18 Luka Cinta yang Tak Lara
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- berujar “(WASIAT) Janganlah kau mengeluh tentang sesuatu bencana yang menimpamu kepada siapa pun, baik kepada kawan maupun lawan. Jangan pula menyalahkan Tuhanmu atas semua takdir-Nya, dan atas ujian yang ditimpakan-Nya untukmu. Beritakanlah semua kebaikan yang dilimpahkan-Nya atasmu. Beritakanlah semua kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepadamu, dan segala puji syukur atas semua itu. Kedustaanmu menyatakan puji syukurmu atas sesuatu rahmat yang sesungguhnya belum datang kepadamu, lebih baik ketimbang cerita-ceritamu perihal kepedihan hidup. Adakah ciptaan yang sunyi dari rahmat-Nya?
“Allah Swt. berfirman, ‘Dan, jika kamu hitung nikmat-nikmat Allah, karnu takkan
sanggup menghitungnya’’ (QS. Ibrahim [14]: 34).
“Betapa banyak nikmat yang telah kau terima, tetapi tak kau sadari?!
“Jangan merasa tenang dengan seorang makhluk pun, juga jangan cari keintiman dengannya. Jangan ceritakan hal ihwalmu kepada siapa pun. Akan tetapi, keintimanmu hanya dengan al-Haqq Azza wa Jalla, ketenanganmu harus dengan- Nya, dan keluhanmu haruslah akan-Nya dan pada-Nya. Jangan kau lihat orang lain.
“Sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang bisa memberi manfaat dan mudharat, raup perolehan dan penolakan, pemuliaan dan penistaan, pengangkatan dan perendahan, pemiskinan dan pengayaan, penggerakan dan pendiaman. Semua adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla dan berada di tangan kuasa-Nya. Hanya dengan perintah dan izin-Nya segala sesuatu bergerak dan semua pun mengalir hingga batas waktu yang telah ditentukan-Nya. Segala sesuatu telah ditentukan-Nya, tidak ada yang bisa mengajukan apa yang diakhirkan-Nya, atau mengakhirkan apa yang telah diajukan-Nya.
“Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Jika Allah menimpakan suatu kernudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan, jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-
hamba Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (QS. Yunus
[10]: 107).
‘Jika kau mengeluh terhadap-Nya, padahal kau menikmati rahmat-Nya, malah menuntut yang lebih banyak lagi dan menutup mata atas segala kenikmatan dan kenyamanan yang kau miliki dan nikmati, maka Allah murka kepadamu, mencabut kembali nikmat-Nya darimu, mewujudkan segala keluhanmu, melipatgandakan kesusahanmu, memperhebat hukuman, kemurkaan dan kebencian-Nya kepadamu, dan menjatuhkanmu dari pandangan-Nya.
“Oleh karena itu, jauhilah mengeluh meski tubuhmu dipotong-potong dan dagingmu disayat-sayat dengan silet.
“Jangan, jangan, dan sekali lagi jangan! Allah, Allah, sekali lagi Allah! Selamatkanlah dirimu! Selamat! Selamat! Awas! Awas! Sesungguhnya, sebagian besar musibah yang menimpa anak Adam dikarenakan oleh keluhan-keluhan mereka terhadap-Nya.
“Bagaimana kau mengeluhkan dan menyalahkan-Nya, padahal Dia adalah Pengasuh yang paling pengasih dan Penentu yang paling baik? Juga Maha Kasih lagi Maha Memberitahu, Maha Penyayang lagi Maha Pengasih, lemah-lembut terhadap hamba- hamba-Nya dan tidak pernah menzhalimi hamba-Nya. Dia seperti dokter yang penyabar, pengasih, penyayang, ramah, yang juga dekat dengan pasien. Bagaimana seorang ayah yang penyayang atau ibu yang pengasih dan penyayang mau dituding macam-macam?!
“Nabi Muhammad Saw. bersabda, ‘Allah lebth penyayang terhadap hamba-hamba- Nya kettmbang seorang itu terhadap anaknya
“Wahai orang yang dirundung kemalangan, perbaikilah sopan santunmu jika memang kamu tidak mampu bersabar, niscaya bala-bala cobaan akan berubah menjadi anugerahanugerah. Kemudian, bersabarlah jika kamu tidak kuat menerima dan menyetujui tindakan-Nya. Lantas, ridha dan terimalah jika kau mampu melakukannya. Selanjutnya, leburlah dalam fana’ jika kau hilang.
“Wahai orang yang malang, di manakah kamu? Di mana kau berada? Tidakkah kau dengar firman Allah, ‘Diwajibkan atas kamu berperang, sesungguhnya berperang itu sesuatu yang karnu benci. Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahalia baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Dan, Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tak mengetahui.’ (QS. al-Baqgarah [2]: 216).
“Pengetahuan ihwal hakikat segala sesuatu tercabut dari hatimu dan tertutup dari penglihatanmu. Oleh karena itu, jangan bersikap kurang ajar, baik kau suka hal itu atau membencinya. Akan tetapi, ikutilah segala ketentuan syariat dalam segala keadaan jika kau berada dalam maqam takwa yang merupakan pijakan pertama. Dan, ikutilah perintah jika kau berada dalam magam kewalian yang merupakan pijakan kedua. Ridhalah menerima tindakan Allah dan setujuilah. Lalu, leburlah Gika kau berada) dalam maqam badaliyah, ghawsiyah, dan shiddiqiyah, yang merupakan puncak pijakan.
“Menyingkirlah dari jalan-jalan takdir dan kosongkanlah jalannya. Tolak nafsu dan hawa kecenderunganmu. Dan, tahanlah lidahmu dari segala keluh kesah.
“Jika sudah kau lakukan hal itu, maka jika memang baik, niscaya al-Maula Subhanahu akan menambahkan karunia kehidupan yang nyaman, bahagia, dan nikmat. Jika memang buruk, maka niscaya Allah akan memeliharamu dalam ketaatanNya, melenyapkan segala cela dari dirimu, meniadakanmu di dalam-Nya hingga kau melewati masa-masa sulitmu saat waktunya berakhir, sebagaimana hilangnya malam bergantikan siang, dan lenyapnya dingin musim dingin bergantikan panas musim panas. Itulah contoh model bagimu, karena itu renungilah!
“Jika masih ada dosa, noda, dan kotoran beragam maksiat dan kesalahan dalam diri, maka ia tak layak duduk bersama Sang Maha Mulia ‘Azza wa Jalla sebelum ia bersih dari noda, dosa, dan kesalahan. Tak seorang pun dapat mencium ambang pintu-Nya kecuali ia suci dari segala pengakuan palsu, sebagaimana tak layak bersama duduk di majelis seorang raja kecuali orang-orang yang bersih dari segala kotoran najis dan bau busuk.
“Bala cobaan adalah sarana pembersihan dan penyucian. Nabi Muhammad Saw. bersabda, ‘Demam sehari dapat menebus dosa sepanjang tahun.”









One Comment