TAHUN PERTAMA HIJRAH PEMBANGUNAN MASJID
Selanjutnya Rasulullah saw. mulai merencanakan pembangunan masjidnya di tempat bekas mendekamnya unta beliau, yaitu di depan perkampungan Bani Najjar. Sebelum itu tempat terscbut merupakan penjemuran kurma milik dua anak lelaki yatim di bawah pemeliharaan As’ad ibnu Zarrarah. Rasulullah saw. memanggil kedua anak lelaki itu, lalu menawar harga tempat penjemuran kurma tersebut guna tempat mendirikan masjid. Akan tetapi kedua anak itu berkata, “Tidak, bahkan kami menghibahkannya kepada engkau hai Rasulullah.” Rasulullah saw. tetap bersikeras tidak mau menerima pemberian kedua anak yatim itu. Akhirnya Rasulu. lah saw. berhasil membelinya dari mereka.
Pada tanah tersebut terdapat kuburan kaum musyrikin dan beberapa lubang galian serta pohon-pohon kurma. Kemudian kuburannya digali dan dipindahkan, sedangkan tanah-tanah yang berlobang diratakan dan pohon. pohon kurmanya ditebang. Selanjutnya Rasulullah memerintahkan mem. buat batu bata, lalu dimulailah pembangunannya. Mereka membuat kedua tiang penopang pintunya dari batu dan atap masjid itu dari pelepah daun kurma, sedangkan tiang-tiangnya dibuat dari batang pohon kurma. Tinggi temboknya hanya lebih sedikit jika diukur dengan orang yang tegak ber. diri. Dalam pekerjaan ini Rasulullah saw. sendiri langsung melibatkan diri untuk memberikan semangat kepada kaum Muslimin yang bekerja. Sambil bekerja mereka mengumandangkan syair dan Rasulullah saw. ikut bersyair bersama mereka. Syair yang mereka ucapkan ialah seperti berikut ini:
Ya Allah, tiada kebaikan melainkan kebaikan akhirat: maka belas kasihanilah kaum Anshar dan Muhajirin. Arah kiblat ditempatkan di sebelah kiri masjid yang menghadap ke arah Baitul-Magdis, dan masjid itu mempunyai tiga pintu. Tanahnya diberi batu-batu kecil karena bila hujan turun tanahnya becek sehingga Rasulullah saw. memerintahkan supaya tanahnya dilapisi dengan batu-batu kecil. Masjid tersebut tidak diberi hiasan apapun, tidak ada permadani dan juga tidak ada tikarnya. Kemudian Rasulullah saw. membangun dua kamar di sebelah masjid: satu untuk Siti Saudah binti Zam’ah dan yang lain untuk Siti’Aisyah karena pada saat itu Rasulullah saw. hanya mempunyai dua orang istri, yaitu Siti Saudah dan Siti ‘ Aisyah. Kedua kamar tersebut bersebelahan dan letaknya menempel pada tembok bangunan masjid. Kemudian dibangun pula kamar-kamar lainnya manakala ada istri baru lagi.





One Comment