Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adab al-Suluk Wa al-Tawassul

67 Betapa Bijak Orang yang Mengiringi TakdirTakdir Menuju Maqam Maqam Waktu

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Ketika Allah mengabulkan permintaan seorang hamba-Nya dan memberinya apa yang ia minta, maka hal itu tidak berarti bahwa kehendak-Nya telah berlalu, dan pena takdir dan ketentuan azali-Nya juga tidak kering lagi. Akan tetapi, doa itu sesuai dengan kehendak Allah dan terjadi pada saat yang telah ditentukan-Nya, sehingga diperolehlah pengabulan dan dipenuhilah kebutuhan pada waktu yang telah ditentukan-Nya dalam ketentuan azali karena memang ketentuan takdir tersebut telah mencapai batas waktunya.

“Proses ini persis sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang alim ketika menafsiri firman Allah, ‘Setiap saat Dia dalam kesibukan,” (QS. ar Rahmaan [55]: 29), bahwa Dia membimbing takdir menuju pos-pos waktunya. Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan memberi sesuatu pada seorang pun di dunia ini hanya karena doanya, juga tidak menepiskan keburukan darinya hanya karena semata doanya.

“Adapun sabda Nabi Saw. dalam sebuah hadits bahwa, ‘Qadha ketentuan tak bisa ditolak kecuali dengan doa, lebih dimaksudkan bahwa hanya doa yang ditentukan mampu menolak qadha ketentuan sajalah yang mampu menolak qadha ketentuan. Sama halnya, tidak ada seorang pun yang masuk surga di akhirat kelak karena amalannya, melainkan lebih karena kasih sayang Allah, hanya saja Allah memberikan kedudukan di surga sesuai dengan amal-amal mereka.

“Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Aisyah Ra. bahwasanya ia pernah bertanya kepada Nabi Saw., ‘Akankah seseorang masuk surga hanya karena amal-amalnya?’ Nabi menjawab, “Tidak, akan tetapi (ia masuk surga hanya dikarenakan) kasih sayang Allah.’ Aisyah pun bertanya lagi, “Termasuk Anda?’ Beliau menjawab, “Termasuk saya juga, kecuali jika Allah berkenan menghujaniku dengan rahmat-Nya, sembari meletakkan tangannya di kepalanya.

“Hal ini dikarenakan bahwa Allah tidak memiliki kewajiban memenuhi hak seseorang, juga  tidak  diharuskan untuk memenuhi  janji.  Akan  tetapi, Dia  berbuat apa  saja sekehendak-Nya, menyiksa siapa saja yang dikehendaki-Nya, mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya, mengasihi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan mengaruniakan nikmat bagi siapa saja yang dikehendakiNya, dan Dia Maha Kuasa atas segalanya. Dia di luar hukum tanggung jawab dan tidak bisa ditanya tentang apa saja yang dilakukan-Nya, berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas segala amal lakunya. Dia memberikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dengan segala kemuliaan karunia dan kasih-Nya, serta menahan karunia-karunia-Nya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya.

“Bagaimana tidak berlaku demikian jika seluruh makhluk dari sisi Arsy-Nya hingga dasar bumi di lapisan ketujuh adalah kerajaan milik-Nya sekaligus ciptaan-Nya? Pencipta mereka adalah Allah, dan pemilik mereka adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Adakah pencipta selain Allah?’ (QS. Faathir [35]: 3). Firman-Nya lagi,

‘Adakah Tuhan selain Allah?’ (QS. an-Naml [27]: 63). Firman lain, ‘Dan, tahukah kau, adakah yang menyamaiNya?’ (QS. Maryam [19]: 65). Firman-Nya juga, “Katakanlah,

‘Ya Allah! Pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan yang Engkau kehendaki. Di tanganMulah segala kebajikan. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang pada malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan, Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 26-27).

68 Jangan Meminta dari yang Maha Pemurah Selain Sesuatu yang Berharga

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, ‘Jangan meminta kepada Allah Swt. sesuatu pun selain ampunan bagi dosa-dosamu, perlindungan dari dosa-dosa kini dan kelak, taufiq pertolongan untuk menunaikan perintah-perintah, memantang segala yang haram, ridha menerima pahit ketentuan-Nya, bersabar dalam menghadapi pedihnya musibah, mensyukuri limpahan karunia dan, akhirnya,

untuk mati dengan husnul khatimah bersama para nabi, kaum shiddiq, dan orang- orang shalih.

“Jangan pula memohon kepada-Nya agar Dia menyingkirkan kemiskinan dan musibah, serta menganugerahkan kemudahan padamu, akan tetapi mintalah kepada- Nya keridhaan dengan ketentuan dan karunia-Nya, perlindungan abadi-Nya bagi dirimu yang telah ditempatkan-Nya dari satu hal ke hal lain, sebab kau tak tahu letak kebaikan—di balik kesulitan atau kemudahan. Dia telah menyembunyikan pengetahuan tentang hal-hal darimu dan hanya Dia sendirilah Yang Maha Mengetahui yang baik dan yang buruk.

“Umar Ibnu al-Khathab diriwayatkan pernah menyatakan, ‘Hampir tak menjadi masalah bagiku, dalam keadaan apa aku di pagi hari—entah hal itu membawa kepadaku yang tak kusukai atau yang kusukai, sebab aku tak tahu letak kebaikan.’

“Ia berkata demikian lantaran kesempurnaan keridhaannya akan tindakan Allah. Allah berfirman, ‘Berperang diwajibkan atas kamu, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.’ (QS. al- Baqarah [2]: 216). .

“Senantiasalah bersikap demikian sampai kehendakmu pupus dan nafsu dirimu hancur berkeping-keping, lalu takluk dan mau menurutimu. Kemudian, akan lenyaplah segala  kehendakmu dan  angan  keinginanmu. Segala macam  maujud  pun  akan melenyap dari dalam hatimu kecuali Allah. Selanjutnya, hatimu diisi dengan kecintaan kepada Allah dan keinginan untuk mencapai-Nya pun menjadi tulus. Setelah itu, hawa kehendakmu akan dikembalikan lagi kepadamu melalui perintah-Nya bersama dengan hawa kecenderunganmu untuk menikmati dunia dan akhirat. Lalu, kau akan meminta hal-hal ini kepada Allah dalam kepatuhan kepada-Nya dan keselarasan dengan-Nya.

“Jika Dia menganugerahimu suatu karunia, maka bersyukurlah. Dan, jika Dia tidak memberimu, maka kau tak boleh gundah karenanya, jiwamu tidak boleh berubah dan kau tidak boleh menyalahkan-Nya, sebab hal seperti itu hanyalah dorongan hawa

nafsu dan kehendakmu saja. Hatimu bersih dari hal-hal ini dan kau tak menghendaki hal-hal ini melainkan hanya mengikuti perintah-Nya melalui permohonanmu kepada- Nya, dan kedamaian pun akan senantiasa teranugerahkan untukmu.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker