36 Seolah-olah Pendengki Hanya Diciptakan Untuk Membenci
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- berujar, “Wahai orang-orang beriman, kenapa kau iri terhadap tetanggamu yang hidup senang, yang memperoleh rahmat-rahmat dari Tuhannya?
“Tidakkah kau tahu bahwa yang demikian ini melemahkan imanmu, mencampakkanmu di hadapan Tuhanmu, dan membuatmu dibenci oleh-Nya?
“Tidakkah kau dengar sabda Nabi bahwa Allah berfirman, ‘Kedengkian adalah musuh rahmat-Ku’?® Tidakkah kau dengar juga sabda Nabi, ‘Sesungguhnya, keirihatian melahap habis kebajikan sebagaimana api melahap habis kayu bakar.”“
“Lantas, kenapa kau iri terhadapnya, duhai orang yang malang? Baginyakah atau
bagimu?
“Nah, jika kau iri terhadapnya, lantaran karunia Allah baginya, maka berarti kau tak ridha dengan firman-Nya, ‘Kami karuniakan di antara mereka rezeki di kehidupan duniawi ini.’ (QS. az-Zukhruf [43]: 32). Berarti kau benar-benar zhalim terhadap orang ini, yang menikmati karunia Tuhannya, yang khusus Dia karuniakan kepadanya, yang telah dijadikan-Nya sebagai bagiannya dan yang tidak diberikan-Nya sedikit pun dari bagian itu kepada orang lain. Nah, siapakah yang lebih zhalim, serakah, dan bodoh selainmu?
“Jika kau hasud terhadapnya lantaran bagianmu, maka kau berarti telah bertindak sangat bodoh, sebab bagianmu tidak akan diberikan pada orang lain, juga tidak akan berpindah dari tanganmu ke tangan orang lain. Allah bebas dari kecacatan seperti itu. Dia berfirman, ‘Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.’ (QS. Qaaf [50]: 29).
“Sesungguhnya Allah takkan mencabut darimu segala yang telah ditentukan-Nya bagimu dan takkan memberikannya kepada selainmu. Ini adalah bentuk kebodohanmu sendiri dan kezhalimanmu pada saudaramu.
“Lebih lanjut, keirianmu pada tanah yang menyimpan aneka harta kekayaan, seperti emas, perak, dan batu-batu mulia, yang dikumpulkan oleh raja-raja terdahulu, seperti
‘Ad, Tsamud, para raja serta kaisar Persia dan Romawi—lebih baik daripada keirianmu terhadap tetanggamu, mukmin atau sedurjana apa pun ia, toh di rumahnya tidak ada seperjuta bagian yang dimiliki mereka.
“Keirianmu pada tetanggamu malah seperti seorang yang melihat seorang raja yang memiliki kekuasaan, tentara, kehormatan, dan kerajaan, yang menguasai negeri- negeri, memungut pajak, memeras mereka demi keuntungan pribadi, dan menikmati
aneka kesenangan, tetapi tak iri terhadap raja ini, sedang terhadap seekor anjing buas yang tunduk kepada salah seekor anjing raja itu, yang bersamanya siang dan malam, dan diberi sisasisa makanan dari dapur kerajaan, dan hidup dengannya; orang ini mulai iri terhadap anjing ini, memusuhinya, menghendaki kematiannya, dan ingin menggantikan kedudukannya sepeninggalnya, tanpa merasa enggan terhadap dunia, atau membangun sikap sabar dan ridha dengan nasibnya. Adakah manusia, di sepanjang masa, yang lebih bodoh daripada orang ini?
“Selanjutnya, jika kau tahu hai orang yang malang! Apa yang mesti dihadapi oleh tetanggamu kelak pada Hari Kebangkitan, jika ia tak mematuhi Allah, padahal ia menikmati karuniakarunia-Nya dan tak memanfaatkan karunia-karunia itu untuk mengabdi kepada-Nya?
“Tidakkah kau dengar cerita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Nabi Saw., berbunyi, ‘Sesungguhnya, akan ada kelompok-kelompok orang yang menghendaki, pada Hari Kebangkitan, agar daging mereka dipisahkan dari tubuh mereka dengan gunting, karena mereka melihat pahala bagi penderitapenderita kesulitan.”*
“Pada Hari Kiamat kelak, tetanggamu akan menginginkan kedudukanmu di dunia ini, karena pertanggungjawabannya, kesulitan-kesulitannya, keberdiriannya selama lima puluh ribu tahun di terik matahari masa itu, atas kenikmatan hidup duniawi yang telah direguknya.
“Sedangkan kau akan selamat dari hal ini di bawah naungan Arsy Allah, sembari makan, minum, bersenang-senang karena kesabaranmu dalam menghadapi nasibmu dan keselarasanmu dengan perintah Tuhanmu. Semoga Allah menjadikanmu orang yang sabar dalam menghadapi musibah, bersyukur atas rahmatNya dan memasrahkan segala urusannya kepada Tuhan bumi dan langit.”
37 Ketulusan Adalah Bukti Takwa, Keselamatan yang Indah, dan Kesempurnaan Agama dan Dunia
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Barang siapa memperlakukan Allah dengan penuh keikhlasan dan ketulusan (nashahah), berarti ia mencampakkan segala selain-Nya pagi dan sore. “Wahai manusia, jangan mengaku apa yang tidak kau miliki. Esakanlah Allah dan jangan sekutukan Dia dengan sesuatu pun. Demi Allah, sesungguhnya panah takdir-Nya hanya melecetkanmu saja dan tak sampai mematikanmu. Dan, siapa pun yang memfanakan diri demi Allah, maka ia akan memperoleh ganti dari-Nya.’*









One Comment