17 Berlarilah dari Makhluk Menuju Khaliq
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- berujar, ‘“Jika kau telah sampai pada Allah Ta‘ala, maka kau akan didekatkan kepada-Nya dengan pendekatan dan taufiq-Nya.
“Sampai pada Allah ‘Azza wa Jalla berarti kau keluar dari lingkaran makhluk, hawa kecenderungan, keinginan diri, dan angan, lalu berdiri tegar bersama tindakan dan kehendak-Nya tanpa membuat gerakan apa pun di dalam dirimu juga di dalam makhluk-Nya dengan (keinginan) dirimu sendiri, melainkan dengan hukum, perintah, dan tindakan Allah. Ini adalah keadaan fana yang disepadankan dengan ketersampaian (wushul).
“Ketersampaian dengan Allah tentu tidak sama dengan ketersampaian dengan ciptaan Nya yang masih berada dalam batas hukum-hukum akal. ‘Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ (QS. asy-Syuura [42]: 11). Maha Suci Allah dari keserupaan dengan makhluk- makhluk-Nya, kemiripan dengan ciptaanciptaan-Nya.
“Ketersampaian dengan-Nya lazim dikenal di kalangan ahlul wushul (orang-orang yang telah mengalami ketersampaian) dengan ciri khas masing-masing yang diberikan oleh Allah dan tidak sama antara satu sama lain. Al-Haqq “Azza wa Jalla memiliki rahasia tersendiri dengan setiap rasul, nabi, dan wali yang tidak diketahui oleh seorang pun selain Allah sendiri dan orang tersebut, sampai-sampai ada seorang murid yang memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh syekhnya, dan sebaliknya sang syekh pun memiliki rahasia tersendiri dengan Allah yang tidak diketahui oleh si murid, kendati laku si murid sudah mendekati ambang pintu hal sang syekh.
“Ketika seorang murid telah mencapai keadaan (spiritual) sang syekh, maka ia akan disendirikan dan dipisahkan dari syekhnya. Lalu, Allah sendirilah yang kemudian mengasuh dan menyapihnya dari segenap makhluk-Nya. Dalam hal ini, syekh seperti seorang inang pengasuh yang berhenti menyusui sang bayi setelah dua tahun, juga dari menyusui makhluk setelah lenyapnya hawa kecenderungan dan keinginan diri. Sang syekh hanya diperlukan selama si murid masih memiliki hawa dan keinginan yang harus dihancurkan. Dan, setelah keduanya musnah, maka sang syekh pun tidak dibutuhkan lagi, sebab si murid sudah tidak memiliki kotoran dan kekurangan.
“Jadi, jika kau telah sampai pada Allah sebagaimana yang kami jelaskan di atas, maka berlindunglah senantiasa dari segala selain-Nya. Jangan kau lihat wujud apa pun pada selainNya, dalam hal mudharat dan manfaat, memberi dan menolak, takut dan harap, akan tetapi Dia sendirilah ahli takwa dan ahli maghfirah.
“Pandanglah selalu tindakan-Nya sembari menunggu perintah-Nya, menyibukkan diri dengan laku ketaatan-Nya, membedakan diri dari seluruh makhluk-Nya di dunia dan akhirat.
“Jangan pautkan hatimu pada sesuatu pun dari ciptaan-Nya. Anggaplah semua ciptaan bagai orang yang ditahan oleh raja sebuah kerajaan besar, lalu sang raja merantai leher dan kedua lengannya, menyalibkannya pada sebatang pohon pinus yang berada di tebing sungai berarus deras, bergelombang, dan amat dalam. Sementara itu, sang raja duduk di atas singgasana yang tinggi dan lapang, bersenjatakan beragam lembing, tombak, panah, dan beragam senjata yang tak terhitung lagi jumlahnya. Lalu, mulailah sang raja membidikkan salah satu senjatanya ke arah si tawanan yang terbelenggu tersebut.
“Coba, apakah mungkin orang yang melihat pemandangan itu memalingkan penglihatannya dari sang raja, juga sama sekali tidak takut dan mengharap kepada raja itu, lantas malah melihat si tawanan dan takut serta berharap padanya?! Tidakkah tindakan tersebut dalam pandangan akal sehat disebut tindakan gila yang tak berakal dan berindra, serta binatang dan bukan manusia?
“Marilah kita berlindung kepada Allah dari kebutaan setelah memiliki penglihatan, dari keterpisahan setelah ketersampaian, dari keterasingan setelah mencapai kedekatan dan keakraban, dari ketersesatan sesudah memperoleh petunjuk, dan dari kekufuran sesudah beriman.
“Dunia ini seperti sungai besar berarus deras yang kami sebutkan di atas. Setiap hari airnya bertambah. Dan, ia adalah (perumpamaan) syahwat menggebu manusia dan segala kesenangan mereka di dunia. Sedangkan anak panah dan pelbagai senjata bidik, melambangkan ujian hidup manusia yang dijalankan oleh takdir. Dan, pada galibnya, manusia di dunia tertimpa bala cobaan, kekurangan, penderitaan, dan ujian. Bahkan, semua karunia dan nikmat yang diterimanya selalu saja disusupi beragam petaka jika manusia mau merenung beriktibar.
“Oleh karena itu, seorang yang berakal tidak akan bisa hidup dan merasakan kenyamanan kecuali hanya di akhirat kelak jika memang ia benar-benar yakin, sebab hal itu hanya diperuntukkan bagi orang mukmin. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tak ada kehidupan selain kehidupan di akhirat.
“Sabdanya lagi, “Tidak ada kenyamanan bagi orang mukmin tanpa pertemuan dengan Tuhannya. Sabdanya lebih lanjut, “Dunia ini adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi seorang kafir.. Beliau juga bersabda, ‘Orang yang bertakwa terkekang.’
“Melihat hadits dan kabar ini, bagaimana seseorang bisa mengaku nyaman hidup di
dunia?
“Sesungguhnya, kenyamanan hakiki terletak pada kesendirian (inqitha‘) menuju Allah, keridhaan menerima apa saja dari-Nya, dan penyerahan diri sepenuhnya di hadapan- Nya. Dengan begitu, seorang hamba telah berada di luar dunia. Dan, ketika itulah, petunjuk menjadi kasih, sayang, kelembutan, ketulusan, dan karunia kemuliaan.”









One Comment