ORANG-ORANG YANG MENINGGAL DUNIA PADA TAHUN ITU
Pada tahun tersebut dari kalangan Muhajirin telah meninggal dunia ‘Utsman ibnu Mazh’un, saudara sepersusuan Rasulullah saw. Ia termasuk orang yang paling dahulu masuk Islam dan telah mengikuti hijrah kaum Muslimin sebanyak dua kali. Tatkala “Utsman ibnu Mazh’un telah dikebumikan, Rasulullah saw. memerintahkan agar kuburannya disiram dengan air, kemudian diletakkan di atasnya sebuah batu. Setelah itu Rasulullah saw. bersabda, “Aku jadikan batu itu sebagai pertanda kuburan saudaraku, dan aku akan mengebumikan keluargaku yang meninggal dunia dengan cara yang sama.” Hal inilah yang melatarbelakangi peletakan batu nisan di atas kuburan, jadi tidaklah seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup jauh sesudah dia. Mereka membangun bangunanbangunan di atas kuburan, kemudian diberi gambar-gambar yang kelihatan mirip dengan berhala-berhala. Mereka bermaksud supaya kaum kerabat mayat datang, lalu menyelenggarakan pesta-pesta yang beraneka ragam sehingga sangat mirip dengan apa yang biasa dilakukan oleh kaum musyrikin Makkah di tempat-tempat peribadatan mereka. Alangkah siasianya jika kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. yang menyangkut masalah akhirat.
Pada tahun itu dari kalangan sahabat Anshar ada pula yang meninggal dunia, yaitu As’ad ibnu Zarrarah, salah seorang pemimpin dari yang dua belas orang itu. Sahabat As’ad ibnu Zarrarah r.a. adalah pemimpin Bani Najjar. Ketika ia meninggal dunia, Rasulullah saw. memilih sendiri penggantinya untuk memimpin kaum Sahabat As’ad ibnu Zarrarah karena Rasulullah saw. adalah anak saudara perempuan mereka. Kemudian pada tahun itu wafat pula salah seorang pemimpin sahabat Anshar lainnya, yaitu Sahabat Al-Barra ibnu Ma’rur. Al-Barra ibnu Ma’rur merupakan juru bicara kaumnya pada waktu Bai’at ‘Agabah kedua.
Pada tahun itu juga dari kalangan kaum musyrikin Makkah meninggal Al-Walid ibnul-Mughirah. Ketika sedang menghadapi kematiannya, ia tampak sangat gelisah. Lalu Abu Jahal berkata kepadanya, “Apakah gerangan yang menyebabkan paman gelisah sekali?” Al-Walid ibnul-Mughirah menjawab, “Demi Allah, sebenarnya aku tidak gelisah karena menghadapi maut, tetapi aku gelisah karena aku merasa khawatir bila agama Ibnu Abu Kabsyah (Nabi Muhammad saw.) mengalami kemenangan di Makkah.” Kemudian dijawab oleh Abu Sufyan, “Jangan khawatir, aku jamin ia tidak akan menang.”
Pada tahun itu juga meninggal pula Al-‘Ash ibnu Wail as-Sahmi. Akhirnya Allah swt. membungkam kejahatan kedua orang yang celaka itu.





One Comment