Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adab al-Suluk Wa al-Tawassul

52 Bersyukur kepada Sang Maula Junjungan Adalah yang Terbaik

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Mintalah kepada Allah keridhaan akan ketentuanNya, atau kemampuan meluruh dalam tindakan-Nya. Sebab, di dalam hal ini terletak kesenangan dan keunikan besar di dunia ini, dan juga gerbang besar Allah dan sarana untuk dicintaiNya. Barang siapa dicintai-Nya, maka Dia tak menyiksanya di dunia ini dan di akhirat. Dalam dua kebajikan ini terletak hubungan dengan Allah, kebersatuan dengan-Nya, dan keintiman dengan-Nya.

“Jangan kau sibukkan diri untuk meraih bagian-bagian peruntukan, baik yang ditentukan bagimu maupun tidak. Jika memang bukan bagianmu, maka mencari- carinya merupakan tindakan bodoh, tolol, dan sia-sia, bahkan termasuk siksaan yang paling berat, sebagaimana bunyi sebuah ujaran, ‘Di antara siksa yang paling berat adalah berupaya meraih yang tak ditentukan bagi dirinya.’

“Pun jika memang hal itu sudah ditentukan sebagai bagiannya, maka bersibuk mengurusinya adalah kerakusan, ambisi, dan syirik dalam pengabdian, cinta, dan kebenaran, sebab berambisi meraih sesuatu selain Allah Azza wa Jalla merupakan tindakan syirik. Orang yang berupaya mendapatkan kenikmatan duniawi, tak tulus dalam cinta dan persahabatannya dengan Allah. Siapa pun yang menyekutukan-Nya, maka ia pendusta.

“Begitu pula, orang yang mengharapkan balasan bagi tindakannya adalah tak ikhlas. Keikhlasan ialah mengabdi kepada Allah hanya untuk memberi rububiyah, yaitu sifat Allah yang mengatur alam semesta, pembuluhnya. Orang seperti itu mengabdi kepada-Nya karena Dia adalah Tuhannya dan patut diabdi, dan wajib baginya berbuat

kebajikan dan patuh kepada-Nya, mengingat bahwa ia sepenuhnya milik-Nya, begitu pula gerak-geriknya, dan upayanya. Hamba dan segala yang dimilikinya adalah milik Maula Junjungannya.

“Telah kami jelaskan beberapa kali bahwa seluruh ibadah adalah nikmat dan karunia dari Allah atas hamba-Nya, karena Dialah yang memberinya daya bertindak dan kekuatan untuk melakukannya.

“Karena itu, kesibukan seorang hamba untuk bersyukur kepada-Nya lebih baik daripada meminta balasan dari-Nya atas kebajikannya.

“Bagaimana seseorang malah bersibuk keras meraih kenikmatan duniawi jika ia telah melihat banyak orang, yang jika mendapat kenikmatan duniawi yang berlimpah, mereka malah kian sedih, cemas, dan haus akan hal-hal yang tak dimaksudkan bagi mereka? Bagian duniawi mereka tampak timpang, kecil dan menjijikkan, dan bagian duniawi yang lain tampak indah dan agung bagi hati dan mata mereka, dan mulailah mereka berupaya meraihnya meski hal itu bukan hak mereka. Dengan begini, kehidupan mereka berlalu dan daya mereka menjadi sirna, dan mereka menjadi tua, kekayaan mereka menjadi habis, tubuh mereka menjadi renta, kening mereka berkeringat, dan catatan kehidupan mereka menjadi gelap oleh dosa-dosa mereka, upaya keras mereka dalam meraih hak orang lain, dan oleh pengabaian mereka terhadap perintah-Nya.

“Mereka tidak akan mendapatkannya, dan akan keluar dari dunia dalam keadaan pailit, tanpa memiliki apa-apa, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka sama sekali tidak mau bersyukur pada Tuhan mereka atas apa yang telah Dia karuniakan. Mereka berupaya mendapatkan pertolongan-Nya untuk mengabdi kepada-Nya. Mereka tak mendapatkan yang mereka upayakan, tetapi hanya memubazirkan kehidupan duniawi dan akhirat mereka; merekalah seburuk-buruk orang, sebodoh-bodoh orang, sekeji- keji orang secara nalar dan batin.

“Jikalau mereka mau ridha menerima takdir-Nya, puas dengan karunia-Nya, dan patuh kepada-Nya, niscaya bagian duniawi mereka akan datang kepada mereka

tanpa diambisikan dan dicemaskan. Mereka akan menjadi dekat dengan Allah Ta‘ala,

dan akan menerima segala yang mereka dambakan dari-Nya. –

“Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang ridha dengan ketentuan-Nya, yang meluruh dalam kehendak-Nya dan yang mendapatkan kesehatan dan kekuatan ruhani untuk melakukan yang dikehendaki-Nya.”

53 Pergilah Kepada-Nya, Niscaya akan Kau Temui Apa yang Belum Pernah Terlihat oleh Mata dan Terdengar oleh Telinga

SYEKH—semoga Allah meridhai dan meridhakannya-berujar, “Barang siapa menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya mengabaikan dunia. Barang siapa menghendaki Allah, maka wajib baginya mengabaikan kehidupan akhirat. Ia harus mencampakkan kehidupan duniawinya demi Tuhannya. Selama keinginan, kesenangan, dan upaya duniawi dan di dalam hatinya seperti makan, minum, berbusana, menikah, tempat tinggal, kendaraan, jabatan, ketinggian dalam pengetahuan tentang lima pilar ibadah dan hadits dan penghafalan al-Qur’an dengan segala bacaan, bahasa,  dan  retorikanya, begitu  pula  keinginan  akan  lenyapnya kemiskinan, maujudnya kekayaan, berlalunya musibah, datangnya kesenangan, hilangnya kesulitan, dan datangnya kemudahanjika keinginan semacam itu masih bersemayam di dalam benak orang, maka itu tentu bukan seorang shalih, karena dalam segala hal ini ada kenikmatan bagi diri manusia dan keselarasan dengan kehendak jasmani, kesenangan jiwa dan kecintaannya. Hal-hal ini merupakan kehidupan duniawi, yang di dalamnya orang senang kebaikan, dan dengannya orang coba mendapatkan kepuasan dan ketenteraman jiwa. .

“Orang harus berupaya meniadakan hal-hal ini dari hatinya, dan mempersiapkan diri untuk meniadakan semua ini dan menyirnakannya dari jiwa, dan berupaya bersenang dalam peluruhan dan kemiskinan, sehingga tiada lagi di dalam hatinya kesenangan mengisap biji kurma, sehingga pematangannya dari kehidupan duniawi menjadi suci.

“Jika  memang  telah sempurna,  maka  segala  duka  cita  hatinya  dan  kecemasan

benaknya akan sirna, dan datanglah kepadanya kesenangan, kehidupan yang baik,

dan keintiman dengan Allah, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw., ‘Mengabaikan

dunia memberikan kenyamanan pada hati dan tubuh.’**

“Tetapi, selama masih ada di dalam hatinya kesenangan kepada dunia ini, maka dukacita dan ketakutan tetap bersemayam di dalam hatinya, dan kehinaan mengiringnya, begitu pula keterhijaban dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung, oleh tabir tebal yang berlipat-lipat. Semua ini tak beranjak, kecuali melalui kecintaan akan dunia ini dan pemutusan darinya.

“Kemudian, ia harus berzuhud mengabaikan kehidupan akhirat juga agar ia tidak terjebak menghendaki kedudukan dan derajat tinggi, pembantu-pembantu cantik, rumah-rumah, kendaraan, busana, hiasan, makanan, minuman, dan hal-hal lain sejenisnya, yang disediakan oleh Allah Ta‘ala bagi hamba-hamba beriman-Nya. Maka, janganlah coba mendapatkan balasan, atas sesuatu tindakan, dari Allah ‘Azza wa Jalla di dunia ini atau di akhirat.

“Jika sudah demikian halnya, maka Allah akan memberi balasan sebagai rahmat dan kemurahan-Nya. Maka, Dia akan mendekatkan kepada-Nya dan melimpahkan kelembutan-Nya, dan Dia memperkenalkan diri-Nya dengan pelbagai karunia dan kebajikan, sebagaimana Dia berlaku terhadap para nabi dan utusan-Nya, terhadap kekasih-kekasih-Nya. Maka setiap hari, dalam hidupnya, urusannya kian sempurna, dan dibawalah ia ke akhirat untuk mengecap yang tak terlihat oleh mata, yang tak terdengar oleh telinga, dan yang tak terpikirkan oleh manusia, yang sungguh tak dapat dipahami dan tak terungkapkan oleh bahasa.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker