30 Kesabaran Memang Terasa Pahit, Namun akan Berakhir dengan Manis
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- “Betapa sering kau berkata,
apa yang mesti (kulakukan, apa yang mesti kugunakan (untuk mencapai tujuanku)?
“Tetaplah di tempatmu. Jangan melampaui batasmu, sampai jalan keluar dikaruniakan bagimu dari-Nya yang telah memerintahkanmu untuk tinggal di tempatmu. Allah berfirman, ‘Wahai orang-orang beriman, bersabarlah, senantiasa berteguhlah, dan jagalah kewajibanmu terhadap Allah. (QS. Ali Imran [3]: 199).
“Dia telah memerintahkanmu untuk bersabar, wahai orangorang beriman, untuk berlomba-lomba dalam kesabaran, untuk berteguh, untuk senantiasa ingat dan untuk menjadikan hal ini sebagai kewajiban. Dia kemudian memperingatkanmu terhadap ketaksabaran dan berujar, Jagalah senantiasa kewajibanmu terhadap Allah,’ artinya jangan tinggalkan kesabaran, sebab kebaikan dan keselamatan terletak pada kesabaran. Nabi Suci Saw. juga bersabda, ‘Kesabaran bagi keimanan ibarat kepala bagi tubuh.””
“Bagi segala sesuatu ada balasannya sesuai dengan kadarnya, tetapi balasan bagi kesabaran tak terhingga sebagaimana firman Allah, ‘Sesungguhnya, kesabaran akan diberi pahala yang tak terhingga.’ (QS. az-Zumar [39]: 10).
“Jika kau jaga kewajibanmu terhadap-Nya dengan sabar, dan memerhatikan batas- batas yang telah ditentukan oleh-Nya, maka Dia akan membalasmu sebagaimana yang dijanjikan-Nya kepadamu dalam kitab-Nya, ‘…Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Dia akan membuatkan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tak diduganya….’ (QS. ath-Thalaaq [65]: 2-3).
“Bersabarlah dengan mereka yang beriman kepada Allah, hingga jalan keluar terbentang bagimu, sebab Allah telah menjanjikanmu kecukupan dalam firman- firman-Nya, ‘Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia mencukupi (keperluan)nya.’ (QS. ath-Thalaagq [65]: 3).
Bersabarlah selalu dan berimanlah kepada Allah bersama mereka yang berbuat kebajikan terhadap orang lain, sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu balasan untuk ini, sebab ‘…Sesungguhnya, Allah menyukai orangorang yang berbuat baik.’ (QS. al-Maa’idah [5]: 13).
“Kesabaran adalah sumber segala kebajikan dan keselamatan di dunia ini dan di akhirat, dan melaluinya para mukmin mencapai kepasrahikhlasan terhadap kehendak Allah, dan kemudian melebur dalam tindakan-tindakan Allah, yang adalah keadaan para badal atau gaib. “Maka, jangan sampai gagal meraih keadaan seperti ini, agar kau tak hina di dunia ini dan di akhirat, dan supaya kekayaan keduanya ini tak berlalu darimu.”
31 Timbangan Cinta Adalah Hawa Kecenderungan
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- berujar, ‘Jika kau dapati hatimu membenci atau mencintai seseorang, telaahlah perilakunya dengan kitabullah dan sunnah Nabi. Kalau perilakunya dibenci oleh kedua pewenang ini, berbahagialah dengan jalan ridha terhadap Allah dan NabiNya. Jika perilakunya sesuai dengan keduanya, sedangkan kau memusuhinya, maka ketahuilah bahwa kau adalah pengikut hawa nafsumu. Kau membencinya lantaran kebencianmu kepadanya dan menentang Allah, Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung, menentang Nabi-Nya, dan menentang kedua pewenang ini. Maka, berpalinglah kepada Allah, bertaubat dan mohonlah kepadanya kecintaan kepada orang itu dan para pilihan Allah, para wali- Nya dan para shalih, bersesuaianlah dengan Allah dalam mencintainya.
“Berlaku serupalah terhadap yang kau cintai. Yaitu, menelaah perilakunya dengan cahaya Kitabullah dan sunnah Nabi. Jika ia ternyata disenangi oleh kedua pewenang ini, maka cintailah ia. Tetapi, jika perilakunya tak disenangi oleh keduanya, maka bencilah ia, agar kau tak mencintai dan membencinya karena hawa nafsumu. Allah berfirman, ‘Dan, jangan mengikuti hawa nafsumu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shaad [38]: 26).
32 Tingkatan Manusia dan Kedudukan Insan
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Ada empat jenis manusia. Yang pertama tak berlidah dan tak berhati. Mereka adalah manusia biasa, bodoh, dan hina. Mereka tak pernah ingat kepada Allah. Tiada kebaikan dalam diri mereka. Mereka bagai sekam tak berbobot jika Allah tak mengasihi mereka, membimbing hati mereka kepada keimanan pada-Nya Sendiri.
“Waspadalah, jangan menjadi seperti mereka. Inilah manusia-manusia sengsara dan dimurkai oleh Allah. Mereka adalah penghuni-penghuni neraka. Kita berlindung kepada Allah dari mereka.
“Hiasilah dirimu dengan makrifat. Jadilah guru kebenaran, pembimbing ke jalan
agama, pemimpinnya dan penyerunya.
Ingat, bahwa kau mesti mendatangi mereka, mengajak mereka untuk taat kepada Allah, dan memperingatkan mereka akan dosa terhadap Allah Swt. Maka, kau akan menjadi pejuang di jalan Allah dan akan dipahalai, sebagaimana para nabi dan utusan Allah. Nabi Suci Saw. berkata kepada Ali Ra., Jika Allah membimbing seseorang melalui pembimbingmu atasnya, adalah lebih baik bagimu daripada tempat matahari terbit.’*
“Manusia yang kedua berlidah tetapi tak berhati. Mereka berbicara bijak, tetapi tak berbuat bijak. Mereka menyeru orang kepada Allah Swt, tetapi mereka sendiri menjauh dari-Nya. Mereka jijik terhadap noda orang lain, tetapi mereka sendiri tenggelam dalam lautan noda. Mereka menunjukkan kepada orang lain akan keshalihan mereka, tetapi mereka sendiri justru berbuat dosa besar terhadap Allah Swt. Bila sendirian, mereka bagai serigala berbusana.
“Jenis manusia inilah yang diperingatkan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam sabdanya, ‘Hal yang semestinya paling ditakuti olehku dan pengikut-pengikutku adalah orang berilmu yang jahat. Dalam hadits lain disebutkan, ‘Hal paling
menakutkan yang aku takutkan pada umatku adalah ulama sw’.’ Na’udzubillah min dzalik!!
“Karena itu, menjauhlah selalu dari orang seperti itu, agar kau tak terseret oleh manis lidahnya, yang kemudian api dosanya akan membakarmu, dan kebusukan ruhani serta hatinya akan membinasakanmu.
“Manusia ketiga berhati namun tak berlidah. Mereka adalah mukmin yang Allah telah memberinya satir dari makhluk-Nya, menganugerahinya pengetahuan tentang noda- noda dirinya sendiri, mencerahkan hatinya dan membuatnya sadar akan mudharatnya berbaur dengan manusia, akan kekejian berbicara dan yang telah yakin bahwa keselamatan ada dalam ke-diaman serta keberadaan dalam sebuah sudut, sebagaimana sabda Nabi Saw., ‘Barang siapa senantiasa diam, maka ia memperoleh keselamatan.’ Atau, ujaran sebuah hikmah, ‘Sesungguhnya, pengabdian kepada Allah terdiri atas sepuluh bagian, yang sembilan bagian ialah sikap diam.’
“Orang ini adalah wali Allah dalam hal rahasia-Nya, terlindungi, memiliki keselamatan dan banyak pengetahuan, terahmati dan segala yang baik ada padanya. Nah, ingatlah, bahwa kau mesti senantiasa bersama dengan orang semacam ini, layanilah ia, cintailah ia dengan memenuhi kebutuhan yang dirasakannya, dan berilah ia hal- hal yang akan menyenangkannya. Bila kau melakukan yang demikian ini, maka Allah akan mencintaimu, memilihmu, dan memasukkanmu ke dalam kelompok sahabat dan hamba shalih-Nya disertai rahmat-Nya.
“Yang keempat ialah manusia yang berlidah dan berhati. Mereka adalah seseorang yang diundang ke dunia gaib, yang dibusanai kemuliaan sebagaimana sinyalir sebuah hadits, ‘Barang siapa mengetahui dan bertindak berdasarkan pengetahuannya dan memberikannya kepada orang lain, maka ia diundang ke dunia gaib dan menjadi mulia.’
“Ini adalah orang alim yang memiliki pengetahuan tentang Allah dan tanda-Nya. Hatinya menjadi penyimpan pengetahuan yang langka tentang-Nya, dan Dia menganugerahkan kepadanya rahasia-rahasia yang disembunyikan-Nya dari yang lain. Dia memilihnya, mendekatkannya kepada-Nya sendiri, membimbingnya,
memperluas hatinya agar bisa menerima rahasia-rahasia dan pengetahuan- pengetahuan ini, dan menjadikannya seorang pekerja di jalan-Nya, penyeru hambahamba-Nya kepada jalan kebajikan, pengingat akan siksaan perbuatan- perbuatan keji, dan hujjatullah di tengah-tengah mereka, pemandu dan yang terbimbing, perantara, dan yang perantaraannya diterima, seorang shiddiq dan saksi kebenaran, ( wakil para nabi dan utusan Allah, yang bagi mereka limpahan rahmat Allah.
“Maka, orang ini menjadi puncak umat manusia. Tiada maqam diatas ini, kecuali maqam para nabi. Adalah kewajibanmu untuk berhati-hati, agar kau tak memusuhi orang semacam itu, tak menjauhinya dan tak melecehkan ucapan-ucapannya. Sesungguhnya, keselamatan terletak pada ucapan dan kebersamaan dengan orang itu. Sedangkan kebinasaan dan kesesatan terletak pada selainnya; kecuali orang yang dikaruniai oleh Allah daya dan pertolongan yang membawa kepada kebenaran dan kasih sayang.
“Demikianlah paparanku tentang empat klasifikasi manusia. Maka, perhatikanlah dirimu sendiri jika kau punya jiwa yang terus-mata. Selamatkanlah dirimu dengan sinarnya, jika kau ingin sekali menyelamatkan dan mencintainya. Semoga Allah membimbing kita kepada yang dicintai-Nya di dunia ini dan di akhirat!”









One Comment