Sejarah

Terjemahan Kitab Nurul Yaqin

TAHUN KESEBELAS HIJRIAH

SARIYYAH

Pada tanggal 26 Shafar Rasulullah saw. mempersiapkan suatu pasukan yang dipimpin oleh Usamah ibnu Zaid untuk menyerang suatu perkampungan di dekat Mu’tah yang dikenal dengan nama Ibni, tempat terbunuhnya Sahabat Zaid ibnu Haritsah, ayah Sahabat Usamah. Rasulullah saw. berkata, “Berangkatlah hingga engkau mencapai tempat terbunuhnya ayah engkau, kejutkanlah mereka dengan pasukan berkuda engkau. Aku telah mengangkat engkau menjadi panglima pasukan ini. Seranglah mereka pada pagi hari dan kalahkanlah mereka, serta berangkatlah dengan cepat supaya engkau mendahului berita. Apabila Allah mentakdirkan engkau menang, maka jangan lama-lama engkau berdiam di tempat mereka. Pakailah penunjuk jalan, dahulukan mata-mata engkau sementara pasukan bersama engkau.” Dalam pasukan Usamah terdapat para sahabat terkemuka dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Di antara mereka adalah Sahabat Abu Bakar, Sahabat ‘Umar, Sahabat Abu ‘Ubaidah, serta Sahabat Sa’d.

“Setelah mengangkat Usamah menjadi panglima pasukan, Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Berperanglah dengan nama Allah di jalan Allah, dan perangilah orang-orang yang kafir terhadap Allah.” Akan tetapi, ada segolongan sahabat yang mengkritik pengangkatan Usamah ini karena ia seorang yang masih muda usia, baru berumur tujuh belas tahun, sedangkan yang dipimpinnya terdiri dari para sahabat Muhajirin yang terkemuka. Kemudian berita itu terdengar oleh Rasulullah, lalu ia keluar dalam keadaan sangat marah dan berkata, “Amma ba’du: Wahai manusia, apakah yang telah dikatakan oleh sebagian di antara kalian tentang pengangkatanku terhadap Usamah? Bilamana kalian menuduh yang tidak-tidak tentang pengangkatanku terhadap Usamah, berarti kalian telah menuduh yang tidak-tidak pula tentang pengangkatanku terhadap ayahnya sebelum dia. Demi Allah, dia adalah orang yang pantas untuk memegang kepemimpinan, dan sesungguhnya anaknya pun sesudah dia pantas pula untuk menjabatnya. Sesungguhnya dia termasuk orang yang paling aku cintai. Keduanya adalah orang yang benar-benar baik. Maka aku pesankan kepada kalian supaya berlaku baik terhadapnya. Dia termasuk orang-orang yang terpilih di antara kalian.”

Pasukan ini belum sempat berangkat karena pada saat itu sakit Rasulullah saw. semakin gawat sehingga dia dipanggil olehNya ke RafigulA’la (meninggal dunia). Para pembaca yang budiman, insya Allah akan mengetahui kelanjutan perjalanan pasukan ini dalam buku kami yang berjudul Siratul-Khulafa.

RASULULLAH SAW. SAKIT

Setelah Rasulullah saw. menyempurnakan semua tugas yang dibebankan kepadanya dan telah menunaikan apa yang dipercayakan kepadanya, telah memberikan petunjuk terhadap umatnya, lalu Allah swt. memanggilnya ke tisi-Nya. Pada suatu hari sebelum ia dipanggil ke sisi-Nya, ia duduk di atas mimbarnya, lalu berkata, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang disuruh memilih oleh Allah antara gemerlapan keduniawian dan pahala yang berada di sisi-Nya, Dia memilih apa yang ada di sisi-Nya.” Sahabat Abu Bakar seketika itu juga menangis seraya berkata, “Wahai Rasulullah, kami lebus engkau dengan kakek dan nenek-moyang kami.” Rasulullah saw. berkata: Sesungguhnya orang yang paling aku percayai dalam hal bersahabat dan harta bendanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku mengambil kekasih, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar (sebagai kekasih), tetapi (mengingat) persaudaraan Islam. Tiada suatu celah-celah (tempat duduk) di dalam masjid yang tidak ditutup terkecuali celah-celah Abu Bakar.

Rasulullah saw. mulai tertimpa sakit keras pada akhir bulan Safar tahun sebelas Hijriah di rumah Siti Maimunah, salah seorang istrinya. Rasulul. lah saw. mengalami sakit selama tiga belas hari. Dalam masa itu ia berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain di antara istri-istrinya. Ketika sakitnya mulai gawat ia meminta izin kepada istri-istri yang lain untuk dirawat di rumah Siti ‘Aisyah binti Abu Bakar, dan mereka mengizinkannya. Ketika Rasulullah saw. mulai tinggal di rumah Siti ‘Aisyah, sakitnya semakin parah, lalu ia berkata, “Tuangkanlah kepadaku air sebanyak tujuh girbah yang masih sejuk karena aku akan menengok apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang di luar.” Kemudian istri-istrinya mendudukkannya di bangku, lalu dituangkan air tersebut kepada dirinya. Setelah merasa cukup, ia mengisyaratkan dengan tangannya supaya mereka menghentikannya. Air itu dimaksudkan dan untuk menurunkan suhu badan yang diakibatkan oleh demam. Panas tubuhnya dapat dirasakan oleh orang yang memegangnya.

