Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adab al-Suluk Wa al-Tawassul

27 Pilihlah Buah yang Terlezat

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Anggaplah kebaikan dan keburukan sebagai dua buah dari dua cabang sebuah pohon. Cabang yang satu menghasilkan buah yang manis, sedangkan cabang yang satunya lagi buah yang pahit.

“Tinggalkanlah kota-kota, negeri-negeri yang menghasilkan buah-buah pohon ini dan penduduknya. Dekatilah pohon itu sendiri dan jagalah. Ketahuilah kedua cabang ini, kedua buahnya, sekelilingnya.

“Senantiasalah berada di dekat cabang yang menghasilkan buah yang manis; maka ia akan menjadi makananmu, sumber dayamu, dan waspadalah agar kau tak mendekati cabang yang lain, makan buahnya, dan akhirnya rasa pahitnya membinasakanmu. Jika kau senantiasa berlaku begini, kau akan selamat dari segala kesulitan, sebab kesulitan diakibatkan oleh buah pahit ini. Bila kau jatuh dari pohon ini, berkelana di pelbagai negeri, dan buah-buah ini dihadapkan kepadamu, lalu dibaurkan sedemikian rupa, sehingga tak jelas antara yang manis dan yang pahit, dan kau mulai memakannya, bila tanganmu mengambil buah yang pahit, sehingga lidahmu merasakan pahitnya, kemudian tenggorokanmu, otakmu, lubang hidungmu, sampai anggota tubuhmu, maka kau terbinasakan. Pembuanganmu akan sisanya dari mulutmu dan pencucianmu akan akibatnya tak dapat menghapus yang telah tertebar di sekujur tubuhmu, dan sia-sia.

“Tetapi, jika kau makan buah yang manis dan rasa manisnya menebar ke seluruh anggota tubuhmu, maka kau beruntung dan bahagia, meski hal ini tak mencukupimu. Tentu, bila kau makan buah yang lain, kau takkan tahu bahwa buah yang ini pahit. Maka, kau akan mengalami yang telah disebutkan bagimu. Maka, tak baik menjauh dari pohon itu dan tak tahu buahnya. Keselamatan terletak pada kedekatan dengannya.

“Kebaikan dan keburukan berasal dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Agung.

‘Allah telah menciptakanmu dan yang kau lakukan’ (QS. ash-Shaaffaat [37]: 96). Nabi

Saw. bersabda, ‘Allah telah menciptakan penyembelih dan binatang yang disembelih.’

“Segala tindakan hamba Allah adalah ciptaan-Nya, begitu pula buah upayanya. Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung berfirman, ‘Masuklah ke dalam surga disebabkan yang telah kau lakukan.’ (QS. an-Nahl [16]: 32).

“Maha  Agung  Dia,  betapa  pemurah  dan  penyayang  Dia!  Dia  berfirman  bahwa

masuknya mereka ke dalam surga disebabkan oleh amal-amal mereka, sedangkan

kemaujudan amal-amal mereka adalah berkat pertolongan dan kasih sayang-Nya. Nabi Saw. bersabda, ‘Tiada seorang pun yang masuk ke dalam surga lantaran amal- amalnya sendiri.’ Beliau ditanya, “Termasuk Anda, Ya Rasulullah?’ beliau menjawab,

‘Ya, termasuk saya, kecuali jika Allah mengasihiku dengan rahmat-Nya dan meletakkan tanganNya di atas kepala-Nya.’ (Diriwayatkan oleh Aisyah Ra.)??

“Jika kau mematuhi perintah-perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya, maka Dia akan melindungimu dari keburukanNya, menambah kebaikan-Nya bagimu, dan akan melindungimu dari segala keburukan, dari sudut pandang agama maupun dunia.

“Mengenai keduniawian, Allah berfirman, ‘Demikianlah agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba pilihan Kami. (QS. Yusuf [12]: 24).

“Lalu mengenai agama, Dia berfirman, ‘Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu

bersyukur lagi beriman.’ (QS. an-Nisaa’ [4]: 147).

“Adakah bencana yang akan menimpa orang yang beriman lagi bersyukur? Sebab, ia lebih dekat pada keselamatan daripada bencana, sebab ia berada dalam kelimpahan, lantaran kebersyukurannya. Allah berfirman, ‘Jika kamu bersyukur, tentu akan Kami lipatgandakan (nikmat-nikmat Kami) bagimu.’ (QS. Ibrahim [14]: 7).

‘Jika keimananmu memadamkan api neraka, api siksaan bagi setiap pendosa di akhirat, bagaimana mungkin ia tidak mampu memadamkan api bencana di kehidupan dunia ini?

“Tentu, kecuali hamba tersebut merupakan orang-orang yang jadzdzab dan terpilih untuk kewalian, pilihan, dan saringan, maka tentu saja ia meniscayakan bala untuk memadamkan kekejian hawa nafsu, dari kebertumpuan pada kehendak jasmani, dari kecintaan kepada orang, dan dari hidup bersama mereka. Maka ia diuji, hingga segala kelemahan ini lenyap darinya, dan hatinya tersucikan oleh ketiadaan semuanya itu, sehingga yang tertinggal di hati hanyalah keesaan Tuhan dan pengetahuan tentang kebenaran, dan menjadilah ia tempat curahan rahasia kegaiban, pengetahuan, dan nur kedekatan. Sebab, ia adalah sebuah rumah yang tiada ruang bagi selainnya. Allah

berfirman, ‘Allah tak menciptakan bagi manusia dua hati.’ (QS. al-Ahzab [33]: 5). Firman-Nya lagi, ‘Sesungguhnya para raja, bila mereka memasuki sebuah kota, menghancurleburkannya, dan menghinakan penduduknya.’ (QS. an-Naml [27]: 34). °

“Lalu, mereka menghasilkan kemuliaan dari kebaikan mereka.

“Kedaulatan atas hati berada di awal kekejian hawa nafsu. Anggota tubuh selalu digerakkan oleh perintah mereka demi pelbagai dosa dan kesia-siaan. Kedaulatan ini kini pupus, anggota tubuh merdeka, rumah raja dan pelatarannya, yaitu dada, menjadi bersih.

“Kini hati telah bersih, telah dihuni oleh tauhid, dan pelataran telah menjadi arena kecerahan dari kegaiban. Semua ini adalah akibat dari musibah, cobaan, dan buahnya. Nabi Saw. bersabda, ‘Kami, para nabi, adalah yang paling banyak diuji di antara manusia, sedangkan yang lain sesuai dengan kedudukannya.’

“Sabdanya lagi, ‘Aku lebih tahu tentang Allah daripada kamu dan lebih takwa kepada-

Nya daripada kamu.’

“Siapa pun yang dekat dengan raja harus semakin berhatihati, sebab ia berada di

hadapan Sang Raja Yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui akan gerak-geriknya.

“Jika kau berkata bahwa seluruh makhluk yang terlihat oleh Allah adalah seperti satu orang, sehingga tiada yang tersembunyi dari-Nya, maka apa yang baik atau pernyataan apa ini?

“(Kutegaskan) meski dikatakan kepadamu, bahwa bila

kedudukan seseorang tinggi dan mulia bahaya juga semakin besar, sebab perlu baginya bersyukur atas karunia-Nya bagimu. Sehingga, sedikit pun menyimpang dari pengabdian kepada-Nya akan merusak kebersyukurannya dan kepatuhannya kepadaNya. Allah berfirman, ‘Hai istri-istri nabi, barang siapa di antaramu berbuat keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepadanya. (QS. al-Ahzab [33]:

30).

“Allah berfirman demikian tentang istri-istri ini, karena telah disempurnakan-Nya nikmat-Nya atas mereka dengan menghubungkan mereka kepada nabi. Bagaimanakah kiranya kedudukan orang yang dekat kepada-Nya? Allah adalah Maha Tinggi atas ciptaan-Nya. Tiada yang menyerupai-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker