54 Campakkan Nafsu Dirimu dan Kemarilah
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya- berujar, “Kesenangan hidup dicampakkan tiga kali, dimulai saat sang hamba Allah berada dalam kegelapan, kejahilan dan kekacauan, bertindak berdasarkan dorongan-dorongan alaminya dalam segala keadaan, tanpa sikap pengabdian terhadap Tuhannya dan tanpa memerhatikan hukum agama. Dalam keadaan begini, Allah memandangnya penuh belas kasih, lalu Dia utus padanya seorang pemberi petuah dari kalangan makhlukNya
yang termasuk hamba-hamba-Nya yang shalih, sekaligus menempatkan pengingat juga di dalam dirinya. Kedua pengingat ini pun mampu mengatasi nafsu diri dan tabiatnya, dan tuturan tersebut menimbulkan pengaruh pada jiwanya. Maka, noda yang ada padanya, seperti memperturutkan kehendak dirinya dan penentangannya terhadap kebenaran, sirna. Maka, condonglah ia pada hukum Allah dalam segala gerak geriknya. Jadilah sang hamba Allah tersebut seorang muslim di hadapan hukum-Nya, lepas dari alamnya, membuang hal-hal haram duniawi, begitu pula hal- hal yang meragukan dan pertolongan orang. Maka, ia melakukan hal-hal yang halal dalam makan, minum, berpakaian, menikah, bertempat tinggal dan hal-hal lain yang memang sudah menjadi bagiannya agar bangunan fisiknya terjaga dan lebih lanjut ia kuat menjalankan laku ketaatan kepada-Nya serta demi menunaikan bagiannya yang sudah ditentukan secara azali baginya.
“Tidak ada jalan untuk keluar dari kehidupan duniawi ini sebelum meraih dan menyempurnakannya. Maka, ia pun harus berjalan di atas jalur kebenaran dalam keadaan hidupnya, sehingga hal ini membawanya ke maqam tertinggi wilayah dan menjadikannya pembukti kebenaran dan orang pilihan, yang memiliki pernyataan yang kokoh, yang haus akan hakikat, yaitu Allah. Maka, ia makan dengan perintahNya, dan (sang salik) mendengar suara Allah di dalam dirinya berkata,
‘Campakkanlah dirimu dan kemarilah! Campakkanlah kesenangan dan makhluk (manusia), jika kau menghendaki Sang Pencipta! Lepaskanlah sepatu dunia dan akhiratmu. Lepaskan dirimu dari segala hal bendawi, serta segala hal yang mewujud menjadi dambaan. Lepaslah dari segala sesuatu. Berbahagialah dengan Allah. Campakkanlah kesyirikan dan ikhlaslah dalam berkehendak. Mendekatlah kepada- Nya dengan hormat, dan jangan memandang kehidupan akhirat, kehidupan duniawi, orang-orang, dan kesenangan!!’
“‘Jika ia telah menempati maqam ini, maka ia menerima busana kemuliaan dan aneka karunia. Dikatakan kepadanya, busanailah dirimu dengan rahmat dan karunia, jangan berburuklaku menilai dan menampik keinginan-keinginan, karena penolakan terhadap karunia raja sama dengan menekannya dan meremehkan kekuasaannya. Maka, ia terselimuti karunia dan anugerah-Nya tanpa berupaya setelah sebelumnya ia terkuasai oleh keinginan-keinginan dan nafsu dirinya.
“Setiap kali ia menempati satu posisi, maka apa yang menjadi makanannya (Juqmah) pun ikut berubah. Ia memiliki empat status dalam meraih bagian-bagian dan peruntukan; Pertama dengan (dorongan) tabiat alamiah, dan ini jelas haram. Kedua dengan syariah, dan ini jelas mubah dan halal. Ketiga dengan perintah batin, dan ini adalah keadaan para wali dan pencampakan keinginan. Dan, keempat dengan karunia Allah, dan ini adalah keadaan lenyapnya tujuan dan tercapainya badaliyah dan keadaan menjadi objek-Nya, yang berdiri di atas ketentuan-Nya; ini adalah keadaan tahu dan keadaan memiliki keshalihan.
