kalangan kami dipercaya, dia seorang rasul yang datang dari sisi Yang memiliki ‘arasy, sebagai pemberi petunjuk. Apa yang telah dimuat oleh unta kendaraan mereka adalah hal yang paling dimusuhi oleh Muhammad.

Kemudian Rasulullah saw. mengangkatnya menjadi pemimpin bagi kaumnya yang telah masuk Islam. Rasulullah saw. telah berkata mengenai orang Hamdan, “Kabilah yang sebaik-baiknya adalah Hamdan. Mereka paling cepat dalam menolong dan paling sabar dalam menghadapi kepayahan, serta di kalangan mereka terdapat Ibdal dan Awtad.

UTUSAN DARI TAJIB

Utusan yang datang menghadap Rasulullah saw. dari Tajib (nama dari salah satu kabilah di negeri Kindah) sebanyak tiga belas orang. Mereka datang dengan membawa zakat harta benda mereka yang telah di-fardhu-kan oleh Allah atas diri mereka. Rasulullah saw. menyambut mereka dengan penuh kegembiraan dan hormat. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami membawa harta benda kami yang menjadi hak Allah (zakat).” Rasulullah saw. menjawab, “Kembalikanlah semuanya, dan berikanlah kepada kaum fakir-miskin kalian!” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak sekali-kali kami datang ke hadapan engkau selain membawa kelebihan dari apa yang telah diterima oleh kaum fakir-miskin kami.” Maka Sahabat Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, belum pernah ada utusan yang datang kepada engkau dari kalangan orang Arab seperti mereka itu.” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya petunjuk itu berada di tangan kekuasaan Allah. Maka barang siapa yang dikehendakiNya baik, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk beriman.”

Selanjutnya mereka meminta kepada Rasulullah saw. untuk diajari Al Guran. Hal ini menambah tertarik hati Rasulullah terhadap mereka. Ketika mereka bermaksud kembali kepada keluarga mereka, ada yang bertanya, “Apakah gerangan yang menyebabkan kalian tergesa-gesa ingin kembali?” Mereka menjawab, “Kami akan kembali untuk menemui orang-orang yang ada di belakang kami, lalu kami akan memberitahukan kepada mereka pertemuan kami dengan Rasulullah dan apa-apa yang di kembalikannya lagi kepada kami.” Kemudian mereka datang menghadap Rasulullah dan langsung berpamitan kepadanya. Rasulullah saw. memberikan kepada mereka hadiah yang lebih utama dari pada yang pernah di berikannya kepada utusan-utusan yang lain. Kemudian Rasulullah saw. bertanya kepada mereka, “Apakah masih ada seseorang di antara kalian yang ketinggalan?”” Mereka menjawab, “Masih ada seseorang yang paling muda di antara kami. Sengaja kami meninggalkannya untuk mengurusi kendaraan kami.” Rasulullah menyuruh, “Datangkanlah dia kemari!” Maka mereka pun menyuruhnya untuk menghadap Rasulullah. Pemuda itu kemudian datang menghadap seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya adalah salah seorang dari rombongan yang datang kepada engkau kemarin. Engkau telah memenuhi keperluan mereka, maka penuhilah keperluanku. Rasulul. lah bertanya, “Lalu apa keperluan engkau”” Pemuda itu berkata, “Minta. kanlah ampunan kepada Allah buat diriku, dan mintakan rahmat-Nya untukku, serta mintakan kepada-Nya semoga Dia menjadikan kecukupan. ku berada dalam hatiku.” Lalu Rasulullah saw. berdoa, “Ya Allah, ampunilah dia, dan berilah dia rahmat, serta jadikanlah kecukupan berada dalam hatinya.” Setelah itu Rasulullah saw. memerintahkan sahabat untuk memberinya hadiah sebagaimana yang telah diberikan kepada teman-temannya.

UTUSAN TSA’LABAH

Yang datang sebagai utusan dari Tsa’labah terdiri dari empat orang untuk menghadap Rasulullah dan menyatakan keislaman mereka. Ketika mereka datang, langsung bersalam kepada Rasulullah seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah utusan dari kaum kami yang berada di belakang kami. Sengaja kami datang untuk menyatakan masuk Islam, tetapi kami telah mendengar bahwa engkau telah bersabda bahwa tidak ada Islam bagi orang yang belum mengalami hjjrah.” Rasulullah saw. menjawab. “Di mana pun kalian berada, kemudian kalian bertakwa kepada Allah, hal itu sudah cukup bagi kalian.” Kemudian Rasulullah saw. bertanya kepada mereka, “Bagaimana keadaan negeri kalian?” Mereka menjawab, “Subur dan makmur.” Rasulullah berkata, “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Kemudian selama beberapa hari mereka menjadi tamu Rasulullah. Ketika mereka bermaksud hendak pulang, Rasulullah saw. memberikan kepada setiap orang dari mereka lima augiyah perak sebagai hadiah.

