Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adab al-Suluk Wa al-Tawassul

81 Bendungan Tentu Meniscayakan Air

KETIKA sang Syekh—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- menghadapi sakaratul maut, salah seorang putranya, Abdul Wahab berkata kepadanya, “Ayahanda, wasiatkanlah padaku, apa yang mesti aku lakukan sepeninggal ayah?” Syekh berwasiat, “Bertakwalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan jangan takut kepada siapa-siapa selain Allah, juga jangan mengharap pada selain-Nya. Pasrahkan segala

kebutuhan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan bersandar kecuali hanya kepada-Nya. Mintalah segala sesuatu hanya dari-Nya dan jangan percaya dengan siapa pun selain Allah. Tauhid pengesaan adalah ijma‘ al-kull (kesepakatan bersama).”

82 Ya Allah, Aku Sungguh Ingin Bertemu denganMu, Maka Sudilah Engkau Berhasrat Menjumpaiku

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannyaberujar, “Ketika hati telah murni (shahih) bersama Allah Azza wa Jalla, maka ia tidak sepi dari sesuatu, dan tidak ada pula sesuatu yang keluar daripadanya.”

Syekh kembali berujar, “Aku adalah biji tak berkulit.”

Tiba-tiba Syekh berkata pada anak-anaknya, “Jauhkan orang-orang yang ada di sekelilingku. Sesungguhnya, aku hanya bersama kalian secara zhahir saja, namun secara batin aku bersama selain kalian.” Tambahnya, “Orang selain kalian telah datang kepadaku. Berilah  mereka  tempat dan  hormatilah  mereka.  Inilah  rahmat agung. Jangan sesaki tempat mereka.” Kemudian Syekh berucap, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (Semoga salam kedamaian terlimpah pada kalian beserta rahmat Allah dan barakah-Nya). Semoga Allah mengampuni aku dan kalian. Juga menaubatkan aku dan kalian. Dengan nama Allah yang tak terselamattinggalkan!” Syekh terus berucap demikian selama sehari dan semalam. Pada hari kematiannya, Syekh berucap, “Celakalah kalian, aku tidak peduli pada apa pun, mau Malaikat Malik ataupun Malaikat Maut. Jangan biarkan seseorang mengurusi kami selainMu, Ya Allah!” ujar sang Syekh sembari menjerit keras. Kedua putra Syekh, Abdur Razaq dan Musa bercerita kepadaku (penulis), “Syekh mengangkat     dan     merentangkan     kedua     tangannya     sembari     berucap,

‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (Semoga salam kedamaian terlimpah pada kalian beserta rahmat Allah dan barakah-Nya). Bertaubatlah dan masuklah ke dalam barisan. Ini aku! Datang kepada kalian!’ “Syekh selanjutnya berkata, ‘Lembutlah!’ untuk kemudian datanglah kebenaran dan sekarat maut.”

Syekh—semoga Allah meridhai dan meredakannya berujar, “Jarak antara aku dan kalian serta dengan segenap makhluk adalah sejauh jarak langit dan bumi. Jangan padanpadankan aku dengan siapa pun, dan  jangan  padan-padankan  siapa  pun denganku.”

Ketika Abdul Aziz menanyakan perih derita dan kondisinya, Syekh—semoga Allah meridhai dan meridhakannya—malah berucap, “Jangan ada seorang pun yang bertanya tentang sesuatu kepadaku. Aku tengah terbolak-balik dalam ilmu Allah Azza wa Jalla.”

Juga ketika ia menanyakan tentang sakitnya, sang Syekh malah menjawab, “Sakitku tak diketahui oleh siapa pun, juga tak terpikir oleh siapa pun, baik manusia, jin, ataupun malaikat selama ilmu Allah tidak berkurang dengan hukum Allah. Hukum berubah-ubah, sementara ilmu tidak berubah. Hukum bisa terhapus, sementara ilmu tak terhapus (nasakh). ‘Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh), (QS. ar-Ra‘d [13]: 39). ‘Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat- Nya, dan merekalah yang akan ditanyai-’ (QS. alAnbiyaa’ [21]: 23). Berita-berita sifat berlalu begitu saja sebagai

mana saat ia datang.”

Abdul Jabbar, putra Syekh lainnya, menanyakan, “Apa gerangan yang menyakitkan badan Ayahanda?!” Syekh menjawab, “Seluruh anggota badanku menyakitkanku, kecuali hatiku.

Ia tidak membawa keperihan apa-apa padaku. Ia sehat bugar bersama Allah Azza wa

Jalla.”

Kemudian tatkala didatangi kematian, Syekh berucap, “Ista‘antu bi laa ilaaha illallaah Subhanahu wa Ta‘ala. Al-Hayy alladzi la yahsyal faut. Subhana man ta‘azzaza bil qudrah wa qahharal ‘idbad bil mawt. La ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah. (Aku memohon pertolongan dengan tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Suci lagi Maha Luhur. Sang Maha Hidup yang tidak takut akan ketinggalan. Maha Suci Zat yang

kokoh dengan qudrat dan memaksa para hamba dengan kematian. Tiada tuhan selain

Allah Muhammad adalah utusan Allah).”

Putra yang lain lagi, Musa menuturkan padaku bahwa Syekh mengucapkan lafal “ta‘azzaza” dengan logat yang kurang sehat. Syekh terus-menerus mengulanginya sampai-sampai beliau melafalkan “ta‘azzaza” dengan logat panjang dan berat, hingga lisannya mampu berucap baik. Selanjutnya, Syekh berkata, “Allah! Allah!” untuk kemudian suaranya mengecil dan lidahnya mengait dengan langit-langit tenggorokannya. Lalu, keluarlah nyawa sang Syekh yang mulia—semoga keridhaan Allah senantiasa terlimpah padanya.

Semoga Allah mengembalikan kita dari barakah-barakah-Nya serta menutup hidup kita dan segenap kaum muslimin dengan akhir kehidupan yang baik, lalu menyusulkan kita dengan orangorang shalih yang tidak memiliki duka cita atau terfitnah. Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam. Berkat pertolongan dan karunia Allah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker