Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adab al-Suluk Wa al-Tawassul

71 Dan Setiap Orang Ketika Itu Memiliki Kesibukan Sendiri-Sendiri

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Kalangan ahli agama dan ibadah yang masuk pasar (sebagai simbol ingar-bingar dunia,—penj.) memiliki kategori macam-macam dalam hal khuruj mereka untuk menunaikan perintah- perintah Allah berupa shalat Jum’at dan jamaah, serta menunaikan kebutuhan mereka di dalamnya: “Ada yang jika masuk pasar, ia langsung terkesima dengan segala macam barang yang dilihatnya di sana. Hatinya terpaut dengannya, sehingga ia pun terfitnah. Dan, ini adalah sebab kebinasaannya, pengabaian agama dan ibadahnya, serta kembalinya pada sikap menurutkan tabiat dan mengikuti hawa nafsu, kecuali jika ANah berkenan menyadarkannya dengan rahmat kasih sayang-Nya, pemeliharaan, perlindungan, dan penyabaran-Nya untuk melawan godaan-godaan ini, sehingga ia pun bisa selamat.

“Ada juga yang ketika melihat hal-hal ini dan nyaris larut terbinasakan di dalamnya, mereka tersadar dan kembali pada nalar agama mereka, lalu mampu mengendalikan diri dengan sekuat daya dan menelan pahit mencampakkan hal-hal itu. Mereka ini seperti prajurit-prajurit gagah berani di jalan agama yang ditolong oleh Allah untuk mengendalikan diri. Allah menganugerahi mereka limpahan pahala dan kehidupan ukhrawi. Nabi Saw. bersabda, ‘Tujuh puluh tindak kebajikan dicatat untuk seorang mukmin yang mencampakkan dorong hawa nafsunya ketika ia dikuasai olehnya atau ia menguasainya.’®

“Ada lagi yang mengambil dan menggulatinya, serta meraihnya berkat nikmat Allah Azza wa Jalla yang seluas dunia dan harta kekayaan. Lalu, ia bersyukur pada Allah Azza wa Jalla atas hal tersebut.

“Ada hal lain lagi yang sudah tidak lagi memerhatikan kenikmatan-kenikmatan tersebut dan merasakannya. Ia buta terhadap segala sesuatu selain Allah Swt; maka mereka tak melihat sesuatu pun selain-Nya dan tuli terhadap sesuatu pun selain-Nya. Bila kau lihat orang-orang semacam ini memasuki pasar, mereka akan berkata, ‘Kami tak melihat sesuatu pun, “Memang benar bahwa ia melihat segala sesuatu, akan tetapi ia hanya sekadar melihatnya dengan mata kepalanya, bukan dengan mata hatinya. Ia melihat semua itu dengan pandangan spontan yang sekilas, dan bukan pandangan syahwat. Pandangan kemasan, bukan pandangan makna. Pandangan lahiriah, bukan pandangan batiniah. Dengan zhahirnya ia melihat semua yang ada di pasar, namun hatinya hanya melihat Tuhan—kadang-kadang pada keagungan-Nya dan kadang- kadang pada Kemurahan-Nya.

“Ada pula yang, ketika memasuki pasar, hatinya penuh dengan kasih sayang kepada orang di dalamnya karena Allah Swt. Rasa kasih sayang ini pun membuatnya bertafakkur dalam melihat hal-hal milik orang-orang ini dan yang di hadapan mereka. Orang semacam ini senantiasa, sejak masuk hingga keluar dari pasar, berdoa dan memohon perlindungan dari Allah serta menjadi perantara bagi orang-orang di pasar dengan sikap penuh kasih sayang. Hatinya terbakar untuk mereka dan atas mereka (menguntungkan mereka dan mencegah kerugian mereka). Lidahnya senantiasa memuji Allah atas semua yang telah dianugerahkan padanya dari rahmat dan karunia- Nya. Orang semacam ini disebut pengawal-pengawal kota dan abdiabdi Allah. Atau, katakanlah orang ‘arif, badal, orang ‘alim Ayn Watd yang dicinta, juga murad wakil Allah di muka bumi untuk mengurusi hamba-hamba-Nya, duta serta pelaksana kebajikanNya yang berpetunjuk dan menunjukkan, serta yang berhidayah dan membimbing. Semoga ridha dan rahmat Allah senantiasa terlimpah bagi mereka dan bagi setiap orang mukmin murid Allah Azza wa Jalla hingga puncak maqam.”

72 Dalam Ulur KenikmatanNya Terkandung Cobaan, dan dalam Genggam Keengganan-Nya Terkandung Ujian

SYEKH—semoga  Allah  meridhai  dan  meridhakannya-berujar,  “Terkadang  Allah

memperlihatkan   pada   wali-Nya   cela-cela   orang   lain,   kebohongannya   dan

kesyirikannya dalam berlaku, berbicara, niat, dan pikirannya. si waliyullah pun dibuat amat cemburu akan Tuhannya, nabi dan agama-Nya. Lalu, meledaklah kemarahan batinnya, diikuti dengan zhahirnya. Bagaimana orang tersebut menganggap dirinya suci dan selamat dengan segala cela dan kebobrokan lahir-batinnya? Bagaimana ia menyatakan ketauhidan dengan tetap menggenggam kesyirikan, sedangkan syirik adalah kekafiran yang menjauhkan dari kedekatan kepada al-Haqq ‘Azza wa Jalla, dan syirik termasuk sifat musuh dan setan yang terkutuk, serta orang orang munafik yang kelak dicampakkan ke dasar neraka terbawah dan tinggal selamanya di sana?

“Selanjutnya, mengalirlah dari mulut sang wali paparan cela-cela orang tersebut sekaligus tindakan-tindakan nista dan kejinya dengan segala pengakuannya sebagai seorang shiddiq, juga ambisinya menyamai orang-orang yang telah fana melebur dalam takdir Allah ‘Azza wa Jalla dan tindakan-Nya. Kadang-kadang dikarenakan kecemburuan akan keagungan Allah Azza wa Jalla. Kadang-kadang karena menolak orang palsu seperti itu, dan sebagai teguran baginya. Dan, terkadang karena kemahakuasaan kehendak dan kemurkaan-Nya terhadap pendusta.

“Dalam  hal  ini, sang wali  Allah  dipersilakan  untuk mengumpatnya.  Namun, ada pertanyaan, ‘Bolehkah para wali mengumpat seseorang? Bisakah mereka memerhatikan seseorang, tak hadir atau hadir, dan hal-hal yang asing bagi orang- orang yang berkedudukan?’

“Pengingkaran dan penolakan semacam ini lebih berhak dialamatkan pada mereka (para pengadu palsu kewalian), sebagaimana firman Allah, ‘Dosa keduanya lebih besar daripada manfaat keduanya.’ (QS. al-Baqarah [2]: 219).

“Secara zhahir, sang wali memang mengingkari, namun tidak secara batin, sebab pengingkaran di dalam batin sudah merupakan bentuk pemurkaan dan pembangkangan tersendiri terhadap Tuhan Azza wa Jalla.

“Oleh karena itu, mereka seharusnya berdiam diri dalam keadaan-keadaan semacam itu, tunduk dan berupaya mendapatkan keabsahan-Nya, tak berkeberatan terhadap kehendak-Nya dan wali-Nya yang mencerca pernyataanpernyataan si palsu. Jika ia bersikap demikian, maka ia mampu mencabut akar-akar kekejian dari dirinya dan

dipandang sebagai kembalinya dari kejahilan dan kebiadabannya. Hal itu bagai serangan atas nama sang wali, dan juga menguntungkan si pongah yang berada di tepi jurang kehancuran, karena kepongahan dan ketakpatuhannya. ‘Dan, Allah menunjuki siapa yang dikehendakiNya ke arah jalan yang lurus.” (QS. an-Nuur [24]:

46).

73 Cahaya Menunjukkan Pelita, dan Aroma Wangi Menunjukkan Bunga-Bunga

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannyaberujar, “Hal pertama yang mesti diperhatikan oleh orang yang berakal adalah sifat diri dan bangunannya, baru kemudian seluruh makhluk dan ciptaan, demi mencapai pengetahuan tentang Penciptanya. Sebab, ciptaan menunjukkan Penciptanya, dan di dalam qudrat (kekuasaan) terkandung pula tanda yang menunjukkan Pelaku Yang Maha Bijaksana. Adanya makhluk menunjukkan adanya al-Khaliq, karena keberadaan semua makhluk itu lantaran ada yang menciptakannya.

“Inilah makna pernyataan yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Ra. dalam ulasannya tentang firman Allah, ‘Dan, Dia jadikan untukmu segala yang di langit dan yang di bumi.’ (QS. alJaatsiyah [45]: 13), tuturnya, ‘Dalam setiap sesuatu itu tersirat satu sifat di antara sifat-sifat Allah dan dalam setiap nama itu tersirat satu tanda untuk salah satu di antara nama-nama-Nya.’”

“Dengan demikian, pasti kamu ada dalam salah satu di antara nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. BatinNya tampak melalui kuasa-Nya dan zhahir-Nya tampak melalui kebijaksanaan-Nya. Dia tampak di dalam sifat-sifat-Nya dan sifatsifat- Nya  terpelihara di dalam  perbuatan-perbuatan-Nya.  Dia  menampakkan  ilmu-Nya melalui iradat-Nya dan Dia menyatakan iradat-Nya di dalam gerak-Nya. Dia menyembunyikan kemahiran dan kebijaksanaan-Nya, dan menyatakan kemahiran dan kebijaksanaan-Nya melalui iradat-Nya. Maka, Dia tersembunyi di dalam gaib-Nya dan tampak di dalam kebijaksanaan dan kekuasaan-Nya. Firman Allah, ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat? (QS. asy-Syuura [42]: 11).

“Sesungguhnya, banyak rahasia-rahasia ilmu keruhanian di dalam kenyataan ini yang tidak  diketahui  oleh orang-orang  yang  tidak  memiliki  sinar  keruhanian  di  dalam hatinya. Ibnu Abbas mendapatkan ilmu itu berkat doa Nabi Muhammad Saw., untuknya. Doa Nabi, ‘Ya Allah, berilah ia pengetahuan tentang agama dan ajarlah ia pengertian tentang al-Qur‘an.

“Semoga kita mendapatkan limpahan karunia-Nya dan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat-Nya di Hari Kebangkitan kelak.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker