69 Bukan Kamu yang Melempar Tatkala Kau Melempar, Tetapi Allah-lah yang Melempar
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannyaberujar, “Bagaimana kau mau berbangga dan pamer akan kebajikanmu, serta menuntut balasan atasnya? Sedangkan semua kebaikan tersebut berasal dari kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya, melalui taufiq pertolongan, daya, kehendak, dan karunia-Nya. Begitu pula dengan penyingkiran maksiat terhadap-Nya. Semua laku ini hanya berkat perlindungan dan pertolongan-Nya atasmu.
“Mana bentuk kesyukuranmu atas hal tersebut, juga pengakuanmu atas segala nikmat yang telah dianugerahkan Nya kepadamu ini? Apa-apaan dengan segala kelancangan dan kebodohan ini?
“Bagaimana kau bisa berbangga diri dengan keberanian orang lain dan kemurahan serta curahan hartanya? Kamu tidak dapat membunuh musuhmu tanpa bantuan Sang Gagah Berani yang menyerang musuhmu dan menyempurnakan keterbunuhannya. Jikalau tanpa Dia, niscaya kaulah yang akan tewas menggantikannya.
“Kau pun juga tidak mencurahkan harta benda kecuali setelah ada jaminan dari Sang Jujur Yang Maha Mulia dan Tepercaya yang menjamin balasan ganti atas apa yang kau curahkan dan tinggalkan. Jikalau tidak ada firman-Nya yang menjamin kompensasi bagi dirimu dan keinginanmu akan janjiNya, kau tentu tidak akan pernah mencurahkan sebiji makanan pun. Lalu, bagaimana kau mau berbangga diri hanya dengan perbuatan tersebut?
“Perbaikilah lakumu. Syukur dan pujian hanya bagi yang menolong, juga kesenantiasaan pujian. Nisbahkanlah segala sesuatu pada-Nya dalam segala kondisi kecuali keburukan, maksiat, dan celaan. Semua itu harus kau nisbahkan pada dirimu
sendiri. Dirimu lebih berhak untuk dialamati laku kezhaliman, kekurangajaran dan tuduhan, sebab ia adalah tempat keburukan dan ia memerintahkan segala keburukan dan kesia-siaan.
“Jika memang kau akui bahwa Allah “Azza wa Jalla adalah pencipta kebajikan dengan segala usahamu, maka kau hanyalah media yang berusaha sementara Dialah yang menciptakannya sebagaimana pernyataan salah seorang ulama, ‘Demi Allah ‘Azza wa Jalla, kau pasti dan mau tidak mau akan mendatanginya. Juga sabda Nabi Saw.,
‘Berbuat bajiklah, mendekatlah, dan luruskanlah dirimu, sebab semua telah
dimudahkan bagi sesuatu yang memang diciptakan untuknya.”
70 Apakah Pakaian Bolong-Bolong Cocok Bagimu?
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Kau tidak pernah lepas dari dua kemungkinan; menjadi murid (menginginkan) atau menjadi murad (diinginkan).
“Bila kau adalah seorang murid, maka kau terbebani dan menjadi penanggung beban yang harus memikul segala yang sulit dan berat, sebab kau adalah thalib (pencari), dan seorang yang mencari mesti bekerja keras dan berlelah ria hingga ia memperoleh apa yang dicarinya.
“Tidak patut bagimu mengelak dari kesulitan-kesulitan yang merundungmu sampai deritamu sirna. Selanjutnya kau akan diselamatkan dari segala macam suara, noda, kekejian, kehinaan, rasa sakit, derita, dan ketergantungan kepada orang. Maka, kau akan dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang dicintai Allah.
“Dan, jika kau adalah seorang murad, maka jangan salahkan Allah jika Dia menimpakan musibah atasmu. Juga, jangan kau ragukan kedudukanmu di hadapan- Nya, sebab Dia telah mengujimu agar kau meraih kedudukan tinggi. Dia hendak menaikkan derajat kedudukanmu pada tingkat para wali dan abdal.
“Sukakah kau bila kedudukanmu berada di bawah kedudukan mereka, atau bila busana kemuliaan, nur, dan rahmatmu tak seperti busana kemuliaan, nur, dan rahmat mereka?
“Jika kau merasa puas dengan kedudukan rendahmu, maka Allah Swt-lah yang tidak menyukainya untukmu. Allah Ta‘ala berfirman, ‘Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tak mengetahui. (QS. al-Baqarah [2]: 232). Dia telah memilihkan untukmu sesuatu yang lebih tinggi, lebih cerah, lebih baik, dan lebih mulia, lalu kau mau’ menampiknya?!
“Jika kau berkata, ‘Bagaimana bisa seorang murad (yang diinginkan-Nya) mesti diuji setelah semua penjelasan dan kategori ini, padahal ujian hanya diperuntukkan bagi pencinta, sementara kasih adalah milik kekasih yang dicinta?’
“Jawabnya, ‘Kami sengaja menyebutkan yang umum dahulu, baru kemudian melangkah pada yang langka.’
“Tidak perlu diperselisihkan lagi, bahwasanya Nabi Muhammad Saw. adalah yang paling dicintai, namun beliau juga adalah orang yang paling banyak diuji. Nabi Muhammad Saw. bersabda, ‘Aku telah demikian takut karena Allah, tlada seorang pun yang terancam sepertiku dan aku telah demikian menderita karena Allah, tiada seorang pun yang menderita sepertiku. Telah datang padaku tiga puluh hari dan malam yang di dalamnya kami tak punya makanan sebanyak yang diapit di bawah ketiak Bilal.’
“Tegasnya lagi, ‘Sesungguhnya kami, para nabi, adalah yang paling banyak diuji;
kemudian mereka yang kedudukannya lebih rendah dan seterusnya.’ Sabdanya lagi,
‘Aku adalah yang paling tahu tentang Allah dan yang paling takut kepada-Nya di
antara kamu semua.’
“Lalu, bagaimana bisa sang tercinta diuji dan takut, padahal ia adalah orang pilihan dan pengabdi sempurna? Hal ini, sebagaimana yang telah kami kemukakan, lebih dikarenakan Dia hendak membuat mereka meraih kedudukan-kedudukan kehidupan surgawi yang tidak akan teraih kecuali dengan amal-amal shalih di kehidupan duniawi
ini. Kehidupan duniawi merupakan ladang kehidupan ukhrawi, dan amal-amal shalih para nabi dan wali, setelah menunaikan perintah-perintah dan menghindari larangan- larangan, berada dalam kesabaran dan keridhaan di tengah-tengah cobaan. Kemudian, cobaan dijauhkan dari mereka dan mereka dianugerahi rahmat-rahmat Allah, karunia-Nya, dan kasih sayang-Nya sampai mereka menghadap Tuhan mereka di akhirat yang abadi.”









One Comment