33 Setiap Ajal Telah Ditentukan dalam Kitab
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- berujar, “Betapa aneh jika kau marah kepada Tuhanmu, menyalahkan-Nya dan menganggap-Nya Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung, tak adil, menahan rezeki, tak menjauhkan dari musibah!!
“Tidakkah kau tahu bahwa setiap kejadian ada waktunya, dan setiap musibah ada
akhirnya? Keduanya tak bisa dimajukan atau diundurkan.
“Masa-masa musibah tak berubah, sehingga datang kebahagiaan. Masa-masa kesulitan tak berlalu, sehingga datang kemudahan.
“Berlaku sopanlah, diamlah senantiasa, bersabar, berpasrah dan ridhalah kepada Tuhanmu. Bertaubatlah kepada Allah. Di hadapan Allah tiada tempat untuk menuntut atau membalas dendam seseorang tanpa dosa dorongan nafsu, sebagaimana yang terjadi dalam hubungan antarhamba-Nya.
“Dia, Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung, sepenuhnya Esa dengan azaliyah-Nya. Dia menciptakan hal-hal dan menciptakan manfaat dan mudharat. Maka, Dia mengetahui awal, akhir, dan akibat mereka. Dia, Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung, bijak dalam bertindak dan tiada ketakselarasan dalam tindakan-Nya. Dia tak melakukan sesuatu pun tanpa arti dan main-main. Adalah tak layak menisbahkan kecacatan atau kesalahan kepada tindakan-Nya.
“Tunggulah jalan keluar (farj) jika kau merasakan pudarnya kepatuhanmu terhadap- Nya, hingga tibalah takdir-Nya, sebagaimana datangnya musim panas setelah berlalunya musim dingin, dan sebagaimana datangnya siang setelah berlalunya malam.
“Nah, jika kau memohon tibanya cahaya siang selama kian memekatnya malam, maka permohonanmu sia-sia; tetapi kepekatan malam kian memuncak hingga mendekati fajar, siang datang dengan kecerahannya, entah kau kehendaki atau tidak. Jika kau kehendaki kembalinya malam pada saat itu, maka doamu takkan dikabulkan. Sebab, kau telah meminta sesuatu yang tak layak. Kau akan dibiarkan meratap, lunglai, jemu, dan enggan. Tinggalkanlah semua ini, senantiasa beriman dan patuhlah kepada Tuhanmu dan bersabarlah. Maka, segala milikmu takkan lari darimu, dan segala yang bukan milikmu takkan kau peroleh.
“Demi diriku, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan doa dan kebersimpuhan
sebagai bentuk ibadah dan ketaatan, serta pelaksanaan perintah-Nya dalam firman,
‘Mohonlah kepadaKu, maka akan Kuterima permohonanmu.’ (QS. al-Mu’min [40]: 60), dan firman, ‘Mintalah kepada Allah karunia-karunia-Nya. (QS. an-Nisaa’ [4]: 32).
“Mohonlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menerima permohonanmu pada saatnya, bila dikehendaki-Nya, dan bila hal itu bermanfaat bagimu dalam kehidupan duniawimu dan akhirat, atau lagi hal itu sesuai dengan keputusan-Nya dan keberakhiran ajalnya.
“Jangan salahkan Dia bila menangguhkan penerimaan doamu dan jangan pernah jemu untuk berdoa. Sebab, sesungguhnya jika kau tak memperoleh, kau juga tak rugi. Jika Dia tak segera menerima doamu di kehidupan duniawi ini, maka Dia akan menyisihkan bagimu pahala di kehidupan kelak. Nabi Saw. bersabda, ‘Pada Hari Kebangkitan hamba-hamba Allah akan
mendapati dalam kitab amalannya amal-amal yang tak dikenalinya. Lalu, kepadanya dikatakan bahwa itu adalah balasan dari doa-doanya di kehidupan duniawinya yang tak dikabulkan di sana.’*
“Sikap minimal yang harus kau ambil, kau harus tetap mengingat Tuhanmu dan mengesakan-Nya, dengan hanya meminta kepada-Nya saja dan tidak memohon pada selain-Nya, juga tidak menurunkan hajat kepada selain-Nya. Kau harus berada dalam kedua hal ini (mengingat dan mengesakan Allah) sepanjang waktu, siang maupun malam, sehat atau sakit, suka atau duka. Atau, tahan saja doamu sembari ridha dan pasrah menerima kehendak-Nya, seperti jasad mati di hadapan orang yang memandikannya, atau seperti bayi di tangan perawat, atau seperti bola polo di depan pemain polo, yang menggulirkannya dengan tongkat polonya. Dan, takdir pun membolak-balik dirimu sekehendak-Nya.
