Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adab al-Suluk Wa al-Tawassul

7 Hawa Kesenangan Adalah Petaka Hati

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar “Keluarlah dari nafsu dirimu dan jauhilah ia. Lepaskan segala kepemilikanmu dan serahkan semua pada Allah. Jadilah gerbang di pintu hatimu. Patuhilah perintahperintah-Nya dalam memasukkan-orang-orang yang memang diperintahkan-Nya untuk diizinkan masuk.

Dan, patuhi juga larangan-Nya dalam mengusir orang yang diperintahkan-Nya untuk kau usir (jauh dari pintu hatimu).

‘Jangan masukkan hawa kesenangan ke dalam hatimu setelah ia terusir darinya. Pengusiran hawa kesenangan dari hati adalah dengan menentangnya dan menolak mengikutinya dalam segala kondisi. Adapun memasukkannya ke dalam hati adalah dengan menuruti kehendaknya dan menyetujuinya.

“Janganlah kau berkehendak selain dengan kehendak Allah Azza wa Jalla. Kehendak yang kau angankan selain  itu  adalah  rimba  ketololan  yang  akan  mengantarkan kecelakaan dan kebinasaanmu, juga kejatuhanmu di mata-Nya Azza wa Jalla dan keterhijabanmu dari-Nya.

“Karena itu, jagalah selalu perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya. Pasrahkan selalu dirimu kepada-Nya dalam segala ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Jangan sekutukan Dia dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya. Kehendakmu, hawa kesenangan, dan syahwatmu adalah makhluk-Nya, karena itu jangan sekali-kali kau berkehendak diri, juga berhasrat kesenangan, dan bersyahwat tinggi agar tidak menjadi orang musyrik. Allah berfirman, ‘Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.’ (QS. al-Kahfi [18]: 110).

“Syirik tidak hanya terbatas pada penyembahan berhala semata, akan tetapi termasuk laku kesyirikan adalah menurutkan hawa nafsumu, memilih sesuatu selain-Nya berupa dunia seisinya bersamaan dengan pilihan pada Allah, juga akhirat seisinya, dan segala sesuatu selain-Nya. Jika kau terhanyut bermasyuk diri dengan sesuatu selain-Nya, maka berarti kau telah menyekutukan-Nya. Oleh sebab itu, waspadalah dan jangan terlena, takutlah selalu dan jangan merasa diri aman, telitilah selalu dan jangan lalai, niscaya kau akan merasa tenang.

“Jangan mengklaim hal atau maqam, dan jangan biarkan sesuatu dari hal tersebut terjadi. Jika kau dianugerahi atau didudukkan dalam suatu maqam, atau diperlihatkan sebuah rahasia, jangan beritahukan sedilkit pun pada siapa pun. Sebab, Allah ‘Azza

wa Jalla setiap hari berada dalam satu kondisi (sya’n) berubah dan berganti. Penyampaian hal] itu juga akan menghalangi hubungan diri dengan hati, sehingga Dia pun akan segera menghapus lagi apa yang telah diberitahukan-Nya padamu dan mengubahmu dari apa yang kau khayalkan akan terus-menerus dan kekal selamanya dalam dirimu, sehingga kau pun akan malu pada orang yang kau beritahukan. Simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu, dan jangan beritahukan pada orang lain. Jika memang maqam atau hal tersebut kekal dan menetap terusmenerus (di dalam dirimu), maka itu adalah anugerah yang harus kau syukuri. Mohonlah taufig pertolongan pada Allah agar kau senantiasa bisa bersyukur dan semakin bersyukur. Jika beda kondisinya Gmagam atau hal yang diberikan-Nya tidak kekal dan terus- menerus), maka ia adalah tambahan pengetahuan, makrifat, nur, kesadaran, dan pengajaran (tadib). Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa padanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?’ (QS. al-Bagarah [2]:

106).

“Jangan kau pandang lemah takdir Allah, juga jangan kau tuduh Dia macam-macam dalam hal pengurusan dan pengaturan-Nya. Jangan pula kau ragukan janji (dan ancaman)-Nya. Teladanilah dalam hal ini Rasulullah Saw.

“Memang ada penghapusan beberapa ayat dan surat yang sudah telanjur diberlakukan dalam aktivitas keseharian, dibacakan dalam mimbar-mimbar, dan termaktub di dalam mushaf-mushaf dan  lembaran. Ayat-ayat dan  surat tersebut dihapus dan diganti dengan ketetapan lain. Dan, Rasulullah Saw. pun dalam hal ini berpindah pada selainnya (hukum baru). Kasus nasakh ini hanya terjadi pada teks hukum dan syara’. Adapun dari sisi ilmu dan hal antara Rasulullah dan Allah Ta‘ala, Rasul Saw. bersabda, ‘Hal itu dikayakan atas hatiku. Aku beristighfar memohon ampun pada Allah 70 kali dalam setiap hari. Riwayat lain menyebutkan, ‘100 kali.

“Rasulullah Saw. selalu berpindah dari satu kondisi ke kondisi lain, dan berganti dengan yang lain dalam menapaki tangga-tangga kedekatan dan menjejaki medan- medan kegaiban. Berubah-ubah pula di hadapannya khulu’ dan cahayacahaya. (Kekurangan) kondisi pertama terpampang jelas setelah disusul kedahagaan dan

kekurangan. Dan, dari sinilah timbul kekurangan dalam pemeliharaan batasan- batasan dalam perspektif kerendahan hati Nabi Saw. Sehingga, beliau pun langsung mengucapkan istighfar Allah. Sebab, itu adalah hal terbaik seorang hamba serta yang paling pantas (dilakukannya) dalam segala kondisi.

“Istighfar mengandung pengakuan dosa dan kekurangan. Dan, keduanya adalah sifat

seorang hamba dan segala kondisinya.

Keduanya merupakan warisan bapak manusia, Adam As. pada Nabi Saw. tatkala kesucian hal-nya dikotori oleh gelap kealpaan akan ikrar dan sumpah, juga akan kehendak kekekalan di surga dan persandingan dengan Sang Kekasih Yang Maha Pemurah lagi Maha Penganugerah, serta akan masuknya para malaikat padanya (Adam) dengan hormat dan salam. Sejakitu, diri Adam menemukan kehendaknya telah berbaur dengan kehendak al-Haqq ‘Azza wa Jalla, sehingga kehendak itu pun pecah berkeping-keping. Status (kesucian)-nya pun lenyap, juga wewenang kewaliannya. Posisinya pun diturunkan, cahaya-cahayanya digelapkan, dan kesuciannya terkotori. Akan tetapi, Adam langsung ditegur dan. diingatkan kembali akan kesucian Sang Maha Pengasih, lalu diajari cara pengakuan dosa dan lupa. Allah mendiktekan padanya pengakuan akan kekurangan diri, sehingga keduanya berkata,

‘Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang merugi.’ (QS. al-A’raaf [7]: 23).

“Selanjutnya, turunlah kepadanya cahaya-cahaya petunjuk, ilmu-ilmu taubat dan pengetahuannya, juga kemaslahatan yang terpendam di dalamnya yang sebelumnya masih belum ada. Lalu, digantikanlah hal tersebut dengan yang lain. Datanglah juga padanya kewalian terbesar dan penempatan di dunia, kemudian di akhirat. Dunia pun menjadi tempat tinggal baginya dan keluarganya (setelah sebelumnya ia tinggal di surga), dan akhirat bagi mereka adalah tempat kembali dan kekekalan.

“Allah berfirman, ‘Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa padanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.’ (QS. al-Bagarah [2]: 106).

“Teladanilah Nabi Muhammad Saw, kekasih dan pilihan Allah, dan nenek moyangnya, Adam, pilihan Allah dan anggota kekasih dalam mengakui kesalahan dan beristighfar dalam segala kondisi, juga kerendahan dan kefakiran di dalamnya. Semoga Allah menganugerahkan shalawat kesejahteraan dan salam kedamaian pada Muhammad dan keluarganya, juga para sahabatnya.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker