41 Ada Obat di dalam Madu dan Labu Pahit
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Nafsu diri manusia
memiliki dua kondisi yang tak meniga; kondisi sehat dan kondisi cobaan.
“Dalam kondisi cobaan, nafsu cenderung memunculkan kecemasan, keluhan, ketaksenangan, mengomel, penyalahan terhadap perilaku buruk, dosa karena menyekutukan Sang Pencipta dengan makhluk dan sarana-sarana duniawi, dan akhirnya kekafiran.
“Jika sedang sehat bugar, maka kondisinya semakin buruk lagi. Ia menjadi korban kerakusan dan penurutan syahwat dan kesenangan. Bila nafsu diperturutkan, ia pun menginginkan yang lainnya dan meremehkan karunia yang dimilikinya; maka ia tak menghargai karunia-karunia ini dan meminta karunia yang lebih baik lagi, sehingga hal ini menempatkannya dalam rangkaian kesulitan yang tak berakhir di dunia ini atau di akhirat, sebagaimana dikatakan, ‘Sesungguhnya, siksaan paling pedih yaitu bagi sikap rakus terhadap sesuatu yang bukan bagiannya.’
“Maka, bila ia dirundung kesulitan, yang dikehendaki hanyalah sirnanya kesulitan itu. la menjadi lupa akan segala karunia, dan tidak menghendaki sesuatu pun dari hal ini. Bila ia dikaruniai kebahagiaan hidup, maka ia kembali menjadi sombong, rakus, membangkang terhadap Tuhannya dan tenggelam dalam dosa. Ia pun lupa akan kesengsaraannya ini dan bencana, yang korbannya adalah ia.
“Maka, segeralah ia menjadi lebih buruk daripada kala ia diharu-biru aneka musibah dan kesulitan sebagai hukuman atas dosa-dosanya, agar ia terjauhkan dari hal-hal ini dan menahannya dari perbuatan dosa di kemudian hari, setelah kemudahan dan kesenangan tak mengubahnya, tetapi keselamatannya terletak dalam musibah dan kesulitan.
“Andai ia berlaku baik, setelah bencana berlalu darinya, teguh dalam kepatuhan, bersyukur dan menerima nasibnya dengan senang hati, maka hal itu lebih baik baginya di dunia ini dan di akhirat. Maka, hidupmu akan kian bahagia.
“Nah, barang siapa menginginkan keselamatan hidup di ‘dunia ini dan di akhirat, maka ia harus senantiasa bersabar, pasrah, menghindar dari mengeluh kepada orang, dan memperoleh kebutuhannya dari Tuhannya, Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung, dan membuatnya sebagai kewajiban untuk mematuhi-Nya, harus menantikan kemudahan
dan sepenuhnya mengabdi kepada Nya, Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung. Ia, betapa pun, lebih baik ketimbang seluruh makhluk-Nya.
“Maka pencabutan oleh-Nya menjadi karunia, penghukumanNya menjadi rahmat, musibah dari-Nya menjadi obat, janji-Nya terpenuhi. Kemurahan-Nya merupakan kenyataan yang ada. Kata-Nya merupakan suatu kebajikan. Tentu, firman-Nya, di kala Dia menghendaki sesuatu, hanyalah ucapan terhadapnya Jadilah!’, maka jadilah ia.
“Seluruh tindakan-Nya adalah kebaikan, kebijakan, dan kemaslahatan, hanya saja Dia menyembunyikan pengetahuan tentang ketepatan-Nya dari hamba-hamba-Nya, padahal Dia sendiri begini. Maka, lebih baik dan layak bagi para hamba untuk pasrah dan mengabdi kepada-Nya, yaitu dengan menunaikan perintah-perintah-Nya, menghindari larangan-laranganNya, menerima ketentuan-Nya dan mencampakkan belaian makhluk—sebab hal ini merupakan sumber segala ketentuan, menguatnya mereka dan dasar mereka; dan berdiamlah atas sebab dan masa (kejadian-kejadian), dan jangan menyalahkan gerak dan diam-Nya.
“Pernyataan ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Abbas, tuturnya, ‘Ketika aku berada di belakang Rasulullah Saw, beliau berkata kepadaku, ‘Anakku, jagalah kewajiban-kewajiban terhadap Allah, maka Allah akan menjagamu; jagalah kewajiban-kewajiban terhadap Allah, maka kau akan mendapati- Nya di depanmu. Jika kau membutuhkan pertolongan, mintalah kepada-Nya. Pena menjadi kering setelah menuliskan segala yang akan terjadi. Dan, jika hambahamba Allah berupaya keras memberimu sesuatu yang tak Allah tentukan bagimu, maka mereka takkan mampu melakukannya. Jika hamba-hamba Allah berupaya keras merugikanmu, padahal Allah tak menghendakinya, maka mereka takkan berhasil. Dan, jika kau bisa bertindak berdasarkan perintah-perintah Allah dengan sepenuh iman, lakukanlah. Tetapi, jika kau tak mampu melakukan yang demikian, maka, tentu, lebih baik bersabar atas apa yang tak kau sukai, sembari mengingat bahwa di dalamnya banyak kebaikan. Ketahuilah, bahwa pertolongan Allah datang melalui kesabaran dan keridhaan, dan dalam kesulitan itu ada kemudahan,’
“Seyogianya setiap mukmin menjadikan hadits ini sebagai cermin bagi hatinya,
sebagai busana lahiriah dan ruhaniah, sebagai slogan, dan hendaklah pula
menjalankannya dalam segala gerak dan diamnya, agar selamat di dunia ini dan di akhirat, dan semoga mendapatkan kemuliaan darinya, dengan kasih sayang Allah
‘Azza wa Jalla.”
42 Jika Kau Meminta, Mintalah Kepada Allah
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Barang siapa meminta sesuatu dari manusia, berarti ia tak tahu akan Allah, lemah iman, lemah pengetahuan tentang hakikat, dan tak sabar. Dan, barang siapa tak meminta, berarti ia amat tahu akan Allah ‘Azza wa Jalla, kuat imannya, kian bertambah pengetahuan tentang-Nya dan ketakwaan kepada-Nya.”









One Comment