34 Siapa yang Bermain Air Niscaya Ia Terciprat
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- “Berpantang dari segala yang haram adalah wajib bagimu, kalau tidak, maka tali kehancuran akan menjeratmu. Kau takkan lepas darinya selamanya kecuali dengan kasih sayang-Nya. Nabi Saw. diriwayatkan bersabda, ‘Sesungguhnya, pemilik agama adalah seorang yang wira’i, sedangkan kebinasaannya adalah kerakusan. Barang siapa berpanas-panas di sekitar panas, maka ia dikhawatirkan terjatuh di dalamnya sebagaimana gembala di dekat ladang, sehingga ia dikhawatirkan akan menjulurkan mulutnya pada tanaman ladang, hingga ladang tersebut nyaris tidak aman darinya.”
“Umar bin Khathab Ra. juga pernah berkata, ‘Kami biasa berpantang dari sembilan dari sepuluh hal yang halal karena khawatir kalau-kalau kami jatuh ke dalam hal-hal yang haram.’ Hal senada dituturkan juga oleh Abu Bakar Ra., ‘Kami biasa menghindari tujuh puluh pintu dari hal-hal yang halal, karena kami khawatir akan keterlibatan dalam dosa.’
“Pribadi-pribadi ini berlaku demikian hanya untuk menjauh dari segala yang haram. Mereka bertindak berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw., ‘Ingatlah! Sesungguhnya, setiap raja memiliki tanah larangan, dan tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Barang siapa berada di sekitar sesuatu yang dilarang, dikhawatirkan akan terjatuh di dalamnya.’*’
“Barang siapa memasuki benteng raja, melewati gerbang pertama, kedua dan ketiga, hingga sampai di singgasana, maka ia lebih baik ketimbang orang yang berada di pintu pertama. Maka, bila pintu ketiga tertutup baginya, hal itu takkan merugikannya, sebab ia tetap berada di balik dua pintu istana, dan ia memiliki milikan raja, dan tentaranya dekat dengannya. Tetapi, bagi orang yang berada di pintu pertama, jika pintu ini tertutup baginya, maka ia tetap sendirian di padang terbuka, bisa-bisa ia diterkam serigala dan musuh, bisa-bisa ia binasa.
“Begitu pula, orang yang menunaikan perintah-perintah Allah akan dijauhkan darinya pertolongan daya dan keleluasaan, dan ia akan terbebas dari kedua hal ini. Dan, ia tetap berada di dalam hukum. Bila kematian merenggutnya, maka ia berada dalam kepatuhan dan pengabdian. Dan, amal bajiknya akan menjadi saksi baginya.
“Orang yang diberi kemudahan, sedangkan ia tak menunaikan kewajiban- kewajibannya, jika kemudahan itu dicabut darinya dan ia terputus dari pertolongan- Nya, maka hawa nafsu akan menguasainya, dan ia akan tenggelam dalam hal-hal yang haram, keluar dari hukum, bersama dengan para setan, yang adalah musuh- musuh Allah, dan akan menyimpang dari jalan kebenaran. Maka, jika kematian merenggutnya, sedangkan ia belum bertaubat, maka ia akan binasa, jika Allah tak mengasihinya.
“Jadi, bahaya terletak pada keterlengahan, sedangkan keselamatan terletak pada pemenuhan kewajiban.”
35 Menceraikan Dunia Adalah Mahar Surga
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- “Jadikanlah kehidupan setelah matimu sebagai modal dan kehidupan duniawimu sebagai keberuntungan. Jika masih ada waktu lebih, habiskanlah demi kehidupan duniawimu, yakni dengan mencari nafkah. Jangan kau buat kehidupan duniawimu sebagai modalmu, dan kehidupan setelah matimu sebagai keuntunganmu, dan sisa waktumu kau habiskan untuk memperoleh kehidupan setelah mati dan memenuhi kewajiban shalat lima waktu. Kau diperintahkan untuk mengendalikan kedirianmu, agar ia mematuhi Tuhannya. Tetapi kau bertindak tak layak terhadapnya, dengan menuruti dorongan-dorongannya dan kau serahkan kendali kepadanya, kau ikuti keinginan keinginan rendahnya, kau bersekutu dengan iblis dan nafsunya, sehingga kau tak memiliki yang terbaik dari kehidupan ini dan kelak, sehingga kau masuki Hari Pengadilan sebagai orang paling miskin kebajikan, dan tak memperoleh, dengan mengikutinya, sebagian besar bagianmu dalam kehidupan duniawi ini. Tetapi, jika kau melalui jalur akhirat dengannya, dan menggunakannya sebagai modalmu, maka kau akan memperoleh kehidupan duniawi dan ukhrawi. Sedangkan bagian duniawimu akan kau terima dengan segala kenikmatannya, dan kau akan terhormat. Nabi Saw. bersabda,
‘Sesungguhnya, Allah menyelamatkan di dunia ini demi akhirat, sedangkan keselamatan di akhirat tak dimaksudkan demi kehidupan duniawi ini.”
“Bagaimana hal itu tidak berlaku demikian. Niat untuk akhirat adalah kepatuhan kepada Allah. Sebab, niat merupakan ruh pengabdian dan kemaujudannya.
“Bila kau mematuhi Allah ‘Azza wa Jalla dengan berpantang di dunia ini, dan dengan mengupayakan tempat di akhirat, maka kau menjadi pilihan Allah Ta‘ala (khawwash Allah), dan kehidupan akhirat akan kau peroleh, yaitu surga dan kedekatan dengan- Nya. Maka, dunia akan mengabdi kepadamu, dan bagianmu darinya akan sepenuhnya kau peroleh, sebab segala sesuatu patuh kepada Penciptanya, yaitu Tuhannya. Bila kau diliputi kehidupan duniawi dan berpaling dari akhirat, maka Allah akan murka kepadamu; kau akan kehilangan akhirat, dunia takkan patuh kepadamu, dan akan menghalangi datangnya bagianmu, karena murka Allah kepadamu, sebab ia adalah milik Nya. Nabi Saw. bersabda, ‘Dunia dan akhirat itu ibarat dua istri; jika kau menyenangkan yang satu, maka yang lain akan marah kepadamu.’
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Sesungguhnya, sebagian darimu menyukai
kehidupan duniawi ini, dan sebagiannya lagi mencintai akhirat.’ (QS. al-Baqarah [2]:
151). Artinya, semua kita ini adalah anak-anak dunia dan anak-anak akhirat.
“Perhatikan dirimu! Anak siapakah kau? Pada kubu mana kau ingin masuk selagi kau
di dunia?
“Pada Hari Kiamat, manusia juga terbagi menjadi dua golongan. Golongan penghuni surga dan golongan penghuni neraka, sebagaimana firman Allah, ‘Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.’ (QS. asy-Syuura [42]: 7). Golongan (surga) berada di tempatnya sepanjang Hari Perhitungan yang satu harinya sama dengan lima belas ribu tahun. Dan, ada golongan lain yang berada di meja makan yang di atasnya makanan, bebuahan, dan madu yang lebih putih, yang sangat lezat, daripada es, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits, ‘Pada Hari Kiamat kalian berada di bawah payung ‘Arsy akan melihat tempat mereka di surga, sembari duduk menghadap meja-meja makan yang di atasnya tersaji makanan-makanan lezat, juga buah-buahan, dan madu yang lebih putih daripada salju, sembari memandang tempat- tempat mereka di surga hingga ketika Allah selesai meminta pertanggungjawaban manusia, dan mereka akan memasuki surga. Mereka menuju ke rumah mereka sebagaimana salah seorang menuju rumahnya.
“Mereka meraih hal ini karena telah mencampakkan dunia dan berupaya mencapai akhirat dan Tuhannya. Sedangkan mereka yang tenggelam dalam pelbagai kesulitan dan kehinaan disebabkan tenggelamnya mereka dalam hal-hal duniawi, dan pengabaian mereka akan akhirat, Hari Pengadilan dan yang akan terjadi pada mereka kelak sebagaimana disebutkan dalam Kitabullah dan sunnah Nabi.
“Perhatikan dirimu dengan pandangan penuh kasih sayang, pilihkanlah baginya yang lebih baik di antara kedua kelompok ini dan jauhkanlah ia dari kekejian, pembangkangan, dan jin. Jadikanlah Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sebagai pembimbingmu, renungkanlah dua pewenang ini, berlakulah dengan keduanya, dan jangan terkecoh oleh perkataan kosong dan berlebihan.
“Allah berfirman, ‘Segala yang dibawa oleh nabi kepadamu, terimalah, dan segala yang dilarangnya, jauhilah dan bertakwalah kepada Allah, (QS. al-Fath [48]: 7). Artinya, bertakwalah pada Allah dan jangan memungkiri-Nya, dengan meninggalkan amalan yang didatangkan-Nya dan malah membuat-buat amalan dan ibadah untuk dirimu sendiri, sebagaimana firman Allah tentang kaum yang tersesat di jalan-Nya,
‘…Dan, mereka mengada-adakan ruhbaniyah (kepaderian,—peny.), padahal Kami tak
mewajibkannya kepada mereka.’ (QS. al-Hadiid [57]: 27).
“Selanjutnya, Allah ‘Azza wa Jalla telah menyucikan NabiNya Saw., dan membersihkannya dari segala kebatilan dan kebohongan. Dia berfirman, ‘Dan, tiadalah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya, dan ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.’ (QS. an-Najm [53]: 3-4). Artinya, segala sesuatu yang ia sampaikan kepadamu berasal dari-Ku, bukan dari kediriannya, maka ikutilah.
“Kemudian, Dia berfirman, ‘Jika kau mencintai Allah ikutilah aku, maka Allah akan mencintaimu.’ (QS. Ali ‘Imran [3]: 30). Jelaslah, bahwa jalur cinta ialah mengikuti kata dan perilaku Nabi secara menyeluruh. Nabi Saw. bersabda, “Berupaya adalah sunnahku dan tawakkal adalah keadaanku.™
“Maka beradalah kau di antara upaya dan keadaannya. Jika imanmu lemah, kau mesti
berupaya, dan jika imanmu teguh, kau mesti meniru halah Nabi, yaitu tawakkal. Allah
‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Dan, hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.’ (QS. al-Maa’idah [5}: 23). Firman senada, “Dan, barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)-nya. (QS. at-Thalaaq [65]: 3). Firman lain, ‘Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.’ (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).
“Nah, Dia memerintahkanmu untuk senantiasa bertawakkal dan memperingatkanmu
akannya sebagaimana perintah Nabi Saw.
“Karena itu, ikutilah perintah-perintah Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dalam segala laku perbuatan kamu, jika tidak, maka amalanmu akan dikembalikan lagi kepadamu (baca: ditolak). Nabi Saw. bersabda, ‘Barang siapa berbuat sesuatu yang tak kami perintahkan, maka perbuatannya itu tertolak.’
“Hal ini meliputi kehidupan, kata, dan perilaku. Hanya Nabilah yang dapat kita ikuti, dan hanya berdasarkan al-Qur’an-lah kita berbuat. Maka, jangan menyimpang dari keduanya ini, agar kau tak binasa, dan agar hawa nafsu serta setan tak menyesatkanmu. Allah Ta‘ala berfirman, ‘Jangan ikuti hawa nafsu, karena ia akan memalingkanmu dari jalan Allah. (QS. Shaad [38]: 26).
“Keselamatan terletak pada Kitab Allah dan sunnah Nabi. Sedangkan kebinasaan terletak di luar keduanya, dan dengan pertolongan keduanya ini, hamba Allah mencapai status wali, badal dan gaws.”









One Comment