Sejarah

Terjemahan Kitab Nurul Yaqin

TAHUN KESEMBILAN

SARIYYAH

Pada bulan Rabiulawal Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat ‘Ali ibnu Abu Thalib bersama lima puluh orang pasukan berkuda untuk menghancurkan berhala Fuls kepunyaan orang Thayyi.’ Kemudian Sahabat ‘Ali berangkat bersama pasukannya hingga sampai ke tempat tersebut, lalu ia langsung merobohkan dan membakar berhala itu dengan seketika. Akan tetapi, para penyembahnya mempertahankannya sehingga mereka berperang dengan kaum Muslimin. Sahabat ‘Ali dapat mengalahkan mereka dan semua ternak milik mereka digiring, demikian pula para tawanan yang berhasil ditangkapnya. Di antara para tawanan itu terdapat Sifanah binti Hatim ath-Thaiy. .

Setelah Sahabat ‘Ali dan pasukannya kembali ke Madinah, Sifanah meminta kepada Rasulullah saw. supaya ia dibebaskan tanpa tebusan apa pun. Rasulullah mengabulkan permintaannya karena kebiasaan Rasulullah ialah memuliakan orang yang mulia. Sifanah berterima kasih kepada Rasulullah saw. dan berkata kepadanya, “Tangan yang menjadi miskin sesudah ia kaya kini bersyukur kepada engkau, dan tangan yang telah kaya sesudah miskin tidak akan dapat memiliki engkau. Allah benar-benar telah menempatkan kebajikan terhadap diri engkau sebagai tempat yang paling sesuai. Tidak sekali-kali ada orang yang tercela berhajat kepada engkau, dan tidak sekali-kali ada suatu anugerah yang telah dirampas dari orang yang mulia kecuali jika engkau yang menjadi perantara bagi kembalinya hal itu kepada orang yang bersangkutan.” ‘

Perlakuan yang sangat baik dari Rasulullah terhadap Sifanah merupakan penyebab yang mendorong saudara lelaki Sifanah mau masuk Islam. Ia bernama ‘Addi ibnu Hatim ath-Thaiy. Ia melarikan diri ke negeri Syam tatkala melihat bahwa panji-panji Islam sedang menuju ke negerinya. Mengenai kisah kedatangannya ke Madinah disebutkan bahwa saudara perempuannya, yaitu Sifanah, berangkat menyusulnya ke negeri Syam. Lalu Sifanah memberitahukan kepadanya tentang perlakuan baik yang dialaminya dari Rasulullah. ‘Addi berkata kepadanya, “Bagaimana pendapatmu tentang lelaki itu (nabi Muhammad)?” Sifanah menjawab, “Menurut pendapatku, hendaknya engkau segera datang kepadanya. Bilamana ia memang seorang nabi, maka orang yang lebih dahulu mengakuinya memiliki keutamaan: dan bilamana ia seorang raja, maka engkau …” Kemudian dipotong oleh ‘Addi, “Demi Allah, pendapatmu itu memang benar.”

KEDATANGAN ‘ADDI IBNU HATIM

Maka ‘Addi meninggalkan negeri Syam menuju Madinah. Ia langsung bertemu dengan Rasulullah. Rasulullah bertanya, “Siapakah lelaki yang datang itu.” ‘Addi menjawab, “Aku adalah ‘Addi ibnu Hatim.” Kemudian Rasulullah saw. membawanya serta ke rumahnya. Ketika mereka berdua sedang dalam perjalanan, tiba-tiba ada seorang wanita tua menghadap Rasulullah. Wanita tua itu memberhentikannya. Rasulullah saw. berhenti cukup lama dan berbicara dengannya untuk memenuhi keperluannya. Pada saat itu ‘Addi berkata dalam hatinya, “Demi Allah, dia bukanlah seorang raja.”

Setelah itu Rasulullah saw. melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, ia mengambil sebuah bantal yang.terbuat dari kulit dan diisi dengan serabut untuknya. Bantal itu disuguhkan kepada ‘Addi seraya berkata, “Duduklah engkau di atas bantal ini.” Akan tetapi, ‘Addi menolak seraya berkata, “Tidak, engkaulah yang harus duduk di atasnya.” Rasulullah tetap menolak dan memberikan bantal itu kepada ‘Addi, sedangkan ia sendiri duduk di atas tanah. Setelah itu Rasulullah berkata, “Hai ‘Addi, masuk Islamlah, niscaya engkau selamat.” Rasulullah mengucapkan perkataan ini tiga kali. ‘Addi menjawab, “Sesungguhnya aku telah memeluk suatu agama (ia adalah seorang Nasrani).” Rasulullah berkata, “Aku lebih mengetahui agama engkau daripada engkau sendiri.”

‘Addi bertanya keheranan, “Apakah benar engkau lebih mengetahui agamaku daripada aku sendiri?” Rasulullah menjawab, “Ya.” Selanjutnya Rasulullah saw. menyebutkan kepadanya beberapa hal yang dilakukannya berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku di kalangan bangsa Arab. Hal-hal itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama Al-Masih, seperti mengambil al-mirba’, yaitu seperempat dari ghanimah. Selanjutnya Rasulullah berkata, “Hai ‘Addi, sesungguhnya hal yang mencegah engkau masuk Islam adalah apa yang telah engkau lihat. Tentunya engkau mengatakan bahwa pengikutnya terdiri dari orang-orang yang lemah dan orangorang yang tidak mempunyai kemampuan. Akan tetapi, orang-orang Arab sungguh telah membuangnya (duniawi) jauh-jauh, padahal mereka membutuhkannya. Demi Allah, kelak pasti harta benda akan menjadi berlimpah di tangan mereka sehingga tidak ada orang yang mau menerimanya. Barangkali hal yang mencegah diri engkau masuk Islam ialah apa yang telah engkau saksikan, yaitu karena kaum Muslimin mempunyai banyak musuh sedangkan jumlah mereka sedikit. Tidakkah engkau mengetahui AlHivarah?” ‘Addi menjawab, “Tidak, aku belum pernah melihatnya, tetapi pernah mendengarnya.” Rasulullah saw. berkata, “Demi Allah, perkara ini sangat diharap-harapkan sehingga seorang wanita keluar dari Al-Hirayah, lalu melakukan thawaf di Baitullah tanpa perlindungan seorang pun. Atau barangkali hal yang membuat engkau tidak mau masuk Islam ialah engkau telah menyaksikan raja dan sultan dalam memperlakukan orang-orang selain mereka. Demi Allah, sudah dekat masanya engkau akan mendengar gedung-gedung putih negeri Babilonia dapat ditaklukkan oleh mereka (kaum Muslimin).” Akhirnya ‘Addi mau masuk Islam, dan ia berumur panjang sehingga dapat melihat semua yang telah diramalkan oleh Rasulullah tadi.

PERANG TABUK

Telah sampai berita kepada Rasulullah bahwa orang Romawi telah mempersiapkan pasukannya untuk menyerang Madinah. Pada saat itu kaum Muslimin sedang dilanda kesulitan (resesi) karena paceklik dan Udara sangat panas, yaitu pada saat buah-buahan sudah mulai masak dan orangorang lebih senang menunggui buah-buahan serta bernaung di bawah pohon-pohonnya yang rindang. Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap-siap, padahal sebelum itu Rasulullah saw. selalu menyembunyikan hal ini bila bermaksud melakukan perjalanan untuk berperang, supaya beritanya jangan sampai terdengar oleh musuh. Akan tetapi, dalam peperangan kali ini dia memberitahukan maksudnya kepada mereka, mengingat perjalanan yang sangat jauh dan kuatnya musuh yang akan dihadapi supaya mereka mempersiapkan segalanya.

Selanjutnya Rasulullah mengirimkan utusannya ke Makkah dan kabilah-kabilah Arab untuk menyerukan hal ini kepada mereka. Kemudian dia menganjurkan kepada orang-orang kaya supaya menyediakan perlengkapan buat orang-orang yang tidak mampu. Sahabat ‘Utsman ibnu “Affan mengeluarkan biaya sebanyak sepuluh ribu dinar, kemudian memberikan tiga ratus ekor unta lengkap dengan pelananya dan lima puluh ekor kuda. Lalu Rasulullah saw. mendoakannya, “Ya Allah, ridakanlah “Utsman karena sesungguhnya aku rida terhadapnya.” Sahabat Abu Bakar mendermakan semua harta miliknya, yaitu berupa uang sebanyak empat ribu dirham. Lalu Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Apakah masih ada yang engkau sisakan buat keluarga engkau?” Sahabat Abu Bakar menjawab, “Aku sisakan buat mereka Allah dan Rasul-Nya.” Adapun Sahabat ‘Umar waktu itu mendermakan setengah dari miliknya. Sahabat ‘AbdurRahman ibnu ‘Auf mendermakan seratus augiyah emasnya. Demikian pula Sahabat Al-Abbas dan Sahabat Thalhah mendermakan hartanya yang jumlahnya cukup banyak. ‘Ashim ibnu ‘Addiy menyedekahkan tujuh puluh wasag kurma. Kaum Muslimat pun ikut andil. Mereka memberikan apa yang mampu mereka berikan dari perhiasannya. Kemudian datang menghadap kepada Rasulullah tujuh orang miskin dari para sahabat. Mereka meminta kepada Rasulullah supaya dia membawa serta mereka dalam perang ini. Akan tetapi, Rasulullah menjawab, “Aku tidak menemukan bekal untuk dapat membawa kalian ikut serta bersama kami.” Mereka pergi sementara mata mereka basah oleh air mata karena sedih tidak menemukan nafkah untuk membiayai mereka dalam perang ini. Lalu Sahabat ‘Utsman memberikan bekal terhadap tiga orang dari mereka, Sahabat Al-‘ Abbas membekali dua orang, sedangkan Yamin ibnu ‘Amr memberikan perbekalan kepada dua orang lainnya.

