28 Biarkanlah Buah Matang Meranum di Dahan, Lalu Petiklah
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Engkau menginginkan agar kebahagiaan dan kedamaian terlimpahkan kepadamu, padahal kau masih berupaya membinasakan nafsu hewanimu, harapan akan balasan di dunia ini dan di akhirat, dan hal ini masih bersemayam dalam dirimu?
“Wahai yang terburu-buru! Berhenti dan berjalanlah perlahan-lahan. Wahai yang berharap! Pintu tertutup selama keadaan ini masih berlangsung. Sesungguhnya, beberapa sisa dari hal-hal ini masih ada padamu, dan beberapa butir kecilnya masih bersemayam dalam dirimu. Itulah kontrak kebebasan seorang hamba sahaya; selagi masih ada secuil pun padanya, kau tertutup darinya.
“Selama kau masih mengisap biji kurma dari dunia ini, dari hawa nafsu, maksud dan kerinduanmu, dari memerhatikan sesuatu dari dunia ini, dari mengupayakan sesuatu pun darinya, atau mencintai sesuatu keuntungan duniawi atau akhiratselama hal-hal ini masih bersemayam dalam dirimu, kau masih berada di pintu peluruhan diri.
“Tenanglah sampai peluruhan dirimu sempurna, lalu kau dikeluarkan dari tempat peleburan dan kau terbusanai, terhiasi, dan menjadi harum, lalu kau dibawa kepada Raja nan agung dan berkata, ‘Sesungguhnya kamu pada sisi Kami menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya.’ Maka, kau dianugerahi limpahan nikmat, dibelai dengan rahmat-Nya, diberi minuman, didekatkan, dan diberi pengetahuan tentang yang rahasia. Kemudian, kau terbebaskan dari kebutuhan, karena yang diberikan kepadamu berasal dari hal-hal ini dan terbebaskan dari kebutuhan segala sesuatu. Tidakkah kau lihat kepingan emas yang beraneka ragam yang beredar pagi
dan petang, di tangan para penjual obat, tukang jagal, penjual makanan, penyamak, tukang minyak, pembersih dan lain-lain, baik yang bagus, rendah ataupun yang kotor?
“Kemudian, kepingan-kepingan ini dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam tempat peleburan logam; lalu kepingankepingan ini meleleh dalam kobaran api, dikeluarkan darinya, ditempa dan dijadikan hiasan-hiasan, diperhalus, diperintah, dan kemudian ditempatkan di tempat-tempat terbaik, rumah-rumah, di balik kunci, dalam kotak- kotak, tempat-tempat gelap, atau dijadikan hiasan sebuah jembatan, dan kadang- kadang jembatan seorang raja besar. Dengan demikian, kepingan-kepingan emas itu berlalu dari tangan para penyamak ke hadapan para raja dan istana setelah dilebur dan ditempa.
“Dengan begini, duhai yang beriman, jika kau senantiasa bersabar dengan karunia- Nya, dan berpasrah terhadap takdirNya, maka kau akan didekatkan kepada Tuhanmu di dunia ini, dikaruniai pengetahuan tentang-Nya dan segala pengetahuan serta rahasia, dan akan dikaruniai tempat damai di akhirat bersama dengan para nabi, shiddiq, syahid, dan shalih dalam kedekatan Allah, dalam rumah-Nya, dan dekat dengan-Nya, sembari mereguk kasih sayang-Nya.
“Maka dari itu, bersabarlah, jangan terburu-buru, ridhalah senantiasa dengan takdir- Nya, dan jangan mengeluh terhadapNya. Jika kau lakukan yang demikian, maka kau akan merasakan kesejukan ampunan-Nya, lezatnya pengetahuan tentang-Nya, kelembutan dan karunia-Nya.”
29 Kemiskinan Bisa Berpanen Kekayaan
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- berujar menjelaskan sabda
Nabi Saw., “Kemiskinan mendekatkan kepada kekafiran.”
“Hamba yang beriman kepada Allah dan memasrahkan segala urusannya kepada- Nya, diberi kemudahan oleh Allah dan keyakinan teguh bahwa apa pun yang akan datang kepadanya akan sampai kepadanya, dan apa pun yang tak mencapainya takkan datang kepadanya. Ia juga mengimani firman Allah, ‘Barang siapa patuh
kepada Allah, Dia berikan baginya jalan keluar dan rezeki yang tak disangka- sangkanya, dan barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.’ (QS. ath-Thalaaq [65]: 2-3).
“Ia berkata demikian dan mengimani kala ia dalam kemudahan dan kesenangan; lalu Allah mengujinya dengan musibah dan kemiskinan; maka ia berdoa dengan penuh kerendahdirian; tetapi Dia tak mengabulkannya. Maka, sabda Nabi Saw., ‘Kemiskinan mendekatkan kepada kekafiran,’ berlaku.
“Maka, Allah bermurah kepadanya. Dia sirnakan darinya segala yang merundungnya, terus memberinya kesenangan, kelimpahruahan, dan daya untuk bersyukur serta memuji Allah, hingga ia menghadap-Nya.
“Bila Allah ingin mengujinya, Dia kekalkan musibah-Nya padanya dan memutuskan darinya pertolongan iman. Maka, ia menunjukkan kekafiran dengan menyalahkan dan menuduh Allah, dan dengan meragukan janji-Nya. Sehingga, ia mati dalam keadaan tak beriman kepada Allah, mengingkari ayat-ayat-Nya, dan merasa marah kepada Tuhannya. Mengenai orang semacam ini, Nabi Muhammad Saw. bersabda,
‘Sesungguhnya, orang yang paling sengsara pada Hari Kebangkitan ialah orang yang telah diberi kemiskinan oleh Allah di kehidupan ini, dan disiksa di akhirat. Kami berlindung kepada Allah dari hal semacam itu:’*°
“Kemiskinan yang diperbincangkan ini ialah kemiskinan yang membuat manusia lupa
kepada Allah, dan karena inilah, ia berlindung kepada-Nya.
“Orang yang hendak dipilih oleh Allah, yang telah dijadikan pilihan-Nya dan pengganti para nabi-Nya, dan yang telah dijadikan pilihan-Nya dan pengganti para nabi-Nya, dan yang telah dijadikan sebagai penghulu para wali-Nya, manusia agung dan berilmu, perantara dan pembimbing ke arah Tuhan—kepada orang ini, Dia anugerahkan limpahan kesabaran, kepatuhan, dan keterleburan dalam kehendak-Nya. Kemudian, Dia karuniakan kepadanya limpahan rahmat-Nya sepanjang siang dan malam, sendiri atau bersama, kadang-kadang tampak, kadang-kadang tak tampak; dan pelbagai kelembutan menyertai ini semua, hingga akhir hayatnya.”









One Comment