58 Mensyukuri Nikmat-Nikmat yang Telantar Adalah Tali Kekang yang Terkokoh
SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Kondisi dirimu tidak akan pernah sepi dari dua kemungkinan; bencana atau nikmat. Jika berupa musibah, maka kau dituntun untuk tashabbur (menyabarkan diri)—ini merupakan hal yang rendah—dan bersabar (shabr), ini merupakan hal yang lebih tinggi, lalu menyetujui dan ridha menerima takdir-Nya, dan terakhir luruh (fana’) di dalam kehendak-Nya— dan ini adalah hal para abdal dan kaum ‘arif, serta para empu kaweruh tentang Allah
‘Azza wa Jalla.
“Bila berupa rahmat, maka kau dituntut untuk mensyukurinya, baik melalui lidah, hati,
maupun anggota tubuh.
“Bersyukurlah dengan lisan diaktualisasikan dalam pengakuan diri bahwa rahmat yang ada berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla dan penghindaran dari menisbatkannya kepada orang lain, yang melalui tangan-tangan mereka rahmat sampai. Sebab, kau sendiri dan mereka hanyalah sarana-sarana sampainya rahmat. Pemberi dan pencipta sejati rahmat yaitu Allah Azza wa Jalla. Maka, Dia lebih patut disyukuri daripada yang lain.
“Jangan kau pandang ghulam pembawa hadiah sebagai pengirim hadiah, tetapi pandanglah ia sebagai pelaksana dan sarana pemberi nikmat. Allah menyindir orang yang tidak memiliki pandangan tersebut dalam firman, ‘Mereka mengetahui lahiriah kehidupan duniawi, sedangkan mengenai akhirat, mereka sungguh lalai.’ (QS. ar- Ruum [30]: 7).
“Barang siapa memandang lahiriah dan penyebab, sedangkan pengetahuannya tak melebihi ini, adalah jahil dan rusak pikiran. Istilah ‘pikiran’ digunakan untuk orang yang memahami akhir sesuatu.
“Adapun bersyukurnya melalui hati, diwujudkan melalui keyakinan kokoh bahwa segala rahmat, kesenangan yang kau punya, berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, bukan dari selain-Nya. Juga bahwa ucapan kesyukuranmu lewat lisan merupakan ungkapan
isi hatimu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Dan, apa pun nikmat yang ada padamu, berasal dari Allah. (QS. an-Nahl [16]: 53). Firman-Nya lagi, ‘Dan, (Dia) telah menyempurnakan nikmatNya padamu lahir dan batin.’ (QS. Luqman [31]: 20). Firman lain,
‘Dan, jika kamu menghitung hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan
jumlahnya.’ (QS. an Nahl [16]: 18).
“Dengan bukti semua pernyataan ini, maka tiada pemberi karunia bagi seorang
mukmin selain Allah Azza wa Jalla.
“Sementara itu, bersyukur melalui anggota tubuh teraktualisasikan lewat penggunaan anggota tubuh untuk mematuhi perintah-perintah-Nya guna menjauh dari ciptaanNya. Maka, janganlah menimpali makhluk, sebab di situ terdapat penentangan terhadap Allah; ciptaan termasuk dirimu sendiri, keinginanmu, maksudmu, kehendakmu, dan segalanya. Patuhlah kepada Allah sepatuh-patuhnya. Jika kau bertindak lain, berarti kau menyimpang dari jalan lurus, menjadi aniaya, berperilaku tanpa perintah Allah yang diturunkan bagi hamba-hamba beriman-Nya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan para shalih. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Barang siapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. al-Maa’idah [5]: 44). Firman senada, “Barang siapa tak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim, (QS. alMaa’idah [5]: 45). Dan, firman lain yang senada, ‘Barang siapa tak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’ (QS. al-Maa’idah [5]: 47).
“Kau akan berakhir di neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Jika kau tak tahan menahan demam untuk satu jam di dunia ini saja, lalu bagaimana kau akan bisa bertahan, untuk selamanya, berada di dalam neraka beserta penghunipenghuninya?
“Semoga kita selamat dan lolos dari api neraka, ya Allah! Allah!
“Camkanlah selalu kedua hal (bencana dan nikmat) di atas beserta syarat-syaratnya, sebab kau tak bisa lepas dari keduanya sepanjang hayat—baik keadaan ditimpa musibah maupun keadaan bahagia.
“Berilah masing-masing hak dan bagian keduanya dari kesabaran dan kesyukuran sesuai dengan yang telah saya terangkan di atas.
‘Jangan mengeluh pada makhluk sesamamu kala ditimpa musibah. Jangan tunjukkan kegundahanmu kepada siapa pun. Jangan salahkan Tuhanmu di dalam benakmu. Jangan pula kau ragukan kebijaksanaan dan pilihan-Nya akan yang terbaik bagimu di dalam kehidupanmu di dunia dan di akhirat. Dan, jangan lari kepada orang guna mendapatkan jalan keluar, sebab, dengan begitu, kau berarti menyekutukan-Nya. Tak satu pun berhak atas milikan-Nya, tak satu pun mampu memberikan mudharat, manfaat, atau menjauhkan kesulitan, menyebabkan sakit dan bencana, menyembuhkan dan memberi sesuatu kebaikan, kecuali Dia.
“Jangan sekali-kali kau sibukkan dirimu dengan makhluk ciptaan, baik secara lahiriah maupun batiniah, sebab mereka takkan menguntungkanmu. Bersabar dan ridhalah selalu kepada Allah, dan luruh fanalah ke dalam tindakan-Nya. Jika kau tidak diharamkan dari semua itu (baca: tidak menerimanya), maka minta tolonglah kepada- Nya, tunjukkan kerendahdirianmu, akui dosa-dosamu, kecam dirimu dan sucikan al- Haqq ‘Azza wa Jalla.
Akui keesaan dan nikmat-nikmat Nya, dan jauhkanlah diri dari kesyirikan. Mohonlah pertolongan untuk mampu menyelaraskan diri dengan kehendak-Nya, ridha menerima takdir Nya sampai habis masanya. Maka, akan hilanglah musibah dan berganti dengan karunia-Nya, kemudahan, dan kebahagiaan, sebagaimana yang terjadi pada diri Nabi Ayyub; bak berlalunya gelap malam dan datangnya kecerahan siang, dan berlalunya dingin musim dingin, diganti sepoi musim semi dengan aroma harumnya.
“Segala sesuatu memiliki kebalikan, target, tujuan, dan puncak. Dan, kesabaran adalah kunci, awal, puncak, dan keindahan, sebagaimana pernyataan dalam sebuah kabar, ‘Kesabaran bagi iman seperti kepala bagi tubuh,* atau dalam redaksi lain,
‘Kesabaran adalah keimanan secara keseluruhan.
“Bisa jadi, kesyukuran adalah keterlibatan dengan nikmatnikmat sebagai bagian peruntukanmu. Jika demikian halnya, maka perwujudan kesyukuranmu adalah dengan terlibat hubungannya dalam kondisi fana kebinasaan dan lenyapnya hawa nafsu, serta keterpeliharaan dan keterjagaan. Dan, ini merupakan hal kaum abdal, yang merupakan hal terpuncak.
“Ambillah pelajaran dari yang telah kusebutkan kepadamu, niscaya kau akan terbimbing, insya Allah.”









One Comment