61 Adakah Tuntutan Lain Setelah Mendapatkan Sang Kekasih?
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Betapa sering kau berkata, ‘Si Fulan dekat kepada kemuliaan, sedangkan aku dijauhkan?! Si Fulan kok dianugerahi, sedangkan aku tidak diberi sama sekali?! Si Fulan diberikan kekayaan, sedangkan saya dimiskinkan?! Si Fulan senantiasa sehat, si Fulan sakit, sedangkan saya disakitkan?! Si Fulan diagungkan, sedangkan saya dihinakan?! Si Fulan dipuji, sedangkan saya dicaci?! Si Fulan dibenarkan dan dibetulbetulkan, sedangkan saya selalu saja dipersalahkan?!’ “Tidakkah kau tahu bahwa Dia itu Maha Esa, dan Yang
Maha Esa menyukai keesaan dalam bercinta, dan hanya mencintai satu dalam cinta- Nya?
“Jika Dia mendekatkanmu kepada-Nya dengan cara selain Diri-Nya, cintamu kepada- Nya pun lantas berkurang dan mencabang. Bahkan, di dalam batinmu terkadang muncul kecenderungan cinta pada orang yang menampilkan kenikmatan di hadapannya, sehingga praktis berkuranglah cinta Allah di dalam hatimu. Allah adalah pencemburu yang tidak suka pemaduan (baca: diduakan). Karena itu, tahanlah tangan orang lain dari meraihmu, juga lidah mereka dari sanjung memujimu, dan kaki mereka dari berjalan mengunjungimu, agar mereka tak memalingkanmu dari-Nya. Tidak pernahkah kau dengar sabda Nabi Saw? ‘Hati telah dibentuk secara alamiah untuk mencintai orang yang berbuat baik padanya, serta dibencikan (secara alamiah) pada orang yang berbuat buruk padanya.’*
“Allah Azza wa Jalla menahan makhluk (orang) untuk berbuat kebaikan kepadamu dari segala aspek dan sarana sampai kau esakan dan kau cintai Dia, lalu kau pun hanya menjadi milikNya dari segala aspek, lahir dan batinmu, gerak dan diammu, sehingga tak kau lihat kebaikan lagi kecuali hanya berasal dariNya, begitu juga tidak ada keburukan kecuali dari-Nya pula. Kau melebur fana dari makhluk, nafsu, hawa kecenderungan, kehendak, dan angan, serta dari segala selain al-Maula. Baru setelah itulah, tangan-tangan akan terulur memberi dan mengucurkan kebaikan kepadamu, lidah-lidah terulur memuji dan menyanjungmu, dan Dia akan senantiasa membimbingmu di dunia hingga akhirat kelak.
“Janganlah sekali-kali kau berlaku kurang ajar. Lihatlah Zat yang senantiasa melihatmu, perhatikan Zat yang senantiasa memerhatikanmu, cintailah Zat yang senantiasa mencintaimu, ulurkanlah tanganmu kepada Zat yang senantiasa menjagamu dari kejatuhan, yang mengeluarkanmu dari gelap kejahilanmu, yang menyelamatkanmu dari kehancuran, yang menyucikanmu dari noda dan kekejian, yang akan melepaskanmu dari kebusukan iri, dari hawa nafsu, dan teman-teman sesatmu, juga dari pengadang jalan menuju Allah, dan dari segala yang hina dan menggiurkan.
“Sampai kapan kau simpan kebiasaan? Sampai kapan kau simpan kemangkiran? Sampai kapan kau pelihara hawa nafsu? Sampai kapan kau berbuat bodoh dan sia- sia? Sampai kapan kau peluk dunia? Sampai kapan kau kejar akhirat? Sampai kapan kau akrabi selain al-Maula?
“Kenapa kau begitu jauh dari sang Pencipta segalanya, Pengada segala maujud, Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Lahir dan Maha Batin, Patron dan Tempat kembali, yang memiliki hati dan ketenangan jiwa, yang memberi karunia tanpa batas?”
62 Salah Satu Cabang Makrifat
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Aku pernah bermimpi seolah-olah mengatakan, “‘Wahai yang menyekutukan Tuhan di dalam benak dengan diri sendiri, dalam sikap lahiriah dengan ciptaan-Nya, dan dalam tindakan dengan kedirian!’ Seorang laki-laki di sampingku pun bertanya, ‘Pernyataan apakah ini?’ Aku jawab, ‘Ini adalah bentuk makrifat!”
63 Matikanlah Nafsu Dirimu hingga Kau Bisa Terus Hidup
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannyaberujar, “Suatu hari, aku dirundung gelisah. Jiwaku tertekan menanggung rasa tersebut dan terus mencari-cari kenyamanan, jalan keluar, dan hiburan.
“Seseorang menyapaku, ‘Memangnya, apa yang sedang kau inginkan?’ Aku menjawab, ‘Aku menginginkan kematian, yang tiada lagi kehidupan di dalamnya, serta kehidupan yang tidak ada kematian di dalamnya.’
“Memangnya kematian apa yang tidak mengandung kehidupan lagi di dalamnya? Dan
kehidupan apa yang tidak ada kematian lagi di dalamnya, tanyanya lagi.
“Aku menjawab, ‘Kematian yang tiada kehidupan di dalamnya adalah kematianku dari sesamaku, di mana tidak aku lihat lagi manfaat dan mudharat pada mereka. Juga kematianku dari hawa nafsuku, dari keinginan, dari anganku di dunia dan akhirat. Aku tidak bisa hidup dalam semua itu, dan tidak bisa pula mewujud di dalamnya.
“Sementara kehidupan yang tiada lagi kematian di dalamnya adalah kehidupanku bersama tindakan Tuhanku Azza wa Jalla tanpa keberadaan wujudku di dalamnya. Kematian di dalamnya berarti kemaujudanku bersama-Nya. Dan, ini merupakan kehendak tertinggi yang aku inginkan sejak aku bisa berpikir.”









One Comment