ABU BAKAR MENJADI IMAM SALAT

Ketika Rasulullah saw. tidak dapat keluar dari rumah untuk mengimami salat, ia berkata, “Perintahkanlah Abu Bakar untuk salat dengan manusia.” Rasulullah saw. rela Abu Bakar menjadi penggantinya pada masa ia masih hidup. Ketika orang-orang Anshar melihat bahwa sakit yang diderita oleh Rasulullah kian parah, mereka berkerumun di sekeliling masjid. Sahabat Al-Abbas masuk ke dalam rumah Rasulullah, lalu memberitahukan kekhawatiran semua sahabat terhadap dirinya. Maka Rasulullah saw. keluar seraya diapit oleh Sahabat ‘Ali dan Sahabat Al-Fadhl, sedangkan Sahabat Al-Abbas berjalan di depannya. Pada saat itu kepala Nabi saw. dibalut dan ja berjalan dengan langkah yang lemah hingga duduk di atas anak tangga pertama mimbar. Kemudian orang-orang berebutan menuju ke arah Rasulullah. Rasulullah memuji kepada Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata, “Wahai umat manusia, aku telah mendengar bahwa kalian merass khawatir akan kematian nabi kalian. Apakah ada sebelumku seorang nabi yang diutus Allah dapat hidup abadi, kemudian ia dapat hidup selamanya di antara kalian? Ingatlah, sesungguhnya aku akan dipanggil ke sisi-Nya, dan sesungguhnya kalian pun akan menyusulku. Maka aku berwasiat kepada kalian, berlaku baiklah terhadap kaum Muhajirin pertama, dan aku berwasiat kepada kaum Muhajirin untuk berlaku baik terhadap sesama mereka. Sesungguhnya Allah swt. telah berfirman:

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasihatmenasihati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. 103 Al-Ashr: 1-3)

Semua perkara itu dapat berjalan berkat izin Allah swt. Maka janganlah terlambatnya suatu perkara membuat kalian tergesa-gesa melakukannya, sebab Allah swt. tidak akan menyegerakan suatu perkara karena tergesagesanya seseorang. Barang siapa menantang Allah, niscaya Dia akan mengalahkannya, dan barang siapa menipu Allah, niscaya Dia yang akan menipunya. ,

Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (Q.8. 47 Muhammad: 22)

Aku berwasiat kepada kalian agar berlaku baik terhadap kaum Anshar karena mereka adalah orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan kalian. Bukankah mereka telah merelakan separuh dari buah-buahan mereka untuk kalian? Dan bukankah mereka telah melapangkan rumah-rumah mereka buat tempat tinggal kalian? Dan bukankah mereka lebih mementingkan diri kalian daripada diri mereka sendiri, padahal mereka sendiri sedang dalam kesusahan? Ingatlah, barang siapa diberi kekuasaan untuk memutuskan suatu perkara di antara dua orang lelaki, hendaknya ia menerima orang yang baik (tidak bersalah) dan hendaknya ia memberi ma’af kepada orang yang buruk (bersalah). Ingatlah, jangan sekali-kali kalian mempunyai dendam kesumat. Ingatlah, tesungguhnya diriku ini merupakan orang yang akan mendahului kalian, dan kelak kalian akan menyusulku. Ingatlah, sesungguhnya tempat bertemu kalian denganku adalah di Al-Haudh (telaga Kautsar). Ingatlah, barang siapa ingin dapat bertemu denganku kelak, hendaknya ia mencegah tangan dan lisannya kecuali dalam hal-hal yang sudah merupakan keharusan baginya.”

Ketika kaum Muslimin sedang melakukan salat subuh pada hari Senin tanggal 13 Rabiulawal dan yang menjadi imamnya Sahabat Abu Bakar, tiba-tiba Rasulullah saw. membuka tirai kamar Siti ‘Aisyah, lalu memandang mereka yang pada saat itu sedang melakukan salat di dalam safnya masing-masing. Melihat keadaan mereka itu Rasulullah saw. tersenyum. Maka Sahabat Abu Bakar mundur untuk meneruskan salatnya bersama saf yang paling depan karena ia menduga bahwa Rasulullah saw. keluar untuk melakukan salat. Hal ini hampir-hampir membuat kaum Muslimin terfitnah dalam salat karena mereka gembira melihat Rasulullah, tetapi ternyata Rasulullah saw. mengisyaratkan dengan tangannya supaya mereka meneruskan salatnya bersama dengan Sahabat Abu Bakar. Setelah itu ia kembali memasuki kamarnya dan menutupkan kembali tirai kamarnya.

RASULULLAH SAW. WAFAT

Belum lagi saat dhuha hari itu, Rasulullah saw. telah dipanggil ke sisi-Nya dan meninggalkan dunia yang fana ini. Hal itu terjadi pada hari Senin tanggal 13 Rabiulawal tahun 11 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 8 Juni tahun 633 Masehi. Dengan demikian usia Rasulullah saw. adalah 63 tahun 3 hari berdasarkan perhitungan tahun gamariyah, atau 81 tahun 84 hari berdasarkan perhitungan tahun syamsiyah.

Pada saat itu Sahabat Abu Bakar sedang berada di As-Sanh, yaitu tempat perkemahan Banil-Harits ibnul-Khazraj, sedang menggilir istrinya yang bernama Habibah binti Kharijah ibnu Yazid. Kemudian Sahabat ‘Umar menghunus pedangnya seraya berkata, “Sesungguhnya dia hanya diutus untuk menemui-Nya sebagaimana Musa diutus untuk menemuiNya hingga ia meninggalkan kaumnya selama empat puluh hari. Demi Allah, aku akan memutuskan tangan dan kaki orang-orang yang mengatakan bahwa ia telah wafat.”

Ketika Sahabat Abu Bakar mendengar berita tersebut ia, segera datang dan langsung memasuki rumah Siti ‘Aisyah. Sahabat Abu Bakar membuka kain penutup wajah jenazah Rasulullah, kemudian ia membungkuk dan menciuminya sambil menangis dan mengucapkan kata-kata, “Demi Zat yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, dia telah wafat, semoga shalawat Allah tercurahkan kepada engkau, wahai Rasulullah, alangkah harumnya engkau, baik sewaktu hidup ataupun sesudah meninggal. Demi ayah dan ibuku, Allah tidak akan membuat diri engkau meninggal dua kali.”

Setelah itu Abu Bakar keluar, kemudian berpidato dengan terlebih dahulu memuji dan menyanjung-Nya, “Ingatlah, barang siapa menyembah Muhammad, sesungguhnya dia telah meninggal dunia, dan barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah mahahidup dan tidak akan mati.” Kemudian Sahabat Abu Bakar membacakan firman-Nya:

Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). (Q.S. 39 Az-Zumar: 30)

Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. 3 Ali ‘Imran: 144)

Kemudian Sahabat ‘Umar berkata, “Seolah-olah aku belum pernah membaca ayat-ayat tersebut sama sekali.

Jenazah Rasulullah saw. tinggal di rumahnya mulai hari itu sampai malam Rabunya hingga kaum Muslimin selesai memilih khalifahnya untuk mengatur kaum Muslimin. Orang yang memandikan jenazah Rasulullah saw. adalah Sahabat ‘Ali ibnu Abu Thalib dibantu oleh Sahabat Al-Abbas bersama kedua anaknya yaitu Al-Fadhl dan Qatsm, dan Usamah Ibnu Zaid Serta Syagran, bekas hamba sahaya Rasulullah. Jenazah Rasulullah dikafankan dengan tiga lapis kain, tanpa baju gamis dan kain serban. Setelah Mereka selesai mengurus jenazahnya, kemudian jenazah diletakkan di atas balai dalam rumahnya sendiri. Lalu orang-orang mulai berdatangan secara berturut-turut untuk menyalatkannya, dan tidak ada seorang pun yang mengimami salat jenazah itu. Setelah itu mulailah digali liang lahad di dalam kamar Siti ‘Aisyah, tempat Rasulullah. meninggal dunia. Orang yang meletakkan jenazah ke dalam liang lahad adalah Sahabat ‘Ali dan Sahabat Al ‘Abbas bersama dua orang anaknya, Al-Fadhl dan Qatsm. Setelah itu Sahabat Bilal menyiramkan air ke atas kuburan Rasulullah. Kuburan Kasulullah ditinggikan sejengkal dari permukaan tanah.

Rasulullah saw. wafat dengan meninggalkan sesuatu untuk kaum Muslimin. Bilamana mereka mengikutinya, niscaya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan mereka, yaitu Kitabullah yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Dia meninggalkan pula para sahabat yang berbakti lagi mulia sebagai jurupenerang agama Islam untuk menyempurnakan pembukaan negaranegara yang belum dimasuki Islam serta menerbitkan sinar matahari Islam ke seluruh dunia sehingga Allah menyempurnakan kalimah-Nya dan menunaikan janji-Nya. Ternyata Allah swt. telah menunaikannya.

Kami memohon kepada Allah semoga Dia memberikan kemampuan kepada diri kami untuk dapat bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang agung lagi besar ini, yaitu agama Islam.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker