21 Kepasrahan Adalah Harapan Kotor Setan
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- berujar, “Aku bermimpi melihat iblis yang terkutuk. Kala itu aku bersama serombongan besar orang, maka aku pun ingin sekali membunuhnya. Tiba-tiba ia berkata kepadaku, “‘Mengapa kamu hendak membunuhku? Memangnya apa dosaku? Jika memang takdir telah menggariskan keburukan, maka aku tidak akan kuasa mengubah dan memindahnya menjadi kebaikan. Pun jika takdir menentukan kebaikan, maka aku tidak akan kuasa mengubahnya menjadi keburukan. Lalu apa dayaku?’ “Rupa iblis itu persis seorang kasim. Tutur katanya lembut. Wajahnya kerucut. Dagunya berjenggot lebat. Raut mukanya hina. Dan, buruk fisik.
“Kemudian, ia tersenyum di depanku dengan senyum malu dan gentar. “Peristiwa ini terjadi pada 12 Dzulhijjah 516 H, malam Ahad.”
22 Cobaan Ditimpakan Sebatas Maqammu
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Allah senantiasa menguji seorang hamba yang beriman menurut kadar keimanannya. Barang siapa imannya kuat, besar, dan bertambah, maka cobaannya pun akan besar.
“Cobaan seorang rasul lebih besar daripada cobaan seorang nabi, karena iman rasul lebih tinggi daripada iman nabi. Cobaan nabi lebih besar daripada cobaan seorang badal. Cobaan seorang badal lebih besar daripada cobaan seorang wali. Masing- masing diuji menurut kadar iman dan keyakinannya.
“Mengenai masalah ini Nabi Muhammad Saw. bersabda, ‘Sesungguhnya kami, para nabi, adalah orang yang paling banyak diuji, kemudian para teladan, selanjutnya para teladan.’” Allah terus-menerus menguji para tokoh terkemuka ini agar mereka senantiasa berada dalam hadirat-Nya, juga tidak lengah sedikit pun dari kesadaran akan-Nya, sebab Dia mencintai mereka. Mereka adalah orang-orang yang penuh cinta (ahl al-mahabbah) yang mencintai al-Haqq ‘Azza wa Jalla dan seorang pencinta tidak akan pernah ingin memilih apa pun di atas pilihan kekasih yang dicintanya.
“Cobaan, dengan demikian, adalah pemetik hati mereka dan belenggu nafsu mereka, yang mencegah mereka dari kecenderungan terhadap hal-hal yang bukan tujuan mereka, juga dari kebersimpuhan dan perlindungan pada selain Pencipta mereka. Jika bala cobaan tersebut abadi di dalam diri mereka, maka akan melelehkan hawa nafsu mereka, hancur leburlah nafsu mereka, dan terbedakanlah kebenaran dari kebatilan. Larilah pula segala syahwat dan keinginan, juga kecenderungan pada kelezatan dan kenyamanan, dunia maupun akhirat, menuju tambatan diri. Ia pun menjadi tenang akan janji al-Haqq ‘Azza wa Jalla, ridha menerima keputusan qadha- Nya, qana’ah menerima anugerah pemberian-Nya, sabar menghadapi cobaan-Nya, aman dari kejahatan makhluk-Nya. Kemudian, ia menuju tambatan kalbu, sehingga kuatlah paku hati. Kewalian pun mengemuka di atas anggota fisiknya.
“Cobaan memperkuat hati dan keyakinan, mewujudkan iman dan kesabaran, dan
melemahkan hawa nafsu. Sebab, manakala perih penderitaan menghampiri hati dan
menemukan dalam diri seorang mukmin kesabaran, keridhaan, kepasrahan akan tindakan Tuhan Azza wa Jalla, maka Tuhan ‘Azza wa Jalla pun ridha dengannya dan berterima kasih padanya, lalu turunlah kepadanya pertolongan, karunia, dan kekuatan. Allah Swt. berfirman, ‘Sungguh jika kau bersyukur niscaya akan Kutambahkan nikmat-Ku.’ (Q.S. Ibrahim [14]: 7).
“Ketika nafsu bergerak mencari syahwat-syahwat kesenangannya, juga lezat kelezatannya dari hati, lalu hati mengabulkan permintaannya, dan hal itu bukanlah atas perintah dan izin dari Allah, bahkan hal itu pun menyebabkan kelalaian akan al- Haqq Ta‘ala, juga kesyirikan dan maksiat, maka Allah menimpakan kepadanya segala bentuk kenistaan dan cobaan, penindasan makhluk, kelaparan, dan segala penyakit. Hati dan jiwa pun mendapatkan imbalan masing-masing.
“Namun, jika hati tak memedulikan permintaan tersebut sebelum Allah mengizinkannya melalui ilham dalam statusnya sebagai seorang wali, atau wahyu lugas dalam statusnya sebagai seorang rasul dan nabi, lalu ia pun melakukan hal tersebut atas dasar pemberian dan pencegahan, maka Allah pun menganugerahi mereka dengan hati kasih sayang dan barakah, kesehatan dan ridha, cahaya dan pengetahuan, kedekatan dan kekayaan, keselamatan dari malapetaka dan kemenangan atas musuh.
“Camkan hal itu dan jagalah! Waspadailah benar-benar bala cobaan karena ketergesa-gesaan menuruti hawa nafsu, akan tetapi berhenti dan tunggulah izin Allah, niscaya kau akan selamat di dunia dan akhirat. Insya Allah.
“Selamatkanlah dirimu dari cobaan dengan penuh kewaspadaan, dengan tak segera menimpali panggilan jiwa dan keinginannya. Tetapi, tunggulah dengan sabar izin dari Allah agar kau senantiasa selamat di dunia ini dan di akhirat.”









One Comment