UTUSAN BANI SA’D IBNU HUDZAIM

Salah seorang dari utusan yang datang dari Bani Sa’d ibnu Hudzaim dari Qudhaah bernama An-Nu’man. Ia bercerita: “Aku datang menghadap Rasulullah bersama segolongan dari kaumku sebagai delegasi. Pada saat itu Rasulullah saw. telah menguasai berbagai negeri dan mengalahkan pengaruh orang Arab. Manusia pada saat itu terdiri dari dua golongan, yaitu yang masuk Islam karena senang dan yang masuk Islam karena takut akan pedang. Setelah sampai di Madinah kami berkemah di salah satu sudut kota Madinah. Kemudian kami keluar menuju masjid hingga sampai di muka pintunya. Pada saat itu kami menjumpai Rasulullah saw. sedang melakukan salat jenazah di dalam masjid. Maka kami berdiri di salah satu sudut masjid, lurus di belakangnya, tetapi kami tidak ikut salat bersama mereka. Kami hanya diam menunggu hingga Rasulullah selesai salatnya. Pada saat itu kami akan berbai’at kepadanya.

“Ketika Rasulullah selesai salatnya, dia memandang kepada kami dan memanggil kami. Dia bertanya, “Dari manakah kalian? Kami menjawab, ‘Dari Bani Sa’d ibnu Hudzaim.” Rasulullah bertanya kembali, ‘Apakah kalian Muslim? Kami menjawab, ‘Ya.” Rasulullah bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak salat terhadap jenazah saudara kalian” Kami menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kami menduga bahwa hal tersebut tidak boleh kecuali setelah kami berbai’at kepada engkau.’ Rasulullah berkata, ‘Di mana pun kalian masuk Islam, berarti kalian orang Muslim.”

Selanjutnya An-Nu’man meneruskan kisahnya: ‘Kemudian kami masuk Islam dan berbai’at kepada Rasulullah secara langsung. Setelah itu kami pergi ke tempat kendaraan kami yang ditunggu oleh seseorang dari kami yang paling muda usianya. Tiba-tiba datang pesuruh dari Rasulullah saw. mencari kami supaya kami semua datang menghadap. Ketika kami sampai di hadapan Rasulullah, orang yang paling muda di antara kami itu menyatakan bai’atnya kepada Rasulullah untuk masuk Islam. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, dia adalah orang yang paling muda di antara kami, dan dia adalah pelayan kami. ‘Lalu Rasulullah saw. berkata,

Penghulu suatu kaum adalah pembantunya. Semoga Allah memberkatinya !

An-Nu’man menceritakan bahwa pemuda itu akhirnya menjadi orang yang paling baik di antara mereka dan orang yang paling pandai dalam membaca Al-Quran. Semua itu berkat doa Rasulullah bagi dirinya. Setelah itu Rasulullah saw. memberikan hadiah kepada mereka semua, lalu mereka pun berangkat pulang ke kampung halaman mereka.

UTUSAN BANI FAZZARAH

Kali ini utusan yang datang menghadap Rasulullah ialah dari Bani FazZarah. Segolongan dari kalangan mereka datang kepada Rasulullah saw. seraya menyatakan dirinya masuk Islam. Pada saat itu kaumnya sedang ditimpa paceklik. Mereka meminta kepada Rasulullah saw. supaya mendoakan untuk kesuburan negeri mereka. Seorang lelaki dari mereka berkata, “Wahai Rasulullah, negeri kami sedang tertimpa paceklik, ternak kami binasa, kami mengalami kekeringan, dan anak-anak kami dilanda kelaparan. Maka mintakanlah kepada Rabb engkau supaya menurunkan hujan atas negeri kami. Mintakanlah syafaat kepada Rabb engkau buat kami, serta hendaknya Rabb engkau meminta syafaat kepada engkau buat kami.” Rasulullah menjawab, “Subhanallah (Mahasuci Allah), celakalah engkau ini. Apakah aku memberikan syafaat kepada Rabb ku? Siapakah gerangan yang akan diberi syafaat oleh-Nya? Tiada tuhan selain Dia Yang Mahatinggi lagi Mahaagung, kursi-Nya mencakup langit dan bumi, sedangkan kursi-Nya berbunyi karena kebesaran dan keagungan-Nya sebagaimana berbunyinya muatan yang baru.” Artinya kursi itu berbunyi karena beratnya muatan. Selanjutnya Rasulullah menaiki mimbar lalu berdoa kepada Allah swt. untuk memohon hujan. Negeri para utusan itu seketika itu juga tertimpa hujan lebat yang membawa banyak rahmat.

UTUSAN BANI ASAD

Di antara utusan Bani Asad terdapat Dhirar ibnul-Azur dan Thulaihah ibnu ‘Abdullah yang sesudah itu mengakui dirinya sebagai nabi. Semua delegasi itu menyatakan masuk agama Islam. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah berjalan dengan berselimutkan gelapnya malam yang berbintang dengan tujuan datang ke hadapan engkau. Akan tetapi, mengapa engkau tidak mengirimkan utusan kepada kami?” Pada saat itu juga turunlah firman-Nya :

Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kalian merasa telah memberi nikmat kepada-Ku dengan keislaman kalian. Sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepada kalian dengan menunjukkan kalian kepada keimanan jika kalian adalah orang-orang yang benar. (Q.S. 49 Al-Hujurat: 17)

Mereka bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang biasa mereka lakukan pada Zaman Jahiliah, yaitu tentang perbuatan ‘iyafah, kahanah? dan meramal memakai batu kerikil. Rasulullah saw. mencegah mereka melakukan semua itu. Kemudian mereka bertanya lagi kepada Rasulullah tentang meramal dengan memakai pasir. Lalu Rasulullah berkata, “Hai itu pernah diajarkan oleh seorang nabi, barang siapa yang secara kebetulan memiliki ilmu seperti apa yang pernah diajarkannya, hal itu boleh dan bilamana kebalikannya, maka tidak boleh.”

Mereka tinggal selama beberapa hari untuk mempelajari hal-hal yang fardhu. Sesudah itu mereka berpamitan untuk pulang, tetapi sebelum itu mereka diberi hadiah oleh Rasulullah untuk melunakkan hati mereka.

UTUSAN DARI BANI ‘UDZRAH

Yang menghadap Rasulullah ialah utusan dari Bani ‘Udzrah, dari Bani Bala, dari Bani Murrah, dan dari Khaulan. Mereka adalah kabilah-kabilah yang mendiami negeri Yaman. Rasulullah saw. memerintahkan mereka supaya memenuhi janji dan menunaikan amanat serta memperlakukan tetangga dengan perlakuan yang baik, dan hendaknya mereka tidak menganiaya seorang pun. Sesungguhnya perbuatan zalim itu merupakan kegelapan belaka pada hari kiamat nanti.

UTUSAN DARI BANI MUHARIB

Semula Bani Muharib termasuk orang-orang yang menolak Rasulullah saw. dengan cara yang buruk. Ketika itu Rasulullah sedang berada di pasar ‘Ukazh dalam rangka mengajak kabilah-kabilah yang ada di tempat itu untuk masuk Islam. Alangkah agungnya karunia Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka. Dahulu mereka musuh bebuyutan, dan kini mereka menjadi kaum Muslimin yang taat.

UTUSAN DARI GHASSAN .

Para utusan yang datang kepada Rasulullah ialah dari Ghassan, dari Bani “Ais, dan dari Bani Nakh’i. Sebagaimana biasanya, Rasulullah saw. menyambut kedatangan semua utusan dengan wajah yang berseri-seri dan akhlak yang mulia, dan tidak lupa dia memberikan hadiah yang menyenangkan buat mereka. Rasulullah mengajari mereka tentang iman dan syariat dengan maksud supaya mereka menyampaikannya lagi kepada orangorang yang berada di belakang mereka dari kaumnya masing-masing. Dengan adanya para utusan tersebut agama Islam makin bertambah pesat perkembangannya di daerah-daerah pedalaman.

WAFATNYA IBRAHIM IBNU MUHAMMAD RASULULLAH

Pada tahun kesepuluh Hijriah ini wafat anak laki-laki Rasulullah saw. yang bernama Ibrahim.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker