50 Dalam Lahiriah Zuhud Terpampang Kemuliaan Dunia, Namun di Batinnya Tersimpan Kemuliaan Akhirat
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Orang yang zuhud menerima pahala dua kali. Pertama, karena penolakannya akan dunia, sehingga ia tak terpesona olehnya dan mengikuti nafsunya, akan tetapi ia hanya mengikuti perintah. Bila ia telah benar-benar mewujud menjadi musuh yang menentang nafsu dan melawan hawa kecenderungan naturalnya, maka ia termasuk kalangan pewujud kebenaran dan empu kewalian, serta dimasukkan pula ke dalam barisan kaum abdal dan kaum ‘arif bi Allah. Jika sudah demikian halnya, barulah ia diperintahkan untuk berhubungan dan berkecimpung dengan dunia, sebab dunia adalah bagiannya yang harus diambil, dan tidak diciptakan untuk selainnya, toh pena telah kering menulisnya dan ilmu telah secara mutlak menentukannya.
“Jika memang perintah telah dipenuhinya, maka ia bisa mengambil bagian duniawinya atau, dengan menerima makrifat, ia berhubungan dengan dunia dengan berlaku sebagai wahana takdir dan tindakan-Nya, tanpa keterlibatannya, tanpa keinginannya dan tanpa upayanya. Karena hal itulah ia menerima pahala untuk kedua kalinya, sebab ia melakukan semua ini demi mematuhi perintah Allah.
-“Bila dikatakan, ‘Bagaimana mungkin kau menyatakan tentang pahala orang yang telah berada pada maqam ruhani yang sangat tinggi dan yang, menurutmu, telah menjadi badal dan ‘arif bi Allah, yang telah lepas dari nafsu, hawa kecenderungan, kesenangan, kehendak dan harapan akan pahala atas kebajikannya, orang yang hanya melihat di dalam semua kepatuhan dan penyembahannya kehendak Allah, kasih-Nya, rahmat-Nya, pemudahan-Nya dan pertolongan-Nya, dan orang yang percaya bahwa ia hanyalah hamba hina Allah, tak berhak menentang-Nya, dan melihat bahwa dirinya, gerak-geriknya, dan upaya-upayanya sebagai milik-Nya. Bisakah dikatakan, tentang orang semacam itu bahwa ia dipahalai, mengingat ia tak meminta upah atau sesuatu yang lain sebagai balasan bagi tindakannya, dan tidak melihat sesuatu tindakan sebagai berasal darinya, tetapi memandang dirinya sebagai orang yang hina dan miskin akan kebajikan?
“Jika dikatakan demikian, maka jawabannya adalah, ‘Kamu memang benar, tetapi Allah menganugerahkan rahmat-Nya padanya, membelainya dengan rahmat-Nya dan membesarkannya dengan kasih, kelembutan, dan karunia-Nya; bila ia telah menahan tangannya dari segala hal, dari hawa kecenderungannya, dari meminta kenikmatan- kenikmatan yang disisihkan bagi kehidupan dan dari menepis kemudharatan yang timbul darinya, maka ia menjadi seperti bayi yang tak berdaya dalam hal-hal dirinya, yang diasuh dengan kelembutan rahmatNya dan rezeki dari-Nya lewat tangan kedua orang tuanya, yang menjadi pembimbing dan penjaminnya. “Jika memang telah Dia jauhkan darinya segala ketertarikan dalam hal-halnya, maka Dia membuat hati orang condong kepadanya dan melimpahkan kasih dan sayang-Nya di hati orang, sehingga mereka lembut terhadapnya, condong kepadanya, dan memperlakukannya dengan baik. Dengan begini, segala selain Allah menjadi tak berdaya kecuali dengan kehendak-Nya dan, menimpali rahmat-Nya, menghamba kepada-Nya di dunia ini dan di akhirat untuk menjaganya dari segala musibah. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya, pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’‘an) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih.” (QS. al-A’raaf [7]: 196).
51 Penolakan-Nya Adalah Anugerah, dan Ujian-Nya Adalah Rahmat
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Sesungguhnya, Allah menguji sekelompok kaum mukmin terkasih dari kalangan empu pemilik kewalian dan makrifat demi mengembalikan mereka dengan bala pada laku memohon, lalu Dia pun mengabulkan doa-doa mereka.
“Bila mereka berdoa, Dia senang mengabulkan doa mereka, sehingga Dia bisa
memenuhi hak kemurahan dan kebaikan yang senantiasa memohon kepada Allah
‘Azza wa Jalla agar mengabulkan doa seorang mukmin yang sedang berdoa.
Pengabulan doa kadang-kadang diperoleh dan terkadang tidak. Bukan karena ditolak, melainkan lebih hanya untuk menguji.
“Karena itu, seorang hamba mesti menunjukkan sikap baik di kala ditimpa musibah, dan menelaah apakah ia telah mengabaikan perintah atau melanggar hal-hal
terlarang, secara nyata atau tersembunyi, atau menyalahkan ketentuan-Nya, karena lebih sering ia diuji sebagai hukuman atas dosa-dosa semacam itu. Bila musibah berlalu, ia mesti selalu berdoa, berendah diri, meminta maaf, dan memohon kepada Allah, karena mungkin ujian itu dimaksudkan untuk membuatnya terus berdoa dan memohon; dan ia tak boleh menyalahkan Allah karena penundaan pengabulan doanya sebagaimana telah kami bicarakan.”









One Comment