“Jika hal itu (ketentuan takdir) berbentuk rahmat, maka kau harus bersyukur dan memuji, niscaya Allah akan memberi sebagaimana firman-Nya, ‘Sesungguhnya, jika kau bersyukur, tentu akan Kuberikan kepadamu lebih banyak lagi. (QS. Ibrahim [14]:
7). Dan, jika hal itu adalah musibah, maka kesabaran dan kepatuhan meluncur darimu dengan pertolongan kekuatan yang dianugerahkan oleh-Nya, keteguhan hati, pertolongan rahmat dan kasih sayang dari-Nya, sebagaimana firman-Nya,
‘Sesungguhnya, Allah bersama orang yang sabar. (QS. al-Baqarah [2]: 153). Bagaimana Allah tidak akan bersama orang-orang yang sabar dan memenangkan mereka sementara mereka telah unggul di atas nafsu, hawa, setan mereka dengan senjata kesabaran mereka sebagaimana firman Allah, ‘Jika kau menolong Allah, maka Dia akan menolongmu dan meneguhkan pijakanmu.’ (QS. Muhammad [47]: 7).
“Bila kau telah membantu (jalan) Allah, dengan menentang hawa nafsumu, tak menyalahkan-Nya, menghindari ketaksenangan dirimu terhadap kehendak-Nya, menjadi musuh diri demi Allah, siap menyerangnya dengan pedang bila ia bergerak dengan kekafiran dan kesyirikannya, menebas kepalanya dengan kesabaran dan keselarasanmu dengan Tuhanmu, dengan keridhaan terhadap kehendak dan janji- Nya—jika kau berlaku demikian, maka Allah akan menjadi penolongmu.
“Mengenai rahmat dan kasih sayang, Dia berfirman, ‘Berilah kabar baik kepada orang- orang yang sabar, mereka, yang bila ditimpa musibah, berkata, ‘Sesungguhnya, kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Mereka adalah yang dikaruniai rahmat dan kasih sayang Tuhan mereka, dan mereka adalah pengikutpengikut jalan kebenaran.’ (QS. al-Baqarah [2]: 156-157).
“Sikap lain, kau harus memohon kepada Allah dengan kerendahdirian, dengan mengagungkan-Nya, dan patuh kepada perintah-perintah-Nya. Ya, berdoalah kepada Allah, hal itu adalah layak, sebab Dia sendirilah yang memerintahkanmu untuk memohon kepada-Nya, berpaling kepada-Nya, telah membuat hal itu sebagai sarana kesenanganmu, semacam utusan darimu kepada-Nya, sarana penghubung dengan- Nya, dan sarana pendekatan kepada-Nya, asalkan, tentu saja, kau tak menyalahkan- Nya, marah kepada-Nya, karena ditangguhkan-Nya penerimaan doamu.
“Perhatikanlah perbedaan antara dua keadaan ini. Jangan berada di luar keduanya,
sebab tidak boleh keadaan selain keduanya.
“Berhati-hatilah agar kau tak berbuat aniaya, yang melanggar batas. Sehingga, Dia akan membinasakanmu dan Dia takkan memerhatikanmu, sebagaimana dibinasakan- Nya orang-orang yang telah berlalu di dunia ini, dengan menambah bencanabencana- Nya, di akhirat, dengan siksa yang amat pedih. “Maha Suci Allah Yang Maha Agung! Wahai yang tahu keadaanku! Kepada-Mu-lah aku pasrahkan diri.”









One Comment