Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adab al-Suluk Wa al-Tawassul

43 Terbanglah Menuju Dia dengan Sayap Takut dan Harap

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Tidak diterimanya doa orang ‘arif setiap kali ia meminta pada Allah ‘Azza wa Jalla dan menepati segala janji adalah agar ia tak hancur karena terlalu berharap. Sebab, setiap hal atau maqam ruhani mempunyai ketakutan dan harap. Keduanya bak dua sayap burung yang belum bisa sebuah keimanan dikatakan sempurna kecuali memenuhi dua hal ini. Begitu juga hal dan maqam, hanya saja ketakutan masing-masing hal dan harapannya menyesuaikan kondisi masing-masing.

“Orang ‘arif adalah orang yang mendekatkan diri dan didekatkan pada Allah (muqarrab). Dalam kemampuan hal dan maqamnya, ia sudah tidak menghendaki apa- apa lagi selain Allah. Maka, permohonan (sang pengabdi) agar doanya diterima dan janji kepadanya dipenuhi, bertentangan dengan hal dirinya.

“Ada dua alasan dalam hal ini. Pertama agar ia tidak dikuasai harapan dan kebesaran akan rencana (makar) Allah ‘Azza wa Jalla, lalu ia lalai melaksanakannya, sehingga ia pun binasa.

“Kedua, hal itu sama dengan menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Sebab, tak satu pun di dunia ini sepenuhnya bebas dari dosa, kecuali para nabi.

“Karena inilah, Dia tak selalu mengabulkan doanya dan tak memenuhi janji kepada sang pengabdi, agar ia tak meminta sesuatu pun atas dorongan hawa nafsunya tanpa mematuhi perintah-perintah-Nya, yang di dalamnya terletak kemungkinan kesyirikan, dan dalam setiap keadaan, langkah dan maqam sang salik banyak kemungkinan berbuat kesyirikan.

“Dan, jika doanya selaras dengan perintah, maka hal itu mendekatkan manusia kepada Allah, semisal shalat, puasa, kewajiban-kewajiban lainnya, sunnah serta kewajiban tambahan, sebab dalam hal-hal ini ada kepatuhan pada perintah-perintah.”

44 Seorang Pencinta Menyukai Apa yang Dicinta Kekasihnya

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Ketahuilah, manusia terkategorikan menjadi dua. Pertama, manusia yang dikaruniai kebaikan-kebaikan duniawi, dan kedua manusia yang diuji dengan ketentuan-Nya. “Manusia yang mendapatkan kebaikan duniawi, tak bebas dari noda dosa dan kegelapan dalam menikmati yang mereka dapatkan itu. Manusia semacam itu bermewah-mewah dengan karunia duniawi ini. Bila ketentuan Allah datang, yang menggelapi sekitarnya melalui aneka musibah yang berupa penyakit, penderitaan, kesulitan hidup, ia pun hidup sengsara, dan tampak seolah-olah ia tak pernah menikmati sesuatu pun.

Ia lupa akan kesenangan dan kelezatannya. Dan, jika pencerahan menimpanya, maka seolah-olah ia tak pernah mengalami musibah. Sedangkan jika ia mengalami musibah, maka seolaholah tiada kebahagiaan. Semua ini disebabkan oleh pengabdian terhadap Tuhannya.

‘Jikalau ia tahu bahwa Tuhannya sepenuhnya bebas bertindak sekehendak-Nya, mengubah, memaniskan, memahitkan, memuliakan, menghinakan, menghidupkan, mematikan, memajukan, dan memundurkan, niscaya ia tidak akan pernah merasa

bahagia di tengah-tengah kebahagiaan duniawi. Ia juga tidak akan keblinger dengannya, serta tidak berputus asa dari jalan keluar pada saat menghadapi cobaan.

“Dan, karena kebodohannya juga akan dunia, ia pun tenang menerimanya, bahkan mencari kebeningan yang tak terkotori noda apa-apa di dalamnya. Ia lupa bahwa dunia tempat ujian, kepahitan, kejahilan, kepedihan, dan kegelapan. Dan, ia lupa pula bahwa asal mula dunia adalah cobaan yang berakhir dengan kenikmatan. Ia seperti pohon gaharu, yang rasa pertamanya pahit, sedangkan rasa akhirnya manis seperti madu, dan tiada seorang pun dapat merasakan manisnya, sebelum ia merasakan pahitnya. Tak seorang pun dapat mengecap madunya, sebelum ia tabah atas kepahitannya.

“Barang siapa tabah atas cobaan-cobaan duniawi, maka ia berhak mengecap rahmat- Nya. Upah diberikan setelah seorang pekerja berkeringat, tubuh dan jiwanya letih. Maka, bila orang telah mereguk semua kepahitan ini, maka datang kepadanya makanan dan minuman lezat, busana yang bagus dan kesenangan meski sedikit.

“Jadi, dunia adalah sesuatu yang bagian pertamanya ialah kepahitan, bagai pucuk madu di sebuah bejana yang berbaur dengan kepahitan, sehingga si pemakan tak mungkin mencapai dasar bejana, dan yang dimakannya hanyalah madu murninya sampai ia mengecap pucuknya.

“Jika seorang hamba berupaya keras menunaikan perintah Allah ‘Azza wa Jalla, menjauh dari larangan-Nya, dan pasrah kepada-Nya, maka bila ia telah mereguk kepahitannya, menahan bebannya, berupaya melawan  kehendaknya  sendiri dan mencampakkan maksud-maksud pribadinya, Allah pun bakal mengaruniainya, sebagai hasil dari ini, kehidupan yang baik, kesenangan, kasih sayang dan kemuliaan. Dia mengurusnya sedemikian rupa dan menyuapinya persis seperti seorang bayi yang disuapi, yang tak berdaya, yang tak berupaya keras di dunia ini dan di akhirat, yang juga seperti pemakan pucuk pahit madu yang mengecap dengan lahapnya bagian bawah isi bejana.

‘ “Seyogianya seorang hamba yang telah dikaruniai oleh Allah, untuk tidak merasa

aman dari cobaan-Nya, juga tidak merasa yakin akan kekekalannya, agar ia tidak lalai

mensyukurinya. Nabi Saw. bersabda, ‘Kenikmatan adalah sesuatu yang ganas; maka

jinakkanlah ia dengan kebersyukuran.

“Mensyukuri rahmat berarti mengakui Sang Pemberinya, Yang Maha Pemurah, yaitu Allah, senantiasa mengingatnya, tak mengklaim atas-Nya, tak mengabaikan perintah- Nya, dan diiringi dengan penunaian kewajiban terhadap-Nya, yakni mengeluarkan zakat, membersihkan diri, bersedekah, berkorban sebagai nadzar, meringankan beban penderitaan kaum lemah dan membantu mereka yang membutuhkan, yang mengalami kesulitan dan yang keadaannya berubah dari baik menjadi buruk, yaitu, yang masa-masa bahagia dan harapannya telah berubah menjadi kedukaan. Bersyukurnya anggota tubuh atas rahmat berupa digunakannya anggota tubuh itu untuk menunaikan perintah-perintah Allah dan mencegah diri dari hal-hal yang haram, dari kekejian dan dosa.

“Inilah cara melestarikan rahmat, mengairi tanamannya, dan memacu tubuhnya dedahanan dan dedaunannya; mempercantik buahnya, memaniskan rasanya, memudahkan penelanannya, mengenakkan pemetikannya dan membuat rahmatnya mewujud di seluruh anggota tubuh lewat pelbagai tindak kepatuhan kepada-Nya, seperti lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan senantiasa mengingat-Nya, yang kemudian memasukkan sang hamba, di akhirat, ke dalam kasih sayang-Nya, Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung, dan menganugerahinya kehidupan abadi di taman- taman surga bersama dengan para nabi suci, shiddiq, syahid, dan shalih—inilah suatu kebersamaan yang indah.

“Namun, jika tak berlaku begini, mencintai keindahan lahiriah kehidupan semacam itu, asyik menikmatinya dan puas dengan gemerlapnya fatamorgananya, yang kesemuanya bagai hembusan sepoi angin dingin di pagi musim panas, dan bagai lembutnya kulit naga dan kalajengking; dan menjadi lupa akan bisa mautnya dan tipuannya—kesemuanya ini akan menghancurkannya—orang seperti itu mesti diberi kabar-kabar gembira tentang penolakan, kehancuran yang segera, kehinaan di dunia ini dan siksaan kelak dalam api neraka nan abadi.

“Cobaan atas manusia kadang-kadang berupa hukuman atas pelanggaran terhadap hukum dan atas dosa yang telah diperbuatnya. Kadang-kadang berupa pembersihan

noda, dan kadang-kadang berupa pemuliaan maqam ruhani manusia, yang baginya rahmat Tuhan semesta terkaruniakan sebelumnya, yang melewatkannya dari bencana dengan kelembutan, sebab cobaan semacam itu tak dimaksudkan untuk menghancurkan dan mencampakkannya ke dasar neraka, tetapi, dengan begini, Allah mengujinya untuk dipilih dan mewujudkan darinya hakikat iman, menyucikannya dari kesyirikan, kebanggaan diri, kemunafikan, dan membuat karunia cuma-cuma, sebagai pahala baginya, dari pelbagai pengetahuan, rahasia, dan nur. Jika seseorang bersih ruhani dan jasmaninya, lalu hatinya juga menjadi tersucikan, berarti Dia telah memilihnya di dunia ini dan di akhirat—di dunia melalui hatinya, sedangkan di akhirat melalui jasadnya. Nabi Saw. bersabda, ‘Kaum fuqara adalah teman duduk Sang Maha Pengasih pada Hari Kiamat.’

“Maka, segala bencana menjadi pencuci noda kesyirikan dan pemutus hubungan dengan manusia, sarana duniawi dan dambaan-dambaan, dan menjadi pelebur kesombongan, ketamakan dan harapan akan imbalan surga atas penunaian perintah- perintah.

“Tanda cobaan yang berupa hukuman adalah kekurangsabaran atas cobaan-cobaan ini, dengan mengaduh dan mengeluh kepada orang.

“Sementara cobaan yang berupa pencucian dan penyirnaan kelemahan ditandai dengan adanya kesabaran, ketidakmengeluhan kepada sahabat dan tetangga, penunaian perintah-perintah, ketakengganan, dan kepatuhan.

“Sedangkan cobaan yang berupa pemuliaan maqam ditandai dengan adanya keridhaan, kedamaian dengan kehendak Allah, Tuhan bumi dan lelangit, dan penafian diri sepenuhnya dalam cobaan ini, hingga saat berlalunya.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker