16 TawakkKallah Kepada Allah Niscaya Kau dapati Ia Menuju ke Arahmu
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- berujar, “Sesungguhnya, yang menghalangimu dari raih karunia dan raup nikmat-Nya adalah ketergantunganmu kepada manusia, sarana-sarana duniawi, keterampilan diri, dan kerja mencari nafkah (iktisab).
“Makhluk (baca: manusia) adalah hijab penghalangmu dari makan ala sunnah Rasul, yaitu bekerja (kash). Selama kau masih berdiri di hadapan manusia sembari mengharapkan kemurahan dan pemberian mereka, bahkan mengemis dan meminta- minta pada mereka, bolak-balik menyambangi rumah-rumah mereka, maka kau telah menyckutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya, sehingga Dia pun menghukummu dengan keterhalangan untuk makan ala sunnah, yaitu bekerja mengais rezeki dari kehalalan dunia.
“Kemudian, jika kau bertaubat dari keberdirianmu bersama makhluk (baca: manusia), juga kesyirikanmu menyekutukan Tuhanmu ‘Azza wa Jalla dengan mereka, lalu kau kembali bekerja, dan makan dengan hasil pekerjaan, namun kau lantas menyandarkan diri pada hasil kerja dan merasa tenang dengannya sembari melupakan karunia Tuhan ‘Azza wa Jalla, maka kau telah musyrik juga, malah lebih berbahaya dari yang pertama, karena kemusyrikan semacam ini halus (tak terduga).’ Allah pun akan menghukummu dan menghalangimu dari peroleh karunia-Nya dan kenikmatan-Nya.
“Jika kau bertaubat dari semua itu, lalu kau lenyapkan pula kesyirikan sebagai mediasi (al-wast), kau campakkan semua ketergantungan pada mata pencarian dan kemampuan diri, dan kau pandang Allah ‘Azza wa Jalla sebagai Sang Pemberi rezeki, juga Penyebab, Pemudah, dan Penguat pencarian nafkah, serta Pemberi taufiq pertolongan untuk melakukan semua kebajikan, sehingga (terbentuk dalam pola pikirmu) bahwa rezeki berada sepenuhnya di tangan kuasa-Nya. Terkadang, Dia mengantarkannya kepadamu lewat makhluk dengan cara meminta-minta pada mereka dalam kondisi diuji, riyadhah, atau saat meminta pada-Nya. Terkadang juga lewat kerja, dan terkadang lagi rezeki tersebut muncul dengan sendirinya tanpa perantara atau sarana (sabah). Lantas, setclah semua itu kau kembali pada-Nya dan melemparkan dirimu ke hadapanNya, maka Dia akan mengangkat hijab penghalang antara dirimu dan anugerah kemuliaan-Nya. Dia memberimu makan dan rezeki dengan anugerah karunia-Nya saat kau membutuhkan, menyesuaikan kadar keadaanmu, sebagaimana tindakan seorang dokter penyayang yang lembut dan cinta pada pasiennya, sebagai bentuk perlindungan-Nya atasmu dan penyucian dirimu dari kecenderungan pada selain-Nya, dan meridhakanmu dengan karunia-Nya.
“Dengan demikian, terputus sudah dari hatimu segala keinginan, hasrat, kelezatan, tuntutan, dan kesukaan. Tidak ada lagi yang tertinggal di dalam hatimu selain hanya iradat kehendak-Nya. Jika memang Dia menghendaki bagianmu yang mau tidak mau harus kau ambil dan bukan rezeki makhluk Allah selainmu datang kepadamu, maka Dia akan menciptakan keinginan (syahwat) di dalam hatimu untuk meraih bagianmu dan menyerahkannya kepadamu saat membutuhkan, kemudian Dia akan memberimu taufiq pertolongan untuk mampu mensyukurinya, juga mengenalkanmu bahwa bagian
tersebut berasal dari-Nya, dan Dia adalah Zat yang menyodorkannya padamu dan memberimu rezeki.
“Jika sudah demikian halnya, maka kau akan mensyukurinya, juga tahu dan tersadar. Lantas, Dia akan semakin meneguhkanmu dalam usaha keluar dari lingkaran makhluk dan menjauhi manusia, serta mengosongkan hatimu dari segala selain Dia.
“Kemudian, jika ilmu dan keyakinanmu sudah kuat, hatimu sudah tercerahkan, hatimu sudah bersinar, lalu bekalmu sudah berupa kedekatan dengan Maula Junjunganmu, kedudukan di samping-Nya, amanah di sisi-Nya, dan kemampuan menjaga rahasia, maka kau akan tahu kapan bagianmu mendatangimu sebelum masanya sebagai bentuk karamah tersendiri bagimu, penghormatan atas kehormatanmu, juga karunia, anugerah, dan hidayah dari-Nya.
“Allah telah berfirman, ‘Dan, Kami jadikan ia (kitab) itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan, Kami jadikan di antara mereka itu, pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar, dan meyakini ayat-ayat Kami. (QS. as- Sajdah [32]: 23-24). Firman-Nya lagi, ‘Dan, orang-orang yang berjihad demi Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (QS. al-‘Ankabuut [29]: 69). Dan, firman-Nya lain, ‘…Dan, bertakwalah kepada Allah….’ (QS. al-Baqarah [2]: 282).
“Selanjutnya, Dia akan memberikan kuasa takwin (pembentukan) kepadamu, sehingga kau pun bisa membentuk sesuatu dengan izin-Nya yang jelas dan tidak menyimpan keraguan sedikit pun, juga dengan tanda-tanda terang bagaikan matahari di siang bolong, dengan ujaran merdu yang lebih merdu daripada hal-hal merdu lain, dengan ilham yang benar-benar tanpa kekaburan dan tersucikan dari pikiran-pikiran hawa nafsu dan godaan setan yang terkutuk.
“Allah berfirman dalam sebagian hadits Qudsi, ‘Wahai anak turun Adam, Akulah Allah yang tiada ilah selain Aku. Aku titahkan pada sesuatu Jadilah’, maka ia pun akan menjadi. Taatilah Aku, niscaya akan Kujadikan kau mampu berucap pada sesuatu
‘jadilah’, maka ia pun akan jadi.’
“Dan, terbukti Dia telah melakukan hal itu terhadap para nabi, wali, dan orang-orang khusus (khawwash) di antara anak turun Adam—semoga keselamatan terlimpah pada mereka.”









One Comment