Ketika semua pasukan sudah berkumpul dan siap, Rasulullah saw. berangkat bersama mereka. Jumlah mereka semuanya ada tiga puluh ribu orang. Rasulullah saw. mengangkat Sahabat Muhammad ibnu Maslamah untuk menjadi penggantinya di Madinah, dan Sahabat ‘Ali ibnu Abu Thalib untuk menjaga keluarganya. Banyak orang dari kalangan munafikin yang tidak mau ikut serta. Pemimpin mereka adalah ‘Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul. ‘Abdullah ibnu Ubay berkata, “Muhammad berangkat untuk berperang melawan orang-orang yang berkulit putih dalam kondisi yang sulit, panas, lagi negeri yang dituju amat jauh. Apakah Muhammad mengira memerangi orang-orang kulit putih merupakan mainan? Demi Allah, seolah-olah aku melihat para sahabatnya dalam keadaan terbelenggu semua dalam tambang (ditawan musuh).”

Segolongan orang munafik berkumpul antara sesama mereka, lalu mereka membuat isyu-isyu yang tujuannya untuk menakut-nakuti Rasulullah dan para sahabat. Berita mengenai isyu mereka itu sampai ke telinga Rasulullah. Lalu dia mengirimkan Sahabat ‘Ammar ibnu Yasir untuk menanyakan kepada mereka apa yang telah mereka katakan itu. Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bergurau dan tidak sungguhan.”

Selanjutnya datang menghadap kepada Rasulullah saw. segolongan orang dari kaum munafikin. Di antara mereka terdapat Al-Jadd ibnu Qais. Mereka datang dengan maksud meminta maaf karena tidak dapat ikut serta bersama Rasulullah. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, izinkanlah kami tidak ikut, dan janganlah membuat kami terfitnah karena kami tidak tahan bila melihat wanita kulit putih.” Kemudian datang menghadap pula orang-orang Arab untuk meminta izin tidak ikut. Mereka adalah orang-orang yang berhalangan karena lemah dan ada pula yang karena tidak mampu. Maka Rasulullah saw. memberikan izin kepada mereka untuk tidak ikut. Sehubungan dengan izin ini Allah swt. menegur Rasulullah melalui firman-Nya :

Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang) sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam alasannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? (Q.S. 9 At-Taubah: 43)

Selanjutnya Allah berfirman sehubungan dengan mereka yang berdalih untuk tidak ikut berperang, yaitu:

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orangorang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan. (Q.S. 9 At-Taubah: 45)

Kemudian Allah mendustakan dalih mereka itu melalui firman-Nya:

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kalian bersama orang-orang yang tinggal itu.” (Q.5. 9 At-Taubah: 46)

Agar kaum Muslimin tidak putus asa karena tidak ikutnya kaum munafikin, Allah swt. menghibur mereka melalui firman-Nya, yaitu:

Jika mereka berangkat bersama kalian, niscaya mereka tidak menambah kalian selain kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisan kalian untuk membuat kekacauan di antara kalian, sedangkan di antara kalian ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.(Q.S. 9 At-Taubah: 47)

Dalam perang ini ada segolongan kaum Muslimin yang agamanya tidak diragukan, yang uzur tidak ikut perang. Di antaranya ialah Ka’b ibnu Malik, Hilal ibnu Umayyah, Mararah ibnur Rabi’ dan Abu Khaitsamah.

Tatkala Rasulullah saw. meninggalakan Sahabat ‘Ali, orang-orang munafik berkata, “Ternyata Muhammad sangat berat terhadap ‘Ali sehingga ia meninggalkannya.” Ketika Sahabat ‘Ali mendengar perkataan mereka, ia bergegas menemui Rasulullah dan mengadukan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh orang-orang munafik. Maka Rasulullah saw. berkata kepadanya:

Tidakkah engkau rela bila kedudukan engkau di sisiku bagaikan Harun terhadap Nabi Musa?

Kemudian Rasulullah saw. membawa pasukannya berjalan. Dia menyerahkan pimpinan pasukan kepada Sahabat Abu Bakar ash-Shiddig. Diberikannya tampuk pimpinan pasukan kepada Sahabat Abu Bakar dalam perang terakhir yang dilakukan Rasulullah, dan diberikannya kekhalifahan untuk keluarganya kepada Sahabat ‘Ali, mengandung hikmah lembut yang dapat dimengerti oleh pembaca. Selanjutnya Rasulullah saw. membagi-bagikan panji kepada berbagai kabilah. Dia memberikan kepada Sahabat Zubair panji kaum Muhajirin, dan Usaid ibnu Hudhair memegang panji kabilah Aus, serta Al-Habbab ibnul-Mundzir memegang panji kabilah Khazraj.

Ketika pasukan kaum Muslimin sampai di daerah Al-Hijr, yaitu tempat kaum Tsamud, Rasulullah saw. berkata kepada para sahabatnya:

Janganlah kalian memasuki perkampungan orang-orang yang zalim, kecuali bila kalian dalam keadaan menangis.

Maksudnya supaya mereka merasa ngeri dan takut kepada Allah. Rasulullah saw. mengangkat Sahabat ‘Ubbad ibnu Bisyr sebagai pengawal dan penjaga pasukan kaum Muslimin, dan Sahabat Abu Bakar sebagai imam salat bagi pasukan kaum Muslimin. Ketika mereka sampai di Tabuk, Tabuk merupakan daerah yang sama sekali tidak mempunyai bangunan, Rasulullah saw. berkata kepada Sahabat Mu’adz ibnu Jabal, “Bilamana umur engkau panjang, niscaya engkau akan melihat di tempat ini penuh dengan kebun,” dan memang pada akhirnya presis seperti yang telah ditamalkan oleh Rasulullah.

Ketika pasukan kaum Muslimin sedang beristirahat, tiba-tiba datang menyusul Abu Khaitsamah. Kisah kedatangannya itu bermula ketika pada Suatu hari ia bermaksud mendatangi keluarganya. Pada saat itu hari panas Sekali. Ketika ia memasuki kebunnya, tiba-tiba ia menemukan kedua orang kstrinya berada di dalam kebun tersebut. Masing-masing telah menggelarkan kemahnya dan telah mendinginkan air serta menyediakan makanan pada hari yang sangat panas itu. Ketika Abu Khaitsamah rnelihat hal itu, lalu ia berkata, “Rasulullah saw. berada dalam kepanasan sedangkan Abu Khaitsamah berada dalam naungan yang sejul, air yang telah tersedia dan wanita yang cantik, hal ini tidak adil.” Selanjutnya ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memasuki kemah salah seorang di antara kalian berdua sebelum aku menyusul Rasulullah. Maka sediakanlah oleh kalian berdua perbekalan secukupnya.” Kedua istrinya itu lalu mengerjakan apa telah diperintahkannya. Setelah semuanya siap, lalu ia menaiki kendaraannya. Sebelum itu ia mengambil pedang dan tombaknya, lalu berangkat menuju Rasulullah, dan ia dapat menyusulnya ketika Rasulullah baru sampai di Tabuk.

UTUSAN ORANG AILAH

Ketika Rasulullah saw. sampai di Tabuk, ia tidak melihat seorang pun dari pasukan musuh, tidak seperti berita yang di dengarnya ia bermukim di Tabuk selama beberapa hari. Ketika itu datang menghadap Yohanes, pemimpin Ailah, bersama penduduk Jarba dan penduduk Adzrakh serta penduduk Maina. Yohanes mengadakan perjanjian damai dengan Rasulullah serta menyatakan kesediannya untuk menunaikan jizyah, tetapi ia tidak mau masuk Islam. Lalu Rasulullah saw. mengirimkan surat kepada Yohanes yang bunyinya seperti berikut:

SURAT KEPADA PEMIMPIN AILAH

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ini adalah surat jaminan keamanan dari Allah dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya kepada Yohanes serta penduduk Ailah. Perahuperahu dan kafilah-kafilah mereka, baik di daratan maupun di lautan, berada dalam jaminan keamanan Allah dan Muhammad, dan ini berlaku pula bagi orang-orang yang bersama mereka terdiri dari penduduk negeri Syam, penduduk Yaman dan penduduk daerah pesisir. Barang siapa di antara mereka yang menimbulkan suatu hal yang baru, sesungguhnya tidak akan diambil daripadanya apa yang melindungi dirinya karena sesungguhnya ia (jizyah) diambil dari orang-orang secara sukarela. Dan sesungguhnya tidak diperbolehkan mencegah air yang mengalir kepada mereka, dan tidak boleh pula mencegah jalan yang menuju kepada mereka, baik jalan darat maupun laut.

SURAT KEPADA PENDUDUK ADZRAKH DAN JARBA’ Kemudian Rasulullah pun mengirimkan surat kepada penduduk Adzrakh dan penduduk Jarba yang isinya sebagai berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ini adalah surat dari Muhammad Nabi Allah kepada penduduk Adzrakh dan penduduk Jarba.

Sesungguhnya mereka berada dalam jaminan keamanan dari Allah dan Muhammad, dan diwajibkan atas mereka membayar seratus dinar pada setiap bulan Rajab, secara penuh dan sukarela. Allah menjamin kaum Muslimin untuk berlaku baik dan menaati perjanjian ini.

Kemudian Rasulullah mengadakan perjanjian pula dengan penduduk Maina dengan syarat mereka harus memberikan seperempat dari hasil buahbuahannya.

Setelah itu Rasulullah saw. bermusyawarah dengan para sahabat tentang meneruskan perjalanan melampaui Tabuk untuk menyju tempat yang lebih jauh lagi masuk ke dalam negeri Syam. Sahabat ‘Umar berkata, “Jika engkau memang mendapat perintah (dari Allah) untuk meneruskan perjalanan, maka teruskanlah.” Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Seandainya aku diperintahkan untuk melakukannya, niscaya aku tidak bermusyawarah lagi.” Sahabat ‘Umar r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang Romawi itu memiliki jumlah pasukan yang besar sekali, dan di negeri Syam ini tidak ada seorang pun yang memeluk agama Islam, dan sekarang kita telah dekat dengan mereka. Mendekatnya engkau dari mereka akan membuat mereka bersiaga. Menurut pendapatku, lebih baik kita kembali saja untuk tahun ini sehingga menunggu kelanjutannya atau Allah akan menakdirkan suatu perkara,” Akhirnya Rasulullah saw. menuruti apa yang disarankan oleh Sahabat ‘Umar itu. Selanjutnya dia memerintahkan segenap pasukan untuk kembali ke Madinah.

MASJID DHIRAR

Ketika Rasulullah saw. hampir sampai di Madinah, sampailah berita kepadanya tentang Masjid Dhirar. Masjid ini telah didirikan oleh sekelompok orang munafik untuk menyaingi Masjid Quba dan untuk memecah belah persatuan kaum Muslimin. Segolongan di antara kaum munafikin itu datang menghadap Rasulullah untuk memohon supaya Rasulullah mau melakukan salat di dalam masjid tersebut demi mereka. Kemudian Rasulullah saw. menanyakan kepada mereka tentang penyebab dibangunnya masjid tersebut. Mereka bersumpah bahwa tiada sekali-kali mereka membangunnya kecuali dengan tujuan yang baik. Akan tetapi Allah menyaksikan bahwa mereka adalah orangorang yang berdusta.

Lalu Rasulullah saw: memerintahkan sekelompok sahabat untuk berangkat menuju magjid tersebut, dan mereka diperintah untuk merobohkannya. Kemudian mereka melakukan semua yang diperintahkan itu.

Ketika Rasulullah saw. berada kembali di Madinah dan segalanya berjalan lancar, datanglah beberapa golongan dari orang-orang yang tidak ikut berperang meminta maaf kepadanya secara dusta. Rasulullah saw. hanya mau menerima alasan lahiriah mereka, dan dia menyerahkan masalah hati mereka kepada Allah swt. kemudian Rasulullah memintakan ampunan buat mereka.

KISAH TENTANG TIGA ORANG YANG TIDAK IKUT PERANG

Datang kepada Rasulullah saw. Ka’b ibnu Malik al-Khazraji serta Mararah ibnur Rabi’ dan Hilal ibnu Umayyah yang keduanya dari kabilah Aus. Mereka datang seraya mengakui dosa-dosa mereka karena tidak ikut berperang. Ketika Ka’b memasuki rumah Rasulullah saw., Rasulullah tersenyum sinis seraya bertanya, “Apakah yang mengakibatkan engkau tidak ikut perang” Ka’b ibnu Malik berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya aku duduk di hadapan selain engkau di antara penduduk dunia ini, niscaya aku akan memilih alternatif menghindarkan kemarahannya dengan beberapa alasan. Aku telah dianugerahi keahlian dalam berdebat, tetapi demi Allah, aku telah mengetahui bahwa seandainya aku berbicara kepada engkau pada hari ini dengan pembicaraan yang dusta, pastilah Allah akan memurkai diriku. Seandainya aku berbicara kepada engkau dengan sejujurnya, niscaya engkau akan murka kepadaku. Aku memohon semoga Allah memaafkan diriku dalam hal ini. Sesungguhnya aku tidak mempunyai alasan apa-apa ketika tidak ikut berperang.” Rasulullah saw. berkata, “Orang ini berkata sebenarnya. Sekarang pergilah engkau hingga Allah memutuskan tentang perihal engkau. Demikian pula kedua temannya yang tidak ikut berperang mengucapkan hal yang sama, maka Rasulullah pun mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakannya kepada Ka’b. Selanjutnya Rasulullah saw. melarang kaum Muslimin berbicara dengan ketiga orang tersebut sehingga orang-orang mengucilkan mereka. Rasulullah melarang ketiga orang itu menggauli istri masing-masing. Untuk itu ia memerintahkan supaya mereka menjauhi istri-istrinya. Akan tetapi, istri Hilal ibnu Umayyah meminta izin kepada Rasulullah supaya diperbolehkan meladeni suaminya karena suaminya itu adalah seorang yang sudah tua dan tidak memiliki pelayan. Akhirnya Rasulullah mengizinkannya.

Ketiga orang itu menjalankan hukumannya sehingga terasa oleh mereka dunia yang luas ini menjadi sempit, jiwa mereka merasa sempit, dan mereka kini merasakan bahwa tiada tempat berlindung selain kepada Allah. Setelah itu Allah swt. memberikan tobat terhadap mereka. Maka Rasulullah saw. mengirimkan seseorang untuk menyampaikan berita gembira ini kepada ketiga orang itu. Akhirnya orang-orang menyambut mereka secara berbondong-bondong seraya mengucapkan selamat atas pemberian tobat dari Allah ini.

Sewaktu Ka’b memasuki masjid, ia disambut oleh Rasulullah dengan sambutan yang gembira. Lalu Rasulullah saw. berkata, “Hai Ka’b, bergembiralah dengan hari yang paling baik ini sejak engkau dilahirkan oleh ibu engkau.” Lalu Ka’b bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tobat (ampunan) ini berasal dari dirimu ataukah dari sisi Allah?” Rasulullah menjawab, “Bahkan ia datangnya dari sisi Allah.” Ka’b berkata, “Wahai Rasulullah, sebagai pertanda tobatku ini aku akan memberikan semua harta bendaku sebagai sedekah kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Tidak, jangan semuanya. Peganglah sebagian daripadanya, hal itu lebih baik bagi diri engkau.” Selanjutnya Rasulullah membacakan ayat-ayat yang berkenaan dengan pengampunan dirinya dan kedua temannya seperti yang tertera dalam surah Baraah:

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (terasa pula) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah selain kepada-Nya. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allahlah yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S. At-Taubah: 118)

UTUSAN ORANG TSAQIF

Ketika Rasulullah saw. baru kembali dari Tabuk, datanglah kepadanya para utusan dari orang Tsagif. Kisah kedatangan mereka bermula sewaktu Rasulullah kembali sehabis mengepung orang Tsagif. Kemudian keberangkatan Rasulullah itu diikuti oleh ‘Urwah ibnu Mas’ud ats-Tsagafiy sehingga ia berhasil menyusulnya sebelum Rasulullah sampai di Madinah. Lalu ‘Urwah masuk Islam, dan ia meminta kepada Rasulullah supaya mengizinkannya kembali kepada kaumnya untuk mengajak mereka masuk Islam. Rasulullah saw. menasihatinya, “Sesungguhnya (jika engkau kembali) mereka pasti akan membunuh engkau, ‘Urwah menjawab, “Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang sangat dicintai di kalangan mereka semuanya.”

‘Urwah memaksa berangkat menuju kaumnya. Lalu ia pergi kepada mereka dengan harapan mereka mau taat kepadanya maengingat kedudukannya di kalangan mereka karena ia orang yang disegani dan dicintai oleh kaumnya. Ketika ia sampai di Thaif, ia menampakkan kepada mereka apa yang dibawanya, tetapi mereka menghujaninya dengan anak panah sehingga ia mati terbunuh.

Sesudah lewat satu bulan sejak “Urwah terbunuh, di antara mereka saling bertukar pikiran. Akhirnya mereka menyimpulkan bahwa mereka tidak akan mampu menghadapi semua orang Arab yang berada di sekitar mereka karena semuanya telah masuk Islam. Mereka sepakat untuk mengirimkan kepada Rasulullah seorang lelaki dari kalangan mereka untuk berunding dengan Rasulullah. Kemudian mereka meminta supaya orang yang melakukan tugas ini ‘Abdu Yalil ibnu ‘Amr, tetapi ‘Abdu Yalil menolak tugas tersebut seraya berkata, “Aku tidak mau mengerjakan tugas ini kecuali bilamana kalian menunjuk pula orang-orang yang menemani aku.” Akhirnya mereka menunjuk lima orang dari kalangan orang terhormatnya untuk menemani ‘Abdu Yalil. Maka ‘Abdu Yalil pun bersama rombongannya berangkat menuju Madinah.

Ketika mereka telah mengadakan pertemuan dengan Rasulullah, Rasulullah membuat perkemahan buat tempat tinggal mereka di salah satu halaman dekat masjid. Maksudnya supaya mereka dapat mendengarkan bacaan Al-Quran dan melihat orang-orang yang melakukan salat. Setiap hari mereka menemui Rasulullah saw., dan mereka meninggalkan seseorang yang paling muda, yaitu ‘Utsman ibnu Abul-‘Ash, untuk menjaga hewan-hewan kendaraan mereka. Bilamana mereka kembali, ‘Utsman pergi menemui Nabi, kemudian Nabi membacakan Al-Quran kepadanya, Apabila Nabi sedang tidur, Sahabat Abu Bakarlah yang membacakan Al-Quran kepadanya. Dengan demikian ia banyak hafal ayat-ayat Al-Quran. Selama itu ia menyembunyikan hal tersebut dari teman-temannya. Tidak lama kemudian rombongan itu pun masuk Islam semua, lalu mereka meminta supaya Rasulullah saw. menentukan seseorang dari kalangan mereka yang menjadi imam untuk mereka. Rasulullah saw. mengangkat ‘Utsman ibnu Abul’Ash sebagai pemimpin mereka karena Rasulullah telah melihat sendiri kesungguhannya terhadap agama Islam dan kerajinannya dalam membaca Al-Quran dalam mempelajari agama Islam.

SURAT KEPADA PENDUDUK THAIF

Kemudian Rasulullah saw. menulis surat buat penduduk Thaif yang isinya disimpulkan sebagai berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Nabi dan Rasul Allah kepada orang-orang yang beriman.

Sesungguhnya pohon-pohonan Thaif terlindungi dan binatang-binatang buruannya haram untuk dibunuh dan tetumbuhannya tidak boleh ditebang. Barang siapa yang ditemukan telah melakukan hal-hal yang telah dilarang tersebut, ia harus didera dan bajunya dilepaskan. Kemudian mereka meminta kepada Rasulullah supaya menangguhkan penghancuran berhala mereka dalam waktu sebulan. Maksudnya supaya agama Islam dapat diresapi oleh kaumnya terlebih dahulu sehingga orangorang yang bodoh dari kalangan kaum wanita mereka tidak ragu-ragu lagi merobohkannya. Akhirnya Rasulullah menyetujui permintaan mereka. Ketika mereka meninggalkan Rasulullah, pemimpin mereka berkata, “Aku adalah orang yang paling mengetahui di antara kalian tentang watak orang Tsagif. Kuminta supaya kalian menyembunyikan keislaman kalian. Kemudian mari kita takut-takuti mereka dengan peperangan dan pertumpahan darah, dan kabarkanlah kepada mereka bahwa Muhammad meminta perSyaratan yang berat-berat sehingga kita menolaknya.”

Ketika mereka telah sampai di tempat tinggal mereka, datanglah orang-orang Tsagif menemui mereka. Para utusan itu berkata kepada mereka, “Kami baru datang dari seorang lelaki (Nabi Muhammad) yang berhati keras dan kasar. Ia telah mengunjukkan giginya sehingga semua orang tunduk kepadanya. Ia menawarkan hal-hal yang sangat berat,” Lalu mereka menyebutkan hal-hal yang tadi. Orang-orang Thaif menjawab, “Demi Allah, kami tidak akan menaatinya untuk selama-lamanya.” Para utusan itu pun berkata kepada mereka, “Sekarang persiapkanlah semua senjata kalian, dan tutuplah rapat-rapat benteng kalian. Kemudian bersiap-siaplah untuk berperang.” Mereka melakukan hal itu sehingga berlangsung di kalangan mereka selama dua atau tiga hari. Selanjutnya Allah menimpakan rasa takut ke dalam hati mereka. Akhirnya mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak akan kuat bertempur melawan dia (Nabi Muhammad). Kembalilah kalian (para utusan) kepadanya, dan berikanlah kepadanya semua yang dimintanya.” Pada saat itu para utusan baru mengatakan yang sebenarnya, “Kami telah menyetujuinya dan kami telah masuk Islam.” Mereka berkata dengan nada jengkel, “Mengapa kalian menyembunyikan hal itu dari kami?” Para utusan menjawab, “Ya, sengaja kami lakukan hal itu supaya terlebih dahulu kesombongan setan kalian lenyap.” Akhirnya semua penduduk Thaif masuk Islam.

DIHANCURKANNYA BERHALA LATA

Ketika Rasulullah saw. mendengar bahwa orang Tsagif kini telah masuk Islam, lalu dia mengirimkan Sahabat Abu Sufyan dan al-Mughirah ibnu Syu’bah ats-Tsagafiy untuk menghancurkan berhala Lata, sesembahan orang Tsagif dahulu, di Thaif. Abu Sufyan dan al-Mughirah berangkat menuju Thaif. Sesampai di sana, lalu mereka menghancurkan berhala Lata itu hingga rata dengan tanah.

SAHABAT ABU BAKAR BERHAJI

Pada akhir bulan Zulkaedah Rasulullah saw. mengirimkan Sahabat Abu Bakar untuk melakukan ibadah haji bersama orang-orang yang lain. Sahabat Abu Bakar berangkat bersama tiga ratus orang dari Madinah. Ia membawa serta hewan kurban sebanyak dua puluh ekor unta pemberian Rasulullah, sedangkan ia sendiri membawa hewan kurban sebanyak lima ekor unta.

Ketika Sahabat Abu Bakar dan jamaahnya telah berangkat, turunlah kepada Rasulullah saw. ayat-ayat yang terdapat pada permulaan surah AtTaubah. Rasulullah saw. mengutus Sahabat ‘Ali r.a. untuk menyampaikannya kepada kaum Muslimin pada hari Haji Akbar nanti. Rasulullah saw. berkata, “Tiada seorang pun yang akan menyampaikannya dariku kecuali seorang lelaki dari kalangan keluargaku.”

Sahabat ‘Ali menyusul Sahabat Abu Bakar dan rombongannya. Ia dapat menyusulnya sewaktu masih di tengah perjalanan. Sahabat Abu Bakar bertanya, “Apakah Rasulullah mengangkatmu menjadi pemimpin haji?” Sahabat ‘Ali menjawab, “Tidak, tetapi dia mengirimkan aku untuk membacakan surah Al-Baraah kepada semua orang. Ketika mereka berkumpul di Mina pada hari kurban, Sahabat ‘Ali membacakan kepada mereka tiga belas ayat dari awal surah AlBaraah. Makna ayat-ayat tersebut mengandung pernyataan pemutusan hubungan perjanjian dengan semua kaum musyrikin, yaitu mereka yang tidak pernah menunaikan perjanjian mereka. Selanjutnya mereka diberi masa tangguh selama empat bulan. Dalam masa tangguh itu mereka boleh pergi ke mana saja di muka bumi ini sesuka mereka. Adapun perjanjian dengan kaum musyrikin yang belum pernah menentang kaum Muslimin dan pula belum pernah berbuat khianat ditangguhkan sampai masa perjanjian selesai.

Setelah itu Sahabat ‘Ali r.a. berseru, “Tidak boleh melakukan haji sesudah tahun ini seorang musyrik pun, dan tidak boleh thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang.”

Dalam perjalanan ini Sahabat ‘Ali selalu melakukan salat di belakang Sahabat Abu Bakar sebagai makmum.

MENINGGALNYA IBNU UBAY

Pada bulan Zulkaedah ‘Abdullah ibnu Ubay mati. Rasulullah saw. melakukan salat jenazah yang cukup lama, tidak seperti biasanya. Selanjutnya dia pun mengantarkan jenazahnya sampai di kuburan. Rasulullah saw. sengaja melakukan demikian demi menghibur hati anaknya, yaitu Sahabat ‘Abdullah ibnu ‘Abdullah, sekaligus guna menyenangkan hati orang Khazraj karena Ibnu Ubay mempunyai kedudukan yang dihormati di kalangan mereka. Ternyata sesudah peristiwa itu banyak orang dari kaum munafikin yang meninggalkan kemunafikan mereka karena mereka telah melihat sendiri perlakuan Rasulullah saw. yang begitu baik terhadap pemimpin mereka. Akan tetapi, sesudah peristiwa itu Rasulullah saw. dilarang oleh Allah swt. melakukan salat jenazah untuk orang-orang munafik. Untuk itu Allah swt. menurunkan firman-Nya :

Dan janganlah kamu sekali-kali melakukan salat (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. (Q.5. 9 At-Taubah: 84)

WAFATNYA UMMU KALTSUM

Pada tahun itu juga Ummu Kaltsum binti Rasulullah, istri Sahabat “Utsman ibnu ‘Affan, meninggal dunia.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker