65 Burung Hinggap di Tempat Biji Tersebar
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, ‘Jangan katakan, ‘Aku tidak akan berdoa pada Allah ‘Azza wa Jalla. Toh jika memang apa yang aku minta sudah merupakan bagianku, maka ia sendiri yang akan mendatangiku, dan jika bukan bagianku tentu Dia tidak akan memberikannya padaku meski aku berdoa meminta.’
“Akan tetapi, mintalah kepada-Nya segala yang kau inginkan, asalkan yang kau minta itu tak terlarang dan tak merusak, sebab Allah telah memerintahkan kita untuk memohon kepada-Nya. Dia berfirman, “Mintalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan permintaanmu.’ (QS. al-Mu’min [40]: 60). Firman-Nya lagi, ‘Mintalah kepada-Nya karunia-Nya. (QS. an-Nisaa’ [4]: 32). Nabi Saw. juga bersabda, ‘Mintalah kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doamu diterima.’” Sabdanya lagi,
‘Berdoalah kepada Allah dengan kedua tapak tanganmu,”’ Dan masih banyak lagi
sabda Nabi yang menyatakan demikian.
“Jangan katakan, ‘Aku telah memohon kepada-Nya, tetapi Dia tidak pernah mengabulkannya. Karena itu, aku tidak akan lagi meminta pada-Nya,’ akan tetapi berdoalah selalu pada-Nya.
“Jika memang apa yang kau minta adalah bagian yang telah ditentukan bagimu, maka Dia akan menganugerahkannya kepadamu setelah kau minta, sehingga hal itu akan menambah keimananmu akan keesaan-Nya, juga akan menolongmu menjauh dari meminta kepada orang, kepada ciptaan, dan dari sikap berpaling kepada-Nya dalam segala kondisi, serta lebih lanjut menolongmu meyakini bahwa segala kebutuhanmu terpenuhi oleh-Nya.
“Jika sesuatu yang kau minta tersebut bukan bagian yang ditentukan bagimu, maka Dia akan mencukupimu dan membuatmu ridha kepada-Nya, meski kau miskin dan sakit. Dia akan membuatmu senang dengan kesulitan yang menimpamu itu. Bila berutang, Dia buat hati si pemberi utang tersebut lembut terhadapmu sampai kau lunasi utang itu. Bila permohonanmu tak dikabulkan di dunia ini, Dia akan memberimu di akhirat.
Dia takkan mengecewakan pendoa kepada Nya di dunia ini dan di akhirat.
“Pasti ada faedah dan kemaslahatan yang Dia simpan di balik semua itu, cepat atau
lambat.
“Dalam sebuah hadits dinyatakan, ‘Seorang mukmin akan melihat dalam buku catatan amalnya pada Hari Pengadilan amal-amal yang tidak pernah dilakukannya, juga tidak ia ketahui. Maka akan dikatakan kepadanya, ‘Tahukah kamu amal-amal itu?’ Ia akan menjawab, ‘Saya tidak tahu dari mana amal-amal ini bisa ada pada saya.’ Lalu ia akan dijawab, ‘Sesungguhnya, amal-amal itu adalah ganti dari permohonanmu selama di dunia.’
“Hal itu dikarenakan dengan meminta dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, ia praktis mengingat-Nya dan mengesakan-Nya, menempatkan sesuatu pada tempatnya, berbuat kebajikan kepada sesamamu, tak menisbahkan daya kepada diri sendiri dan tak pongah. Semua ini menjadi amal-amal shalih yang berpahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.”
66 Sapihlah Nafsumu Sebelum la Memangsamu
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- “Setiap kali kau lawan nafsu, dan kau kalahkan, lantas kau bunuh ia dengan pedang perlawanan, maka Allah akan menghidupkannya lagi. Ia pun akan menantangmu kembali dan menuntut pemuasan syahwat dan kelezatan lagi darimu, baik yang diharamkan maupun yang dihalalkan, hingga kau berupaya lagi berjuang (mujahadah) dan bergiat memupusnya hingga ditulislah pahala abadi bagimu. Inilah maksud dari sabda Nabi Saw., ‘Kita telah kembali dari jihad kecil dan menuju jihad akbar’
“Nabi Saw. menunjuk mujahadah melawan nafsu sebagai jihad akbar karena kesenantiasaan dan kontinuitasnya mengusung kelezatan serta kesukaannya dalam berbuat kemaksiatan. Hadits tersebut merupakan penjelasan firman Allah,
‘Mengabdilah kepada Tuhanmu, hingga kepastian (kematian) datang kepadamu.’
(QS. al-Hijr [15]: 99).
“Allah telah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengabdi kepada-Nya (Cibadah), yaitu melawan nafsu, sebab nafsu menolak segala bentuk peribadatan dan menginginkan yang sebaliknya sampai kematian datang menjemputnya.
“Jika ada yang mengatakan bagaimana nafsu Rasulullah Saw. bisa mengabaikan ibadah, sementara beliau tidak memiliki hawa kecenderungan sebagaimana penegasan Allah, ‘Ia tak berbicara dengan kehendaknya sendiri, tidak lain apa yang dikatakannya adalah wahyu.’ (QS. an-Najm [53]: 84).
“Maka kami katakan, ‘Sesungguhnya Allah sengaja mengalamatkan hal tersebut kepada Nabi-Nya sebagai pengukuhan syariah, sehingga ia berlaku umum bagi umatnya hingga Hari Kiamat. Selanjutnya, Dia menganugerahi Nabi-Nya daya kekuatan tersendiri untuk mengatasi hawa nafsu agar keduanya tidak menyulitkan dan memaksanya untuk terus berjuang dan melawan nafsu, berbeda dengan umatnya.’
“Jika seorang mukmin teguh dalam upaya spiritual, hingga datang kematian, dan
menemui Tuhannya, dengan pedang terhunus berlumuran darah nafsu diri, maka Dia
akan menganugerahinya surga yang dijaminkan-Nya untuknya dalam firman, ‘Bagi yang takwa kepada Tuhannya, dan mencegah diri dari hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.’ (QS. anNaazi’aat [79]: 41).
“Jika Dia telah memasukkannya ke dalam surga dan menjadikannya sebagai tempat tinggal dan keputusan akhirnya, lalu ia mendapat jaminan keamanan dari pemindahan ke tempat lain dan kembali ke dunia, maka Dia senantiasa melimpahkan kenikmatan kepadanya hari demi hari, dari jam demi jam, serta akan mengaruniainya segala macam busana dan hiasan yang abadi, sebagaimana Dia perbarui, di dalam dunia ini setiap hari setiap jam dan setiap detik, perjuangan melawan hawa nafsu diri.
“Sementara itu orang kafir, orang munafik, dan pendosa, bila mereka telah berhenti berjuang melawan hawa nafsu diri mereka di dunia ini, kemudian mengikuti, bersekutu dengan setan dan berbaur dengan aneka macam kekafiran, kemusyrikan dan halhal seperti itu sampai kematian datang kepada mereka, sebelum mereka menjalankan Islam dan berobat, maka Allah memasukkan mereka ke dalam neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya, ‘Peliharalah dirimu dari neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah [2]: 24).
“Setelah Dia memasukkan mereka ke dalamnya dan menjadikannya tempat kembali dan tempat berteduh mereka, maka neraka itu membakar kulit dan daging mereka, dan Dia mengganti kulit dan daging mereka dengan yang baru, sesuai dengan firman- Nya, ‘“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain.’ (QS. an-Nisaa’ [4]: 56). Allah Azza wa Jalla melakukan hal itu pada mereka karena mereka menuruti hawa nafsu mereka selama di dunia dalam laku kemaksiatan pada- Nya.
“Allah sengaja mengganti kulit dan daging penghuni neraka agar mereka tersiksa dan kesakitan. Sedangkan pada penghuni surga, Dia limpahi mereka aneka rezeki agar mereka senantiasa bersyukur. Hal ini dikarenakan perjuangan mereka melawan nafsu diri mereka demi menuruti kehendak Allah selama kehidupan di dunia ini.
“Dan, pemandangan ini adalah perwujudan dari sabda Nabi Saw., ‘Dunia ini adalah ladang akhirat.”









One Comment