59 Timpaan Takdir Allah Lebih Baik Bagimu daripada Angan-Angan Citamu
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Permulaan kehidupan ruhani adalah keterlepasan dari al-ma’hud menuju yang disyariatkan (al-masyru), lantas menuju yang ditakdirkan (al-maqdur), untuk kemudian kembali pada al-ma‘hud dengan syarat penjagaan batas-batas. “Keluar dari al-ma’hud berarti melepaskan diri dari makanan, minuman, pakaian, pasangan nikah, dan segala yang menenteramkan hatinya atas dasar dorongan alamiah (tabiat) dan kebiasaan menuju perintah dan larangan syara’. Lalu, ikutilah Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya sebagaimana yang difirmankanNya, ‘Ambillah yang diperintahkan Nabi kepadamu, dan hindarilah yang dilarangnya,’ juga firman lain Nya, ‘Katakanlah, Jika kau mencintai Allah, ikutilah aku, maka Allah akan mencintaimu,’ (QS. Ali ‘Imran [3]: 31).
“Selanjutnya, kau harus luruh binasa dari hawa nafsu dan kesia-siaannya secara lahir dan batin, sampai yang ada pada batinmu hanyalah keesaan Allah, dan yang ada pada lahiriahmu hanyalah kepatuhan dan pengabdian pada apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya. Jadikanlah hal itu sebagai kebiasaanmu, semboyan hidup dan busanamu dalam segala gerak dan diammu, di kala malam dan siangmu, dalam perjalanan dan di rumahmu, dalam kesulitan dan kemudahanmu, serta dalam segala keadaan.
“Lebih lanjut, kau akan dibawa ke lembah-Nya, dan dikendalikan oleh-Nya. Kau pun luruh binasa dari segala upaya, perjuangan dan dayamu. Lalu, dibawalah kepadamu
bagianbagian yang telah ditorehkan oleh pena dan ditetapkan oleh ilmu (sebagai ketentuan azali), sehingga kau pun dibusanai dengan bagian-bagian tersebut, juga dianugerahi keterlindungan dan keselamatan di tengah-tengahnya. Terlindunglah kau dalam batas-batas-Nya dan kau peroleh pula taufig untuk menerima tindakan Allah di dalamnya. Kaidah syara’ pun tidak akan melenceng menuju kezindiqan dan penghalalan yang haram. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya, telah Kami turunkan pengingat (alQur’an), dan sesungguhnya Kami yang menjaga.’ (QS. al-Hijr [15]: 90). Firman-Nya lagi, ‘Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba pilihan Kami.’ (QS. Yusuf [12]:
24).
“Maka, perlindungan Allah menyertaimu, hingga kau menghadap-Nya dengan kasih- Nya. Semua itu adalah bagian peruntukan yang telah dipersiapkan untukmu. Dia akan mencukupkanmu dalam tempuh perjalananmu di jalan tarekat dan suluk dari rimba- rimba tabiat dan riak-riak hawa kesenangan, sebab tabiat dan hawa nafsu adalah beban berat. Maka, hal itu pun dijauhkan dari dirimu agar tidak memberatkanmu, sehingga bisa melemahkan untuk meraih apa yang dicari sampai kau mencapai ambang fana, yang merupakan pintu ketersampaian pada kedekatan al-Haqq ‘Azza Wa Jalla, makrifat-Nya, penggapaian rahasia-rahasia dan ilmu-ilmu laduni, dan masuk ke dalam samudra cahaya, di mana gelap tabiat cahaya tidak lagi bisa menyakitimu.
“Tabiat akan tetap eksis sampai ruhmu berpisah dengan jasad demi memenuhi bagian. Jikalau tabiat lenyap dari diri anak Adam, niscaya ia akan menyusul para malaikat, sehingga aturan pun menjadi kacau dan hikmah pun menjadi batal pula. Jadi, tabiat akan tetap mewujud di dalam dirimu demi memenuhi bagianbagian dan peruntukannya. Dan, hal itu hanya akan menjadi fungsi kerja saja, bukan sesuatu yang pokok, sebagaimana sabda Nabi Saw., “‘Dicintakan kepadaku dari keduniaan kalian tiga hal; wewangian, perempuan, dan dijadikannya penyejuk mataku di dalam shalat.’
“Tatkala Nabi Muhammad Saw. lebur fana dari keduniaan beserta segala isinya, dikembalikanlah padanya bagian-bagiannya yang tertahan (tidak ia ambil) sewaktu beliau berjalan menuju Tuhannya Azza wa Jalla. Lalu, beliau pun mengambilnya sebagai bentuk pernyataan ridha (tanpa menolak dan penolakan) pada Tuhan-Nya
dan keridhaan menerima tindakan-Nya, serta apresiasi menjalankan perintah-Nya, sehingga nama-nama-Nya pun menjadi suci dan rahmat-Nya juga menyebar. Anugerah karunia-Nya memeluk seluruh wali dan nabi-nabi-Nya.
“Demikianlah para wali di pintu ini. Bagian-bagian keduniaannya dikembalikan lagi padanya setelah ia lebur fana dengan tetap menjaga batasan-batasan. Dan, ini disebut kembali dari akhir ke permulaan.”
60 Setiap Raja Memiliki Tanah Larangan, Maka Hati-Hatilah dengan Tanah Larangan Sang Maha Pengasih
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Setiap mukmin diwajibkan (mukalaf) untuk bersikap menunggu (tawaquf) dan menahan diri untuk tidak terburu-buru mengambil dan menikmati bagian-bagian duniawinya hingga ada hukum yang menyatakan kehalalannya, juga pengetahuan akan bagiannya. Nabi Saw. bersabda, ‘Seorang mukmin adalah orang yang suka menyelidik (fattasy). (Jika) orang munafik adalah orang yang asal sambar (laqqaf), maka seorang mukmin bersikap menunggu kepastian (waqaf).’ Nabi Saw. berpesan, ‘Tepiskan segala yang masith meragukan, dan ambillah segala yang tak menimbulkan keragu-raguan,’
“Seorang mukmin senantiasa bersikap menunggu di hadapan setiap bagian baik berupa makanan, minuman, busana, perkawinan maupun segala sesuatu yang dihidangkan kepadanya. Ia tidak boleh mengambilnya sampai ada ketentuan hukum yang menyatakan keabsahan dirinya untuk mengambil dan melakukannya. Sikap ini diambil jika memang ia masih dalam taraf bertakwa. Jika ia berada dalam taraf kewalian, maka ia tidak boleh mengambilnya sampai ada perintah yang memerintahkannya bertindak demikian. Lalu, jika ia berada dalam taraf badaliyah dan ghausiyah, maka ia tidak boleh mengambilnya sampai ada ilmu yang memaklumkannya untuk berbuat demikian. Lantas, jika ia berada dalam taraf fana, maka ia tidak boleh mengambilnya sampai ada ketentuan tindakan atau takdir yang mengendalikannya untuk berlaku demikian.
“Kemudian, datanglah taraf spiritualitas lain yang menyilakannya untuk mengambil apa saja yang dihidangkan dan disajikan padanya secara mutlak, selama tidak bertentangan dengan hukum, perintah, atau ilmu.
“Dan, terakhir muncul taraf spiritual ketiga, di mana ia boleh mengambil dan terlibat dalam segala kenikmatan tanpa interupsi salah satu dari ketiga hal di atas (hukum, perintah, ilmu). Inilah yang disebut taraf fana’. Dalam kondisi spiritual demikian, seorang mukmin sudah terjaga dari segala petaka, menerjang batas-batas syara’ dan terlindung pula dari segala keburukan, sebagaimana firman Allah Ta‘ala,
‘Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian;
sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba pilihan Kami. (QS. Yusuf [12]: 24).
“Dengan segala jaminan keterlindungan dari pelanggaran batasan-batasan syara’‘ ini, si hamba menjadi seperti mandataris yang dipasrahi sebuah mandat (mufawwad ilaih), diizini (ma‘dzun lah), dibebaskan dalam segala kemubahan dan dimudahkan dalam segala laku kebajikan.
“Segala yang datang kepadanya telah terbersihkan dari segala petaka, kotoran, dan
sampah-sampah dunia dan akhirat, juga cepat menggapai dengan kehendak al-Haqq
‘Azza wa Jalla, ridha dan tindakan-Nya. Tidak ada lagi taraf spiritual di atasnya. Ia adalah taraf puncak, yang diperuntukkan bagi para tokoh wali terkemuka yang benar- benar tulus dan pemilik segala rahasia, yang telah mencapai ambang status para nabi As.”









One Comment