“Seseorang tidak bisa disebut sebagai shalih jika ia belum mencapai maqam ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah, ‘Sesungguhnya, pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan alKitab (al-Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih: (QS. al- A’raaf [7]: 196). Orang shalih adalah hamba yang tertahan dari menggunakan sesuatu, memanfaatkan diri, dan dari menolak sesuatu yang mudharat baginya. Ia menjadi seperti bayi di tangan perawat dan seperti jasad mati yang sedang dimandikan orang. Maka, Allah membesarkannya tanpa kehendaknya dan tanpa upayanya, ia lepas dari segala hal ini, tak berkeadaan atau bermagam, tak berkehendak melainkan berada di atas ketentuan-Nya, yang kadang-kadang menahan, kadang-kadang memudahkannya, kadang-kadang membuatnya kaya dan kadang-kadang membuatnya miskin. Ia tak punya pilihan, dan tak menghendaki berlalunya keadaan dan perubahannya. Sebaliknya, ia menunjukkan keridhaan abadi. Dan, inilah puncak tertinggi derajat ruhani (ahwal) yang digapai oleh para badal dan wali.”
55 Usir Hawa Nafsu dari dalam Dadamu, Niscaya Belenggu di Kakimu akan Terlepas
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Ketika seorang hamba telah lebur binasa dari makhluk ciptaan, hawa nafsu, kehendak akan dunia dan akhirat; ia tidak berkehendak kecuali menuruti kehendak Allah ‘Azza wa Jalla, dan segala sesuatu pun telah sirna dari dalam hatinya, maka ia telah sampai pada al-Haqq
‘Azza wa Jalla dipilih dan ditunjuk-Nya, dicintai-Nya sekaligus dicintakan pada makhluk ciptaan-Nya. Akan Dia jadikan ia najiy-Nya (orang yang diselamatkan), di
bawah kedekatan-Nya, menerima karuniaNya dan bergelimang dengan kenikmatan- Nya, dibukakan pula baginya pintu-pintu kasih-Nya sekaligus Dia janjikan padanya untuk tidak pernah akan menutupnya lagi.
“Dalam keadaan demikian, sang hamba pun atas pilihan alHaqq ‘Azza wa Jalla, berkehendak di dalam Kehendak-Nya, ridha dengan keridhaan-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan tak memandang keberadaan dan tindakan apa pun pada selain- Nya.
“Jika sudah demikian halnya, maka Allah menjanjikan kepadanya sebuah janji yang kelihatannya belum Dia tampakkan pemenuhannya di hadapan sang hamba dan belum dicapainya pula, sebab ghayriyah akan lenyap dengan lenyapnya hawa keinginan dan kehendak, serta ambisi meraih bagian-bagian peruntukan. Mewujudlah di dalam dirinya tindakan al-Haqq ‘Azza wa Jalla dan kehendak-Nya tanpa ada sisipan janji dan ikrar, sebab keduanya adalah sifat orang yang masih memiliki hawa keinginan dan kehendak.
“Jadilah janji ketika itu sebagai haknya bersama Allah sebagaimana seorang laki-laki yang berhasrat melakukan sesuatu di dalam dirinya dan meniatkannya, namun kemudian ia malah cenderung pada selainnya, seperti nasikh dan mansukh dalam wahyu-wahyu Allah pada Nabi-Nya, Muhammad Saw., ‘Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan, atau Kami jadikan (manusia)
lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kau tahu bahwa Allah kuasa atas segalanya?’ (QS. al-Baqarah [2]: 106).
“Tatkala Nabi Muhammad Saw. lepas dari keinginan dan kehendak, kecuali pada saat-saat tertentu, sebagaimana disebutkan oleh Allah di dalam al-Qur’an, sehubungan dengan tawanan Perang Badar, sebagai berikut, ‘Kamu menginginkan barang-barang lemah dunia int, sedangkan Allah menghendaki bagimu akhirat; dan Dia Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Andaikan bukan karena hukum Allah yang telah berlaku, sesungguhnya akan menimpamu siksaan yang besar sebagai balasan atas perbuatan yang kau lakukan, (QS. al-Anfaal [8]: 67-68).
“Nabi Saw. adalah kekasih Allah, yang senantiasa Dia tempatkan pada ketentuan- Nya, juga Dia beri kendali-Nya; lalu Dia pun menggerakkannya di tengah-tengah ketentuan-Nya dan senantiasa memperingatkannya dengan firman-firman-Nya,
‘Tidakkah kau tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segalanya?’ (QS. al-Baqarah [2]:
106). Dengan kata lain, kamu berada di samudra ketentuan-Nya, yang gelombangnya mengombang-ambingkan kamu, kadang-kadang ke sini, kadang-kadang ke sana.
“Dengan demikian, akhir amr seorang wali adalah awal amr seorang nabi. Tiada maqam setelah kewalian dan kebadalan selain maqam nabi.”









One Comment